
Di sebuah tempat dengan suasana yang cukup ramai, sebuah tempat makan yang letaknya cukup menenangkan. Alina duduk di antara lautan orang-orang yang lalu lalang. Ditemani kopi hangat dan laptop di hadapannya. Setelah kejadian hari itu Alina sering memilih waktu menyendiri, bahkan orang tuanya pun merasa heran saat Alina lebih banyak berdiam diri di kamar. Sesekali Alina merasa tidak fokus pada kuliahnya pikirannya kerap terganggu dengan bayangan Fikri di kepalanya. Setelah malam itu terlewati Alin nyaris tidak pernah lagi bertemu dengan Fikri, kalau bukan mereka pernah saling berpapasan di area kampus dengan Alin yang menatap Fikri dengan sorot mata sendu namun penuh kebencian dan dengan Fikri yang terlihat hanya tersenyum sinis saat bersitatap bertemu pandangan Alin.
Alin masih fokus pada laptop dihadapannya, sudah beberapa saat terakhir Alin merasa sedikit acuh pada tugasnya. Kali ini, wanita berkacamata itu tampil dengan pakaian yang berbeda.
"Bi? Alin jelek kah? Sampai semua orang harus merasa jijik terhadap Alin? "
"Loh ada apa non kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? "
"Oh tidak, Alin hanya merasa tidak percaya diri saja"
"Non Alin cantik, cantik sekali baik hati pula. Kalau non Alin merasa kurang percaya diri dengan apa yang melekat pada non Alin saat ini coba saja non Alin sedikit merubahnya siapa tau Non Alin bisa merasakan sensasi baru"
"Maksudnya bi?"
"Yang pertama sikap, bagaimana sikap Non Alin terhadap orang-orang tergantung dari nyaman nya Non Alin. Acuhkan saja orang yang mengusik Non Alin, karena bibi tau non Alin orangnya seperti apa jangan menjadi orang yang tidak enakan nanti orang-orang malah seenaknya"
"Iya bi Alin paham"
"Yang kedua penampilan, Non Alin jika merasa ada yang kurang coba merubah sedikit gaya bibi lihat selama ini Non Alin cukup tidak memperhatikan penampilan sendiri kan? Mau ke kampus Non Alin asal pakai baju saja, maaf bukannya bibi mau menyela tapi menurut bibi Non Alin perlu sedikit memperhatikan penampilan sendiri "
__ADS_1
"Terimakasih ya bi"
Percakapan Alin dengan Art di rumahnya tempo hari membuat Alin bersemangat kembali, saat akhir pekan tiba Alin membeli semua kebutuhannya mulai dari pakaian, sepatu hingga tas. Bahkan Alin mengubah gaya rambutnya menjadi curly dan berwarna tak lupa juga Alin mengunjungi treatment wajah dan nail art.
Hari ini Alin keluar dengan rambut di gerai dan ia menyimpan kacamata yang selama ini melekat di wajahnya kemudian memakai kontak lensa minus sebagai pengganti kacamata miliknya
Walaupun kehormatanku sudah hilang ikut terkubur dengan waktu, aku harus memulai hidup kembali di lembaran yang berada.
.
.
Kita tinggalkan sejenak Alina yang masih fokus terhadap laptopnya.
Setelah beberapa waktu Kanaya sangat enggan menemui paman dan bibinya, ketika aktivitasnya selesai ia hanya berdiam diri di kamar. Setelah pertemuan terakhir dengan Tuan Anton Kanaya segera menemui Mommy Riana, dengan tujuan mengakhiri perjalanannya di dunia malam.
Untuk apa aku bekerja lagi di tempat ini, toh kalaupun uangnya sudah terkumpul tidak akan juga merubah keadaan.
"Biarkan saja, kalaupun Tuan Anton memintanya untuk menjadi istrinya biarkan memang apa yang bisa kau lakukan? "
__ADS_1
Bi Rita menjawab keluhan Paman Andri.
"Iya memang aku tidak dapat melakukan apapun, tetapi tetap saja dia itu keponakanku bahkan saat keluar dari ruangan Tuan Anton terlihat sekali kobaran kebencian di wajahnya dan dia hanya diam saja saat kutanya"
"Peduli apa, biarkan saja bukankah itu artinya bagus dia menikah dengan Tuan Anton pemilik perusahaan yang sudah tentu banyak duit"
"Mulut mu itu ya"
Paman Andri sudah jengah dengan percakapan itu, ia lebih memilih masuk ke dalam kamar meninggalkan istrinya yang sedang menyuapi Axcel.
Kalau saja Ibu dan Ayah masih ada, mungkin tidak akan semenyakitkan ini, hiks
Kanaya memandangi foto mendiang ayah dan ibunya, air matanya mengalir bersamaan dengan deru nafas yang terasa sesak.
Kehidupan apa yang akan ia jalani nanti, bahkan dalam pikiran sekalipun Kanaya kehilangan kata-kata. Kanaya meratapi nasibnya yang semakin hari semakin rumit. Bagaimana bisa ia harus menikah dengan laki-laki yang dibencinya, laki-laki yang memaki dan menghina Kanaya.
Malam semakin larut menyelimuti gadis itu dengan gelap dan dingin
Bersambung...
__ADS_1