Nikah Paksa Dengan Suami Kejam

Nikah Paksa Dengan Suami Kejam
Hari pertama di Bar


__ADS_3

Kanaya terjerat dalam situasi canggung dan rumit, baginya ini adalah pertama kali ia duduk di antara sekumpulan laki-laki dengan aroma alkohol, lampu kelap kelip dan musik yang nyaris membuat orang berbicara tidak terdengar.


"Haha... Kukira wanita pintar dan polos seperti mu adalah wanita baik" Pria itu menyeringai.


Kanaya hanya diam tak menanggapi


"Ternyata sama saja ya. Kau sama-sama wanita murahan"


"Memang kau tau siapa aku? Jangan banyak berkomentar jika kau tidak tau kebenarannya"


"Haha, bagaimana kalau dosen dan rektor di kampus tau ya? Bahwa mahasiswa kebanggan mereka adalah pelacur"


"Brengsek"


Kanaya bergumam, fokus kembali menuangkan minuman ke dalam gelas.


"Hai cantik, kau baru di sini? "


Pria lain menyapa dan mendekati Kanaya.


"Boleh tau siapa namamu? "


Kanaya mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri


Melihat sahabat nya tertawa saat ia menggoda Kanaya membuat pria itu keheranan memicingkan mata


"Kau kenal padanya?" Kembali bertanya pada Kanaya


"Haha kau tidak tahu? Dia satu kampus dengan kita! "


Deg....


"Dave. Cukup, urus saja urusanmu sendiri! "

__ADS_1


Ya! Laki-laki itu adalah Dave. Pria yang nyaris tidak pernah bertegur sapa dengan Kanaya. Pria yang diidolakan banyak wanita di kampus, ternyata tongkrongannya di tempat seperti ini


Malam semakin panjang, hari pertama kerja yang sangat sangat melelahkan untuk Kanaya. Hingga dini hari, dirinya baru pulang ke rumah. Kanaya memandangi lembaran uang di tangannya dengan nominal 5 juta. Hasil uang tip dari tamu yang datang dan ditemani Kanaya


Semangat Naya, 9 hari lagi kau bisa mendapat 50 juta. Terlarut sudah Kanaya tenggelam ke dalam alam bawah sadar.


.


.


.


Kadangkala ketika seseorang mendalami suatu perkara, membuat manusia terjun dan terjerat semakin dalam. Tenggelam dalam keterbiasaan dan keterlajuran.


Paman Andri, pria irit bicara dan mudah membantu orang kehidupannya berbalik, tenggelam ke dasar jurang yang ia gali sendiri. Judi online dan trading dengan embel-embel invest membuat Paman Andri kehilangan banyak uang.


Kakinya mencoba melangkah menemui Tuan Anton untuk meminta pengampunan dan keringanan. Apapun putusannya nanti, ia bertekad akan berusaha membujuk Tuan Anton.


Tuan Anton berbicara dengan nada dingin. Di mansion keluarga PT Berlian hanya paman Andri yang berani menginjakkan diri ke tempat tersebut.


"Tolong ampuni saya Tuan"


"Tersisa 3 hari lagi, yang artinya kau harus membayar semua uang yang sudah kau pakai"


"Maafkan saya atas kelancangan ini Tuan, bolehkah saya meminta sedikit waktu lagi untuk mencari uang tersebut"


Paman Andri bersimpuh di hadapan atasannya.


Hening sekejap, Tuan Anton menarik nafas dalam.


"Pak Andri"


Deg... Paman Andri mendongakkan kepala saat Tuan Anton menyebut namanya dengan nada rendah penuh penyesalan.

__ADS_1


"Kau tau? Saya sangat mengagumi anda. Kau ikut bersama saya sudah sangat lama, saya menganggap Pak Andri sudah seperti keluarga saya sendiri"


Datar penuh penekanan.


"Maafkan saya Tuan. Saya akan melakukan apapun asal Tuan mau memaafkan saya"


Paman Andri semakin menunduk dalam, pikirannya terus berputar bagaimana cara meluluhkan hati atasannya


"Saya memiliki 3 orang anak yang sedang membutuhkan banyak biaya, belum lagi saya memiliki keponakan dengan status Yatim piatu"


"Kenapa anda tidak berterus terang terhadap saya? "


"Maafkan saya tuan"


"Harusnya kau berterus terang, saya sudah menganggap Pak Andri sebagai saudara saya sendiri"


"Saya memiliki 2 anak yang sudah bersekolah, dan 1 balita yang sama-sama membutuhkan banyak biaya Tuan. Belum lagi saya terbebani karena keponakan saya yang orangtuanya meninggal akibat kecelakaan"


"Siapa keponakan mu? "


"Kanaya daendra Tuan. Dia anak dari Kakak saya, mendiang Rini istri dari Arif Daendra"


Deg. Sorot mata Tuan Anton berubah. Ingatannya samar-samar terbang pada kejadian masa lampau.


Tidak... Arif korban kecelakaan itu? Ini bukan kebetulan kan? Dia memiliki anak? Siapa tadi Kanaya? Ya Tuhan


Beberapa menit berlalu, Tuan Anton hanya fokus pada lamunannya, sedangkan Paman Andri yang sedari tadi bersimpuh tidak berkutik saat atasannya berdiam diri.


"Pulang, dan berusahalah"


Segera Paman Andri pamit dan melangkahkan kaki keluar dari mansion milik Tuan Anton. Karena suasana hatinya yang belum juga mencair, membuat Paman Andri kalang kabut sendiri. Begitulah akhir dari kunjungan ke mansion tidak membuahkan hasil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2