Nikah Paksa Dengan Suami Kejam

Nikah Paksa Dengan Suami Kejam
Pertemuan dengan Tuan Anton


__ADS_3

Malam yang singkat telah dilalui Kanaya, mata sembab dan wajah kusut sangat terukir jelas di wajahnya. Ia tengah duduk di sebuah ruangan yang sudah ditunjukan staff tadi. Paman Andri di sampingnya hanya diam tak berkutik.


Sampai saat suara pintu terbuka, Kanaya dan pamannya menoleh ke asal sumber suara


Deg... Laki-laki paruh baya yang sepertinya nyaris seusia dengan mendiang Ayahnya. Inikah laki-laki yang akan menikahiku? Tidak. Ibu tolong aku.


"Jadi ini? Keponakan mu? "


Tuan Anton membenturkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Iya Tuan. Ini Kanaya, keponakan saya. Seperti yang saya ceritakan Naya ini adalah seorang yatim piatu kedua orang tuanya meninggal 2 tahun yang lalu"


Hiks, ibu ayah tolong aku


"Kau masih kuliah? "


Naya hanya mengangguk dan menampilkan senyum paksa.


"Pamanmu sudah bercerita? Saya akan menganggap semua utang pamanmu lunas, bukan. Bukan hanya itu, kehidupan mu juga akan terjamin. Seluruhnya, seluruhnya! Asalkan kau menjadi bagian dari keluarga saya"


Setujulah Nay, bisa mati membusuk di penjara aku jika kau menolak keinginan Tuan Anton.


"Maafkan saya Tuan. Sa.. Saya"


"Kau tidak perlu khawatir semua menyangkut utang-piutang paman mu saya anggap selesai"


Kanaya menoleh halus pada pamannya dengan tatapan memohon. Tapi raut pamannya hanya mengisyaratkan terima saja.


"Baiklah, tidak ada jawaban. Saya anggap kalian berdua setuju. Datang kembali minggu depan, kita bicarakan soal pernikahan ini lebih serius."


Huaa tolong. Kau jahat sekali paman.


.


.


.

__ADS_1


Hari berganti, jam masih berputar. Hangat mentari menebar di seluruh bumi, padatnya kendaraan mulai terasa tatkala hari mulai beranjak waktunya manusia beraktivitas.


Kanaya berjalan di selasar kampus, wajahnya tampak murung dan lesu. Bahkan saat orang-orang menyapanya, Kanaya hanya memberikan senyum tipis.


Kanaya duduk di tengah taman kampus, sembari menunggu jam kelasnya dimulai, tatapan kosongnya masih tersirat jelas di wajah cantiknya. Hingga seseorang menghampiri


"Nay? "


Suara yang sudah tidak asing lagi untuk Kanaya. Ia menoleh ke asal sumber suara


"Alin, kau sudah sampai ? "


Mereka duduk bersamaan dalam sekejap tidak ada percakapan di antara mereka, masing-masing terhanyut dalam pikirannya sendiri.


"Alin, wajahmu? " Kanaya baru sadar saat melihat wajah sahabatnya yang memar di bagian ujung bibirnya.


Alina hanya tersenyum, matanya berkaca-kaca.


"Hey ada apa? Katakan padaku"


Kanaya merangkul Alin mengusap punggung wanita itu dengan lembut.


Ya Tuhan apa lagi ini, kenapa kami diberi masalah dalam waktu bersamaan


"Ada apa Alin? Ayo ceritakan padaku"


"Maafkan aku Naya, hiksss"


"Apa? Kenapa? Bicaralah dengan tenang"


"Fi...Fikri"


"Kenapa Fikri? "


Tangisan Alina semakin menjadi, Kanaya kebingungan sendiri saat menenangkan Alin.


"Suttt, bicaralah dengan perlahan, aku akan mendengarkan mu"

__ADS_1


"Maafkan aku Naya, aku mengkhianati mu"


"Mengkhianati apa? Tenanglah aku akan mendengarkan mu"


"Maafkan aku Naya. A... Aku dan Fikri, kami sudah tidur bersama. Tidak! Maksudku Fikri sudah memaksaku. Maafkan aku Naya"


Duarrr... Apa? Bagaimana bisa, sedangkan Alin tau bahwa Kanaya diam-diam mengagumi Fikri.


"Bagaimana bisa? Tenanglah, aku tidak marah padamu. Katakan apa yang terjadi sebenarnya"


"Fikri membawaku ke apartemen miliknya, dan dia melakukannya kepadaku"


"Alin, lihat aku"


Kanaya memegang erat bahu sahabatnya, menatap lekat mata Alin yang sedang menangis


"Apak Fikri mau bertanggung jawab? "


Alina hanya menggeleng pasrah


"Apa? Dimana Fikri sekarang" Kanaya bangun dari duduknya.


"Tunggu Naya. Ini semua salahku, jangan aku mohon jangan ceritakan ini terhadap siapapun"


"Salahmu bagaimana Lin? "


"Sudahlah Nay, biarkan saja. Maafkan aku sudah mengkhianatimu"


"Kau bicara apa? Aku hanya mengagumi Fikri, bukan berarti aku mau memilikinya"


"Kau tidak marah padaku? "


"Untuk apa? Aku marah padamu bukan karena kau bersama Fikri, tapi karena kau diam saja setelah apa yang Fikri lakukan terhadapmu"


"Tenanglah Nay. Biarkan masalah ini larut dengan sendirinya"


Akhirnya percakapan pagi hari yang penuh emosi dan drama telah dilalui Kanaya dan sahabatnya. Belum juga masalahnya selesai sekarang ia harus mendengar kesedihan sahabatnya, Kanaya merasa dunia ini sangat curang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2