
Kadang kala kita perlu ruang dan waktu untuk semuanya mengalir dengan begitu saja. Tetesan air sisa hujan pagi tadi menyisakan aroma khas, dingin dan sejuk. Tak peduli dengan apa yang terjadi Kanaya akhirnya memutuskan bahwa ia akan menerima semua keadaan, gadis itu hanya perlu menjadi dirinya untuk menjalani apa yang Tuhan berikan.
Hari ini di akhir pekan yang hujan Kanaya mendapat pesan dari asisten pribadi Tuan Anton, ia segera bersiap untuk pergi setelah menerima perintah untuk melakukan fitting baju.
Dengan gerimis kecil Kanaya memakai jaket tebalnya dan mengendarai sepeda motornya menyusuri jalan menuju tempat yang sudah ditentukan.
Mobil bagus sudah terparkir di area halaman, yang artinya Tuan anton atau Dave sudah ada di dalam.
Kanaya langsung masuk dan di sambut oleh 2 orang pelayan yang menuntun Kanaya menuju sebuah ruangan khusus.
"Naya, kemari"
Mama Dave menepuk kursi di sebelahnya, menunggu Kanaya dengan Antusias agar duduk di sampingnya.
Pandangan Kanaya menelaah pada sekitar, ada Tuan Anton yang sedang berbicara dengan pelayan dan Dave dengan wajah murungnya sembari memainkan ponsel.
Kanaya memberi salam dan kemudian duduk di samping mama Dave. Perasaan canggungnya masih menyelimuti Kanaya meskipun gadis itu mencoba menggantikannya dengan rasa percaya diri.
"Naya bagaimana menurutmu, kau lebih suka yang mana?"
Mama Dave mengusap punggung Kanaya dan menyodorkan beberapa kertas berisi katalog dan pilihan baju di sana.
Walaupun matanya tertuju pada katalog, tetapi pikiran Kanaya terbang kemana-mana.
"Pilihlah yang kamu suka, nanti kami akan menyesuaikannya dengan tema"
"Eh.. Maaf nyonya"
"Nyonya apa? Panggil aku Mama juga sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami"
Hah, apa ini kami menikah karena utang piutang tidak seharusnya kalian memperlakukanku seperti menantu idaman.
__ADS_1
"Eh iya maaf, Naya menyesuaikan saja"
Kanaya menyodorkan kembali katalog di tangannya.
"Yasudah, mbak tolong pilihkan dress gown yang cocok untuk menantu saya"
Mama Dave memberikan perintah pada pelayan yang tak selang lama membawa dress gown yang sangat cantik mewah.
"Silahkan dilihat dulu nyonya, ini keluaran terbaru kami"
Pelayan itu menjelaskan satu persatu detail tentang gown itu.
"Bagaimana Naya? Kamu setuju?"
Tuan Anton bertanya.
"Apa ini tidak terlalu mewah dan mencolok Tuan?"
Mama Dave kembali mengelus punggung Kanaya.
"Bagaimana Dave dressnya bagus tidak?"
"Semewah dan sebagus apapun bajunya tetap terlihat murahan kalau dipakai orang kampungan"
Dave menjawab tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju pada ponsel di tangannya.
"Mulutmu itu Dave!"
Mama Dave berkata dengan sinis.
"Yasudah ayo Naya kita coba dress gown kita lihat cocok atau tidak"
__ADS_1
Mama Dave menarik tangan Kanaya, membawa gadis itu ke ruangan ganti. Mencoba satu persatu dress gown yang dipilihkan pelayan, yang menurut mereka yang paling mewah dan yang paling terbaik. Hampir beberapa jam berlalu Kanaya menghabiskan waktunya hanya untuk bergonta-ganti pakaian, sebenarnya gadis itu sudah merasa jengah, beberapa kali ia meminta dressnya cukup yang simpel saja, tetapi mama Dave selalu menolak dengan alasan pernikahan itu hanya dilaksanakan satu kali jadi harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin, untuk menciptakan moment yang nantinya akan diingat sepanjang hidup.
Akhirnya Kanaya memutuskan mengalah ia menerima pakaian pilihan dari Mama Dave meskipun menurutnya sangat terkesan glamor.
Setelah semuanya usai dengan kesepakatan tema dan segala macam sudah Mama Dave tentukan termasuk pengukuran badan mereka berempat sudah terlaksana hari ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
"Naya kau membawa motor? Bukannya tadi hujan"
"Iya tante, tidak kok"
"Mama, kau ini"
"Eh iya Ma"
"Berikan kunci motormu"
Kanaya menyodorkan kunci motornya ke hadapan Tuan Anton setelah laki-laki di sampingnya itu berbicara.
"Dave akan mengantarmu, biar motormu kami yang urus"
"Tidak usah Pa, biar saya pulang dengan motor saja"
"Iya Papa apa-apaan aku masih ada urusan biarkan dia pulang sendiri"
Dave yang sedari tadi murung dan diam akhirnya bicara
"Dave, antarkan Kanaya. Cepat Naya masuk mobil"
Akhirnya perintah Tuan anton dituruti. Keduanya masuk mobil menyusuri jalanan kembali, tidak ada percakapan di antara mereka hanya hawa mencekam yang Kanaya dapat sepanjang perjalanan.
Bersambung...
__ADS_1