Nikah Paksa Dengan Suami Kejam

Nikah Paksa Dengan Suami Kejam
Kepanikan orang tua Dave


__ADS_3

Di pagi hari yang dirasa cukup damai Tuan Anton mendapati kabar bahwa putranya tidak nampak sedari Kanaya bangun dengan cepat Tuan Anton menghubungi semua bawahannya untuk mencari dimana keberadaan Dave.


"Anak itu selalu saja membuat kekacauan"


Tuan Anton kembali menghampiri sang istri yang baru saja mengantar menantunya menaiki taxi.


"Kemana Kanaya Ma?"


"Pulang, dia terlihat sedih"


"Mungkin dia juga butuh beradaptasi Ma, perlahan akan terbiasa Mama tenang saja ya" Tangan Tuan Anton yang terulur mengusap lembut punggung istrinya.


"Papa sudah menghubungi Putra untuk mencari keberadaan Dave. Kita pulang ke rumah saja, mungkin juga Dave pulang terlebih dahulu"


Mama Dave hanya mengangguk menyetujui ajakan suaminya.


Saat mereka sudah sampai di mansion, Tuan Anton dan istrinya mencari Dave ke seluruh ruangan. Nihil, kamar pribadi milik Dave masih tersusun rapi. Semua bibi yang ada di rumahpun sedari kemarin tidak melihat Dave.


"Nomornya masih belum aktif pa?"


Mama Dave bertanya pada sang suami yang sedang mengotak-atik handphone. Tuan Anton hanya menggeleng memberi jawaban.


Hari semakin siang, jam sudah memasuki waktu tengah hari. Tuan Anton belum juga mendapati kabar mengenai putranya.


"Mama rasa mungkin nanti Dave pulang sendiri pa. Apa mungkin ia sedang menenangkan diri? Kita tunggu saja"


Mama Dave berbicara. Tuan Anton hanya menghela nafas, seharusnya apapun alasannya bukankah sudah sepatutnya memberitahu dulu. Di tengah percakapan dering ponsel Tuan Anton berbunyi.


"Tuan saya sudah mengetahui keberadaan tuan muda" Suara putra dari sebrang sana.


"Dimana anak itu? Bawa dia kemari Put"


Tuan Anton bertanya dengan serius


"Di apartemen temannya. Namanya Arham, alamatnya sudah saya kirim melalui pesan kepada Tuan"


"Arham? Teman sekampusnya?"


"Iya Tuan, saya akan segera berangkat menjemput Tuan Muda"

__ADS_1


"Tidak perlu Put, biarkan aku yang ke sana. Kau urus saja urusan yang lain. Terimakasih ya"


Klik sambungan terputus. Dengan segera Tuan Anton memberitahu istrinya.


"Tapi Pa, apa tidak berlebihan kalau kita harus menjemputnya ke sana?"


Mama Dave sedikit ragu.


"Apapun alasannya kalau tidak ada ijin dan tidak memberi kabar sama dengan dianggap bersalah"


Setelah Mama Dave setuju mobil pun melaju keluar dari pekarangan mansion menuju lokasi yang sudah di arahkan Putra. Mereka sudah sampai di sebuah apartemen, menaiki lift menuju lantai tempat Arham tinggal.


"Benar ini lokasinya Pa?"


Mama Dave bertanya saat mereka sampai di depan pintu.


"Putra menunjukan ini lokasinya"


Dengan segera Tuan Anton mengetuk pintu dan menekan bel, beberapa menit berlalu. Arham menampakkan diri dari balik pintu dengan wajah terkaget melihat kedatangan orang tua Dave


"Om? Tante?"


"Nak Arham, maaf mengganggu waktunya. Apakah Dave ada di dalam?"


Tuan Anton bertanya dengan sopan.


"Ada Om silahkan masuk, Dave kemari tadi pagi"


Arham mempersilahkan masuk orang tua Dave.


"Sedang apa dia sekarang Nak Arham?"


Giliran Mama Dave yang mulai bertanya.


"Eh. Anu Dave ada di dalam Tante"


Arham menunjuk pintu kamarnya dengan gelagapan


"Boleh kami masuk?"

__ADS_1


"Si..silahkan Om"


Arham menuntun orang tua Dave untuk masuk.


Deg...


Botol minuman alkohol berserak dimana-mana, Dave yang mulai terkapar tersentak saat orang-orang muncul dibalik pintu


"Ma?"


"Dave! Apa-apaan kamu ini? Mama tidak pernah mengajarimu seperti itu"


Mama Dave berteriak sambil menarik lengan Dave


"Kurang ajar kau Dave"


Tuan Anton menarik paksa Dave keluar dari kamar Arham


"Nak Arham kenapa bisa seperti ini?"


Mama Dave bertanya


"Maafkan saya tante Dave pagi tadi kemari dengan marah-marah dia bilang sedang ada masalah"


"Sejak kapan kamu jadi begini Dave? Pulang! Kau tau istrimu pergi gak tau kemana kau malah enak-enakan disini"


Tuan Anton menyeret Dave keluar


Deg.


Istri? Gue gak salah denger kan? Istri? Dave?


Arham mematung dan bergumam sendirian sampai ia mengerjap setelah Mama Dave berpamitan dan mengucapkan terimakasih.


Tidak sampai di situ, perkara Dave yang tidak ada kabar sudah teratasi. Dave dibiarkan di kamarnya untuk menetralkan tubuhnya. Tanpa sadar hari sudah semakin sore, Kanaya belum juga ada kabar, pesan dan panggilan pun tak ada jawaban.


Tuan Anton menghubungi Paman Andri namun ia mengatakan bahwa rumah Kanaya masih kosong sejak kemarin. Artinya Kanaya belum mengunjungi rumahnya.


Kepanikan pun kembali lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2