
Di malam yang semakin dingin Kanaya masih setia dengan pandangannya ke arah langit yang kian berubah menjadi gelap. Gemerlap bintang mulai bermunculan di atas dirgantara.
Sampai suara pintu terbuka dengan kasar, Kanaya hanya menoleh ke arah dalam. Pandangannya bertemu dengan tatapan amarah dari Dave.
Setelah beberapa saat Kanaya kembali masuk, menutup akses pintu menuju balkon kemudian wanita itu berjalan ke arah sofa melewati Dave yang berkacak pinggang dan menatapnya dengan penuh marah.
"Lo pikir gue akan membiarkan lo tenang ha?"
Dave menarik paksa rambut Kanaya yang terurai.
"Arghh, lepas!"
Kanaya meringis dan berteriak
"Jangan karena kedua orang tua gue baik lo bisa seenaknya"
Dave mendorong Kanaya membuat gadis itu tersungkur ke arah sofa.
"Memang siapa yang mengharapkan pernikahan ini? Kalau bukan karena terpaksa aku juga tidak mau harus menikah dengan bajing*an sepertimu!"
"Memang siapa juga yang mau menikah dengan pelacur seperti lo?"
"Aku bukan pelacur!"
Kanaya berteriak
"Lantas apa? Wanita malam" Dave tersenyum sinis "Dengarkan! Lo butuh berapa banyak duit?" Laki-laki itu mencengkram dagu Kanaya
__ADS_1
"Sakit!" Kanaya terisak
"Katakan!"
Dave berteriak dan Kanaya hanya diam memejamkan mata merasakan nyeri akibat cengkraman Dave.
"Jangan berharap apapun dari pernikahan ini! Lo gak lebih dari sekedar benalu! Setelah kedua orang tua gue sadar kalau ternyata menantunya ini adalah seorang pelacur maka silahkan dengan sukarela pergi"
"Memang siapa yang mau bertahan dengan laki-laki sepertimu?"
"Baguslah. Jangan ikut campur semua urusan gue tanpa terkecuali dan perlu lo ingat jangan sampai ada yang tau tentang pernikahan bre*ngsek ini"
"Tenang saja kau tidak perlu takut"
Kanaya bangkit dari sofa setelah cengkraman Dave terlepas. Ia melangkah keluar dari kamar belum juga handle pintu terbuka, Kanaya sudah ditarik oleh Dave
Kanaya hanya menatap sinis Dave kemudian gadis itu melangkah ke arah tempat tidur mengambil satu bantal kemudian membaringkan dirinya di atas sofa.
Malam yang terasa sangat lama untuk Kanaya, meskipun matanya terpejam tetapi pikirannya melayang entah kemana sesekali Kanaya menoleh ke arah tempat tidur yang diisi oleh Dave.
Bukankah ini terasa sangat tidak adil? Kenapa selama ini aku selalu berada dalam keterpurukan. Ayah ibu yang sudah pergi, menjalani kehidupan sendirian, Bibi dan Paman yang mulai melupakanku, ekonomi yang sulit dan sekarang aku harus terpenjara dengan keadaan seperti ini. Hiks
Kanaya menyeka air mata dengan punggung tangannya.
Memeluk tubuhnya sendiri yang dingin, sampai malam yang larut membawa Kanaya ke dalam mimpi yang gelisah.
Sedangkan di kamar berbeda, dua orang yang berbicara sampai larut malam.
__ADS_1
"Apa cara kita ini salah?"
"Entahlah, semoga ini yang terbaik"
Tuan Anton menggenggam tangan istrinya, menyalurkan energi kekuatan.
"Apa kita todak berlebihan dengan cara seperti ini? Menyelamatkan Kanaya melalui Dave yang tidak tau apa-apa"
"Tenanglah, semoga saja Dave semakin dewasa dengan Kanaya di sampingnya. Kita tidak mengorbankan siapapun memang takdir yang harus seperti ini, percayalah perlahan Dave pasti akan menerima semuanya"
Sang istri hanya mengangguk. Pikirannya terbang melayang pada kejadian beberapa tahun lalu.
Di sebuah rumah sakit, saat korban kecelakaan dilarikan untuk mendapat pertolongan pertama, di ruang gawat darurat pasien perempuan menggenggam tangan Istri Tuan Anton itu. Dengan suara serak dan terbata-bata.
"Dia sendirian disini. Rawatlah dia aku mohon"
Riuh ricuh yang panik saat itu membuat Mama Dave hilang fokus. Malam ini pikirannya terlintas pada kejadian memilukan itu.
"Tidak perlu banyak dipikirkan, kita sudah memastikan Dave sudah masuk ke dalam kamarnya dan satupun diantara mereka tidak ada yang keluar"
Karena selepas Dave meninggalkan orang tuanya, Tuan Anton dan istrinya membuntuti Dave memastikan kemana anaknya pergi.
Setelah dirasa semua cukup aman Tuan Anton mengajak istrinya untuk kembali ke kamar mereka.
"Semoga semuanya baik-baik saja"
Malam penderitaan yang dilalui oleh sepasang pengantin dan malam penuh penyesalan yang dilalui oleh Tuan Anton dan istrinya. Menjadi saksi bahwa malam itu terasa sangat lama dan mencekam.
__ADS_1
Bersambung...