
Hari-hari baru untuk dua wanita baru saja dimulai. Alina yang merasa semakin hari semakin baik, perasaan khawatir murung dan traumanya perlahan memudar ia merasa hari-harinya berkembang jauh lebih baik. Berbeda dengan Kanaya yang merasa semakin hari dirinya semakin tenggelam ke dasar jurang walaupun gadis itu berusaha mencoba untuk menerima semuanya dan bersikap bodo amat, tetapi ternyata hatinya tidak setangguh apa yang orang lain pikir.
Dengan lapang dada Kanaya harus rela meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya yang selama ini ia rawat dan ia jaga, dirinya harus pindah dan menetap di mansion milik Tuan Anton.
Semua orang menyambutnya dengan baik dan antusias, ya kecuali Dave. Para bibi dan pelayan belakang menyambut hangat nona mudanya yang imut dan ramah, hal itu membuat Kanaya semakin sungkan.
Hari pertama dirinya masuk ke dalam mansion Tuan Anton Kanaya dibawa keliling oleh salah satu pelayan, menunjukkan semua sisi dan fungsi ruangan yang ada di mansion itu, Kanaya sampai berdecak kagum untuk tinggal di rumah bak istana seperti ini sama sekali tidak pernah terlintas bahkan dalam angan sekalipun.
"Silahkan Nona, ini kamar anda"
Pelayan itu membukakan pintu untuk Kanaya. Kanaya memperhatikan keadaan sekitar kamar yang sangat luas menurutnya bahkan ukurannya hampir sama dengan satu rumah miliknya.
Tidak, biarkan aku tinggal di kamar kecil saja. Hiks
"Bibi sudah kukatakan panggil saja Naya, namaku Kanaya"
Kanaya menoleh lagi pada pelayan yang mengantarnya.
"Hehe Non ada-ada saja. Sudahlah Non istirahat pasti lelah kan? Tuan muda Dave sedang keluar dulu nanti menyusul hehe" Pelayan itu tersenyum malu "Tuan muda sedang nge gym bersama temannya" Setengah berbisik ke arah nona mudanya.
Bibi pelayan itu membantu membereskan semua barang-barang Kanaya.
"Terimakasih Bi, bibi juga istirahat ya" Kanaya tersenyum hangat dan mengucapkan rasa terimakasihnya.
Gadis itu memperhatikan kembali ruangan yang ia pijak, kamar utama yang berada di lantai dua kamar milik Dave yang mulai hari ini diisi oleh penghuni baru. Sedangkan Tuan Anton dan istrinya mereka menempati kamar utama di lantai bawah.
Kanaya kebingungan sendiri, ia sangat tidak terbiasa dengan semua ini. Rencananya ia akan meminta kamar terpisah untuk dirinya, namun gagal karena tidak ada kesempatan berbicara saat mertuanya menyuruh Kanaya untuk segera masuk dan beristirahat.
Kanaya meletakan tubuhnya di atas sofa yang ada di sudut kamar. Tanpa terasa kantuk mulai menyerangnya, hingga gadis itu terlelap menyambut bunga tidur.
__ADS_1
Sampai hampir tengah malam tiba ketika semua lampu ruangan perlahan mati menandakan bahwa semua orang sudah tertidur Dave baru saja muncul dari mobilnya, pergi nge gym dijadikan Dave sebagai alasan untuk berkumpul bersama teman-temannya.
Dave berjalan melewati tangga menuju kamarnya dengan lampu samar-samar dan nyaris kegelapan. Tangannya membuka handle pintu, menarik nafas dalam.
Benar saja dugaannya, Kanaya sudah ada di dalam.
Dave melihat jelas seisi kamarnya karena lampu yang masih menyala. Perasaan menggebu ingin memakinya dalam sekejap hilang saat dirinya mengingat kata-kata Arham.
'Dia tidak seburuk yang lo pikir, jangan samaratakan semua wanita. Pemikiran lo yang banyak uang dan sorry dengan dia yang berkekurangan dalam hal apapun materi orang tua dan lingkungan disini tentu saja berbeda. Gue rasa hidupnya cukup menderita selama ini'
Kalimat Arham siang tadi yang masih terngiang di kepala Dave.
Namun, ego lelaki itu memang tinggi.
Perset*an dia dari dulu sudah menderita atau tidak yang pasti dia sudah mengusikku
Bruk, Dave mengambil bantal dan melemparnya tepat mengenai wajah Kanaya. Gadis itu langsung mengerjap kaget.
"Berani sekali, masuk kemari tanpa seizin gue"
Dave berkacak pinggang.
"Sorry, tapi Tuan Anton dan Ibumu yang menyuruhku kemari"
Kanaya segara merapikan rambutnya yang berantakan dan membenarkan posisi duduknya
"Haha! Sudah bisa memanfaatkan orang tua gue?!"
Dave tersenyum sinis
__ADS_1
"Maaf Dave"
Kanaya bangun hendak mengambil kembali koper miliknya dan keluar.
"Mau kemana lo?"
Dave berteriak
"Pulang"
Lirih Kanaya, entah apa yang diinginkan Dave laki-laki itu kemudian menjambak rambut Kanaya
"Sakit Dave, lepas!"
"Berani lo keluar dari sini?"
Ucap Dave dengan nada marah
"Lantas aku harus bagaimana? Tidak bisakah kau anggap aku patung saja!" Kanaya berteriak, frustasi dan kebingungan apa yang sebenarnya diinginkan Dave.
"Haha, minta maaf dan memohonlah"
Dave melepaskan tangannya dari rambut Kanaya. Gadis itu menatap tajam ke arah Dave.
"Cepat, aku tidak mau mengulangi kata-kata ku"
Dan akhirnya Kanaya mengalah, ia bersimpuh dan meminta maaf pada laki-laki yang ada di hadapannya. Dengan tubuh gemetar menahan sakit dan amarah.
Barulah, Dave membiarkan Kanaya berdiam diri lagi di atas sofa kamarnya. Memang kau sungguh kejam ya Dave!
__ADS_1
Bersambung....