Nikah Paksa Dengan Suami Kejam

Nikah Paksa Dengan Suami Kejam
Pusara


__ADS_3

Diantara lautan manusia yang hidup Kanaya merasa menjadi satu-satunya orang yang paling terpuruk, padahal penderitaannya baru saja di mulai. Akan ada episode-episode selanjutnya untuk Kanaya agar bisa menjadi lebih kuat lagi.


Hari pernikahan sudah terlewati, malam pertama yang penuh drama pun sudah dilalui. Ini hari minggu. Kanaya bersiap pergi dari hotel setelah memastikan semua barangnya tak ada yang tertinggal. Saat matanya mengerjap Dave yang semalam pulas di tempat tidur pagi ini sudah tidak ada. Masa bodo dengan hal itu Kanaya segera mempersiapkan diri.


Gadis itu berjalan sendirian melewati akses untuk keluar dari hotel, dengan tas dan koper kecil miliknya. Saat sampai lobby Kanaya berhenti melangkah saat suara yang ia kenal memanggilnya.


Tuan Anton dan istrinya.


"Naya?"


Gadis itu menoleh ke arah sumber suara


"Ta.. Tante"


"Kenapa masih memanggil tante? Panggil Mama. Kau mau kemana sudah rapi begini, masih pagi Naya seharusnya kau istirahat di dalam"


"Maafkan Naya Ma, Naya ijin sebentar untuk pulang"


"Pulang? Biarkan Dave mengantarmu. Dimana dia?"


Kanaya hanya menggeleng memang sedari bangun tidur Kanaya sama sekali tidak melihat suaminya itu.


"Astaga. Cepat cari dia pa!"


Dengan segera Tuan Anton meninggalkan istri dan menantunya.


"Kita pulang ke mansion saja ya Naya, sebentar Mama telepon sopir dulu"

__ADS_1


Mama Dave segera merogoh tas kecilnya untuk mengambil handphone.


"Tidak Ma, Naya mau pulang ke rumah Naya dulu"


"Loh, kenapa? Kami membuatmu tak nyaman? Dave jahat padamu?"


Mama Dave segera merangkul pundak menantunya.


Lantas aku bisa apa jika aku mengatakan dia memang jahat


"Begini Ma, bolehkah Naya pulang ke rumah dulu Naya mau membereskan semua yang ada di rumah"


"Kalau begitu Mama bisa kirim Bibi untuk membereskan semuanya"


"Tidak perlu repot Ma, Naya juga mau pergi ke suatu tempat sebenarnya" Sebenarnya Kanaya sangat canggung untuk mengatakan ini


"Merepotkan apa? Mau kemana? Biar mama temani"


"Hm. Yasudah Mama beri waktu kamu sendiri, tapi perginya di antar sopir ya"


"Naya pergi dengan taksi saja Ma"


"Baiklah, Mama pesankan taxi sekarang"


Saat mobil yang dinaiki Kanaya keluar dari area hotel, gadis itu dengan sendu menatap ke arah luar jendela. Memandangi langit dan gedung yang menjulang tinggi. Pikirannya melayang entah kemana. Perjalanan semakin lama terik semakin terasa saat mobil sudah memasuki area perkampungan yang asri, bukit yang hijau dengan anak-anak yang berlarian bermain layangan.


Kanaya berjalan mengikuti jalan setapak di tengah lautan rumput hijau setelah meminta sopir tadi untuk menunggunya.

__ADS_1


Gadis itu sudah sampai di tempat yang ia tuju, matanya memandangi ratusan pusara yang terjejer rapi.


"Ayah, Ibu Naya datang"


Gadis itu duduk berlutut di antara pusara kedua irang tuanya


"Maafkan Naya yang baru sempat mengunjungi kalian"


Dengan suara tercekat Kanaya berbicara dengan lirih


"Ibu dan Ayah di sana bahagiakan? Kenapa kalian tidak bawa saja Naya pergi. Ayah, putrimu ini sekarang sudah menjadi istri orang"


Tangan Kanaya terulur mengusap pusara sang ayah.


"Ibu, aku juga sudah semakin dewasa. Mempersiapkan semuanya seorang diri, berjuang untuk melanjutkan hidup tanpa kalian"


Suara Kanaya semakin lirih saat deras air matanya mengalir membasahi pipi.


Beberapa waktu berlalu Kanaya mencurahkan semua keluh kesah isi hatinya di depan pusara sang ibu dan ayah. Seperti bocah yang habis bermain bercerita pada orang tuanya.


Saat hari mulai senja setelah berpamitan pada ibu dan ayahnya Kanaya bangkit berjalan kembali menuju mobil yang mengantarnya terparkir. Gadis itu memperhatikan keadaan sekitar, Anak-anak kecil yang bermain dan berlarian sudah tidak nampak lagi yang artinya mereka sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


Dengan mata sembab Kanaya membangunkan sopir taxi yang mengantarnya. Pria paruh baya yang terlelap saat menunggu Kanaya bersimpuh di pusara orang tuanya.


"Maafkan saya Pak, karena terlalu lama"


"Tidak apa neng. Silahkan masuk, kita langsung pulang sekarang?"

__ADS_1


Kanya hanya mengangguk. Mobil kembali melaju menuju tempat yang seharusnya. Tanpa Kanaya pikir kericuhan dan kepanikan sedang terjadi di mansion sana.


Bersambung....


__ADS_2