Nikah Paksa Dengan Suami Kejam

Nikah Paksa Dengan Suami Kejam
Kabar pernikahan


__ADS_3

Pikiran kalut dan perasaan gelisah tentu saja membuat paman Andri merasa tersiksa. Setelah setiap saat menghubungi Kanaya berharap keponakannya memberikan uang dengan nominal 50 juta itu dengan secepatnya. Namun nihil, Kanaya membalas dan menjelaskan jika uangnya belum terkumpul semua.


Siang ini, paman Andri masih tidak tau malu masuk kerja seperti biasanya. Berharap Tuan Anton dengan lapang dada memaafkan kesalahannya, yang mungkin setipis harapan.


Paman Andri tengah berdiri di hadapan meja kerja Tuan Anton, setelah sekretaris pribadi Tuan Anton menghubunginya. Saat perjalanan menuju ruang direktur utama itu paman Andri merasakan sesak dan cemas. Pikirannya lagi-lagi dihantui dengan kemarahan Tuan Anton. Heh kau sudah bersalah bukannya kau dengan seharusnya menerima konsekuensi! Maki sendiri dalam hati.


"Bawa dia kemari! "


Paman Andri mendongak saat Tuan Anton berbicara, bawa dia? Dia siapa?


"Maaf Tuan? "


"Keponakanmu"


Kanaya? Kenapa dia? Tidak mungkin kan Tuan Anton tau jika aku meneror Kanaya untuk segera memberikan uang. Tapi jika ia apa hubungannya


"Bawa keponakanmu kemari secepatnya"


"Ta.... Tapi Tuan"


"Akan kunikahi dia. Maka semua hutangmu pada perusahaan terjamin. Lunas! "


Deg... Sia*lan bagaimana ini. Naya!!!


"Secepatnya. Atau kau kujebloskan ke penjara"


"Baik Tuan"


Bagaimana ini? Dasar sia*lan kenapa aku harus terjebak masalah seperti ini?! Naya? Bagaimana aku merayu bocah itu. Arggghhh


Usai pertemuannya dengan Tuan Anton, Paman Andri dengan segera bergegas menemui Kanaya. Tapi saat malam tiba Paman Andri belum menemukan keponakannya. Rumahnya masih rapi terkunci. Si*al, kemana anak itu!


Hingga dini hari, Paman Andri mendengar pintu terbuka di samping rumahnya. Dengan segera ia menemui Kanaya.


"Naya! "


Deg... Kanaya terperanjat, hari kurang baik sepertinya sedang berpihak, apa pikiran paman tentang dirinya. Pulang dini hari, dengan kondisi rambut berantakan dan dress mini melekat di tubuh Kanaya.

__ADS_1


"Kau...? "


"Masuk paman kita bicara di dalam"


"Naya jadi selama ini kau menjual diri? "


"Pikiran macam apa paman, aku bekerja sampai selarut ini untuk membayar utangku"


"Dasar, benar-benar kau ya"


"Memang apa? Aku bukan menjual diri seperti yang paman pikirkan"


"Lantas apa? Mana ada wanita pulang selarut ini memakai pakaian tidak wajar kalau bukan untuk menjual diri lantas untuk apa? "


"Paman!! "


"Naya! Dengarkan paman. Sebenarnya paman punya hutang terhadap perusahaan sebesar 200 juta"


"Apa? "


"Bos paman sudah menagihnya, itulah kenapa paman selalu menanyakan uang yang pernah dipinjam ibumu"


"Bos paman memberikan tempo waktu sampai besok, bagaimana. Kau sudah ada? "


"Besok? Belum paman uang Naya belum ada 50 juta"


"Bagaimana Nay? Tolong paman"


Kanaya mulai mengeluarkan air mata


"Nay, begini saja... Kau mau kan bantu paman"


"Tentu saja"


"Menikahlah dengan Bos paman, maka hutang kita dianggap lunas. Paman tidak ada cara lain. Atau kau mau melihat paman mendekam di penjara, dan bukan paman saja pastinya kau juga akan ikut"


Deg, Kanaya menatap lekat pamannya

__ADS_1


"Apa! Tidak! Aku belum mau menikah paman, apalagi dengan orang yang tidak kukenal"


"Apalagi yang kau pertahankan Naya? Kau masih mau menjual diri? "


Kanaya semakin terisak, ternyata hidupnya akan seberantakan ini.


"Bersiaplah besok kita temui bos paman. Kau tidak perlu lagi bekerja dan menjual diri"


Kanaya terisak sendirian meratapi nasibnya. Setelah paman pulang ia membersihkan diri, meringkuk di atas tempat tidur matanya hampir nyaris tak terlihat karena bengkak akibat menangis. Malang sekali nasib mu nak.


.


.


.


Sedangkan di tempat lain. Seorang wanita sedang meringis ketakutan. Tubuhnya sudah setengah telanjang, kaki dan tangannya diikat menggunakan tali. Mau berontak, percuma saja, seperti harapan mencari jarum dalam tumpukan jerami.


"Kau cantik sekali"


Laki-laki di hadapannya membelai lembut pipinya, tangannya terulur turun meremas sesuatu.


"Lepaskan"


Lirih, nyaris hampir tak terdengar.


"Lepaskan? Nikmati saja. Bukankah kau sendiri yang memberikan tubuhmu"


Turun dan turun, tangan dan jari-jari nya sudah menggesekkan sesuatu.


"Jangan! "


"Kau munafik sekali ya Alina! Bukankah hal seperti ini sudah sering kau lakukan"


"Lepaskan, aku mohon lepaskan aku"


Perempuan itu adalah Alin. Di malam hujan yang entah kemana perginya orang-orang ia sangat susah sekali keluar dari dekapan laki-laki di hadapannya

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2