
Kita tinggalkan sejenak sepasang pengantin yang tak saling menginginkan serta kepanikan orang-orang yang ada di mansion.
Alina yang semakin merubah penampilannya, membuat dirinya lebih dikagumi lagi di kampus. Setelah pertemuan dengan Arham pekan kemarin, mereka berpapasan lagi di selasar kampus, banyak kakak tingkat yang menyapa Alina. Dari segi pakaian yang modis dan cocok dengan lekuk tubuhnya membuat Alina dipandangi banyak orang. Alina dan Arham sudah bertukar nomor handphone. Mereka berencana untuk bermain ke timezone pekan ini.
Gadis itu sudah duduk di depan cermin yang ada di kamarnya, memilih pakaian warna hitam yang senada dengan sepatunya. Alina menata rambutnya dengan gaya curly. Bahkan pengerjaannya sudah hampir 90% Tiba-tiba ponselnya menyala, menandakan ada notifikasi masuk.
Alin, maafkan aku. Bisakah kita mengundurkan waktu? Ada Dave di apartemen ku
Pesan singkat yang di kirim Arham untuk Alin, tak lupa juga laki-laki itu menambahkan foto sahabatnya Dave yang sedang tengkurap di tempat tidurnya. Alina mendes*ah pikirnya kenapa tidak dari tadi Arham mengabarinya. Ia tidak akan capek-capek bersiap.
Akhirnya Alin hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, dengan camilan dan handphone di tangannya.
Sampai jarinya membawa layar ponsel itu membuka beranda sosial media milik Fikri.
Raut wajah Alina kembali datar. Deg, perasaannya kalang kabut saat melihat postingan terakhir di akun sosial media milik Fikri.
Sebuah foto tangan wanita yang di cengkram oleh tangan pria, Fikri memberi caption dengan tulisan 'what I want I can't let go'.
Alin memperhatikan foto tersebut terasa tidak asing. Pikirannya melayang apakah ini tangannya yang di cengkram Fikri, tapi dengan segera Alin menepis pikiran itu.
Kau memang laki-laki jahat Ki, ternyata bukan aku saja korbannya.
Dadanya terasa sesak ketika kilatan kejadian malam itu kembali terlintas.
Waktu semakin berlalu, dering ponselnya kembali menyala. Arham menghubungi bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menjemput Alin setelah Dave sudah pulang dari apartemen miliknya.
Dengan sigap Alina mempersiapkan diri lagi, memandangi tubuhnya di depan cermin. Alin menarik nafas dalam kemudian membuangnya.
__ADS_1
"Tenang Alin, kita hanya pergi ke timezone. Tidak akan terjadi apapun di tempat ramai" Alin menenangkan dirinya, membuat lengkungan senyum di bibirnya.
"Lagipula inikan Arham, bukan si breng*sek itu"
Alin mendengus.
Akhirnya Alin dan Arham menghabiskan waktu bersama ketawa-ketiwi seperti Abg kasmaran. Mungkin ini adalah salah satu pereda stres mereka ditengah padatnya aktivitas sehari-hari. Setelah puas bermain Alin dan Arham menuju tempat lain lagi. Kafe milik Daniel.
Alin merasakan kedekatan baru, Arham adalah laki-laki lembut dan humoris menurutnya jadi dengan senang hati Alin membuka lembaran lain untuk menjadikan hidupnya lebih berwarna, karena setelah beberapa saat ternyata Arham tidak seburuk apa yang Alin pikir. Wanita itu tidak mau gegabah, hanya karena trauma pada malam itu bukan berarti Alin harus tidak mengenal laki-laki lain lagi.
Mereka memilih Kafe Asia milik Daniel karena lokasinya yang nyaman, ditambah lagi karena mereka memang sering ke tempat itu. Alin dan Arham turun dari mobil setelah mobil terparkir di area depan.
"Yuk!"
Arham tersenyum dan menggenggam tangan Alin. Wanita itu awalnya merasa kaget, namun berusaha menepis kecanggungannya.
Sembari menunggu pesanan datang keduanya asik berbincang lagi.
Sampai suara seseorang memanggil.
Arham menoleh, Daniel dan Fikri. Sepertinya mereka baru saja tiba.
Deg. Alin hanya menoleh sebentar kemudian mengambil handphonenya untuk mengalihkan fokus.
"Ham? Dari kapan?"
Suara Daniel dengan antusias
__ADS_1
"Apa sih, gue baru aja dateng. Nih pesanan aja belum diantar"
Balas Arham dengan sedikit ketus.
"Ck. Selera lo bagus juga ya ternyata, nge date dengan memilih tempat di kafe gue"
Daniel tertawa
"Sia*lan sana jangan ganggu! Tunggu, mau kemana Ki?"
Arham beralih bertanya pada Fikri yang melengos kembali kearah pintu keluar
"Bukan urusan lo!"
Fikri mendengus, kemudian kembali berjalan tanpa mempedulikan Daniel yang memanggilnya.
"Why?"
Arham keheranan, Daniel hanya mengangkat bahu sama-sama bingung apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Niel, sepertinya ada yang tidak beres. Sedari kemarin kenapa dia seperti itu"
"Benar, sepertinya si gila itu sedang ada masalah. Tapi tadi dia kelihatan baik-baik saja bahkan dia juga yang mengajak kemari ingin bersantai. Kenapa sekarang malah gue yang ditinggal"
Daniel menepuk jidat. Dengan segera pamit pada Arham dan Alin kemudian berlari menyusul Fikri
Bersambung....
__ADS_1