Nikah Paksa Dengan Suami Kejam

Nikah Paksa Dengan Suami Kejam
Di Kafe milik Daniel


__ADS_3

Di lain tempat sekumpulan pemuda tengah asik berbincang, sesekali tertawa saat ada obrolan menggemaskan. Mereka adalah Dave dan teman-temannya, para pemuda yang digemari wanita-wanita di kampus. Dave, Fikri, Daniel, Jack dan Arham mereka adalah idola di kampus, selain gaya yang mentereng dan barang-barang branded mereka juga memiliki paras yang tampan.


Mereka berkumpul di kafe milik Daniel. Obrolan yang semakin lama semakin seru menurut mereka. Lama-lama Jack menyipitkan matanya, melihat ke arah seberang. Di meja paling pojok seorang gadis tengah duduk di hadapan laptopnya.


"Lihatlah, sepertinya gue kenal. Tapi siapa ya"


Jack menunjuk ke arah wanita tadi. Mereka berlima memperhatikan dengan intens siapa yang duduk di seberang sana, karena mereka rasa sangat tidak asing.


"Itukan teman si cupu"


Dave kembali lagi fokus terhadap minuman di depannya


"Cupu siapa? "


Daniel bertanya


"Pelayan bar, pelacur cupu yang satu kampus dengan kita"


Brak, Fikri menggebrak meja


"Kau ini kenapa? "


"Tidak. Maksud lo dia Alin teman Kanaya si pegawai di bar itu? "


Fikri setengah berteriak


"Hmm"


Jawab Dave santai.


"Benar itu Alin, cantik sekali dia. Dalam kesehariannya di kampus saja dia sudah cantik apalagi penampilannya sekarang tambah cantik"


Puji Arham


"****! Tidak mungkin"


"Apa yang tidak mungkin, mungkin kalau di kampus dia memang berpakaian cupu sama seperti Kanaya tapi kalau di luar tidak tahu juga kan? Mungkin dia juga sama seperti si Kanaya itu"


Jack mengambil kesimpulan


"Dia bukan pelacur! "


Jawab fikri dengan sinis.


"Kenapa lo yang ribut sih ki? Ada masalah? "

__ADS_1


"Emm... Eng.. Enggak gue cuma kaget aja"


"Lagian kita mana tahu Alin seperti apa ya walaupun Kanaya sebagai temannya memiliki image sebagai pelayan bar bukan berarti Alin pun sama. Dia tipikal orang yang baik kok gue cukup kenal sama dia"


Arham menjelaskan, kemudian bangun dari duduknya


"Mau kemana lo? "


"Samperin lah"


"Jangan! "


Niat hari Fikri ingin menarik dan menahan Arham namun terlanjur sahabatnya sudah menjauh.


"Ki lo kenapa si lo ada masalah sama temen si cupu itu? "


Tanya Dave lagi.


"Apaan sih, gue cuma kaget aja hm"


Fikri akhirnya mengalah dan tenang kembali.


"Hai"


"Hah? Oh iya hai"


Alin mendongak melihat siapa yang menyapanya.


"Kau disini? Sedang apa? "


"Eh, iya. Sedang mengerjakan tugas"


"Boleh ikut duduk? "


Alin hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian Arham duduk di hadapan Alin


"Kau sendirian?"


"Iya"


"Oh iya, terimakasih ya"


"Terimakasih untuk apa?"


Alin segera menutup laptopnya

__ADS_1


"Iya terimakasih waktu itu kau sudah menolong dan membantu ku"


"Hm santai saja waktu itu kan kau sudah berterimakasih"


Jawab Alin yang kemudian menyeruput minumannya.


"Haha, iya"


Pikiran Arham terbang ke beberapa saat ketika dirinya bertemu dengan Alin di sebuah minimarket, dirinya yang lupa membawa dompet saat sudah di hadapan kasir, untung saja ia bertemu Alin dan dengan sigap wanita itu membantunya.


Dari pertemuan pertama itu Arham pernah mentraktir Alin makan sebagai rasa terimakasih karena telah membantunya.


Walaupun agak sedikit canggung lama kelamaan Arham dan Alin mengobrol seperti biasa hanya ada keseruan di antara obrolan mereka.


"Ham, lo masih betah? "


Daniel setengah berteriak


Arham dan Alin menoleh ke asal suara


"Kau bersama teman-teman mu? "


"Iya, tadi aku kemari bersama mereka. Aku lihat kamu sedang duduk sendirian disini jadi aku temani, hehe walaupun tampilan kamu beda dari biasanya aku hebat kan bisa tau"


Alin hanya tertawa mendengar penjelasan Arham


Dave dan Daniel menghampiri Arham


"Kita mau cabut, lo mau tetap disini?"


"Terus kalau kalian cabut gue gimana. Tinggalkan salah satu mobil kalian"


"Asal jangan mobil gue! "


Alin mendongak ke arah suara yang baru datang. Pandangannya bertemu dengan Fikri. Pandangan yang seperti seolah tidak terjadi apa-apa


"Balik! Ada yang harus kita diskusikan"


Fikri melempar kunci mobilnya ke arah Arham dengan gelagapan laki-laki itu menangkapnya.


Daniel mengerutkan alisnya melihat sikap Fikri yang entah kenapa. Sahabatnya yang lain hanya mengangkat bahu masing-masing.


Akhirnya mereka semua bubar, meninggalkan Alin yang kembali lagi fokus terhadap tugasnya


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2