Obsesi Sang Billionaire

Obsesi Sang Billionaire
BAB 16 - Ketahuan


__ADS_3

"Ky!" Panggil Erick, yang membuat Kyra dan Benedict menatap ke arah Erick secara bersamaan.


"Kenapa?" tanya Kyra yang baru saja mau naik ke dalam mobil Benedict.


"Bisa kita bicara berdua" Erick melirik ke arah Benedict, "Hanya sebentar." lanjutnya.


"Owh, o-ok." Kyra menghadap ke arah Benedict, "Tunggu sebentar ya, aku akan segera kembali." katanya sambil menatap lekat ke arah Benedict.


Sebenarnya Benedict sangat tidak suka dengan kedekatan Kyra dan Erick yang menurut nya sangat menggangu, tapi jika dia melarang mungkin saja Kyra akan pergi dari nya.


"ya, jangan lama-lama. sudah malam, kita harus segera kembali ke kapal." Ucap Benedict sambil tersenyum lembut.


Mendengar jawaban Benedict Kyra tersenyum, lalu berbalik ke arah Erick. mereka mengobrol agak jauh dari Benedict, agar tidak didengar oleh nya.


"Kok bisa kalian pacaran?" tanya Erick penasaran.


Sedangkan Kyra mengangkat bahunya, "Ntahlah, Dia bilang dia menyukai ku. dan dia sempat melamar ku tadi, jadi..."


"Jadi..."


"Aku belum menjawab lamarannya, dan sekarang kami sedang ditahap saling mengenal." Ungkap Kyra, sambil memainkan rambut panjangnya.


"Kenapa tidak kamu terima saja? Lagipula dia kaya, tampan, tinggi, dan sepertinya lemah lembut denganmu." Ucap Erick kepada Kyra dengan nada memuji.


"Tidak semudah itu Erick, bisa saja dia hanya manis di awal tapi beracun kemudian. aku tidak ingin mengambil resiko dia bisa saja berprilaku kasar nanti." Jawab Kyra dengan nada tidak senang.


Erick menyentuh bahu Kyra, "Tidak semua pria sama seperti ayahmu Ky, bisa saja di pria yang lebih baik." saran Erick dengan lembut.


Kyra melepas kan pegangan Erick dari bahunya, "Aku tahu Erick, hanya saja. Sulit untuk menerima lamaran orang yang baru kukenal, dan apalagi setelah perlakuan kasarnya kepada paman." Ungkap Kyra sambil mengingat kejadian dia menguping percakapan pamannya dan Benedict.

__ADS_1


Tiba-tiba Kyra menunjukkan raut wajah yang khawatir dan gugup


"Paman Andreas? Apa yang dia lakukan kepada paman Andreas?" tanya Erick sambil menunjukkan raut wajah menahan marah.


"Dia memperlakukan paman Andreas seperti bawahan yang mengganggu, dan cara dia menatap remeh paman membuat ku merasa tidak nyaman." Ungkap Kyra sambil memeluk kedua tangannya.


"Kalau begitu, itu membuat ku semakin yakin kalau Agnes tidak cocok dengan pria itu." Kata Erick dengan menggenggam tangan nya erat.


"Erick, sebaiknya kita kembali. ini sudah malam..."


"Ky, aku tahu kamu memiliki hutang... Jika kamu membantu ku sampai Agnes mencintaiku, aku akan melunasi hutang mu. dan kamu tidak perlu lagi berhubungan dengan pria itu lagi." Tukas Erick sangat yakin.


Kyra mengangguk pasrah.


Disisi lain...


"Begitu kah permainan kalian?" Gumam Benedict sambil menahan kesalnya.


Benedict kembali ke dalam mobil, sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi. Dan bagaimana Kyra yang tidak suka dengannya.


tak lama kemudian Kyra memasuki mobil, dia memberikan senyuman manis kepada Benedict.


"Ayo kita pulang?"


Sebenarnya Benedict sangat marah sekarang, bahkan rasanya sekarang dia ingin membuat Kyra menyesal karena telah mempermainkan perasaan tulus miliknya.


'Tersenyumlah sesuka mu sayang, setelah ini aku akan membuat mu hanya menjadi milikku seorang.' Batin Benedict sambil tersenyum kecil.


"Kita berangkat!"

__ADS_1


Entah kenapa suasana didalam mobil terasa dingin mencengkam, karena tidak betah dengan suasana yang terasa mencengkam Kyra membuka suara.


"Bagaimana makanan nya tadi? enak kan?" Tanya Kyra membuka suara.


"Cukup enak, setelah kita menikah. kita bisa mencoba banyak kuliner diberbagai negara nanti." Ucap Benedict sambil menggenggam tangan Kyra.


Mendengar perkataan Benedict, entah kenapa Kyra merasa sedikit tidak nyaman. padahal setelah misinya selesai, dia berencana akan memutuskan hubungannya dengan Benedict.


"Bukankah terlalu cepat membayangkan hal seperti itu? kita kan baru berpacaran." Kata Kyra sambil menggenggam ujung pakaiannya, dengan kuat.


Benedict menggelengkan kepalanya, "Tidak, karena setelah liburan ini. Aku berencana akan langsung meminangmu, dan kupastikan kita akan menikah dengan sangat megah..."


raut wajah Kyra langsung berubah pias, dia sangat cemas sekaligus takut di waktu yang bersamaan.


"...Dan akan menjadi pernikahan termegah di Indonesia, tempat kelahiran mu. Sampai kamu dianggap dan diperlakukan sebagai seorang ratu, karena menikah denganku. Lalu kita akan bahagia bersama anak-anak kita nanti." Ucap Benedict dengan sangat yakin, seakan-akan itu pasti akan terjadi jika Kyra menikah dengan Benedict.


Mendengar perkataan Benedict, Kyra hanya bisa tersenyum gugup. "Wow, itu pasti akan menjadi kehidupan yang luar biasa indah." Balas Kyra sekenanya saja.


"Jadi kamu setuju?" tanya Benedict


"Apa?" tanya Kyra bingung


"Menikah denganku? kamu setuju?"


"Ben, aku belum siap..." Kyra melepas genggaman tangannya dengan Benedict, lalu memeluk tubuhnya. "Ini terlalu cepat."


"Cih"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2