
"Kenapa aku harus mengikuti perkataan mu?" Tanya Kyra kepada Agnes yang mulai menangis.
"Hiks... hiks... hiks" tangis Agnes.
Kyra mencoba sabar dengan tingkah Agnes yang selalu playing victim dengannya, bahkan ini bukan pertama kalinya Agnes bersikap seperti ini.
"Apa kamu ingin menjadi orang ketiga dalam kehidupan percintaan ku terus? apa kamu tidak lelah Ky?" tanya Agnes dengan wajah yang sedih.
Kyra berdiri dari kasurnya, lalu berjalan mendekati Agnes. "Hentikan sandiwara mu Agnes, selama aku belum mendengar perkataan dari kekasih ku... jangan harap kamu bisa merebut nya dariku." Ungkap Kyra sambil menatap Agnes dengan raut wajah permusuhan.
"T-tapi dia harus bertanggung jawab terhadap ku..." Gumam Agnes yang masih bisa didengar oleh Kyra
"Bertanggung jawab apa?!" tanya Kyra dengan nada tinggi.
Agnes masih diam, dia tidak berani mengatakan apapun.
Karena kesal Kyra keluar dari kamarnya, Dangan telanjang kaki. dia berlari walaupun tubuhnya masih lelah, dia mencari-cari keberadaan Benedict di seluruh penjuru kapal.
Kyra melihat Amanda, lalu dia menghampiri nya.
"Kak Amanda! Dimana Benedict?!" tanya Kyra panik.
Amanda menatap Kyra cemas, "Aku dari tadi menelepon mu Ky, ayo ikut aku. Benedict sedang berbicara dengan keluarga kita di ruang privat keluarga."
Disisi lain...
Benedict duduk di sofa tunggal, dengan dikelilingi oleh keluarga besar Kyra.
__ADS_1
"Saya tidak melakukan apa-apa kepada Agnes!." tegas Benedict menolak kesalahpahaman ini.
"Tapi kami melihat, kamu dan Agnes keluar dari kamarnya Agnes." Ucap Joe tidak percaya.
"Kamu tidak melihat aku keluar dari kamar putrimu, aku hanya lewat kamar putrimu. itu hanya kebetulan, dan entah kenapa putrimu tiba-tiba memeluk ku.!" Jelas Benedict lelah.
"Tapi Agnes bilang..." Perkataan Joe terpotong dengan perkataan Sean.
"Tunggu sebentar paman, kalau Benedict hanya lewat... Berarti kamu habis dari mana, dengan pakaian yang sama seperti kemarin? setahuku kamarmu berada di arah berlawanan. sedangkan disana terdapat kamar milik Agnes, Kyra, dan Luna." ucap Sean sambil menatap menyelidiki ke arah Benedict.
Entah kenapa Benedict bungkam, dia tidak ingin memberi tahu apa yang telah dia lakukan bersama Kyra tadi malam. takutnya Kyra tidak setuju, dan semakin membencinya.
Melihat keterdiaman Benedict, Sean menghela nafas lelah, "Jika kamu diam, masalah ini tidak akan selesai."
Sean sebenarnya sedikit curiga dengan Benedict, bisa saja Benedict habis dari kamar adiknya. tapi... melihat keterdiaman Benedict yang tidak mau menjawab membuat nya bertanya-tanya.
Walaupun begitu Sean tidak ingin asal berasumsi, walaupun Kyra dan Benedict adalah sepasang kekasih. bukan berarti Benedict bisa setia.
Kyra masuk dengan ngos-ngosan, bahkan sampai keluar keringat.
"Sebentar... aku hambil nafas dulu." raut wajah Kyra pucat, bahkan wajahnya terlihat panik.
Sean dan Benedict langsung berdiri menghampiri Kyra yang terlihat sangat lelah.
"Dek, duduk sini. ambil nafas pelan-pelan, tenang... jangan panik." saran Sean sambil mengelus bahu Kyra lembut.
"Sayang? kamu ga apa-apa? apa ada yang sakit?" tanya Benedict ikut cemas.
__ADS_1
"Tidak, aku tak apa-apa." Jawab Kyra pelan.
"Nak Kyra, kenapa buru-buru kesini?" tanya Neina ikut mengelus bahu Kyra lembut.
Kyra dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Semalam, Benedict berada di kamarku. kami menonton film bersama, tanpa ingat waktu... bahkan kami tertidur tanpa sadar. tadi pas jam 8 lewat Benedict keluar dari kamarku, untuk kembali kekamar nya untuk ganti baju. jadi selama semalaman Benedict bersamaku!." Jelas Kyra, walaupun dibumbui sedikit kebohongan.
"Tapi nak, paman dan aunty mu melihat Benedict dan Agnes berpelukan di depan kamar Agnes. bahkan Agnes sendiri yang bilang, kalau dia semalam bersama Benedict." Ucap Joe merasa perkataan Kyra tidak sesuai dengan perkataan Agnes.
"Perkataan Kyra benar, kalau saya habis dari kamar Kyra. dan soal saya berpelukan dengan Agnes, saya tidak sengaja bertemu dengannya di lorong. dia berkata kalau Kyra tidak layak bersama saya, dan dia merasa kalau dia yang lebih cocok. karena saya tidak setuju, bahkan saya mencoba menghiraukan perkataan Agnes. namun dia langsung memeluk tubuh saya, saat saya ingin melepaskan pelukannya. Mr Andreas sudah memergoki kami berpelukan." Jelas Benedict panjang lebar, tanpa terbata-bata.
Pintu ruangan tersebut terbuka lebar, Agnes masuk dengan raut wajah yang sangat panik. dia menangis dengan sedu.
"Mr Andreas saya hanya ingin bersama Kyra, saya tidak membutuhkan wanita lain. karena dihari saya hanya ada Kyra seorang." Ungkap Benedict tepat menyindir Agnes agar menyadari posisinya.
"Ayah... " Agnes ingin meraih tangan sang ayah, namun langsung ditepis sang ayah.
"Agnes, hentikan. ayah sudah lelah dengan sikap kekanakan mu ini, sekarang kembali kekamar mu sekarang!!" Ujar Joe sambil menatap kecewa kepada putri satu-satunya.
Agnes menangis dengan histeris, tapi tubuhnya dibawa oleh ibunya Neina dan Amanda untuk kembali ke kamar.
Setelah Agnes dibawa, tinggal Sean, Benedict, Joe, dan juga Kyra diruang tersebut. jika ditanya mana keluarga yang lain, mereka sedang belajar menari di lantai dansa ruang diskotik. karena masih siang, ruang tersebut bisa dijadikan tempat latihan tari.
"Kurasa kesalahpahaman ini sudah selesai, lebih baik aku kembali." Ujar Kyra yang ingin berbalik pergi.
"Tunggu dulu!" Sean menghentikan langkah Kyra, lalu menarik tangan adiknya.
"Kamu ikut aku, sekarang." Tegas Sean, lalu menarik tangan Kyra menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari sana.
__ADS_1
sedangkan Benedict, harus menyelesaikan pembicaraan nya bersama Joe.
BERSAMBUNG