Obsesi Sang Billionaire

Obsesi Sang Billionaire
BAB 7 - Kencan


__ADS_3

Sekarang sudah menunjukkan pukul 08:30, dan Kyra sedang bersiap-siap dikamar nya. Dia menggunakan Gaun panjang polos tanpa lengan, dipadukan outer rajut.


Dan tidak lupa juga Kyra memoleskan make up diwajahnya, sehingga memberikan kesan cantik dan polos.


Tak lama kemudian Kyra keluar dari kamarnya dengan tersenyum senang, karena ini kencan pertama nya bersama bule ganteng.


Saat ingin memasuki resto yang dituju, Kyra tidak sengaja melihat Benedict bersama pamannya Joe.


Suasana Resto tersebut memang sedang sepi, karena seluruh keluarga sedang makan di resto didekat kolam karena pemandangan nya bagus.


dan Kyra sekarang sedang mengintip dua manusia itu dari jendela luar resto.


Kyra melihat, pamannya Joe sedang memohon-mohon didepan Benedict dan sepertinya Joe akan menangis jika dilihat raut wajahnya yang pias tersebut.


Sedangkan Benedict, dia tetap tenang sambil meminum minumannya tanpa beban.


"Saya akan usahakan melunasi nya tuan, tolong beri saya waktu. Perusahaan juga sedang ada masalah karena naiknya mata uang dollar tuan, tolong pertimbangkan lagi." Mohon Joe kepada Benedict.


Dengan pelan Benedict menurunkan cangkir nya, "Jika kau tahu anda tak bisa melunasi hutang anda sendiri, kenapa anda meminjam. Dan jika anda tidak melunasi hutangnya, jangan salahkan saya jika harus mengambilnya dengan kasar." Ungkap Benedict dengan pandangan wajah meremehkan.


Mendengar perkataan Benedict, Joe langsung turun dari duduknya lalu bersujud memohon kepada Benedict untuk memberinya waktu.


"Mr Andreas, bisakah anda pergi dari hadapan saya. melihat anda bersujud dihadapan saya, hanya akan merusak mood pagi saya yang indah ini." Ucap Benedict sambil menunjukkan senyuman yang biasa dia perlihatkan.


Joe berdiri dari tempatnya, lalu permisi pergi keluar dari resto tersebut.


Sedangkan Kyra yang sengaja menguping dari luar jendela merasa bingung dan juga kesal kepada Benedict.


Karena Kyra tidak suka melihat pamannya yang selalu merawat, membiayai nya hidup, dan menjadi sosok ayah baginya diperlakukan tidak hormat seperti itu.


Entah kenapa Kyra mulai merasa tidak nyaman dengan Benedict sekarang. walaupun merasa tidak nyaman, Kyra tetap harus datang.

__ADS_1


Setelah lama berpikir, akhirnya Kyra memasuki resto tersebut dengan raut wajah yang datar.


Lalu dia mendudukkan dirinya dihadapan Benedict, yang sekarang sedang tersenyum manis kepadanya.


"Aku senang kamu datang Kyra." Ungkap Benedict.


Sedangkan Kyra hanya bisa tersenyum ramah, "aku? kamu?" batin Kyra.


"Saya sudah berusaha untuk datang." jawab Kyra seadanya.


Dan kemudian suasana menjadi canggung


"apa kamu sudah memesan? kalau belum ini buku menunya." Benedict memberikan buku menu kepada Kyra.


"terimakasih" Kyra membaca menu-menu tersebut.


Sedangkan Benedict tidak bisa menahan senyumnya, dan degupan hatinya yang terus menerus berdetak kencang.


"Kamu sangat cantik." ungkap Benedict kepada Kyra dengan tersenyum senang.


"bukannya tadi pria ini bersikap sangat dingin dan tidak sopan ya kepada paman? kenapa sikapnya bisa berubah dengan cepat seperti ini, menyebalkan!." Batin Kyra sedikit kesal dengan sikap Benedict.


"terimakasih atas pujiannya Kyra." jawab Benedict, "Karena ini kencan pertama kita, bagaimana kalau kita mulai dengan perkenalan terlebih dahulu." lanjutkan.


Kyra mengangguk menyetujui, "Baiklah, tapi dimulai dari mas dulu. bagaimana?"


"Baiklah, tapi sebelum itu kita memesan makanan dahulu. kamu pasti lapar." Benedict memanggil pelayan resto, lalu memesan makanan untuk nya dan juga untuk Kyra.


setelah memesan mereka berdua melanjutkan pembicaraan mereka tadi.


"Jadi... saya adalah anak tunggal, usia saya 30 tahun dan saya memiliki dua orang tua yang baik. Saya juga seorang direktur utama dari B.A Company, dan pria tampan yang mapan. Dan kalau boleh jujur, saya tidak pernah berpacaran atau menjalin kasih dengan orang lain. Jadi, jika saya ada kekurangan sebagai pasangan Kyra nanti, tolong dimaklumi karena saya baru belajar." Jelas Benedict dengan antusias dan jangan lupa raut wajah cerianya yang tidak luntur dari tadi.

__ADS_1


Kyra mengangguk, "B.A Company? perusahaan teknologi terbesar itu? dan kamu direktur utama nya?" tanya Kyra berusaha kalem, tapi dia tak bisa membohongi rasa antusias nya itu.


Bagaimana tidak, Kyra sangat tahu sekali dengan perusahaan tersebut. Bisa dibilang Kyra pernah ingin melamar pekerjaan disana tapi sayangnya tidak berhasil. tapi... Sean, di bekerja di perusahaan tersebut.


"Yup, itu perusahaan saya." jawab Benedict, dia senang melihat ekspresi Kyra yang menatap nya sangat kagum.


Benedict suka saat Kyra menatap nya dengan wajah kekaguman nya tersebut, membuat nya harus menahan sebuah hasrat besar yang berada didalam dirinya.


"Wow hebat!" puji Kyra sambil memberikan dua jempol.


Benedict terkekeh geli, "Sudah cukup cerita ku, bagaimana denganmu? Aku ingin tahu semua tentang wanita yang kusukai." Ucapnya.


"Baiklah, saya anak terakhir dari 2 bersaudara. Usia saya 25 tahun, dan saya bekerja sebagai pelatih Pramuka. Saya memiliki orang tua yang bercerai, saya dan kakak di rawat oleh ibu kami. dan kehidupan saya berkecukupan, tidak lebih dan tidak kurang." Jelas Kyra sesingkat mungkin.


"Bagaimana dengan kakak mu, dia bekerja dimana? usianya berapa?" tanya Benedict sangat penasaran dengan calon kakak iparnya, walaupun hubungan mereka masih dalam tahap saling mengenal.


"Kakak saya bernama Sean, Usianya 30 tahun sama seperti mas. Dia bekerja di B.A Company, sebagai Administrator disana." Jawab Kyra.


Mendengar kalau kakak dari wanita yang dia suka bekerja sebagai pegawai di kantor nya, Benedict langsung cemas. Bagaimana tidak, dia kalau dikantor bersikap sangat kasar dan juga tegas. dan sering memecat karyawan yang melakukan kesalahan, dan tak ada namanya kesempatan kedua.


"Kalau begitu, berarti kakakmu adalah pegawai ku dong. Bagaimana dengan keluarga mu yang lain?" tanya Benedict berusaha mengalihkan pembicaraan tentang masalah kantor nya.


Seketika Kyra mengingat perlakuan Benedict terhadap pamannya, "Saya memiliki seorang paman dan bibi, mereka berdua sudah merawat saya seperti anak sendiri. dan saya juga sudah menganggap mereka sebagai orang tua saya sendiri, apalagi paman saya. Dia yang membiayai saya sekolah saat ibu saya tidak memiliki uang, bahkan paman sangat menyayangi saya. Dan saya sangat-sangat menghormati dan menyayangi paman saya." Jelas Kyra .


Mendengar perkataan Kyra Benedict ber o riah, "Memangnya siapa nama paman dan bibimu? mungkin saja aku saya kenal." Tanya Benedict, sambil menunjukkan senyuman manisnya.


Kyra terkekeh, "Mas Ben kenal kok orangnya, nama paman saya Joe Andreas dan Bibi saya Naina Andreas." jawab Kyra.


Seketika Benedict Terdiam, wajahnya yang awalnya ceria langsung berubah pucat. "Mr Andreas? yang punya acara? k-keluarga mu?" tanya Benedict lagi.


Kyra menganggukkan kepalanya, "Iya, Paman Andreas. paman yang paling saya sayangi." Kyra melihat wajah Benedict yang pucat, hanya bisa tersenyum. "Jadi... jika Mas ingin mendekati saya, Mas harus meminta restu dari Kakak dan paman saya." Jelas Kyra.

__ADS_1


Disaat itulah, Benedict mulai menyesali perbuatannya terhadap Mr Andreas. "Aku terlalu meremehkan pria tua itu." Batinnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2