Obsesi Sang Billionaire

Obsesi Sang Billionaire
BAB 17 - Ancaman


__ADS_3

Benedict menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang sangat sepi, sehingga membuat Kyra sedikit bingung dan takut disaat bersamaan.


"Berapa dia membayar mu, untuk mendekati ku?" Tanya Benedict, menatap ke arah Kyra dengan wajah yang menahan amarah.


"A-apa maksud mu, Ben?" Kyra mencoba menggenggam tangan Benedict, untuk menenangkan Benedict.


"Tidak usah berakting lagi Kyra, cukup kamu beritahu padaku kenapa kamu menolak ku? Dan berapa bajingan itu membayar mu untuk mendekati ku?" Tanya Benedict sekali lagi.


Kyra sempat terdiam, dia mencerna perkataan dan prilaku Benedict yang tiba-tiba kesal dengan tenang.


"Berapa banyak kamu dengar?" tanya Kyra, wajah nya menatap lurus ke arah jalanan.


"Semuanya!" jawab Benedict dengan sedikit meninggi kan ucapannya.


Kyra mengangguk paham, "Berarti kamu tahu, kalau aku sangat menyayangi pamanku. bahkan sudah ku anggap sebagai ayahku sendiri, tapi kamu..." Kyra menatap wajah Benedict dengan kesal. "Kamu menghinanya, bahkan menganggap nya sebagai hama pengganggu."


"Itu karena pamanmu, memiliki hutang yang sangat banyak kepadaku. apa kamu tahu bersama banyak? hutang nya sebanyak 34 Miliar. dan bahkan aku sudah memberi waktu lebih dari 5 tahun..."


"Pamanku memang salah, tapi apa kamu tidak puas melihat seorang manusia bersujud memohon dengan manusia lain." Ucap Kyra dengan nada tidak suka.


Benedict meraup wajahnya menggunakan tangannya, lalu berkata. "Ky, bisakah kita hentikan pembicaraan tentang pamanmu ini? aku mencintaimu, dan kita yang menjalani hubungan ini. ini tidak ada hubungannya dengan pamanmu..."


"Tapi sayangnya tidak, aku tidak mencintaimu... aku tidak butuh lagi uang dari Erick, mari kita hentikan ini." Ucap Kyra dengan tegas.

__ADS_1


Karena geram Benedict menarik tengkuk Kyra, lalu diciumnya dengan kasar.


Mendapatkan ciuman kasar dari Benedict, Kyra memukul dada Benedict dengan kuat. walaupun Benedict masih tetap ******* bibir Kyra dengan penuh nafsu.


"B-Ben..." Lirih Kyra, air matanya sudah menetes.


Karena merasa Kyra sudah hampir kehabisan nafas, Benedict melepas lumatannya. lalu menyatukan dahi mereka.


"Tak masalah kamu tidak mencintaiku, cukup aku yang mencintaimu itu tak masalah." Lirih Benedict.


Dengan kasar Kyra mendorong Benedict, sehingga mereka berjarak.


"Aku tidak mencintaimu, dan hubungan ini tidak akan berhasil jika salah satu dari kita ada yang tidak menginginkan nya. Jadi berhentilah bersikap semaumu." Ketus Kyra, yang sedikit membuat hati Benedict terluka.


"Apa kamu sedang mengancam ku sekarang?"


Benedict menatap Kyra melembut, lalu mengelus rambut Kyra lembut. "Aku tidak mengancam mu sayang, aku memperingatkan mu. apa yang akan terjadi jika kamu menolak ku."


Kyra menepis tangan Benedict, "Jangan bercanda Ben, kamu tidak bisa memaksaku seperti ini." Ucap Kyra dengan meninggikan suaranya.


"Pilihanmu hanya dua sayang, menikah denganku setelah liburan. atau melihat kedua orang yang paling kamu sayang menderita. pilihan ada di tanganmu." Jelas Benedict lagi.


Mendengar perkataan Benedict, Kyra hanya bisa diam ditempat duduknya mengalihkan wajahnya menatap ke arah jendela di arah berlawanan. sehingga posisinya membelakangi Benedict.

__ADS_1


Kyra sedang berfikir, bagaimana jika Benedict benar-benar akan melakukan itu. Bukan hanya pamannya saja yang menderita, bibi dan Agnes juga akan menderita.


Dan apalagi ditambah Rumor tentang Benedict yang memiliki karakter yang sangat keras dan kejam, dan perkataan nya tidak bisa dianggap enteng.


"Bisakah kita kembali sekarang, aku lelah." mohon Kyra, tanpa menatap ke arah Benedict.


Melihat Kyra yang tidak mau menatap wajahnya, Benedict meraup wajahnya kasar. lalu dia mendekati Kyra, dia mencium pucuk kepala Kyra lembut. Dia mengikuti apa perkataan Kyra, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Selama diperjalanan Kyra tidak membuka suara nya sama sekali, mereka berdua saling diam.


tak lama kemudian mereka sudah sampai di pelabuhan, lalu naik ke kapal bersamaan.


Saat di dekat tempat resepsionis, Kyra menghentikan langkahnya begitu juga dengan Benedict.


"Aku akan kekamar ku sekarang." Kata Kyra yang berhadapan dengan Benedict tapi masih enggan untuk menatap nya.


Benedict memeluk Kyra dengan lembut, lalu berbisik ditelinga gadis tersebut. "Pilihan ada di tanganmu sayang, jangan membuat ku menunggu lama." bisik Benedict, lalu mengecup pipi Kyra sekilas.


Setelah Benedict melerai pelukannya, dia langsung berbalik pergi menuju kamarnya.


Sedangkan Kyra hanya bisa terdiam di posisinya, sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini.


"Lebih baik aku tidak usah memikirkan nya." Gumam Kyra lalu pergi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2