
Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen, kalau ada yang tiponya maaf ya muacc
..........
Sedari tadi matanya hanya memandang keluar kaca mobil. Dia sangat sedih karna di tinggal kerja abang nya. Sekaranag dia bingung, harus bagaimana.
Flashback
“bang..” Sila tidak mau melepas pelukannya.
“kenapa?” sambil mengusap kepala Sila.
“apa Sila tidak bisa ikut” tanyanya
“kamu, sudah bekerja, dan sebentar lagi akan kuliah?”
“kuliahnya masih lama, Sila bisa keluar dari kerjaan”
“kamu di sini aja, nanti abang juga akan pulang, karana abang punya jatah cuti. Tapi tidak sering” mendengar itu Sila menatap Ando dengan mata berbinar.
“benar bang” Ando hanya mengangguk.
“ingat kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak, atau mama dan papa” Sila hanya mengangguk. "Nah sekarang ada pak Bili yang bisa mengantar Sila kapan pun, jadi jangan pernah keluar sendiri” dan Sila hanya mengangguk.
“abang akan kasih kabar kalau udah sampai” dan untuk kesekian kalinya Sila hanya mengangguk. Sebanarnya Ando sangat berat menitipkan Sila ke Marvin, memikirkan itu kepalanya mau pecah.
“bang…”
“hmmm” “ada apa” sambil mengelus rambut adiknya.
“Sila sayangkan sama abang” adiknya hanya mengengguk “kalau gitu Sila jangan cengeng Sila sudah besar, dan Sila harus mandiri”
“….” Sila tidak menjawab tapi hanya menggangguk kan kepala.
“abang hati-hatii” kata Sila sambil tersenyum. Melihat senyum adiknya hati Ando menjadi damai. Ando hanya tersenyum kemudian mencium pipi adinnya kemudian melepas pelukannya, kini Ando mulai berjalan menjauhi adiknya sambil melihat kebelakang dan melambaikan tangannya. Sila yang masih setia melihat punggung abangnya sampai hilang dibalik pintu hanya diam perasaannya sudah tak menentu.
“non…”
“non Sila” Sila langsung melihat pak Bili.
“ayo non kita pulang”ajak pak Bili. Sila hanya mengangguk sebagai jawaban dan mulai mengikuti pak Bili. Sampailah dia didalam mobil hanya termenung dan diam sambil melihat ke jendela.
Flashback end.
Tess..
Airmatanya keluar mengingat itu, Sila langsung menghapus air matanya.
‘tidak boleh, tidak boleh cengeng, Sila tidak boleh bergantung sama aabang, Sila harus mandiri, Sila sudah janji ke abang’ kata Sila dalam hati.
“non Sila, sudah sampai ayo turun” Sila hanya mengangguk tapi sambil tersenyum.
“ehh..iyaa” saat Sila keluar dari mobil Sila melihat sekeliling rumah tersebut. Sila yang melihat rumah itu hanya terkagum. Sila hanya mengukuti pak Bili dari belakang sambil menyeret koper besarnya, sampai akhirnya pak Bili berhenti di depan pintu.
Klek
“Silahkan masuk non, ini kamar non Sila” kata pak Bili.
“ terima kasih pak Bili” kata Sila sambil tersenyum manis.
“sama-sama non” kata pak Bili.
Sila yang sudah masuk kedalam kamar mengamati kamar tersebut dengan seksama. dia sangat menyukai kamarnya yang di cat warna putih, Sila mengegok ke samping melihat kasur ukuran king size., dan jendela yang besar.
__ADS_1
‘kamarnya sangat luas, bahkan lebih luas dari kamar di apartemen abang’ katanya Sila berjalan ke arah kasur dan meletakan kopornya. Saat ingin membuka kopernya entah kenapa dia mengangkat kepalanya dann…
“AAAAaaaa…..” dia sangat keget sampai-sampai dia mundur beberapa langkah dan terjatuh dengan dia mengusap-usap pantat nya karna sakit.
Deg… Deg.... Deg
“astaga….astagaaa…astagaaa” ucapnya, dia langsung berdiri. Jantungnya hamppir copot, Sila sangat kaget melihat panntulan dirinya sendiri. Ya dia melihat dirinya sendiri.
‘siapa yang meletakan cermin di situ’ geramnya. Dia masih mengusap dadanya sesekali mengusap pantanya yang sakit. Dia baru sadar di samping kasurnya ada cermin besar, spontan slia berjalan kearah cermin itu, dan saat tangannya menyetuh cermin itu…
‘tunggu, ini bukan cermin eh bukan ini cermin, tapi eehh ternyata bisa digeser’ katanya entah sama siapa. tangan kecil Sila menggeser cermin tersebut. Tepat di depannya ada sebuah tangga mengarah ke suatu ruangn. Sila yang takut tapi penasaran membulatkan tekat untuk menuruni tangga tersebut. Dia melangkah menuruni tangga itu dengan hati-hati, saat berada di tengah-tengah anak tangga, dia sangat kagum dengan ruangan tersebut.
Sila buru-buru menuruni tangga tersebut.
“wahhhh… kerennn” katanya, dengan mata berbinar. Ruangan tersebut adalah sebuah Bookshelf home atau perpustakaan dalam rumah.
Dia mengelilingi rak-rak buku itu, sampai matanya melihat sebuah ruangan luas yang dikelilingi oleh rak buku, tapi di tengahnya ada sebuah kasur saat Sila mengegok ke atas …
“astaga…” dia mengusap dadanya kesekiankali. Karna lagi-lagi melihat cermin di atas kasur tersebut. Cermin tersebut menggantung di atas kasur .
“kenapa banyak sekali cermin” tanyanya entah sama siapa.
“aku harus membersihkan diri, kemudian kesini lagi” katanya sambil bertepuk tangan dan senyum yang tidak luntur di wajahnya, kemudian meninggalkan ruangan tersebut, sambil bersenandung.
** …….**
Bugkkk…. Buggg….
Marvin duduk dengan angkuh di ruangan tersebut, menonton orang suruhannya menghajar orang tersebut.
“lagi” katanya dengan muka datar.
Bugkkk…. Buggg…. Orang tersebut sudah berlumuran dah sedari tadi sudah di kroyok.
“ah, kalau bisa patahkan tangan dan kakinya” para bodyguard tersebut hanya mengangguk, kemudian …
Ktreekkk….
“Aaaaaaa…” jerit orang tersebut “aa ampu h unn” suasah paya kata itu keluar dari mulutnya.
“siapa” kata nya dengan mimik datar.
“tt hh uuan daav itt” kata orang tersebut dengan susah payah. Kemudian Marvin berjalan dengan angkuh kedepan
orang itu sambil memengang tongkat besinya.
Dia mengarahkan tongakt besinya ke pundak orang tersebut dan menekan pelatuk tongkat tersebut..
“AAAAAAA…..” jerit oarng itu. Pundaknya sangat sakit karna di tusuk. Tongkat besi itu memiliki pisau dengan dua mata yang tajam di ujungnya yang tersembunyi..
“katakan keapda tuan mu, jangan pernah mengusik hidupku” katanya dengan sinis
“…” orang itu hanya mengangguk, hidupnya sudah di ambang kematian. Kemudian Marvin mencabut tongkatnya.
“harusnya kalian bersyukur karna masih baik hati, membiarkan kalian hidup”
“Andre, kembalikan mereka ke asalnya” kata Marvin melangkah pergi dari ruangan tersebut.
“baik tuan” kata bodyguard yang bernama Andre. Andre memberikan kode ke bawahannya, untuk menyeret kedua orang tersebut untuk di kembalikan.
** ……**
Marvin sangat kesal karna berurusan dengan mereka, harusnya sekarang dia menyambut gadisnya. Tapi karna tikus-tikus yang ingin menghancurkan keluarganya terpaksa dia harus meninggalkan gadisnya dirumah, dan tidak menyambutnya.
__ADS_1
……
Di tempat lain…
Prangggg …
semua barang yang ada di ruangan itu sudah hancur, rungan tersebut jadi kapal pecahhh
“BRENGS***K….. “ teriak orang itu.
“awasss kau Marvinnn” …. Dia sangat kaget saat melihat orang suruhannya ada di depan rumahnya terkapar tidak
berdaya. Keadaan mereka sangat mengenaskan, ya walaupun masih hidup.
“akh awas saja kau Marvinnn” desisnya.. “bereskan semuanya”
“baik tuan”
…….
Sedangkan Marvin melangkah kedalam rumah.
“selamat datang tuan” kata pak Bili, sambil mengambil tongkat Marvin
“dimana dia?” tanya Marvin
“nona ada dikamarnya”
“kau bisa pergi, dan jangan lupa panggil Anggi” kata Marvin, Marvin masih menghormati pak Bili karna sudah mengabdi sama keluarganya. Marvin melangkah menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri dia kemudian membuka lacinya
Tok..Tokk
“masuk” dengan suara dingn.
“ada yang bisa saya bantu tuan” ucapnya selembut mungkin, yang tidak lain adalah Anggi. Marvin memperhatikan
perempuan tersebut. Dengan wajah datar. Marvin berjalan mendekat dan memberikan sesuatu kepada Anggi.
“t tuuan in …” pelayan itu tidak melanjutka kata-katanya karna langsung di potong oleh tuannya.
“belikan semua kebutuhan Sila” kata Marvin dengan cuek
“ Sila siapa dia?” tanya pelayan perempuan itu dengan sinis. Marvin yang mendengar itu langsung mencengkram
rahang pelayan itu.
“ingat lo hanya pelayan disini, jangan pernah menyebut namanya, dan panggil dia nona” kata Marvin dengan dingin. dan langsung meninggalkan pelayan tersebut tersebut.
Marvin berjalan ke kamar gadisnya, dia tidak sabar untuk bertemu. Tapi saat dia masuk yang didapat hanya ruang
kosong dan koper yang terbuka. Marvin melihat isi koper tersebut dan mengambil benda yang menarik perhatiannya.
Dengan jari telunjuknya mengangkat kain tersebut. ‘ ckk apa ini kode untuk membelikannya dalaman, ternyata gadis ku tidak seksi walaupun dari luar menggoda’ katanya dengan menilai Sila. ya itu adalah cd Sila dengan gambar stroberi. Konyol, pikirnya.
Marvin mengalihkan matanya ke cermin yang terbuka, dia hanya tersenyum sambil melangkah kearah cermin itu dan meninggalkan kain itu.
Saat ini Marvin sudah dirungan rak bukunya dan melihat Sila tertidur di kasur tersebut, “ahh sangat menggoda” sambil menyeringai berjalan mendekati sila.
………..
Terimakasih telah membaca
__ADS_1
Sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muacc