
Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muacc
........
1 bulan kemudian
Sila masih di depan cermin mengamati penampilannya, menurutnya penampilannya sudah bagus, sebenarnya dia sangat khawatir, ini adalah pengalaman pertamanya melamar kerja. Banyak hal yang ingin dia tanyakan sama abangnya tetapi jawaban yang akan didapatnya adalah ‘Sila tenang aja’.
Sila masih duduk menunggu abangnya.
“bang cepat hari ini Sila mau interview, nanti telat”
“iya..sabar”
Setelah semuanya selesai kakak beradik atau abang beradik itu langsung ke tempat yang dituju.
dalam pejalanan hanya suara radio yang terdengat, tapi tiba-tiba sila bertanya..
“ bang, apa tidak apa-apa kalau Sila hanya memakai ijazah SMA” tanya Sila
“jangan cemberut, perusahaan itu milik teman abang, jadi tenang aja”
“iya bang, Cuma Sila takut” cicit Sila
“tidak perlu takut, abang akan melindungimu”
“iya abang, tapi abang antar sampai ke dalamkan”
“nah sudah sampai, kamu ikutin Lingkar dan pak Bili ya, abang gak bisa antar sampai ke dalam” yang sudah memarkir mobilnya didepan gedung.
“tapi kak… Sila…”
“nah itu Lingkar kamu sama Lingkar, dia akan mengantar kamu, cepat turun” Saat keluar dari mobil, Sila langsung berjalan ke arah Lingkar, sedangkan laki-laki tersebut hanya senyum saja.
“kar, gue nitip adik gue” dan dijawab dengan anggukan. Setelah Ando pergi Lingkar menoleh , dan melihat gadis itu hanya menunduk. Ya Sila memang pemalu, walaupun sudah pernah ketemu Lingkar tapi sifat pemalu selalu muncul.
“hey jangan melamun” sambil menoel pipi Sila, “ ahh lembut” guman Lingkar, sedangkan yang punya pipi sudah memerah bak tomat.
“kenapa kak”
“ah tidak ayo masuk” kat Lingkar sambil menggenggam tangan Sila.
Saat masuk kedalam lobby berjalan kearah lift. Semua karyawan terutama yang perempuan semua menoleh menatap Sila dengan sinis dan benci, mereka bingung karna baru kali ini mereka melihat Lingkar bersama seorang perempuan. Lingkar yang mereka kenal sifatnya mirip dengan Marvin sama-sama dingin, sama-sama punya aura hmmm menakutkan, sama-sama cuek, initinya sifat keduanya sama.
Tinggg..
Ternyata mereka sudah berada di lantai paling atas menurut Sila. Dalah hati Sila sangat gugup.
“Sila” panggil Lingkar. Sila yang melamun kaget saat dipanggil.
“eh..kenapa kak”
“kamu masuklah ke dalam, aku tinggal dulu ya” kata Lingkar. Sila hanya mengagguk. Sila yang melihat Lingkar sudah menjauh, dia pun melangkah dan mengetok pintu tersebut.
Tok..tok..tok..
“masuk” kata orang didalam. Sila yang sudah masuk langsung si sambut oleh beberapa orang.
__ADS_1
“Silahkan duduk” kata orang tersebut. “ perkenalkan saya Abraham, dan merka rrekan saya yang akan menginterview anda”. Sedangkan Sila hanya menunduk karna takut dan gugup.
“nona Sila, tolong jang menunduk” kata Abarham.
“i iya …maaf” sambil mengengkat wajahnya.
“nah kami akan mulai”.. “ baiklah”
…..
......
Akhirnya interviewnya selesai. Sila yang sudah keluar dari ruangan tersebut hanya duduk sambil menunggu. Beberapa orang melewati Sila melihat Sila dengan sinis, dan pandangan tidak suka, apalagi sekelompok perempuan disana.
‘apa aku sangat kampugan? Tapi abang yang memilihkan bajunya, bahkan abang memujiku’ Sila bertanya pada dirinya sendiri karna saat melewati sekelompok perempuan tersebut mereka tertawa sambil melihat Sila dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bahkan Sila sempat mendengar mereke mengatainya kampungan, dan jalang karna mereka melihat Sila datang dengan Lingkar.
karna terlalu melamun, sila tidak mendengar orang yang sedari tadi memanggilnya.
“no…. nona”
“nona… Sila” panggil Bili yang sudah dari tadi memanggil Sila.
Sila yang kaget langsung menoleh “ehh… iyaa, ada apa pak ?” tanya Sila
“non Sila di suruh masuk ruangan”
“oh iya pak.. maksih”
“sama-sama non”
Saat masuk dalam ruangan Sila langsung duduk.
“s saya kerja di bangian apa pak” tanya Sila.
“asisten pribadi pak pradipta di sini, jadi kamu harus mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan, apa kamu mengerti?”
“iya pak”
“Bili, kamu antar Sila ke ruangnya” kata Abraham.
“Silahkan non Sila lewat sini” Bili mengarah kan Sila ke lift Sila bingung sebenarnya ada berapa lantai gedung ini, pikir Sila.
Ting….
Saat sudah sampai ia melihat seorang perempuan yang menurutnya cantik, badanya bak model, dan dia tinggi.
Sila mengegumi kecantikan perempuan tersebut.
“pak Bili ada yang bisa saya bantu” tanya perempuan tersebut yang tidak lain adalah Dola.
“saya ingin mengantar non. Sila ke ruangannya”
“tunggu ruangan diamana” kata Dola menatap Sila dengan sinis.
“non Sila adalah asisten pribadi tuan Pradipta” kata pak Bili. Sila yang merasa dipandangi hanya menunduk. Sila baru sadar kalau perempuan tersebut adalah sekelompok yang dia lewati tadi (yang bilang Sila kampungan dan seorang jalang).
“dia asisten pribadi, ck” kata Dola, dalah hati Dola perempuan yang bernama Sila tidak ada apa-apanya di bandingkan dia, bahakan Sila sangat pendek menurut Dola, munkin hanya 150 atau 155. Bagaimana bisa dia menjadi asisten peibadi, konyol karna tipe seorang Pradipta sangat jauh dari Sila.
__ADS_1
“Silahkan masuk non” kata pak Bili. “ maafkan dia, Dola adalah sekertaris tuan Pradipta ”
“ahh iya pak. Tidak apa-apa pak.” Kata Sila dengan senyuman manis. Langsung masuk kedalam ruangan tersbut, melihat meja kosong.
"anda satu ruangan dengan pak Pradipta, di seblah sana kursi non Sila"
‘mungkin itu adalah meja kerjanya’
"apa ada yang ingin nona tanyakan?" kata pak bili
"hm kalua boleh tau siapa nama panjang Pak Pradipta"
"Marvin Levin Pradipta"
"ohh iya" kata Sila
“ini meja kerja non Sila, Silahkan kalau non Sila mau lihat lihat dulu, saya tunggu diluar dulu”
“ahh iya pak” kata Sila.
Saat pertama kali pintu terbuka wangi maskulin memenuhi rongga hidungnya. Sila mengarahkan matanya ke penjuru ruangan tersebut, ada beberapa sofa, dan ruangan untuk meeting. Saat Sila melangkah ke arah meja kerja ceonya dia menegok seblah kiri, dan ternyata ada ruangan lagi entah itu ruangan apa.
Setelah puas melihat akhrirnya Sila keluar dari rungan tersebut dan disambut tatapan sinis dari Dola. Tapi tidak
mengubris tatapan tersebut, Sila yang tidak peka akan aura yang dikeluarkan Dola. Sila meangkah mendekati Dola dan...
“mbak perkenalkan saya Sila, mohon bantuannya” sambil mengajukan tanganya. Dola lansung menoleh.
“mbak lo kira gue mbak lo apa” Dola sama sekali tidak berniat menyambut tagan Sila. Dola langsung melangkah dan menabrak pundak Sila, dan ia hampir terjatuh. Sila yang di perlakukan seperti itu matanya sudah berkaca-kaca.
’mungkin harinya akan bearat’ katanya
“non tidak apa-apa?” tanya pak Bili.
“tidak apa apa kok pak” sambil tersenyum
“saya di perintahkan tuan ando untuk mengantarkan non Sila pulang”
“ahh.. benarkah” kata Sila dan dijawab anggukan oleh pak Bili.
“mari non” kata pak Bili dan di ikuti Sila menuju lift untuk pulang.
…..
“tuan nona Sila sudah bekerja mulai besok”
“awasi terus, dan laporakan apa saja yang dilakukan dia”
“baik tuan”
Marvin menutup telponnya.
Dan melihat lembaran yang tidak lain adalah foto Sila yang berada dibandara, dia menggambil foto Sila dengan aldi dimana Sila mencium aldi dan aldi membalas cium Sila. Bukan ciuman bibir tapi ciuman di pipi dan tetap saja menyulutkan emosnya.
“bibir ini punyaku, ahh bukan semua yang ada dikamu diri kamu adalah punyaku, hanya aku” kata Marvin sambil melihat foto Sila. anggaplah marvin gila karna terobsesi pada gadis yang baru pertama kali di lihatnya.
“ahhh aku tidak sabar menunggu untuk ketemu gadis ku” sambil menyerinagi.
__ADS_1
Terimakasih telah membaca
Sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muaacc