
Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen, kalau ada yang tiponya maaf ya muacc
..........
Di pagi hari dalam sebuah kamar yang di dominasi warna biru tua dan abu-abu, diatas sebuah kasur ukuran king size. Sepasang manusia sedang berpelukan, eh bukan tangan kekar itu memeluk pinggang kecil gadisnya, sedangkan tubuh gadis itu sudah tenggelam dalam pelukannya.
Marvin yang sudah bangun dari tadi hanya memeluk gadisnya, dan mengusap kepalanya, dia masih mengingat kejadia di taman kacanya. Mengingat detail bagaimana ekspresi Sila saat ketakutan, rambut yang acak-acakan, membuatnya sangat ingin memakan gadisnya.
Gila.. anggap lah iya gila karna gadisnya, ia juga tidak tau kenapa dirinya seperti ini. Dia hanya ingin memeliki Sila. Marvin memperhatikan wajah gadisnya. Polos itu adalah kesan pertama saat melihat gadisnya, damai seperti tidak memiliki beban. Kemudian Marvin tersenyum dan mengecup dahi Sila dengan lembut.
“hmm” geliat Sila, saat merasakan benda kenyal menempel di dahinya. Matanya perlahan-lahan terbuka.
Degg…deg..deg
“pagi” sapanya dengan senyuman di bibirnya. Sila yang melihat senyuman Marvin sangat gugup, itu bukan seringai
saat mereka di taman kaca, itu sangat menakutkan, jerit Sila dalam hati.
Sila sangat gugup, ini kedua kalinya tidur dengan pria dewasa, dan ia meihat Marvin sudah bangun dan pria dewasa itu menarik lengan Sila dan melihat gadisnya. Sila melihat tatapan tajam Marvin langsung memutus tatatapan mereka dan
cup..cup..cupp marvin mencium wajah sila yang bisa di gapainya dan terakhir marvin mengecup bibir sila.
“sudah ku bulang jangan pernah mengalihkan mata cantikmu” Sila hanya mengangguk.
“ayo bangun hari ini kamu mulai bekerja lagi” kata Marvin yang kini menarik Sila untuk bangun.
“s sila bisa sendiri” kata Sila dengan gugup
“baiklah, bersihkan dirimu ” kata Marvin dengan wajah datar, dan beranjak dari kasur kemudian hilang di balik dinding. Sila yang melihat wajah Marvin hanya mengedipkan mata. sila yang sudah bangiun tersadar ia sudah memakai baju, dan entah kemana baju sila yang sebelumnya.
"mungkin baju dia" kata sila melihat baju sila, tiba-tiba wajahnya memerah tampa sebab, entah apa yang dipikirkannya.
Sila melihat sekeliling, “astaga ini bukan kamar sila” katanya dan kemudian turun dari kasur berlari menuju kamarnya, ia tidak ingin berlama-lama di sini.
Sila keluar dari kamar Marvin dan segera berlari ke kamarnya. Beberapa pelayan melihat itu hanya melihat sambil tersenyum.
“wah beruntungnya nona Sila ” kata pelayan itu.
“hm ini baru pertama kalinya tuan membawa perempuan kesini” kata pelayan satunya.
“iya bnear..bahkan kita tidak pernah masuk ke kamarnya. Hanay bik ati aja” kata pelayan lainnya.
“tapi apa aku saja yang merasa kalau pernah melihat gadis itu” kata pelayan
“ahh iya benar, aku seperti mengenalinya, tapi aku tidak tau siapa”
“dia adik tuan Ando, makanya kalian seperti pernah melihatnya”
“tapi dia tetap beruntung” mereka bergosip ria tampa sadar ada orang di belakangnya.
“ehhm, kalian disini di bayar untuk bekerja, bukan bergosip” kata orang itu tanpa ekspresi
“pak bili ngangetin aja” kata pelayan itu.
“kalian kembali bekerjalah,janagn sampai tuan mendengar ucapan klaian” kata pak bili melangkah
pergi.Pelayan-pelayan itu langsung bubar.
….
Sila tang berlari langsung masuk kedalam kamarnya, taklupa menguncinya. Kemudian bersandar dipintu dan
merosot, kaki kecilnya tidak kuat menopang badannya sendiri.
Deg…. Deg…. Deg …
Jantung Sila berdetak sangat cepat, dia mengusap dadanya, kilasan-kilasan kejadian saat di taman kaca tiba-tiba
melintas di kepalnya. Semua sentuhan Marvin dan ucapannya, beputar, putar di kepanya. Wajah Sila seketika saat Marvin mengecup dadanya, dia bahkan mengingat mulut Marvin yang hangat… oh kenapa isi kepanya jadi seperti ini, jeritnya dalam hati, kemudian memukul-mukul kepalanya.
“tidak… tidak… “ kata Sila kembali bergetar saat mengingat Marvin sangat marah. Sila sangat takut saat Marvin seperti itu. Dengan kaki gemetar dia beranjak dari pintu, menuju ke kamar mandi membersihkan diri dan pikirannya, kemudian berangkat bekerja.
__ADS_1
……
Beberapa saat kemudian.
Sila yang sudah berpakaian rapi siap untuk kekantor menatap dirinya di depan cermin, mengecek apa ada yang kurang, kemudian matanya tertuju pada tulang selangka, dan lehernya.
“masih merah” katanya kemudian mengambil bedak dan menutupi bekas gigitan Marvin. sedangkkan Sila sendiri masih bingung dari mana bercak merah itu berasal. Setellah dirasa semuanya suadah siap Sila menggambil tasnya dan melangkat ke aarah pintu.
Saat membuka pintu alangkah terkejutnya Sila saat melihat pria dewasa itu di depan pintunya hanya menggunakan kemejanya, dan jas kerjanya ada di lengannya, dan lengan satunya langsung menahan pintu Sila saat Sila ingin menutupnya kembali.
Marvin yang kesal karna pintu kamar Sila terkunci dari dalam harus menunggu gadis nya untuk membukakan pintu. Saat pintu sudah dterbuka dia melihat gadinya yang terkejut melihat dirinya.
“jangan ditutup” katanya dengan wajah datar dan menerobos masuk ke dalam kamar Sila. sedangkan Sila kaget dan hanya menunduk sambil meremaas tali tasnya.
“aku disini, jangan menunduk” katanya melangkah mendekati Sila, langsung menyodorkan Sila dasi. Sila yang
mendengar suara dingin langsung mendongak melihat Marvin dan melihat dasi itu.
“pasangkan” kata Marvin menatap Sila. sedangkan yang di tatap sangat gugup, karna ada pria dewasa yang meminta di pasangkan dasinya.
“s Sila tidak bisa” kata Sila dengan gugup.
“aku tidak suka kalau kau berbohong, dan jangan lupa hukuman apa yang pantas untuk gadis pembohong” kata Marvin menggarahkan tangannya ke wajah Sila.Sila yang mendengar itu langsun mengaambil dasi di tangan Marvin.
“baiklah” kata Sila dengan gugup.
Sila langsung menegok kepalanya dan ia melihat Marvin dengan wajah datar melihatnya dengan intesns, tapi Sila
mengabaikan tatapan itu dan mengarahkan kedua tangannya ke arah leher Marvin tapi memang Sila yang pendek, jadi tangannya tidak sampai.
“pak bisa turunkan badan anda sedikit” kata Sila.
Marvin yang mendengar itu langsung merendahkan badannya tepat sejajar dengan wajah Sila.
“cepat pasangkan” kata Marvin.
Sila kemudian memasangkan dasi itu dengan telatten, tapi tidak berani mengalihkan pandangannya dari dasi itu. Sila sendiri tau kalau Marvin melihatnya sedar tadi, tapi Sila abaikan.
“suda…” kalimat Sila tidak selesai karna
Cup…
Marvin tiba-tiba mengecup bibirnya dengan singkat hanya kecupan. Spontan Sila langsung menatap Marvin.
“Marvin”
“hah..”kata Sila tidak mengerti
“panggil Marvin saja” kata Marvin masih posisi yang sama. dan Sila dapat merasakan mafas marvin yang menerpa wajahnya.
“tapi pa…”
“kamu sudah tau aku tidak suka dibantah” katanya manetap intens Sila. Sila hanya mengguk sebagai jawaban.
“katakan..” kata Marvin
“kak mar..” kata Sila tapi langsung di potong oleh Marvin
“hanya nama tanpa embel-embel apapun” perintah Marvin
“m Marvin..” cicit Sila.
“ulang” perintahnya
“Marvin..”
“tatap mataku” kata Marvin setengah berbisik
“Marvin” kata Sila sambil menatap mata Marvin.
Marvin yang mendengar itu spontan tersenyum, dan langsung menjauhkan wajahnya. sila yang melihat senyuman marvin hanya mengedipkan mata.
__ADS_1
“ayo, kamu terlalu mengulur waktu” kata Marvin mnegajak Sila, dan Sila mengikutinya di belakang.
“apa terlalu mengulur waktu. Kamu yang mengulur waktu boodoh” kata Sila tapi hanya dalam hati tidak berani mengatakan itu langsung didepan Marvin.
Sedangkan Marvin tiba-tiba berhenti dan menegok ke belakang.
“apa kau mengetakan sesuatu” kata Marvin dengan wajah datarnya menatap Sila dengan teliti.
“tidak, Sila tidak mengatakan apapun” kata Sila gugup. Kemudian melanjutkan langkahnya kembali, mengikutu Marvin.
…………..
Di tempat lain
Pranggg …
“arrrhhhggg….” Dia menghancurkan semua barangnya di meja riasnya.
“perempuan sialan, tidak boleh… sudah samapi disini” ucap pelayan itu
yang tidak lain adalah Anggi. Dia sangat marah, mendengar ucapan para pelayan.
“beruntung, dia sama sekali tidak beruntung” kata Anggi.
“ck apa yang kau lakukan, jangan sia-siakan tenagamu” kata orang itu yang masuk kedalam kamar Anggi.
“kau…” unjuknya kepada orang itu.
“ingat tujuan kesini, buakan untuk merayu tuan muda mu” kata oranag itu
mentap Anggi dengan sinis.
“bukan urusan mu” kata Anggi dengan emosi
“kurasa tuan mudamu sama sekali tidak menatapmu” katanya sambil terkekeh..
“kau cepat keluar dari sini” sambil menunjuk pintuu kamarnya.
“bahkkan kau sudah kalah dengan bocah itu, yang tidak punya pengalaman apapun” kata orang itu sambil geleng-geleng.
“kau… kubilang cepat keluar” katanya Anggi yang sudah emosi.
“oh ayolah .. akui saja kau sudah kalah, denngan bocah itu” kata orang itu seakan menyalakan kompor
“kauu…” desisnya.
“ahh aku yankin kau melihat kegiatan mereka saat di gazebo, bahkan tuan mudamu sangat menikmati setiap cumbuannya dengan bocah itu” katanya
“siapa nama bocah itu hmmmm” kata oarng itu sambil berfikir. “ahh Sila, gadis manis” kata Ferdi kemudian
tertawa terbahak bahak.
“Ferdi kalau tidak ada perlu cepat keluar” Anggi sudah sangat geram.
“aku kesini cuma mengambil foto-foto bocah itu” kata laki-laki bernama
Ferdi. “tapi yang aku temukan maklamppir yang mengamuk” kata Ferdi sambil tertawa. Anggi yang memang di dekat laci langsung mengambil map yang foto-foto, kemudian melemparkannya ke Ferdi.
“ambil itu dan cepatlah pergi”
“ck, kau tidak terlalu santai nona”
"kau cepet keluar" kata anggi.
"ya ya ya cepatlah nona, kau juga di tunngu bos" melangkahkan kakinya keluar.
"sialan" kemudian melangkah pergi mengikuti ferdi.
……..
Terimakasih
__ADS_1
Sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muacc