
Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen, kalau ada yang tiponya maaf ya muacc
……..
Di dalam mobil Marvin hanya fokus menyetir, sedangkan Sila dia hanya memojok sambil memegang erat selbet mobil, sesekali Sila mencuri pandang ke Marvin. sedangkan Marvin hanya fokus menyetir, ia sebenarnya tau kalau Sila mencuri pandang padanya, lucu, pikir Marvin.
“aku tau aku sangat tampan dan menggairahkan” kata Marvin yang fokus menyetir kemudian melirik Sila sekilas. Sedangkan Sila yang tertangkap basah melirik Marvin kelabakan.
“aku siap kapanpun untuk kamu terkam little girl” kata Marvin menggoda Sila, tangan kananya sudah mengusap pipi Sila. Marvin hanya terkekeh melihat respon Sila.
“ahh kau tau saat ini menggoda” kata Marvin
“Sila tidak menggoda” kata Sila, dengan menunduk.
Cit…. Marvin kemudain memarkir mobilnya.
“nah sudah sampai” mendengar kata sampai Sila buru-buru membuka mobil tapi…
Klek… klek.. klek… klek…
Tapi pintu mobil tidak di bukakkan Marvin. saat Sila menoleh ke arah Marvin ia sangat keget karna wajah Marvin saat ini sangat dekat bahkan hidung mereka bersentuhan. Karna keget Sila memundurkan badannya memojok.
Marvin yang melihat itu hanya terkekeh.
“saat ini kamu sangat menggairahkan” kata Marvin memajukan wajah nya kedua tangan Marvin mengurung Sila.
Sila melihat Marvin memajukan wajahnya, kemudian menatap dalam mata Sila. tapi Sila langsung menutup mata, tangannya sudah menggengam erat tali tasnya.
Lama menutup mata , Sila tidak merasakan apa-apa, ai memberanikan diri mengintip dengan satu matanya. Saat membuka mata, dia bisa melihat Marvin dengan sikunya yang berada di stir mobil dan jari telunjuknya memainkan bibir bawahnya dan jangan lupa mata Marvin yang sedang melihatnya.
“apa yang kau harapkan hmm” kata Marvin yang masih melihat Sila, menyudut.
Sedangkan Sila, jangan ditanya mukanya sekarang sangat merah, dia sangat malu sekarang. ‘Bodohhh’ jerit Sila dalam hati.
“kalau kau ingin ciuman tidak usah malu bilang saja, dengan senang hati aku memberikannya” kata Marvin yang masih setia menatap Sila. sedangkan Sila sama seklai tidak menatap Marvin, dia sangat takut dan gugup.
“ss ila tidak mau”
“benarkah”
“I iya”
“tapi kamu menutup mata”
“I itu …” Sila tidak melanjutkan kalimatnya karna terlalu gugup.
“kamu ingin ciuman seperti apa, kecupan, hisapan, lumatan atau kamu ingin kita bermain lidah, katakanlah” kata Marvin sambil tersenyum, sampai matanya menyipit.
Sedangkan Sila wajahnya sangat memerah, medengar kata vulgar yang di ucapkan Marvin.
“Sila tidak mau” cicit Sila sambil menunduk. ia bingung kenapa Marvin bisa dengan entengnya berbicara sevulgar itu. Padahal Sila masih kecil, jeritnya dalam hati. Marvin sangat puas melihat ekspresi Sila, ah jangan lupa wajah merah Sila.
“ingat kamu adalah asisten pribadi, jadi kemanapun aku pergi kamu harus mengikutiku, mengerti”
“iya” kata Sila dengan singkat
Klek..
“cepat keluar” kata Marvin sudah membukakakan mobil. Kemudian Marvin keluar dari mobil, di ikuti Sila keluar dari mobil, menyusul marvin dibelakang. Tapi tiba-tiba marvin berhenti dan menegok..
“berjalan di sampingku” katanya dengan wajah datar, Sila yang melihat itu bingung kemana wajah yang hangat saat di mobil. Sambil berlari kecil dan mensejajarkan langkahnya dengan Marvin.
“jangan menunduk” kata Marvin
“iya” kemudian Sila berjalan disamping Marvin.
…………
Saat memasuki lobby kantor banyak yang melihat kearah mereka, bingung karna yang berjalan di samping ceo mereka bukan Dola., tapi asisten baru bos mereka, semua mata tertuju pada sila,,,
“untuk apa pak Marvin merekrut asisten lagi”
“pak Marvin bukannya sudah punya asisten”
"bahkan punya sekertaris"
“wah pak Marvin sangat tampan”
“apa benar itu asistennya”
“sangat seksi”
“hot”
“ya”
"sangat jauh dari kriteria pak Marvin”
__ADS_1
“tapi dia masih kecil”
“katanya dia hanya lulusan SMA”
“tapi kenapa jadi asisten"
“mungkin jual diri”
“atau sudah dicicipi”
“ahhaha”
Kira-kira itulah pujian dan hinaan yang didengar Sila. pujian untuk laki-laki yang kini jadi bosnya, dan hinaan untuk dirinya. Sila bisa mendengar bislikan-bisikan itu , ia ingin menunduk menyembunyikan wjahnya, tapi takut dengan ancaman Marvin, kalau perintahnya tidak di dengarkan.
Bahkan saking bergegulatnya dengan pemikirannya, ai sendiri tidak sadar kalau sudah sampai dilantai yang dituju.
“mau sampai kapan melamun” kata Marvin dengan wajah datarnya, ia melihat Marvin sudah di luar lift. Sila berlari kecil ke arah Marvin.
"maaf" cicit Sila
“selamat pagi pak ini dokumen yang harus di tandatangani” kata Dola dengan lembut.
“hn” jawab Marvin langsung mengambil dokumen dan beranjak pergi.
Sedangkan Sila, langsung mengikuti Marvin, yang sudah masuk keruangan.
“permisi mba” kata Sila dengan sopan saat melewati Dola. Dola yang ,melihat itu semakin dengki dengan Sila.
sedangkan sila hanya mengikuti marvin masuk ke ruangannya.
……….............................
Tik…tik….tik…
Hanya suara jam dan ketikan keyboard yang terdengar dari ruang itu. Sila memperhatikan Marvin yang sangat fokus memandang leptopnya. Sila memperhatikan Marvin melihat rambutnya yang hitam, mata yang tajam, hidung yang macung, rahang yang kokoh, kemudian mata Sila tertuju pada bibir Marvin, bibir yang sering menciumnya…
“..la”
“Sila” panggilnya lagi
“ehh ada apa pak” kata Sila yang sudah tersadar dari lamunan, karna panggilan Marvin.
“mana”
“berkasnya, aku harius menandatanganinya” kata Marvin dengan wajah datar “fokuslah sudah kubilang kalau ingin ciuman bilang saja, tidak usah memandangi seakan ingin memakanku” kata Marvin panjang lebar.
“ii iya pak” katanya gugup. Kini wajah Sila sudah merah, lagi-lagi ia ketahuan sedang memandangi bosnya.
“kesini” kata Marvin tidak melepas pandangannya.
“ii iya” kata Sila yang kemudian menuju meja Marvin membawa barkas.
“ini pak” kata Sila yang sudah didepan meja Marvin dan memberikan berkas. Marvin kemudian mengambil berkas itu.
“ duduklah disitu, sebentar lagi makanan akan datang” kata Marvin sambil mengarahkan wajahnya ke sofa.
“tapi .. pak..” Sila tidak melanjutkan kalimatnya karna langsung di potong oleh Marvin
“Marvin Sila, aku tidak suka kamu menggil ku pak, atau kamu ingin sebuah hukuman” kata Marvin menatap tajam Sila.
“maaf, tapi pak ini kantor” kata Sila
“ternyata benar kamu ingin dihukum” kata Marvin
“Sila tidak mau” katanya sambil menunduk melihat ujung sepatunya.
“kalau begitu jangan pangil pak, kalau kita Cuma berdua” katanya
“dan aku tidak suka kalau kamu menunduk” Sila mendengar itu langsung menganggkat wajahnya
“iiya pa..maksudnya Marvin” kata Sila hampir keceplosan.
“kamu tungguah disana , aku tau kamu belum sarapan dan ini sudah lewat jam makan siang”
“iiya” kata Sila langsung beranjak dari hadapan Marvin, ia hanya menurut tidak mau berurusan dengan Marvin.
Taklama kemudian…
Tok..tok..tok..
“masuk” kata Marvin
“ini pak makananya” kata orang itu yang tidak lain Dola sekertaris Marvin.
“letakan di meja itu” kata Marvin memberikan isyarat.
__ADS_1
Dola yang mendengarn itu kemudian melangkah ke sofa, ia melihat Sila yang duduk di sofa itu. Ia sekuat tenaga menahan emosinya. Setelah Dola meletakan makananya, ia kemudian duduk di sofa, tapi belum sedetik duduk suara berat Marvin terdengar…
“siapa yang menyuruh lo duduk” Dola yang mendengar itu langsung berdiri. “keluar” usir Marvin dengan suara dingin. Mendengar itu Dola langsung bergegas keluar.
Sila hanya menyimak dan memperhatikan apa yang terjadi, kemudian pandangannya beralih kemakanan itu ada sandwich, jus stroberi, dan eskrim.
“wahh eskrim” katanya dengan mata berbinar.
“makanlah sebelum kamu makan eskrimnya” kata Marvin, Sila hanya menggangguk. kemudian memakan apa yang ada di depannya.
………
Di tempat lain
Tok .. tok ..tok
“masuk”
Orang tersebut langsung membuka pintu, dan melangkah dengan santai ke arah meja orang yang sedang menunggunya.
Puk…
“bukalah”
Sreett… oarang itu langsung merobek amplop itu dan mengeluarkan isinya di atas meja. Orang itu langsung tertarik dengan satu foto, dimana foto itu memperlihatkan seorang gadis yang sedang tersenyum tanpa beban sampai matanya menyipit.
“cantik” kata orang itu. Orang itu terus melihat wahaj yang berada difoto itu dengan teliti.
“yah dia memang manis sampai si tuan pradipta membawanya kerumahnya”
Mendengar nama pradipta orang itu langsung menoleh. “membawa” beo orang itu.
“ck, jangan lupakan tentang obsesi keluarga pradipta”
Brakkk
“Ferdi napalo ninggalin gue hehh” kata orang itu dengan marah marah.
“apa gak bisa membuka pintu dengan baik-baik”
“ckk” umpat perempuan itu.
“maaf tuan” kata perempuan itu sambiil menunduk yang tidak lain adalah Anggi.
“apa dia bisa menjadi kelemahan pradipta?” tanya orang itu .
“entah lah, mungkin, tapi mungkin juga tidak” sedangkan orang itu tidak menalihkan pandangannya dari foto itu.
“siapa” tanyanya.
“siapa apanya?” kata Ferdi
“namanya”
“Sila” kata Ferdi. Mendengar nama Sila di sebut Anggi langsung menyenggol lengan Ferdi. Dia sangat kesal dengan perempuan itu.
“he, ayolah David, jangan bilang lo tertarik sama bocah itu, bahkan dia tidak bisa apa-apa, dia masih sangat polos” kara Ferdii
“hmm ” gumam orang itu. “apa gue pernah ketemu dengan orang ini?” tanya yang bernama David
“itu karna dia adiknya Ando”
“Ando, ahh menarik…” sambil menyeringai sambil mengetikan pesan hpnya ke pada seseorang, Dan beranjak dari kursinya keluar dari ruangan di ikuti Ferdi dan Anggi di belakang.
………
Di tempat lain ada seorang perempuan dengan mata bulatnya melihat sebuah foto.
Ting...
“tunggulah…. Aku akan kembali” senyum yang sangat manis terukir di wajahnya, orang yang melihat itu sampai terpesona kepadanya.
“apa kau yakin” kata laki-laki itu
“iya.. "
“semua sudah berubah..” kata laki-laki itu
“tidak, tidak ada yang berubah hanya waktu yang berlalu,…. dia tidak melupakan ku, aku yakin hatinya tetap sama” kata perempuan itu.
Sedangkan laki-laki itu hanya memandang sendu perempuan itu.
……..
Terimakasih
Sempatkan membaca sempatkan like, vote dan komen , kalau ada yang tiponya maaf ya muacc
__ADS_1