Ohh My Little Girl

Ohh My Little Girl
chapter 15


__ADS_3

Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen, kalau ada yang tiponya maaf ya muacc


..........


Marvin kini berjalan dengan angkuh ke dalam lobby kantor di ikuti Dola disampinya, dan Andre yang dibelakangnya. Semua mata tertuju padanya, tatapan memuja untuk Marvin ada juga yang menatapnya dengan takut, tapi Marvin hanya menampakan wajah datar dan dingin, sedangkan Dola memasanng wajah bangga bisa berdampingan dengan Marvin.


Berjalan menuju lift pribadi, kemudian Dola dengan cekatan memencet lift untuk terbuka, dan Marvin langsung masuk kedalam.


Tingg….


Saat sudah sampai di lantai yang di tuju Marvin langsung keluar ligt menuju rungannya “tunggu di sini” kata Marvin kepada Andre.


Marvin langsung masuk kedalam ruangannya di ikuti Dola dari belakang.  di dalam ruangannya, Marvin langsung melepas jas mahalnya melemparnya ke sofa. Kemudian langsung duduk di kursi kerjanya.


“mana” katanya dengan dingin


“ini pak” kata Dola dengan nada lembut. menatap Marvin dengan tatapn nakal dan menggoda. Marvin yang melihat itu hanya menampakan wajah dingin nya.


“….” Marvin tidak menjawab dan langsung mengambil dokumen di tangan Dola.


“ada undangan pesta dari miller besok, dan 2 minggu lagi ada jadwal keluar kota” kata doola sambil menatap Marvin dengan nakal.


Sedangkan yang ditatap hanya mengabaikan tatapan itu, entah kenapa dia  jjiji kepada Dola,, bahkan setalah melakukan hubungan dia langsung mandi pikirnya.


“saya akan mempe…” sebelum Dola menyelesaikan kata-katanya Marvin lebih dulu memotong.


“tidak usah, Andre akan menyiapkan semuanya” kata Marvin dengan wajah datar.


“baik pak saya a….”


“dan kamu tidak perlu lagi mendampingi kalau keluar lagi, biar asisten pribadi ku yang mendampingi” ucapnya panjang lebar dengan wajah datar. Dola yang mendengar itu langsung emosi tapi dia menahan emosinya.


“tapi pak asiste…”  doala tidak melanjutkan kalimatnya karna langsung dipotong Marvin.


“keluar” kata Marvin Marvin dengan nada dingin. Dola yang di usir langsung bergegas keluar. ‘sial awas kau jalang’ kata Dola.


“ck dasar jalang” katanya.


Drerrt… dreettt


Marvin mengambil hanponenya, melihat siapa yang menelpon,.


“ya..”


“tuan kami sudah tau kemana semua uang itu dan tapi kami belum tau dalang”


“hn,  bereskan langsung bawa orangnya ke hadapanku ” kata Marvin, dan langsung menutup panggilannya, kemudian meletakan handponenya dan membuka laci dan mengambil sebuah benda.


“ahh kita liat seberapa lincah tikus-tikus itu, sembunyilah selagi bisa sembunyi” kata Marvin dengan seringai terukir di bibirnya, sambil mengusap benda itu yang tidak lain adalah sebuah pistol. Kemudian meletakan benda itu kedalam laci dan menguncinya, dan beranjak dari kursinya melangkah keluar ruangannya.


…………


Sedangkan di tempat lain seorang gadis dengan kakinya sedang  mengelilingi rumah besar itu, dengan didapingi seorang pelayan kepercayan Marvin.


“sampai disini saja pak Bili” kata Sila smabil tersenyum. “Sila mau jalan-jalan sendiri”


“Silahkan, non Sila, bebas mengelilingi rumah” kata pak Bili sambil tersenyum, karna memang Marvin membebaskan Sila mengelilingi rumahnya.


Sedangkan Sila yang mendengar itu sangat senang, setidaknya laki-laki yang bernama Marvin itu masih membebaskannya mengelilingi rumahnya. Kemudian Sila melangkah menngelilingi rumah itu, entah kemana kakinya membawnya kemana, Sila hanya mengiikuti nuraninya menuju ke luar  rumah menuju taman belakang rumah.


Saat di di luar dia sangat kagum, dengan mata berbinar melihat apa yang ada di hadapannya. Sila berlari kecil menuju kearah yang dilihatnya. Tapi sebelum sampai ada tangan yang menariknya sedikit kasar.


“auu” Sila sedikit meringis saat tangannya di tarik paksa.


“maaf nona anda tidak boleh kesana apalagi masuk” kata pelayan perempuan itu dengan tatapan sinis.

__ADS_1


 “kenapa” tanya Sila bingung


“tuan Marvin tidak mengijinkan siapapun untuk kesana apalagi masuk kedalam” kata pelayan  itu.


“tapi Sila mau kesana” kata Sila sambil menarik tangannya yang ternyata masih di genggam ooleh pelayan itu.


“ck apa nona tidak punya otak heh, tuan Marvin melarang siapapu untuk masuk kesana bahkan tuan besar dan nyonya pun dilarang” kata pelayan itu sambil mengumpat.


Sila yang mendengar itu hanya mengedip kan matanya dan bingung kemudian bberkata “tapi pak Bili bilang Sila bebas mengelilingi rumah ini” sedagkan pelayan yang mendengar itu langsung mendekati Sila berniat untuk


mendorongnya, tapi sebelum itu terjadi tiba-tiba ada yang memAnggilnya.


“Anggi, biarkan nona Sila kesana, tuan sudah mengizinkan” kata pak Bili yang tiba-tiba ada di antara mereka.


“tapi…”


“tuan sudah mengizinkan, non Sila kalau mau kesana Silahkan. Kata pak Bili.


“benaarkah, makasih pak Bili” kata Sila yang langsung meninggalkan kedua pelayan itu, Sila yang memang tidak peka di sekitar, sama sekali tidak memperdulikan pelayna yang namanya Anggi.


Setelah Sila pergi “kamu kembalilah kedalam, tempatmu bukan disini, aku tau kau sering masuk kesana, ingat lah posisimu” kata pak Bili menatap Anggi tampa ekspresi.


Sedangkan Anggi emosinya


sudah meluap ‘awassa kauuu’ kata Anggi, dan langsung pergi meninggalkan pak Bili sendirian, yang masih setia mengawasi Sila, yang berlari-lari kecil.


….


Sedangkan Sila hanya terkagum-kaum…


“wahhh.. indahnyaa” kata Sila saat sudah sampai. Ya itu adalah taman kaca yang dibuat Marvin, entah untuk siapa. Sila kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam.


“wahhh bunganya kesukaan Sila” katanya dengan mata berbinar Sila sangat senang melihat taman kaca bunga itu, apa lagi bunga yang ada di dalam, itu adalah bunga kesukaanya, bunga matahari, entah kebetulan atau apa .


Sila melangkahkan diri lebih masuk dan berhenti kemudian melihat gazebo di tengah-tengah  yang di kelilingi oleh bunga matahari. Sila melangkah kearah gazebo itu, saat sudah di samping gazebo tenyata ada selimut, Sila kemudian naik ke gazebo dan duduk dengan kaki yang menggantung. sila menegok ke kanan kiri.


Senyumnya tidak luntur melihat bunga-bunga matahari yang mekar, sejenak ia melupakan semua kejadiian


yang ia alami. Angin berhembus seepoi-sepoi menerpa wajah dan rambutnya. Bibrnya melengkung sampai matanya menyipit.


“waahh,,, indahh nya “ kata Sila mengayunng-ayunkan kakinya. Tapi kanya tiba-tiba berhenti saat merasakan sesuatu di telapak kakinya.


“aaaaaaa….”  Jeritnya. Sila memegang dadanya sambil melihat ke bawah gazebo.


“wahh … imutnya…” katanya dengan mata berbinar. Sila melihat kelinci berwarna putih dengan bulu tebal, kelinci itu menatap Sila berharap Sila mengelus bulu-bulunya.


Tak lama Sila turun dan membawa kelinci itu ke gazebo sambil mengusapnnya.


“wahh… cantik” kata Sila melihat bulu bersih kelinci itu. Sila ke mudian merebahkan dirinya dan meletakan kelinci itu pas dimukanya , maksdnya didepan mukanya, sambil mengelus kelinci tersebuut. lama mengelus kelinci ituu...


“boleh Sila bercerita..” tanya pada kelinci itu. “Sila tidak tau harus cerita kepada Sila, yaa.. bolehh ya..” kata Sila dan


mengalirlah semua cerita yang sedang di alaminya, sesekali wajahnya semerah tomat dan menyembunyikkan wajahnya, den sesekali memengang bibirnya. Sampai dia lupa waktu….


……….


Orang-orang menari di iringi dengan suara nyanyian dj. Semua yang ada di dalam ruangan itu bersenang senang sambil menaari dan minum-minuman dengan lampu kerlap-kerlip. Tapi beda dengan yang di pojok ruangan tersebut,  sekelompok orang yang hanya duduk menikmati waktu luang mereka.


Marvin kini berada di dalam ruangan, tidak sendiri tapi ada Leo, Lingkar dan Alex. Mereka membicarakan proyek yang sudah di jalankan.Dan bersenang-senang tentunya.


“jadi kapan lo berangkat”


“dua hari lagi”


“kenapa tidak besok”

__ADS_1


“kenapa bukan lo aja yang berangkat” yang ditanya mulai geram.


“ck gue cuma nanya aja, lokayak cewek aja lagi pms” kata laki-laki itu yang tidak lain adalah Leo.


“hahh….” Lingkar hanya menghela nafas sambil meminim vodkanya, dia sudah biasa dengan ejekan-ejekan Leo.


“bdw ando kapan berangkat gue kok gaktau ya” tanya Leo


“beberapa hari yang lalu” jawab Alex.


“dan lo” Leo menunjuk Alex “ gak seharusnya lo disini” kata Leo


“apa yang kita rencanakan, belum tentu tuhan menghendaki” kata Alex dengan bijak


“jangan bawa nama tuhan di sini” kata Lingkar.


Leo hanya tertaawa, Marvin? dia hanya diam sesekali meminum alkoholya.


“apa benar Sila, ada di rumah lo” taya Lingkar.


“hn..” jawab Marvin seadanya.


Sebenarnya Lingkar ingin sekali menanyakan keadaan Sila. dan dia juga ingin menanyakan kenapa ando menitipkan Sila ke Marvin.


“Sila” beo Alex..


“hmm”


“ahh Sila yang itu, anak kecil yang minta di gendong “ kata Leo sambil mengingta Sila kecil.


“apa dia sudah besar, apa dia semanis dulu?”


“yah..” kata Lingkar. “dia bahkan sangat manis, lebih dari manis mungkin, bahkan dia memiliki senyum yang manis” jawab Lingkar dengan wajah merah, memngingat Sila sedang tersenyum padanya.


“ah apa Sila yang di maksud ando yang akan kuliah” tanya Leo


“mungkin, tapi kenapa bisa Sila dititipkan ke Marvin kenapa tidak ke gue aja” kata Alex sambil terkekeh


“apa dia masih maniak eskrim?” tanta Leo entah kepada siapa


“iya dia bahkan masih menyukai eskrim” kata Lingkar sambil membayangkan Sila.


Ahahha mereka tertawa, mengabaikan aura Marvin yang sudah emosi, siap dan kapan saja meledak. Marvin sangat tidak suka mereka membicarakan gadisnya, Marvin yang tidak menyukai klau ada yang memuji gadisnya selain dirinya. Bahkan tangan sudah terkepal, kemudian sekali tegukan dia menghabiskan Vodka nya. Kemuddian beranjak dari sofa, dan merapikan jasnya.


“mau kemana” tanya Alex


“pulang” jawab Marvin dengan datar.


“besok kami akan kerumahmu” Marvin kemudian menoleh ke sumber suara yang tidak lain Leo.


“kami ingin bertemu Sila, aku penasaran bagaimana dia sekarang” sambil tersenyum. Marvin yang mendengar itu,hampir menyulutkan emosinya.


Kini Marvin meninggalkan ruangan itu, dia ingin cepat pulang melihat gadisnyanya tentunya. Dia mengabaikan panggilan Leo.


‘apa senyum manis, bahkan dia tidak pernah melihat senyuman Sila, yang dia lihat mata yang selalu berair, wajah yang selalu ketakutan,, wajah yang selalu pasrah karna dia dan jangan lupa wajah polos gadisnya yang minta di


cumbu, pikir Marvin’


Mengingat ucapan Lingkar, membuar emosi Marvin meledak. Cemburu? Tidak Marvin hanya tidak menyukai kalau apa yang dia miliki dipuji oleh orang, walaupun itu sahabatnya sendiri. Dan Sila adalah miliknya, mutlak.


“ck, gadisku sudah nakal” kata Marvin sambil menyeringai, sambil memikirkan gadisnya.....


……..


Terimakasih

__ADS_1


Sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muacc


__ADS_2