
Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen, kalau ada yang tiponya maaf ya muacc
……..
Tapa basa basi\, Marvin kemudian menghisap kuat put*** Sila dan menggigit kecil\, sedangkan tangan laiinya meremaas dada Sila yang satunya..
“hmmms…” Sila angsung menutup mulutnya, karna hisapan Marvin. Marvin yang sudah gelap mata, sama sekali tidak menghiraukan Sila, dia masih manghisap dan menggigit kecil dada Sila secara berhantian. Sedangkan Sila hanya menagis dan mendesah, ia tidak tau apa yng harus ia kalukan.
Marvin menjauhkan badannya dan menatap Sila.
“kau tau semua yang ada pada dirimu adalah canduku” kata Marvin Sila yang mendengar itu hanya memejamkan mata, nafasnya masih belum teratur, karna perlakuan Marvin.
Sila sudah sangat lelah, mungkin kalau tidak ada Marvin di depannya ia sudah ambuk.
Kini tangan Sila sudah dilepas oleh mervin tapi sama sekali tidak ada tenaga untuk mendorong Marvin. tapi bukkan nya bersyukir tangan Marvin merambak kemana mana.
“ahhh.. Sila mohon jangan,, hisk” kata Sila menahan tangan Marvin yang sudah masuk kedalam celananya. Tapi Marvin menyingkirkan tangan Sila membawanya ke atas ke pala Sila. sedangkan Sila hanya menggelengkan kepala, memohon untuk di lelpaskan.
“tenang lah, ini akan nikmat, aku janji” kata Marvin menatap Sila, sedangkan yang ditatap hanya menggelengkan kepala. Marvin tiba-tiba menjauhkan badannya dan menggendong Sila kekasur.
Sila hanya memukul-mukul punggung Marvin sesekalin mencakar leher Marvin.
Sila kemudian berontak, ia sudah tidak peduli dengan penampilannya, di kepalanya saat ini hanya kabur dari Marvin tapi..
Bruk…
Badan Sila dibanting di kasur besar itu. Sila melihat ada kesempatan langsung turun dari ranjang itu tapi belum sempat kakinya menyentuh lantai tangan besar Marvin menariknya dengan kuat, dan membanting tubuh kecil Sila di kasur itu.
Marvin yang kewalahn mengadapi Sila, melepaskan dasinya dan membuka kancing kemejanya.
“kau sangat agresif sayang” kata Marvin “apa ini tanda kepemilikanmu” katanya sambil meraba-raba lehernya. sedangkan Sila hanya menggelengkan kepala.
Kini Marvin menindihi Sila.. dan langsung menciumnya dengan lembut, bahkan sangat lembut seakan-akan bibir itu akan hancur tampa sisa. Sila yang merasakan itu hanya diam.
Tapi kelembutan itu hanya sesaat kini ciuman Marvin berubah jadi kasar, dan liar. Lumatan dan hisapan ah jangan lupa lidah merka, hanya bunyi iuman mereka yang terdengar dalam kamar itu.
“hhmmm” desah Marvin di sela-sela ciumannya. Marvin yang sedang asik dengan kediatannya harus mengakhiri karna ia tau gadisnya sedang butuh nafas.
sedangkan Sila, jangan ditanya Sila sudah sangat berantakan, mataya bengkak karna menagis, rambutnya sangat acak-acakan, bibirnya juga sangat bengkak, dan banyak bercak merah di sekitar dad dan lehernya, dan jangan lupa pipinya sangat merah karna perlakuan Marvin
sedangkan Marvin sangat senang meihat Sila sekarang…
Hiks.. hiks..
__ADS_1
“kamu tau, saat ini kamu sangat menggairahkan” kata Marvin, meremaas dada Sila.
“ahh..s s Sila janji tidakh akanh membantah lllagihh” kata Sila susah payah.
“oh tidak kita harus menyelesaikan hukuman mu dulu little girl” kata Marvin dengan seringai. Kemudian membalik tubuh Sila menjadi tengkurap…..
“ah.. lepaskan, lepaskan Sila mohon” tapi semua tidak di gubris Marvin, dia malah menduduki paha Sila dan mengambil sebuah benda yang sedari tadi di atas meja.
Sila melihat itu matanya langsung membelalak, Sila langsung menggelengkan kepala. Ia tau benda itu, bahkan ayahnya sangat marah bukan marah tapi sangat murka, saat menemukan benda itu dalam tas aldi. Bahkan ayahnya sampai menampar dan memukuli aldi saat itu.
“tidak… tidak… lepaskan Sila… kumohon” kata Sila sambil berontak kini ia sangat takut. Tapi Sila tidak bisa berkutik, saat kepalanya ditekan di kasur. Sila bisa melihat Marvin di cermin sebelah kasurnya sedang asik mengotak atik benda itu kemudian Marvin megusap-usap punggung telanjang Sila dan…
“hiks,, jangan Sila .. AKHHHHHH SAKITT, SILA MOHONN HIKSS ,, INI SANGAT SAKITTT” Sila teriak karna punggungnya sangat perih, Sila melihat dengan jelas seringai di bibir Marvin.
“tenanglah ini tidak akan selesai kalau kau bergerak terus” kata Marvin. melanjutkan kegiatannya.
“sakittt lepatskan kumohon,,,, huaaaa abang tolong Silaaa” teriak Sila, "abanggg" jerit sila
“tenanglah, kau akan menghambat kalau bergerak terus” kata Marvin yang masih menduduki ppaha Sila, dan kemudian merendahkan badannya, dan memulai kembali kegiatannya.
“ tidak lepaskan tolongg.. Hikss…. “ teriak Sila.
“teriak lah tidak akan ada yang mendengar mu sayang” katanya masih melanjutkan kegiatnnya.
"kalau sudah tau ini sakit, maka jangn pernah membantah" kata marvin , sila yang mendengar itu hanya menagis, rasanya sangat sakit.
Hanya suara tangisan yang terdengar di dalam kamar itu, Sila hanya pasrrah menahan rasa sakit, tangan kecilnya meremaas seprei sampai kusut, bahkan sudah tidak berbentuk. Sedangkan Marvin masih asik dengan kegiatannya tidak peduli dengan suara tangisan Sila, yang memohon.
Hampir satu jam Sila menahan rasa sakit di punggungnya yang di torehkan Marvin, dan satu jam juga Sila menagis memohon untuk dilepaskan.
“nah sudah selesai, aku yakin kamu akan menyukainya” kata Marvin menatap punggung Sila dan menatap wajah Sila di cermin yang berlinagan air mata., merka saling bertatapan, bedanya Marvin tersenyum dan Sila menagis.
“dengan begini semua orang tau kalau kau adalah milik ku.” Kata Marvin dengan mutlak
Sila menagis dengan tersedu-sedu, Sila langsung menutup matanya.
“tidurlah..” kata Marvin mengusap kepala Sila, ssedangkan Sila masih menagis dalam tidurnya, “tidurlah jangan menagis lagi, sakitnya akan hilang” kata Marvin..
“s Sila tiadk mau di ttato, hiks,” katanya yang masih menagis sambil mata terpejam
“tenang sayang, aku ahli dalam menato” kata marvin "orang akan iri kalau melihat ukiran ini" kata marvin dan langsung menciun tato buatannya.
“Sila mohon.. hapus” kata Sila, ia sangat takut dengan ayahnya. Bahkan abangnya pernah memukuli aldi karna aldi ketahuah memiliki tato.
__ADS_1
“ini sangat indah, kau tau hanya kamu perempuan pertama yang kutatato” kata Marvin memuji dirinya sendiri. “ dan aku yakin kamu akan menyukainya” kata Marvin sambil tersenyum dengan lembut.
Sila yang melihat senyuman Marvin, senyuman yang jarang sekali Sila lihat. Bahkan mata Marvin sampai menyipit.
“Aku menyukainya”, kata Marvin mencium-cium pundak Sila, yang telah dikukirnya dengan namanya. Ya Marvin menato Sila, menatato punggung kanan Sila, dan kini di punggung Sila tertera namanya 'Marvin Levin Pradipta' itulah ukiran di punggung Sila, dan Marvin sagat menyukainya.
Marvin kemudian menyimpan alat tato itu dan merebahkan badannya memeluk Sila dari belakang.
“sakitnya akan hilang, aku yakin kamu menyukainya” kata Marvin yang masih menatap Sila dalam cermin.
“katakan kau milik Marvin” kata Marvin.
“… “ Sila tidak menjawab hanya tangisan yang didengar Marvin.
“katakan Sila” kata Marvin menekan kata-katanya.
“ahh..” Sila mendesah karna Marvin tiba-biba menghisap kuat telinganya.”Ahh sudahh, Sila mohon” kata nya sambil mendorong kepala Marvin.
“kalau begitu katakan” menghentikan aktivitasnya.
“hikss.. Sila milik Marvin” katanya dengan tagisan
“bagus little girl” kata Marvin sambil memperbaiki penampilan Sila.
“dan ingat ini terakhir kalinya aku memperingati, mengerti?”
“iiya hiks”
“atau kau akan menerima semua hukuman, bahkan lebih dari ini dan kau harus menuruti apa kataku, mengerti”
“iya,”
“ingat kau adalah milik seorang Marvin, aku akan menyingkirkan semua orang baik itu orang terdekat aku, mengerti” kata Marvin dengan mutlak.
“tidurlah ini sudah sangat malam” kata Marvin yang memeluk Sila dengan posesif, sambil menyelimuti tubuh polos Sila, tapi hanya bagian atas. Sedangkan Sila masih mersakan ciuman-ciuman Marvin dikepalanya dan di punggungnya.
marvin masih mendengar suara tangisan sila, marvin hanya menatap sila yang sudah tertidur dalam cermin, kemudian mengeratkan pelukannnya dan memejamkan matanya.
"kamu milik ku, sampai kapanpun, dan kau tidak boleh pergi" kata marvin, menyusul sila dam tidurnya.
Bersambung
Terimakasih
__ADS_1
Sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muacc