Ohh My Little Girl

Ohh My Little Girl
Episode 23


__ADS_3

Sebelumnya author minta maaf karna beberapa hari ini tidak update, karna kesehatan author menurun jadi harus istrahat, doakan ya supaya cepat sembuh supaya bisa up lagi , kalau ada yang nanya kapan up datenya updatenya nah up datenya setiap hari bisa  1x sampai 3x chapter Dan yang menenunggu maaf yaa… dan terima kasih juga karna udah setia nunggu, author terharu bagaattt…….


Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen, kalau ada yang tiponya maaf ya muacc


……..


Di dalam kamar yang di dominasi warna putih, seorang perempuan hanya duduk sambil membaca buku dia adalah Sila. hampir dua minggu ia hanya merenung dan mengurung diri di kamar bahkaan tidak bekerja, dan dua minggu juga ia tidak melihat Marvin.


Terakhir kali Sila melihat Marvin saat pagi hari setelah kejadian menatto punggung Sila, ia bisa melihat Marvin mengusap kepalanya dan pipinya dengan lembut, tapi matanya terlalu berat dan badannya terlalu sakit untuk bangun. Itulah  hari terakhir Sila melihat Marvin.


Hahh… entah berapa kali Sila menghela nafas, ia sendiri bingung kemana Marvin. saat ia bangun Sila tidak menemukan Marvin di seblahnya. Hanya surat dan obat penghilang rasa sakit yang ia lihat di atas meja.


Bicara masalah tatto, Sila yang melihat punggungnya hanya menghela nafas. Mengingat kejadian saat Marvin marah membuat Sila ingin melupakan segalanya, ia bisa mengingat dengan jelas kemarahan Marvin, Sila mengingat semuanya seperti apa.


Sila yang duduk di depan cermin langsung menutup matanya “bagaimana kalau papa dan abang tau” kata langsung melihat punggungnya.


“apa ini bisa  hilang” kata Sila entah sama siapa. Sila akui ukiran di punggungnya elegan, tidak norak untuk sebuah tatto, tapi tetap saja Sila tidak suka.


Tok..tok..tokk


“maasuk” kata Sila mendengar suara ketokan kamar.


Klekk..


“nona Sila ini dapat kiriman lagi” kata pelayan itu


“oh ya, hmmm taroh di atas meja aja bik” kata Sila dengan lembut, ia melihat kriman itu beda dari biasanya, ada kotak yang di hiasi pita emas dan sebuah bunga matahari di atasnya, oh jangan lupakan surat dan bunga mawar merah.


“iya non… permisi dulu” katanya


“makasih bik” sambir memberikan senyum.  Sila melihat surat itu, dan hampir tiap hari ia  menerima bunga, dan surat.


Sila berjalan kearah bingkisan itu, kemudian membuknaya. Matanya berbinar melihat isi kotak itu.


“wah .. gaunnya cantik” kata Sila sambil mengmbil isi kotak itu, kemudian Sila meririk sebuah kertas kecil.


Pakailah,


aku akan menjemputmu  jam 8 malam


By m.l.p


Itulah tulisan yang dibaca Sila, ia sudah tau siapa inisial itu. Ia kemudian mengambil menaruh kembali gaun itu dan memasukannya kedalam kotak lagi.


Dreeettt….dreettt…


Sila melihat siapa yang menelponnya, saat melihat nama yang tertera di handphonnya, jantunggnya berdetak sangat cepet, dan langsung menganggangkatnya.


“apakau sudah melihatnya” kata orang di sebrang


“I iya, Sila sudah lihat” katanya gugup


“pakailah, nanti aku jemput” kata orang itu yang tidak lain dalah Marvin


“iiya…” kata Sila, tapi tidak ada balasan dari Marvin, ia kemudian melihat hat layar handphonenya.


“sudah dimatikan” kata Sila sambil berkedip. Kemudian ia langsung beranjak dari tempatnya, meninggalkan bingkisan dari Marvin, ia ingin ke tempat taman kaca menenangkan diri.


………


Sedangkan di tempaat Marvin.


Marvin hanya duduk melihat layar handphonenya,  gambar yang sempat Marvin ambil 2 minggu yang lalu. Gambar yang menunjukan seluruh punggung Sila tanpa sehelai benang pun, sedangkan wajah Sila hanya sebagian terlihat tapi sangat jelas kalau itu adalah Sila, dengan rambut yang acak-acakan tapi terkesan seksi.


Oh jangan lupakan tatto di punggung Sila, tertera dengan jelas nama Marvin di punggung Sila  gambar foto itu di jadikan wallpaper oleh Marvin.


“seksi” gumam Marvin yang hanya melihat foto Sila. ia bingung kenapa ia sbisa tertarik dengan Sila. hahhh Marvin hanya menghela nafas. Sudah 2 minggu ini Marvin tidak melihat gadisnya, ia hanya mendapat kabar kalau gadisnya hanya mengurung diri di kamar.


Marvin memejamkan mata, mengingat kejadian 2 minggu yang lalu.


flashback


di dalam kamar, Marvin mengerat pelukannya ke tubuh Sila, sedangkan Sila yang masih posisinya tengkurap masih menagis tersedu-sedu.


“tidurlah, besok tidak usah kemana-mana” kata Marvin sambil megusap lengan telanjang Sila.


Sedangkan Sila hanya menutup mata, ia sudah tidak sanggup lagi membuka matanya tubunhnya seakan remuk, ingin melepaskan diri dari pelukan Marvin, tapi Sila takut Marvin marah lelah dengan semuanya, Sila akhirnya menutup mata dengan harapan semua yang di alaminya hanya mimpi.

__ADS_1


Marvin menatap intens Sila di dalam cermin karna mereka memeang menghadap cermin yang ada di dalam kamar itu.


Drettt…drettt…drettt


Ia melihat handphone Sila bergetar lebih tepatnya dari tadi bergetar, Marvin kemudian mengambil  handphone tersebut dan melihat siapa yang menelpon yang tidak lain adalah kakak Sila aldi.


sebelum marvin meletakan hp sila iya melihat beberapa pesan dari aldi dan lingkar, marvin langsung emosi tanpa membaca ia kemudian menghapus semua pesn yang ada,  kemudian Marvin meletakan kembali handphone itu setelah melihat siapa si penelpon dan menghapus semua pesan.


“ck brisik” katanya mengabaikan handphone itu dan menyusul Sila ke alam mimpi.


.........


Di pagi hari di bawah selimut Marvin perlahan membuka mata, yang pertama ia adalah wajah ayu Sila yang polos.


“cantik” kata Marvin,


Saat Marvin mengusap wajah Sila ia sangat keget karna badan Sila sangat panas. Buru-buru Marvin bangun dan mengusap  badan Sila. Marvin kemudian mengambil handphonnya menghubugi dokter pribadi keluarganya.


Tutt…tutt..


“halo, cepat kesini sekarang, gue gak mau tau 20 menil lagi lo harus disini” kata Marvin kemudian mematikan handphonnya. Ia  kemudian turun dari karur mengambil baju untuk Sila karna Sila memang belum memakai atasan.


20 menit kemudian


 


Tok..tok…


“masuk” kata Marvin sambil mengusap kepala Sila.


“apa kabar? Tumben lo hubungin gue” kata orang itu, sambil berjalan ke arah Marvin


“Ronald,cepat periksa” kata Marvin tanpa melihat oarang yang bernama Ronald dia adalah dokter pribadi di keluarga pradipta, ia mengikuti jejak ayahnya dan kebetulan juga ia masih sepupu dengan Marvin.


“ck,.. apa gue hanya angin lalu disini” kata Ronald, sambil melirik seseorang yang tidur di kasur.


“cepat perikasa” kata Marvin dengan wajah datar.


“hah.. gue lebih tua dari lo, dan lo harus hormatin gue sebagai kakak lo” kata Ronald yang gemas dengan Marvin.


“apa dia mainan baru lo?” kata Ronald sambil mengeluarkan alat dokternya.


“jangan banyak tanya, cepat periksa” kata Marvin memberikakn tatapan tajamnua ke Ronald.


Ronald yang medengar itu hanya menghela nafas ia sudah tau watak Marvin seperti apa dan ia mulai memeriksa Sila.


Ronald yang sudah duduk di pinggir kasur dan mulai memeriksa Sila, tangannya ingin menyentuh dahi Sila untuk memastikan suhu badan Sila tapi tiba-tiba ada tangan yang menahan tangan Ronald sebelum menyentuh dahi Sila.


“ngapain lo” kata Marvin manatap tajam Ronald.


“gue hanya mau ngecek suhunya” katanya Ronald metap bingung Marvin


“ck, cepat periksa jangan ngulur waktu” kata Marvin menarik kembali tangannya. Ia hanya menjaga miliknya supaya tidak terkena kuman, itu yang dipikiran Marvin.


“ck, cemburu ehh” kata Ronald melirik Marvin, kemudian melanjutkan memeriksa Sila.


Saat memeriksa badan Sila, Ronald sangat kaget dengan suhu badan Sila. ia kemudian membuka sedit baju Sila. Ronald sangat kaget saat melihat bercak merah di sekitar pundak Sila, dan saat ia menyentuh pundak kanan Sila ia sangat kaget dan lengsung melihat Marvin, dan melanjutkan memeriksa Sila.


Beberapa menit kemudian


“hah… gue kasih lo resep obatnya, dia hanya demam tidak ada penyakit serius” kata dr Ronald “gue Cuma ngingatin, dia masih kecil, lo jangan main kasar, tubuhnya juga sangat lemah, dan satu lagi lo natto dia” kata Ronald


sambil melihat wajah pucat Sila. ia kemudian membereskan peralatan dokternya.


“gue hanya hanya nandain milik gue” kata Marvin sambil duduk di pinggir meja.


“tapi dia masih kecil, lo jangan keterlaluan” kata Ronald mengingatkan Marvin. “untungnya dia masih bisa menahan rasa sikitnya” sedangkan Marvin yang mendengar itu hanya memutar bola matanya.


“hnn..”kata Marvin


“dan ingat gue tau lo dominan kalau berhubungan, tapi ingat pasangan lo, melihat kondisi kondisinya sekarang lo bisa di tangkap kalau lo membawanya ke rumah sakit” kata Ronald memperingati Marvin


“gue gak main jauh”


“tapi lo lihat kondisinya dia kayak habis diperkosa” kata Ronald


“hn..” hanya gumaan sebagai jawaban Marvin.

__ADS_1


“dan ingat lo jangan kasar kalau lo lagi berhubungan” kata Ronald kemudian memberikan resep obat ke Marvin.


“apa sudah?  sekarnag lo keluar” kata Marvin mengusir Ronald.


“astaga, kenapa gue harus punya sepupu kayak lo”


“gue gak pernah nganggaplo sepuupu, dan cepat keluar gue bosan liat lo” usir Marvin sedangkan Ronald hanya mengumpat dan langsung keluar dari kamar itu.


Sedangkan Marvin langsung duduk si pinggir kasur dan melihat wajah pucat Sila. Marvin kemudian mengambil handphonnya menelpon Andre untuk kekamar.


Tok..tok..


“masuk”


“ada apa tuan”


“lo suruh bik Atik tebus obatnya” kata Marvin tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah ayu Sila.


“iya tuan” kata Andre


“dan jangan lupa urus keperluan Sila”


“baik tuan” kata Andre meninggalkan Marvin.


Setelah Andre keluar Marvin mengusap tangan Sila, ia bisa melihat bakas cengkramannya di ttangan Sila.


“maaf, cepat sembuh aku akan memberikan mu kejutan nanti, aku yakin kamu suka” kata Marvin melihat wajah ayu Sila yang pucat.


“hmmm…” gumam Sila,


Sila membuka matanya, tapi sangat berat, badannya seperti remuk, dan jangan lupakan punggungnya yang masih nyeri.


“tidurlah, tidak usah bekerja, kamu istrahat aja” kata Marvin dengan lembut dan mengusap wajah Sila.


Sedangkan Sila hanya melihat Marvin sekilas kemudian matanya tertutup lagi, ia bisa melihat wajah lembut Marvin tapi hanya sesaat karna Sila langsung tertidur lagu.


“cepat sembuh little girl” kata Marvin sampib mengecup bibir Sila, setelah itu merapikan  selimut Sila dan langsung berajak dari duduknya kemudian keluar. Melanjutkan aktivitasnya dan kerjaannya yang menumpuk.


flashback end


Marvin kini duduk di meja kerjanya, lamunanya langsung buyar ketika ada yang membuka pintu.


Klek…


“hey son, apa kabar?” kata orang itu tidak lain adalah Martin ayahnya Marvin.


“untuk apa kesini?” kata Marvin dengan cuek


“ck, apa kamu tidak menyambut ku” kata Martin, melangkah kearah sofa kemudian duduk


“untuk apa, jadi ada urusan apa kesini” kata Marvin yang kesal karna ayahnya tiba-tiba datang.


“hah… kamu harus datang ke acara nanti malam” kata Martin. Ia sendiri bingung kenapa anaknya seperti ini.


“aku ada urusan” kata Marvin dengan cuek


“kamu sudah lama tidak berkumppul dengan keluarga” kata Martin


“disini banyak sekali kerjaan, tidak ada waktu untuk menghadiri acara yang tidak berguna” kata Marvin


“datang lah, bagaimana pun mereka tetap keluarga, jauh dekat mereka tetap keluarga, dan mommy mu sangat mengharapkan kamu datang” kata Martin sambil berdiri.


“hn..” hanya gumaan sebagai jawaban dari Marvin.


“hah.. datanglah, Deddy dan mommy menunggumu nak” kata Martin langsung bejalan keluar ruangan Marvin.


Marvin yang mendengar dan melihat ayahnya keluar hanya menghela nafas.


“ded .. hati-hati” kata Marvin tapi tidak di gubris, Martin ayah Marvin hanya melangkah keluar dengan senyum di bibirnya, ia tau anaknya sagat menyayanginya.


Marvin yang melihat papanya keluar dari ruangan tanpa mengubris hanya mengumpat “ck, sial” katanya. Kemudian beranjak dari kursinya melangkah keluar dari ruangannya….


Bersambung


Terimakasih


Sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muacc

__ADS_1


__ADS_2