Ohh My Little Girl

Ohh My Little Girl
chapter 24


__ADS_3

Sebelum membaca sempatkan like, vote dan komen, kalau ada yang tiponya maaf ya muacc


……..


Sila menghabiskan waktunya taman kaca hanya duduk ditemani oleh kelinci putih, iya sangat menikmati angin sepoi-sepoi. Sampai suara getaran handphonnya membuyarkan lamunannya.


Dreettt…dretttt..


Sila melihat nama yang ada di handphonnya.


‘Kak. Lingkar’ memanggil. Itulah yang ada di layar hpnya. Sebenarnya hampir 2 minggu ini ia melihat panggilan yang masuk tapi ia sangat takut menjawab panggilan itu, Dengan ragu Sila mengangkatnya.


“hai” kata orang yang ada di sebrang yang tidak lain adalah lingkar.


“hai” kata Sila dengan lembut.


“apa kabar?”


“Sila baik, apa kabar juga?” jawab Sila


“baik” kata lingkar


“…”


“…”


“maaf” kata lingkar di sebrang


“maaf untuk apa?”


“maaf  karna ciuman itu”katanya


“…” Sila sangat bingung harus ngomong apa, ciuman lingkar Sila sangat mengingatnya, bahkan ia sampai menutup mata.


“halo, Sila apa kamu masih di situ” kata lingkar


“ehh, Sila sudah maafin kak lingkar, Sila juga sudah melupakan kejadian itu” kata Sila


“ah begitu ya” kata lingkar, ia kecewa karna Sila melupakan kejadian waktu di club.


“iya, tenang aja kak Sila udah maafin kok”


“…”


“oh iya, kak lingkar sama abang ya” kata Sila yang tiba-tiba menanyakan abangnya


“iya ando di sini tapi sekarang lagi pergi” kata lingkar


“oohh” hanya oh yang di ucapkan Sila, ia sangat merindukan abangnya. Padahal 2 hari yang lalu iya vidio call sama abangnya itu.


“Sila kamu masih disana?”


“eh knapa kak”


“gakpp, kalau gitu yasudah, kakak mau lanjut kerja dulu” kata lingkar


“iya kak, Sila nitip salam aja sama abang”


“iya yasudah sampai nanti, ..” kata lingkar, yang langsung menutup panggilan.


Tut..tut..


Sila hanya menghela nafas, kemudian memperhatikan hpnya saat telponnya selesai, alangkah terkejutnya melihat puluhan pesan Marvin yang masuk.


Dtree…dterrtt..


Sila terkejut karna hpnya langsung bergetar kembali ia sudah tahu siapa sipenelpon.


“ehh.. duhh..” "boleh kah sila tidak menjawabnya" katanya entah sama siapa


tapi tanpa tanpa pikir panjang sila langsung menjawab panggilan marvin.


“h halo” kata Sila dengan gugup


“telponan sama siapa” kata Marvin di sebrang dengan suara geramnya, sudah setengah jam Marvin mencoban menelpon Sila tapi selalu sibuk.


Sila yang mendengar itu kaget ‘apa dari tadi Marvin nelpon’ itulah yang di pikirannya.

__ADS_1


“Sila telponan sama abang” katanya dengan gugup


“jangan bohong”


“s Sila tidak bohong”


“hn.. yasudah kayau gitu bersiaplah, 2 jam lagi aku jemput” kata Marvin langsng menutul telponnya.


“hahh.. untung saja” kata Sila yang langsung beranjak meninggalkan gazebo taman kaca.


 


 


…….


 


2 jam kemudian


Sila didepan cermin melihat penampilannya, ia bahkan terlihat lebih dewasa. Sila melihat penampilannya ia cukup risih dengan gaun yang mengekspos bahunya. Matanya memperhatikan tatto di punggungnya, ia hanya menutupi tatto itu dengan rambutnya.


Sedangkan Marvin memperhatikan Sila sedari tadi, gadisnya sama sekali tidak menyadari dirinya sudah didalam kamar. Marvin melangkah kemudian memeluk Sila dari beakang, menenggelamkan wajahnya ke cerucuk leher Sila.


Sedangkan Sila sangat kaget saat ada tangan yang melingkar di perutnya. Sila yang sedari tadi melamun langsung sadar dari lamunannya, dan berusaha menyingkirkan tangan Marvin dari perutnya.


Sedangkan Marvin yang memeluk Sila langsung menyingkirkan rambut Sila yang menutupi tatto yang ia ukir di punggung Sila.


“jangan ditutup” kata Marvin mengeratkan pelukannya.


“t tap ii ini....” Sila ingin melepaskan diri tapi apa daya bahkan Sila melihat tubuhnya sangat kecil di bandingkan dengan tubuh besar Marvin dan jangan lupa tinggi Sila hanya sepundak Marvin.


“aku tidak suka dibantah” kata Marvin dengan nada dingin.


 “l lepas kan” kata Sila yang berusaha melepaskan tangan Marvin di perutnya.


“hmm..rileks sayang, kamu harus membiasakan diri dan  tubuhmu, hmmm”kata Marvin sambil memberikan kecupan di leher Sila.


“akhhh…” Sila spontan mendesah saat Marvin menggigit lehernya dengan kuat, sampai meninggalkan kissmark.


Marvin yang melihat Sila hanya terkekeh, gadisnya sangat menggemaskan, itulah yang dipikirkan Marvin. sedangkan Sila bersyukur Marvin melepaskan pelukannya.


“selesai, jangan ditutupi” kaata Marvin menjauhkan wajahnya dan memutar badan Sila sampai mereka berhadapan. Ia merapikan poni Sila yang berantakan. “ayo” kata Marvin sambil  memengan tangan Sila keluar kamar.


“k kita mau kemana?” Sila memberanikan diri untuk bertanya, sebenarnya ia sangat takut.


“ayo, jangan banyak tanya” kata Marvin tanpa menoleh, ia langsung melangkah sambil menggandeng tangan Sila. sedangkan Sila hanya menurut dan mengikuti langkah Marvin.


** …….**


 


Sila yang hanya memelamun sedari tadi, tidak menyadari kalau mobil Marvin sudah terparkir dari tadi dan Marvin sudah membuka pintu mobil sedari tadi. Entah apa yang di pikiran Sila.


Cup.. Marvin mengecup bibir Sila sekilas.


“ehh” Sila kaget karna wajah Marvin ada didepannya.


“jangan terlalu melamun” kata Marvin yang masih menundukan badannya di pintu mobilnya.


“a aku..” saat ini Sila sangat gugup, karna wajah Marvin terlalu dekat dan tatapan  Marvin sangat intens.


“hn,, cepat turun, dari tadi kamu hanya melamun” kata Marvin yang sudah menjauhkan badannya dan mengulurkan tangannya. Sila yag melihat itu langsung menyambut tangan Marvin, dan mengikuti Marvin.


Sila yang sudah menggandengkan tangannya ke tagan Marvin hanya menunduk, saat masuk dalam sebuah restoran yang menurutnya itu restoran mahal.


“jangan menunduk, aku tidak suka” kata Marvin. Sila yang mendengar itu angsung menoleh.


“iyaa” katanya, ia tidak ingin membatah Marvin, ia tidak ingin mendapat hukuman lagi. Sila hanya mengikuti Marvin, beberapa orang yang melihat mereka ada yang kagum dan ada juga yang mencibir.


Mereka sudah sampai di dalam sebauh ruangan yang di tengah-tengahnya ada beberapa lilin, tiba-tiba dari arah samping kanan ada pelayan yang memebrikan Sila bunga mawar.


Sila terkagum-kagum melihat yang ada di depannya,


“wahh” hanya itu yang Sila katakan  “apa kamu suka” kata Marvin yang masih memengang tangan Sila, mereka melangkah ke sebuah kursi dan meja yang sudah dihiasi lilin.


“iyya, Sila suka ini indah sekali” kata Sila dengan mata binarnya. entah kenapa Sila yang biasanya gugup dan takut langsung hilang.

__ADS_1


“syukurlah” gumam Marvin memperhatikan Sila. Marvin yang mlihat itu langsung tersenyum sampai matanya mennyipit.


“ayo, duduk” kata Marvin memperSilahkan Sila untuk duduk.


“hmm, terimakasih”


“sama-sama little girl” kata Marvin dengan senyuman yang masih tertera di wajahnya.


Sila yang melihat semyuan Marvin, langsung menunduk kini wajahnya sangat merah dan panas, sedangkan Marvin yang melihat itu hanya tersenyum “ahh gadisnya sangat imut’ itulah yang ada dipikiran Marvin.


Sedangkan Sila hatinya membuncah, ini pertama kalinya Marvin memperlakukannya seperti ini.


“Silahkan” kata seorang pelayang yang meletakan steak di depan Sila dan Marvin.


Sila yang melihat steak itu menjadi bingung, ini pertama kalinya ia makan makanan mewah. Matanya kemudian melihat Marvin, maarvin dengan lihai memotong-motong daging itu ingin melakukan hal yang sama dengan Marvin. tapi belum sempat Sila menyentuh pisau dan garpunya Marvin langsung menukar makanannya dengan makanan Sila.


“makan lah itu sudah ku potongkan” kata Marvin, mendengar itu Sila bingung harus merespon apa.


“terima kasih” kata Sila dengan wajah menunduk sambil tersenyum, padahal saat ini Sila sangat gugup dan takut di perlakukan seperti ini oleh Marvin.


“apa masih sakit” tanya Marvin sambil memotong steaknya. Sila yang mendengar itu langsung menghentikan kunyahannya, ia tau arah pertanyaan Marvin.


“sumdmh timkdh, tmaphi mashmi nyemhi  (sudah tidak, tapi masih nyeri sedikit)” katanya yang masih mengunyah makanan dalam mulut kecilnya.


“kunyah dan telan dulu baru ngomong” kata Marvin yang melihat tingkah konyol Sila.


“sudah tidak, tapi masih nyeri sedikit” katanya yang sudah menelan semua makanan dalam mulutnya.


“hm.. jangan ulangi lagi” kata Marvin menatap tajam Sila, Sila yang melihat tatapan Marvin langsung menundukan wajahnya “apa kau menyukai makanannya?”


“I iya, ini pertamakalinya Sila makan ini” jawabSila, iya berusaha mati-matian menghilangkan gugupnya.


“ini semua untukmu” kata Marvin. Sila yang mendengar itu langsung menatap Marvin.


“benarkah”


“iya” kata Marvin sambil tersenyum.


“makasih” kata Sila sambil melirik Marvin


“tidak ada yang gratis di dunia ini sayang” kata Marvin, sambil meminum anggurnya.


“ehh.. mksdnnya” kata Sila bingung


“kamu akan tau nanti. Cepatlah habiskan makanannya habis ini kita pergi lagi” kata nya


“ehh..iiya..” kata Sila langsung melahap makanan di depannya, entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat, tapi semua langsung di singkirkan oleh Sila. Mereka makan dengan damai tanpa ada gangguan, di iringi melodi yang ada.


Marvin sangat menyukai momen ini, hanya dia dan gadisnya, tidak ada pengganggu dan benalu itulah yang di pikirkan Marvin.


….


Marvin sangat kesal, kenapa? Jangan ditanya iya menikmati moment berdua dengan Sila tapi tiba-tiba andre datang dan memberi tahu kalau Marvin harus ke mansion orang tuanya.


Setelah selesai makan malam, Marvin ingin mengajak Sila jalan jalan tapi semua berubah ia malah mengajak Sila ke mansion kedua orang tuanya.  Marvin sangat kesal dengan mommynya, ia di paksa datang ke acara yang menurutnya hanya membuang waktunya. Bukan tanpa alasan Marvin tidak menyukai acara yang di adakan keluarganya.


Hanya saja iya sangat tidak menyukai orang-orang yang bermuka dua, apalagi keluarga dari ayahnya yaitu tantenya. Marvin sangat tidak menyukai tantenya, karna selalu menjodohkan Marvin dengan perempuan yang setara dengan keluarganya.


Sila yang melihat Marvin  saat ini sangat takut, Sila bingung sendiri kenapa Marvin bisa berubah-rubah, maksdnya emosinya. Mobil Marvin sudah masuk kedalam halaman rumah yang menurut Sila tidak jauh beda dengan rumah Marvin yang ia tinggali.


Citt…..


Mobil Marvin terparkir tepat didepan mansion. Marvin langsung turun dan Sila keluar dari mobil Marvin tapi tidak mengingikuti Marvin. ia bingung haruskah ia mengikuti Marvin masuk.


“jangan takut” kata Marvin sambil tersenyum dan mengenggam tangan Sila.


“tapi…” sebenarnya saat  ini Sila sangat takut.


Cup.. Marvin mengecup singkat bibir Sila.


“ada aku” kata Marvin menarik tangan Sila, dan mereka masuk ke mansion itu….


Bersambung


Terimakasih


Sempatkan like, vote dan komen yang tiponya ya wkkwwkw muacc

__ADS_1


__ADS_2