Om-om Itu Suamiku

Om-om Itu Suamiku
Sama-sama Di Jebak


__ADS_3

Om-om itu Suamiku: Bab 02


.


.


.


_Happy Reading_



Riana buru-buru memutuskan sambungan teleponnya sepihak ketika melihat orang yang ditunggu-tunggu sudah datang. Diana tampak cantik memakai dress merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Menurut Riana semua baju koleksi Diana kurang bahan.


Riana bangun dari duduknya, sebenarnya enggan untuk menyambut si b*tch Diana tapi apa boleh buat, dia harus kelihatan baik agar Diana mengira kalau ini hanya pertemuan biasa saja.


Meskipun Diana tampak anggun dan sexy, Riana tak kalah cantik dengan memakai hotpants pendek dengan baju sweeter kebesaran sehingga membuat tangannya nyaris hilang tertutup bajunya. Ia memakai sepatu sneakers berwarna abu-abu lalu dipadukan dengan topi hitam yang melingkar di kepalanya.


" Duduk dulu…kak". Riana berusaha menyembunyikan wajah ketusnya dibalik topeng senyuman.


Diana tersenyum lebar, " Tentu saja, adikku sudah susah payah mengundangku ditempat sebagus ini, tentu saja aku harus datang bukan?". Riana hanya menganggukan kepala, wanita itu berusaha untuk tidak mengumpati si b*tch yang sialnya terlahir sebagai kakaknya.


Riana melepas topi hitamnya sehingga membuat Diana bisa melihat keseluruhan wajah cantik itu. ia selalu iri dengan wajah itu, wajah blasteran yang sangat ia inginkan. Padahal keduanya sama-sama memiliki wajah khas yang diwariskan dari ayah mereka, namun entah kenapa wajah Riana lah yang paling mencolok karena wanita itu memilik mata berwarna Emerald yang sangat indah.


" Ah, kakak pasti haus, aku pesanin minuman yah?".


" Iya, pesan saja dek".


Perut Riana tiba-tiba ingin memuntahkan semua isinya. Dek? Si b*tch Diana memanggil dia adek? Hell Riana ingin muntah rasanya. Bahkan dia geli dengan kata yang baru diucapkannya barusan tanpa sengaja.


Tak lama, pelayan datang membawa minuman pesanan mereka, tapi ada yang aneh. Riana mengerutkan dahinya bingung, kenapa yang membawa minuman harus dua pelayan sekaligus?

__ADS_1


Pelayan satunya Riana kenal, ia adalah orang yang ia suruh untuk menaruh obat perangsang kedalam Wine milik Diana, tapi… siapa pelayan yang satunya lagi?


Diana nampak sama bingungnya dengan Riana, sebenarnya apa yang terjadi? Pelayan itu…kenapa ada dua? Apakah ini perlakuan istimewa dari pihak hotel karena mengingat Diana dan Riana adalah anak dari konglomerat.


Kedua pelayan itu membungkuk sopan lalu menyodorkan minuman yang sudah mereka pesan dengan hati-hati.


" Nona Diana ini adalah Wine kesukaan anda". Pelayan yang disuruh Riana dengan teliti menuangkan Wine itu digelas kaca berbentuk runcing yang nampak mengkilat terkena remang-remang lampu.


Sementara pelayan yang satunya mendekat kepada Riana, " Nona Ariana Polka ini sampanye yang anda pesan". Riana mengangguk lalu mempersilahkan pelayan untuk menuangkannya.


Nampak kedua saudara itu saling pandang mencari jawaban dari manik mata masing-masing.


Sebenarnya apa yang direncanakan si b*tch Diana sih?!...-Riana


Sialan! Aku tidak bisa menebak isi kepala gadis licik ini! -Diana


****


" Sialan! Dasar brengsek! Kau menaruh apa didalam Wine-ku?!". Diana memekik hebat tak kala merasakan tenggorokan dan sekujur tubuhnya panas.


" Aku benci memiliki saudara sepertimu sialan!".


" Aku lebih tak sudi memiliki saudara sepertimu, dasar jal*ng, kau pikir aku tak tau apa yang kau lakukan diluar sana?!".


" Kau memata-mataiku?!". Pekik Diana marah, perempuan itu berdiri hendak menjambak rambut Riana, namun gadis itu segera menyingkir dan menyeret Diana keluar dari area restaurant menuju kamar yang sudah dia pesan.


Kedua saudara itu saling merangkul, berjalan sempoyongan. Riana berusaha tetap sadar dan menyeret tubuh Diana yang sialnya sangat berat.


Diana berusaha menjauhkan dirinya dari Riana, tapi perempuan itu merangkulnya terlalu kuat sehingga membuat Diana tak bebas bergerak.


" Diam b*tch! Kali ini aku akan menunjukkan dimana tempatmu yang sebenarnya". Riana berjalan menahan tubuhnya disisi dinding.

__ADS_1


Tok tok tok....


" Kali ini kau akan tamat, Diana si b*tch liar!".


" Kau membawaku kemana sialan!".


Riana menendang pintu kamar yang sedaritadi tak dibuka oleh penghuni didalamnya. Padahal dirinya sudah mengetuk pintunya tadi, dasar preman tuli!


" Buka sialan, ini aku!!".


Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka menampilkan seorang lelaki bertubuh besar serta berjanggut lebat. Riana mendorong Diana agar masuk kedalam kamar dengan kasar.


" Lakukan tugasmu dengan baik, pastikan kameranya merekam semua aktivitas yang kalian lakukan". Belum sempat lawan bicaranya membalas, Riana sudah pergi menyeret tubuhnya yang mulai panas tak karuan, dengan sisa tenaganya Riana berpegangan pada dinding, berusaha mengembalikan akal sehatnya.


" Sialan aku sudah tidak tahan lagi".


Dengan terpaksa Riana mengetuk salah satu pintu kamar yang dekat dengan dirinya saat ini.


Tok tok tok....


Tak lama pintu kamar itu terbuka, ternyata seorang pria, Riana dapat melihat dari postur tubuhnya.


" Tolong aku, kumohon…".


.


.


.


.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


-


__ADS_2