Om-om Itu Suamiku

Om-om Itu Suamiku
Sifat Yang Sebenarnya


__ADS_3

Om-om itu Suamiku: Bab 23


.


.


.


_Happy Reading_


-


Sudah satu bulan semenjak Riana dan Demian bertunangan, awalnya wanita itu mengira bahwa Demian orangnya kalem dan cuek, setelah menjalani satu bulan lebih dengan Demian sifat asli pria itu mulai keluar. Sangat manja dan pemaksa membuat Riana ingin berkata kasar kepada Demian tapi diurungkannya karena Lelaki itu mudah sekali menangis.


Seperti sekarang ini ketika Demian merengek agar Riana tinggal bersamanya di apartemennya


" Sayang, kamu tinggal di apartemenku saja yah?".


Riana berdecak kesal sambil berusaha melepaskan tangan kekar Demian yang melingkar di pinggangnya, kepala Demian menempel erat diperut Riana sehingga membuat wanita itu sulit bergerak.


" Tidak bisa, ayolah Dian jangan seperti ini, lepaskan aku". Gerutu Riana kesal dengan kelakukan Demian, rupanya dia sudah salah menilai laki-laki ini.


" tidak mau, tidak mau!!! Sudah kubilang kau tinggal di apartemenku saja, apartemen yang kubeli dekat dengan kampusmu Ana, oke?".


" Nggak! Kita belum nikah, nanti apa kata tetangga yang kalau lihat pria sama wanita yang belum muhrim tinggal satu rumah".


Demian terdiam mendengar perkataan Riana, lalu tak lama kemudian Riana merasakan baju dibagian perutnya basah, ditambah lagi terdengar suara isakan dari seseorang.


" Dian kenapa nangis?". Riana panik sambil berusaha melihat wajah Demian yang penuh air mata tapi Demian berusaha menghidari tatapan Riana.


" Jangan lihat, aku jelek kalau nangis!". Lirih Demian sambil menutup wajahnya dengan kedua lengan kekarnya.

__ADS_1


Astaga, Riana tak habis pikir dengan Demian, ingin sekali dia menendang laki-laki itu keluar dari hidupnya tapi apa daya? Boro-boro mau ninggalin Demian, baru sejam aja ditinggalin Riana Demian sudah mengamuk persis seperti orang gila yang diusik ketenangannya.


" Yaudah gak usah nangis nanti gantengnya ilang sayang". Bujuk Riana lembut sambil mengusap air mata dari pipi Demian. Jangan tanya apa yang dirasakan Riana sekarang, rasanya seperti mengurus bayi besar berusia 31 tahun.


" Jadi kamu cuman mentingin apa kata tetangga daripada kata aku?!". Pekik Demian yang baru teringat kata-kata menyakitkan dari Riana.


Riana menganga mendegar perkataan Demian yang tidak masuk akal, " Astaga bukan begitu Dian sayang, aku cuman gak mau kalau tetangga pada salah paham sama kita". Riana dengan sabar menjelaskan kepada Demian, jika dia ikut marah maka dijamin masalah ini tidak akan kelar-kelar.


" Kamu tunanganku, kita nanti juga bakal nikah jadi apa bedanya?! Pokoknya kamu tinggal sama aku!! Titik". Teriak Demian lalu masuk kedalam ruang pribadinya.


Riana menggeleng tidak percaya dengan sifat Demian yang sangat keras kepala, Riana menyusul Demian memasuki ruangannya lalu menutup pintunya dengan keras sebagai tanda kalau perempuan itu benar-benar marah sekarang.


Demian terlonjak kaget lalu menatap Riana takut-takut, Riana mendekati lelaki itu lalu menatapnya tajam.


" Dengar Demian! Tidak semua permintaanmu harus terkabulkan apa tidak cukup selama sebulan ini aku menuruti semua keinginanmu?!".


Demian mulai berkaca-kaca menatap Riana, " Ana…". Lirihnya, hidung Demian sudah mulai merah tanda laki-laki itu mau menangis kembali.


" Dian…kemarilah". Panggil Riana sambil merentangkan tangannya agar Demian mendekat.


Laki-laki itu berjalan sambil terisak lalu memeluk Riana dengan erat. Bahkan Riana sudah merasakan lehernya basah terkena air mata Demian.


Riana mengusap kepala Demian dengan lembut, tubuhnya nyaris hilang karena dipeluk badan kekar dan tinggi milik Demian.


" Baiklah, aku akan tinggal di apartemenmu, tapi besok yah, hari ini aku ada kelas". Hibur Riana, dia tak mau membuat anak orang menangis terus-terusan.


Demian melepaskan pelukannya lalu menatap Riana dengan muka merahnya karena menangis, " Beneran yah?"


Riana mengangguk. Lalu Demian kembali memeluknya.


" Sayang…".

__ADS_1


" Hmm?".


" Hari ini jangan kekampus dulu, temani aku yah?". Kata Demian manja.


Wajah Riana langsung menegang, buru-buru ia mengalihkan topik pembicaraan. Karena Riana sudah banyak absen hanya karena Demian tidak mau di tinggalkan, untung saja ada Gita yang sigap memberikan salinan tugas kepadanya jika tidak bagaimana nasib Riana?!


" D-dian tidur yuk, kamu pasti capek". Riana langsung menarik tangan Demian untuk tidur di kasur king size yang memang sudah ada diruangan itu.


Demian mengangguk lalu melepas jas dan dasinya, kemudian laki-laki itu tidur dipaha Riana dengan wajah yang menghadap langsung keperut Riana menenggelamkan wajahnya disana hingga tertidur karena usapan lembut yang Riana berikan kepada kepalanya.


Setelah 46 menit, Riana rasa Demian memang sudah tertidur pulas, perempuan itu dengan cepat menyingkirkan kepala Demian dari pahanya dengan sangat hati-hati, lalu setelah itu dia berjinjit pelan keluar dari ruangan Demian lalu membuka pintunya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan bunyi.


Hah…selamat, Riana selamat dari penjara si bayi besar. Tapi gak tau kalau besok….


.


.


.


.


TO BE CONTINUED


-


**Nah di Chapter ini Demian akan lebih protektif kepada Riana, krna pada dasarnya Demian memang Childish jadi di maklumi yah^^


*Jangan lupa Like dan komen sebanyak-banyaknya yah~


Thanks*.

__ADS_1


Sayang kalian❤️**


__ADS_2