Om-om Itu Suamiku

Om-om Itu Suamiku
Demian Adiputra


__ADS_3

Om-om Itu Suamiku: Bab 08


.


.


.


_Happy Reading_


-


" Si boss lagi kesurupan yah? Kok dari kemaren senyum-senyum sendiri?". Salah satu karyawan bergidik ngeri menatap bossnya dengan ketakutan.


" Gak tau lah, emang gue asistennya". Salah sati karyawan menimpali.


" Kalian yang disana! Sedang apa?!". Buru-buru segerombolan wanita yang sedang ngerumpi itu bubar ketika mendengar suara familiar itu mendekat.


" P-pak Leri, k-kami cuman—",


" Jika kalian sudah tidak betah bekerja disini lagi silahkan undur diri, saya tunggu surat pengunduran kalian dengan senang hati".


" Pak Leri maafkan kami, kami tidak akan mengulanginya lagi".


" Yasudah lain kali jika kalian kedapatan bergosip seperti itu lagi tidak akan saya maafkan, masih untung hanya saya yang lihat, kalau boss yang lihat bagaimana nasib kalian?!".


Serempak semua karyawan itu menunduk patuh, tak ada yang berani membantah perkataan asisten boss mereka itu, masih untung hanya asisten Leri yang melihat, jika boss mendapati hal seperti ini juga maka dijamin mereka akan dipecat dengan tidak hormat.


Asisten Leri berjalan santai menuju koridor tempat bossnya berada, sesekali bersiul, asisten Leri mengetuk pintu ruangan bossnya sebanyak tiga kali.


Karena tidak ada sahutan akhirnya Leri langsung masuk saja tanpa izin dari bossnya. Baru saja ia ingin melangkah mendekati bossnya, suara menggelegar membuatnya membeku bagai terkena sihir es.


" Jenny!!!!". Demian berteriak memanggil nama sekretarisnya.


" A-anu boss Jenny nya gak ada". Jawab Leri masih shock.


" Hah kenapa bisa gak ada?! Berani-beraninya dia cuti tanpa memberitahuku terlebih dahulu".


Seketika wajah Leri datang bak meja setrikaan, " Kan boss sendiri yang ngasih dia cuti kemaren".

__ADS_1


" Apa, aku yang kasih cuti?! Sejak kapan!".


" Kemarin boss waktu dia mohon-mohon sambil nangis guling-guling dilantai, kata boss sih 'Karena suasana hatiku sedang baik maka kau kuberikan cuti satu hari' gitu boss".


" Oke kalau gitu cutinya di batalkan, sekarang panggil dia!".


" i-iya boss".


Si boss kesambet apa sih dari kemaren gak jelas mulu.


Leri keluar dari ruangan bossnya dan menelpon sekretaris pirbadi boss nya yang bernama Jenny itu, " Hallo Jen, lo dimana?".


" Ya dirumah lah bareng keluarga, emang cuti satu hari cukup apa buat jalan-jalan!".


" Lah ngapa lo jadi marah sama gue, salahin si boss noh!". Leri bisa mendengar kalau Jenny di sana sedang berdecak kesal, " Lo masih untung di kasih cuti, yaudah sekarang lo balik kerja!".


" Hah! Gak bisa gitu dong, kan si boss udah ngasih gue cuti".


" Cuti lo dibatalin! Buruan ke kantor SEKARANG!".


" Lah gak bisa gitu dong, masa main batalin cuti gitu aja gak adil!".


" Terserah!". Buru-buru Leri mematikan sambungannya secara sepihak, males dengar bacotan si Jenny. Baru saja beberapa langkah Leri ingin masuk ke ruangan boss nya, tiba-tiba ponselnya berdering kembali.


" Ini saya".


Mata Leri seketika membulat, buru-buru ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya, tertera dengan jelas bahwa nama orang yang menelponnya bukanlah Jenny.


Buset ayahnya si boss nelpon! Buru-buru Leri meyahut panggilan itu dengan sopan, " H-hallo tuan besar apa kabar?".


" Baik, dimana Demian sekarang?".


" Ada diruangannya tuan, bapak mau bicara sama tuan muda?".


" Tidak, bilang saja sama dia, kalau dia harus datang ke restaurant chatterine jam 8 malam! Tidak ada penolakan, mengerti?!".


" Mengerti sekali tuan! Akan saya sampaikan kepada tuan muda!".


" Yasudah saya tutup teleponnya".

__ADS_1


" i-iya tuan, sampai jumpa".


Tut...


Leri menghela nafasnya lega ketika sambungan sudah terputus, tadi itu hampir saja dia mamakai kata-kata kasar jika itu Jenny. Dengan cepat Leri masuk keruangan bossnya untuk memberitahukan hal barusan yang dia dengar.


" Boss?".


" Gimana Jenny udah datang?".


" Sedang dalam perjalanan boss, oh iya tadi tuan besar menelpon saya, katanya anda disuruh datang ke restaurant chatterine jam 8 malam tanpa penolakan".


Demian mengernyitkan dahinya tak suka, " Saya menolak, palingan ketemu sama perempuan, saya gak mau dijodohin".


" T-tapi pak, udah kesekian kalinya orangtua anda menelpon seperti ini, apa salahnya untuk datang".


Demian melotot kearah Leri asistennya, " Sebenarnya aku atau dia boss mu?".


" T-tentu saja boss Demian, tapi boss coba pikirkan sekali lagi, jika boss datang ke perjodohan itu sekali saja, maka boss punya kesempatan untuk menolaknya langsung, terus dia bakal melapor kepada orangtua anda jika anda bukan orang baik dan kasar, maka otomatis orangtua anda akan menyerah untuk menjodohkan anda".


Demian tampak berpikir dengan usulan Leri, menurutnya boleh juga, setidaknya untuk sementara orangtuanya akan berhenti menjodohkannya jika dia menolak langsung perempuan itu.


Demian tersenyum simpul, " Oke, saya setuju".


.


.


.


.


TO BE CONTINUED


-


***Jangan lupa Like dan komen sebanyak-banyaknya~


Dikasih Rating juga yak, kalau perlu di Vote biar Eonnie tambah semangat nulisnya.

__ADS_1


Thanks*.


Sayang Kalian❤️**


__ADS_2