Om-om Itu Suamiku

Om-om Itu Suamiku
Hukuman


__ADS_3

Om-om Itu Suamiku: Bab 06


.


.


.


_Happy Reading_


-


" Apa maksudnya?! Diana apa yang sudah kau lakukan kepada adikmu, hah?". Mamah membentak Diana yang sudah berkeringat dingin.


" Mamah, aku…aku juga dijebak mah, p-pasti dia mem-video kejadian itu! Berikan video itu kepadaku Riana".


" Tidak akan!".


" Riana! Berikan video itu biar papah yang hapus!".


" Terlambat, aku sudah mengunggah videonya disemua media sosial dengan men-tag nama anak kesayanganmu itu papah".


Plakkk...


Kali ini Diana yang menampar Riana dengan kuat sehingga gadia itu tersungkur kelantai. " Gadis sialan! Teganya kau melakukan ini padaku!".


" Lalu bagaimana denganku?! Apa kau tidak kasihan kepadaku sedikitpun saat memalsukan absenku dan merubah pekerjaanku menjadi berantakan?! Apa kau tau aku nyaris di keluarkan dari kampus, bahkan dosen yang menjadi pembimbingku lepas tangan dan tak mau membantuku untuk keluar dari masalah ini!! Aku dibenci semua dosen gara-gara kau, j*lang!".


" Diana apa benar yang dikatakan adikmu itu?". Mamah berkata sambil memandang Diana.


" I-iya memang benar tapi…tapi yang dibuat Riana itu juga sudah keterlaluan!".


William duduk pasrah sambil memijit pelipisnya, kenapa keluarganya harus hancur berantakan seperti ini.


" Kalian berdua keluar dari rumah ini!". Riana terdiam menatap datar papahnya sedangkan Diana melotot tak percaya, " Pah tidak pah Diana tidak mau pergi dari rumah ini!".


Riana berdecih, " Bilang saja kalau kau tidak bisa hidup tanpa uang papah".

__ADS_1


" Diam kau gadis sialan!".


" Diana cukup! Dan Riana, papah akan berhenti memberikan uang saku kepadamu, dan kamu Diana semua kartu ATM-mu akan papah blokir".


" Papah, aku tidak mau!!! Jangan lakukan itu pah, jangan blokir kartu ATM ku".


Willian tak perduli, ia segera menyuruh Diana berkemas dan pergi dari ruang tamu itu dalam kebisuan. Menurutnya inilah hikuman yang paling tepat untuk keduanya.


Riana mengangkat bahunya acuh, baginya tak masalah jika hidup tanpa uang asalkan masih ada pekerjaan. " Yasudah jika masalah ini sudah selesai, Riana pergi dulu mah". Riana ingin beranjak pergi namun tangannya dicekal oleh Diana.


" Mau kemana kau?! Setelah membuat aku dipermalukan dan diusir dari rumah kau masih bisa santai seperti itu?!!! Dasar adik kurang ajar!!".


Riana tersenyum licik, " Lalu kau apa, J*lang liar?".


" Kau…"


Riana menepis tangan Diana dan pergi tanpa menoleh sedikitpun, balas dendam sudah selesai.


Rasakan kau! Diana si b*tch


****


" Yah gimana lagi? Udah gak punya uang lah, kenapa? lo gak mau temenan sama gue lagi?". Riana memicingkan matanya menatap Gita tajam.


" Hehe mana mungkin, gue tetap mau kok jadi temen lo tapi…".


" Apanya yang tapi?".


" Gue belum bayar kost, uang bulanan gue dah abis terus ortu lo juga berhenti ngasih lo uang saku, jadi izinin gue tinggal diapartemen lo yah?".


" Lah enak aja lo!".


" Pliss lah Ri, gue janji bakal bantuin lo bersih-bersih deh suer".


" Gak bisa!".


" Riana~~". Riana memejamkan matanya pusing dengan tingkah Gita, wanita itu antara setia dan mata duitan sama-sama membuat Riana pusing.

__ADS_1


" Yaudah gue izinin lo tinggal di apartemen gue tapi kalau lo udah dapet kost baru langsung minggat lho!!". Gita cengegesan kepada Riana, sebenarnya Gita tidak bisa jauh dari Riana bukan karena uangnya tapi Gita ingin menghibur Riana dengan cara tinggal diapartemennya, lagian kostnya juga gak bagus-bagus amat, Gita berencana untuk pindah karena kurang nyaman jika tinggal disitu.


" Oke kanjeng ratu, beres itu mah!".


****


Riana dan Gita sampai pada kelas mereka yang baru, mengingat mereka tak lulus sidang skripsi jadi mereka harus mengulang satu semester kembali. Dan itupun mereka harus bersyukur karena tidak dikeluarkan dari kampus.


" Wah gak nyangka adek kelas kita sekarang jadi teman kelas kita!". Riana berdecak tak suka dengan kata-kata Gita barusan, " Terus lo bangga gitu kita sekelas sama mereka? Lo lupa yah kita itu dulu senior mereka, mau taruh dimana nih muka kalau mereka tau senior mereka sekarang jadi satu angkatan sama mereka".


" Taruh dimana aja yang penting enak di pandang".


" Tau ah bacot".


Riana dan Gita memilih duduk di kursi paling belakang agar bisa leluasa kalau mau mengobrol. Sambil menunggu dosen datang, Gita memainkan ponselnya sedangkan Riana memilih tidur karena dia memang tukang molor.


" Eh kok tumben si Rini gak online sih? Biasanya kan dia paling cepet bales WA orang". Riana bangun dan menatap Gita dengan malas, " Halah palingan kuotanya abis".


" Tapi kata temen-temannya si Rini mau dijodohin sama ortunya".


" Hah, dijodohin? Emang ini jaman Siti Nurbaya apa?".


" Gak tau juga sih, tapi lo tau gak Ri, denger-denger sih orang yang mau dijodohin sama Rini itu pengusaha muda, tapi Rini nolak soalnya dia udah kepincut cinta dosen baru itu".


Riana mengangkat sati alisnya bingung, " Lah terus?".


" Katanya sih kalau ada yang berhasil buat batalin perjodohan ini bakal dikasih uang sebanyak yang lo minta".


" Kenapa lo gak bilang daritadi ogeb! Cuss lah kita ketemu sama Rini".


" Bravo!!! Akhirnya kita punya uang lagi, tapi kan Ri gue gak tau rumahnya Rini dimana".


.


.


.

__ADS_1


.


TO BE CONTINUED


__ADS_2