Om-om Itu Suamiku

Om-om Itu Suamiku
Pertama Kalinya


__ADS_3

🔞WARNING🔞


Om-om Itu Suamiku: Bab 03


.


.


.


_Happy Reading_


-


" Eh, siapa kau—",


" Aku….". Riana tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, tubuhnya semakin memanas. Sepertinya Diana juga menyuruh memasukkan obat sialan itu dengan dosis yang tinggi sama sepertinya.


Dengan nafas tak teratur Riana meraih kerah baju pria itu, berusaha membisikkan sesuatu ditelinganya. Perlahan Riana mendekat, menempelkan tubuhnya dengan pria itu sebagai tumpuan agar tak jatuh.


" Tolong…aku, kumohon…". Sialnya setelah mengatakan itu Riana langsung menjilat telinga pria itu. Obat perangsang yang diberikan Diana langsung bereaksi, tubuhnya yang panas seketika menjadi sejuk ketika kulit nya menempel dengan pria tersebut.


Riana bisa merasakan bahwa pria itu terkejut dengan tindakannya, tapi masa bodoh dirinya sudah tak tahan. Perlahan ciuman Riana turun keleher pria itu, menghisapnya kuat layaknya es cream kesukaannya.


Pria tersebut berusaha mencerna situasi yang terjadi sekarang, buru-buru ia menutup pintu kamarnya agar tak timbul kesalahpahaman. " Apa yang kau lakukan nona, kau —",


Riana membungkam mulut pria itu dengan ciumannya, pria itu nampak berusaha mendorong Riana menjauh tapi gadis itu melingkarkan tangannya kuat dileher sang pria. Akal sehatnya benar-benar hilang ketika nafsu sudah mulai mengendalikannya.


Perlahan pria itu mulai melunak, bergerak dan mulai membalas setiap sentuhan yang Riana berikan.

__ADS_1


Ciuman semakin panas ketika sang pria yang mendominasi, lidahnya menerobos masuk kedalam mulut Riana menyapu bersih semua bagian.


Tubuh Riana bergetar, reaksi alami dari tubuhnya karena ia belum pernah melakukan ini sebelumnya. Perlahan pria itu terduduk di sofa kamarnya karena Riana terus mendorong dirinya untuk duduk. Riana merasakan pangkuan si pria yang ia duduki semakin aneh, kejantanan pria itu mengeras, Riana bisa merasakannya.


Pria tersebut menjilat leher Riana dengan ganas, jika sebelumnya Riana yang tak dapat mengendalikan tubuhnya, kini pria itu yang mulai lepas kendali. Apalagi saat mereka sama-sama saling membalas sentuhan.


" Akhh….," Rintih Riana saat tangan pria itu mere*as dadanya.


Pria itu berdiri, menggendong Riana didepan layaknya anak kecil. Riana menjerit tertahan ketika si pria melempar tubuhnya ke ranjang. Perlahan Pria itu merangkak naik keatas tubuh Riana, dalam sekejap tubuh Riana polos tanpa busana, pria itu menarik Riana hingga dada mereka saling beradu.


" Kau yang memulainya nona". Riana mendesah ketika mulut pria tersebut bermain di dadanya.


Perlahan tangan pria itu merayap turun kedalam celana pendek Riana, menyentuh bagian sensitive yang tak pernah disentuh orang, jemari nakal itu menerobos masuk kedalam celana dalam Riana, melepasnya dan membuangnya kesembarang tempat. Hingga akhirnya jemari itu menerobos masuk kedalam kewanitaan Riana dan menggerakannya perlahan.


Riana memejamkan matanya, tubuhnya bergetar tapi otaknya terus menginginkannya. Tiba-tiba pria itu tersentak kaget, spontan menghentikan gerakannya membuat Riana membuka matanya.


" Are you virgin?". Tanyanya terkejut. Riana mengangguk membenarkan. " Kau yakin ingin melanjutkannya?". Tanya pria itu sekali lagi memastikan. Riana terdiam efek obat itu masih tersisa, dengan ragu Riana mengangguk.


" Baiklah, ini mungkin akan sedikit sakit". Riana terdiam, hawa nafsu membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih. Tiba-tiba tubuh Riana terasa sakit ketika sebuah benda keras dan tumpul berusaha masuk kedalam kewanitaannya.


" Akhh… apa itu?!". Pekik Riana kaget.


" Tenang……ini takkan sakit….aku akan melakukanmya perlahan".


Riana menunduk sesaat melihat kejantanan pria itu begitu besar dan panjang berusaha menerobos miliknya yang sempit. Tubuhnya bergetar, akal sehatnya seketika kembali, " Tidak, aku tak bisa melakukannya".


" Kau akan baik-baik saja, tenanglah…". Pria itu kembali mencium Riana berusaha mengalihakan pikirannya, sementara kejantannya diarahkan tepat ke kewanitaan Riana.


Baru saja setengah kepalanya yang masuk, Riana menggelinjang kesakitan. " Akhh…hentikan……ini sakit".

__ADS_1


" Sebentar lagi…tak akan sakit". Namun nyatanya baru setengahnya yang masuk, pria itu baru pertama kalinya menyetubuhi perempuan yang masih perawan. Ia berusaha mengalihkan perhatian Riana dengan sentuhan yang lain.


Setelah beberapa saat Riana sudah mulai tenang, pria itu kembali mendorong kejantanannya lagi.


" Arghh…sialan….ini sakit….sekali…".


Pria itu nampak tersenyum disela-sela usahanya. Disaat seperti ini wanita itu masih sempat-sempatnya mengumpat.


Pria itu mendekatkan tubuhnya kepada Riana, siap untuk menerima cakaran yang akan diberikan wanita itu kepadanya. Dengan sekali hentakan pria itu berhasil merobek selaput Riana.


" Aw….brengsek….sakit sekali….sudah kubilang….hentikan". Riana ingin menangis rasanya tapi ia tahan, pinggulnya bergetar merasakan kejantanan pria itu tertanam sangat dalam didalam dirinya.


Suara rintihan dan desahan menggema di tengah sunyinya kamar hotel tersebut. Perlahan Riana mulai bisa mengimbangi kejantanan pria itu yang begitu kuat. Saling bertukar posisi selama hampir tujuh jam.


Keduanya mencapai puncak ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi, Riana terbaring lemah, tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat. Di tengah kesunyian Riana membuka mulutnya, bertanya dengan nafas ngos-ngosan.


" Siapa namamu?".


" Demian…".


.


.


.


.


TOB BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2