
Sean masih menikamati batang bernikotin yang terselip di sela jarinya. Sesekali Sean melihat Selina yang tengah menikamati bakso. Senyum Sean mengembang melihat tingkah polos Selina. Ada-ada saja tingkah gadi kelas 12 itu. Sebelumnya Selina mengatakan tidak ingin menambah bakso, tetapi melihat teman-temannya datang dan memesan bakso seenaknya membuat Selina tidak rela. Sudah dua porsi bakso yang Selina makan, tetapi gadis itu belum juga mau berhenti. Sean merasa bingung porsi makan Selina seperti kuli, tetapi memiliki bentuk tubuh yang indah.
Sean menyudahi menghisap rokoknya. Ia membuangnya lalu menginjaknya. Sean beranjak dari tempat yang ia duduki ketika melihat gerobak bakso sudah tidak penuh dengan siswa. Sean mendekati penjualnya untuk membayar bakso yang dipesannya.
"Berapa, Pak?" tanya Sean.
"Satu juta saja, Mas," jawabnya.
Sean memberikan sejumlah uang yang penjual bakso sebutan. Sambil menunggu Selina selesai makan Sean memilih duduk bersama dan mengobrol dengan penjual bakso. Meskipun berasal dari keluarga kaya Sean tidak risih untuk duduk bersama dengan orang seperti penjual bakso itu.
"Sudah berapa lama Bapak berjualan bakso?"
"Sudah dua tahun sebelum saya menikah, Mas."
"Umur bapak sekarang berapa?"
"43 tahun, Mas."
Sean memerhatikan penampilan penjual bakso tersebut. Umurnya lebih muda dari ayahnya, tetapi nampak jauh berbeda. Jelas saja keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda.
"Gerobak Bapak sudah usang kenapa tidak ganti yang baru? Mungkin dengan mengganti gerobak banyak yang akan membelinya dagangan Bapak."
Suasana menjadi sunyi. Sean melihat wajah penjual bakso itu menjadi sedih.
"Kenapa sedih, Pak?"
"Saya sudah tidak punya modal lagi untuk membeli gerobak yang baru. Saya ditipu sama teman dan istri saya, Mas. Mereka bekerja sama membawa uang hasil jirih payah saya selama berdagang bahkan meninggalkan saya sepeserpun. Jadi saya berjualan ala kadarnya."
Penjual bakso itu akhirnya menceritakan bagaimana sang istri dan sahabatnya mengkhianatinya. Uang hasil jirih payah selama berdagang dibawa kabur oleh mereka. Alasannya uang itu akan digunakan untuk membeli rumah yang strategis sehingga tidak perlu lagi menyewa kios untuk berjualan. Rasa percaya kepada sahabat dan sang istri membuatnya buta. Dia baru menyadarinya saat tahu rumah yang rencananya akan ia beli disita oleh bank. Istrinya kabur dengan teman prianya membawa uang dan anaknya. Penjual bakso itu kini hidup sendiri.
Sean mendengarkan cerita penjual bakso itu dengan serius. Melihat kegigihan penjual bakso hati nurani tergugah.
"Kalau begitu Bapak sewa kios yang ada di sana saja. Tempatnya strategis." Sean menunjuk salah satu kios yang ada di seberang jalan bertuliskan disewakan.
"Wah, itu biaya sewanya pasti mahal. Saya tidak sanggup."
"Itu masalah gampang. Bapak bilang saja kalau saya yang suruh. Kalau tidak besok saya suruh teman saya untuk mengurusnya."
"Mas ini jangan suka bercanda." Tawa kecil muncul di bibir penjual bakso itu.
Jelas saja penjual bakso itu tidak percaya dengan apa yang Sean katakan, karena dia tidak tahu semua ruko yang berjejer di sepanjang jalan itu adalah milik perusahaan Bagaskara.
"Saya serius. Saya akan bantu Bapak bebasin biaya sewa selama satu tahun ke depan. Setelah satu tahun Bapak usaha sendiri untuk membayarnya."
__ADS_1
"Yang benar, Mas?"
"Iya."
"Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya, Mas."
"Kerja keras, Pak. Bapak harus berhasil dan bikin usaha Bapak ini maju. Kalau gak, saya akan minta uang saya dikembalikan."
"Baik, Mas. Saya setuju saya akan bekerja keras." Penjual bakso itu menerima syarat Sean tanpa ragu dan itu membuat Sean bersemangat.
Obrolan berakhir, Sean mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Ia mengirim pesan kepada Bima untuk mengurus ruko yang Sean janjikan kepada penjual bakso.
"Besok ada orang yang akan ke sini untuk membantu Bapak. Namanya Bima."
"Terimakasih banyak, Mas." Penjual bakso itu merasa sangat senang. Ia bahkan sampai ingin bersujud di hadapan Sean, tetapi dicegah oleh laki-laki itu.
"Ini kartu nama saya. Hubungi saya jika Bapak membutuhkan sesuatu."
Penjual bakso menerima kartu nama yang di berikan oleh Sean sambil menyeka air matanya.
Karena serius mengobrol Sean tidak tahu kalau Selina sedang memperhatikannya. Selina juga mendengar pembicaraan Sean dan penjual bakso itu. Ada rasa kagum muncul di dalam diri Selina. Gadis itu tidak percaya jika laki-laki yang terlihat urakan memiliki hati yang baik. Sean seakan memberinya sebuah kejutan besar.
Sean yang mendengar Selina terbatuk-batuk buru-buru mendekati Selina lalu memberikannya air minum.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Sean cemas.
Selina menarik napasnya dalam-dalam menetralkan rasa nyeri di tenggorokannya.
"Aku buru-buru, Om."
"Jangan seperti itu lagi. Makan pelan-pelan kalau tidak sudahi saja makannya."
"Sayang, Om kalau baksonya dibuang." Selina tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya.
"Astaga." Sean menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Tidak habis pikir dengan Selina, padahal hanya tinggal satu biji. "Lain kali aku borong satu gerobak untuk kamu."
"Janji ya, Om," ucap Selina dengan menunjukkan matanya yang berbinar-binar.
"Iya. Sudah sana masuk. Jangan lupa nanti malam."
"Siap, Bos." Selina memberikan hormat kepada Sean membuat laki-laki itu tertawa kecil.
__ADS_1
"Sampai jumpa nanti malam." Sean mengacak-acak rambut Selina.
*****
"Aku pulang," ucap Selina saat tiba di rumah.
Selina menghampiri Keisha yang sedang duduk di ruang keluarga. Tidak lupa juga Selina menyalami dan mencium tangan Keisha.
"Sudah pulang? Tumben pulang cepat?" tanya Keisha sambil membolak-balikkan majalah.
"Guru mata pelajaran terakhir aku ada urusan. Jadi kami dipulangkan lebih awal," jawab Selina. "Tante lagi ngapain?"
"Ini lagi lihat-lihat desain kamar buat baby." Keisha menunjukkan beberapa gambar desain bayi kepada Selina.
"Ohw." Selina duduk di samping Keisha ikut melihat-lihat gambar desain kamar bayi. "Yang ini bagus, Tante."
Selina menunjukkan salah satu desain kamar bayi bernuansa abu-abu dan biru langit, ada banyak gambar bintang berwarna emas dan beberapa gambar binatang.
"Iya juga. Nanti Tante diskusiin sama Om kamu," ucap Keisha sambil mengusap sisi wajah Selina. "Ganti bajumu lalu makan."
"Iya, Tante. Oh iya ada yang ingin aku bicarakan sama Tante." Selina menepuk keningnya sendiri hampir saja dirinya lupa tentang ajakan Sean untuk makan malam.
"Ada apa?" Keisha menaruh majalah ke meja di depannya lalu mendengarkan apa yang ingin Selina bicarakan.
"Om Sean ngajakin aku makan malam sama keluarganya nanti malam," ucap Selina.
"Sean ngajak kamu makan malam?" Keisha terkejut mendengar penuturan Selina. "Apa sekarang kalian sudah berteman? Tapi ... kenapa dia ngajak kamu makan malam bukannya mengajak pacarnya?"
"Nah itu dia. Aku juga merasa heran, Tante. Aku sudah bertanya padanya, tapi Tante tahu apa jawaban om Sean ... suka-suka gue mau ngajakin siapa." Selina menirukan suara Sean membuat Keisha tertawa.
"Kedengarannya aneh ya?" Keisha masih bertanya-tanya alasan Sean mengajak Selina makan malam.
"Memang Om Sean orangnya aneh. Kadang baik lalu tidak ada angin ataupun hujan tiba-tiba marah-marah," ejek Selina.
"Ya sudah, ikut saja. Kamu jadi bisa jalan-jalan dan kenalan sama keluarga Tante," ucap Selina.
"Tapi aku bingung mau pakai baju apa. Takutnya nanti salah kostum," ucap Selina.
"Memangnya Sean tidak mengatakan apapun?" tanya Keisha.
"Om Sean hanya mengatakan aku harus dandan yang cantik dan akan menjemputku nanti malam pukul 7. Itu saja," jawab Selina.
"Baiklah, nanti Tante tanyakan kepada Sean. Sekarang ganti pakaianmu lalu makan."
__ADS_1
"Oke, Tante. Aku masuk kamar dulu." Selina mencium pipi Keisha sebelum pergi ke kamarnya.