
Sean masih sekuat tenaga melawan hasratnya kepada Selina. Jika saja Selina bukan gadis kecil atau keponakan dari saudaranya mungkin saja Selina akan dimangsanya detik itu juga.
"Sampai kapan gue bisa menahan rasa sakit ini?" batin Arya.
Meskipun dirinya sedang dikuasi oleh hasratnya, Sean masih memiliki tingkat kewarasan yang besar. Jika dirinya sampai memangsa Selina maka dirinya harus siap untuk berpindah alam.
Sean sudah sangatsangat putus asa. Ia hanya bisa menarik napas berulang-ulang untuk meredam hasratnya. Usahanya tidak sia-sia, akhirnya hasrat itu mereda.
Sean kembali fokus memerhatikan Selina. Semakin lama Sean memerhatikan Selina, semakin ia dibuat bingung?
Ada apa dengan dirinya?
Dari pertama Sean melihat Selina ada sesuatu yang menarik perhatiannya yaitu wajah cantik, imut, dan tubuh seksi gadis itu. Semakin lama Sean mengenal Selina ada sesuatu yang membuat Sean tertarik kepada Selina. Daya tarik gadis kecil itu sangat kuat hingga Sean menolak untuk jauh darinya. Apalagi berkat Selina, Sean berhasil melewati rasa sakit di hatinya karena Starla.
Kini hubungan yang mulai jauh itu membuat Sean sudah hampir kehilangan akal. Rasa ingin memiliki gadis itu semakin kuat, ada pula perasaan lain yang sudah menggangguku setiap detik waktu yang ia lewati. Sean tidak tahu bagaimana menjabarkan isi hatinya, yang Sean bisa katakan hanya satu Selina sudah menggangguku pikirannya.
"Ck, ganggu banget nih bocah."
Benarkah aku sudah jatuh cinta kepada Selina?
Kalimat itu yang selalu ada di dalam benak Sean. Hatinya selalu memberikan sinyal jika ia memang sudah benar-benar jatuh cinta kepada Selina. Hanya saja Sean masih menepis semua itu. Bukan tanpa alasan, tetapi mengingat umur mereka terpaut cukup jauh dan juga gaya hidup mereka yang berbeda.
"Sudah habis." Selina menarik tisu di dekatnya untuk membersihkan sisa makanan yang ada di bibirnya. "Makanannya benar-benar enak."
Suara Selina berhasil menyadarkan Sean. Sean berdehem sembari menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan napasnya perlahan.
"Hehhe, aku berat ya Om?" tanya Selina.
"Iya. Aku tidak tahu badanmu kecil tapi makannya banyak. Tidak heran jika badanmu berat," ucap Sean. "Badanmu sepertinya isinya hanya lemak."
Ucapan Sean membuat Selina tertawa kecil.
"Ya sudah aku pindah saja duduknya." Selina berdiri, tetapi Sean mencegahnya.
"Jangan! Di sini saja. Lebih nyaman seperti ini." Sean melingkarkan pergelangan tangannya ke sepanjang tubuh Selina untuk mengunci pergerakan gadis itu.
"Tapi … aku takut jika ada seseorang yang masuk tiba-tiba nanti," ucap Selina.
"Memangnya kenapa? Kamu pacarku, 'kan?" ucap Sean.
"Memangnya dunia pacaran orang dewasanya seperti ini?" tanya Selina dengan polosnya.
"Tidak juga," jawab Sean. "Tidak, karena biasanya lebih parah." Sean melanjutkan ucapannya di dalam hati.
"Makanya cepat tumbuh dewasa supaya kamu tahu seperti apa kehidupan orang dewasa," ucap Sean.
"Tidak mau. Banyak yang bilang dunia orang dewasa itu terlalu rumit," ucap Sean.
"Sok tahu," balas Sean.
"Sudahlah, lupakan itu. Apa makanannya sudah habis?" tanya Sean.
"Sudah, lihat saja bersih tanpa sisa." Selina menunjukkan tempat makan yang sudah kosong. "Ternyata masakan kak Starla enak juga"
__ADS_1
"Kamu juga harus belajar masak. Biar nanti setelah kamu menikah bisa melayani suamimu dengan baik," ucap Sean.
"Masakan Om juga enak. Kalau Om sama kaka Starla pasti sangat cocok," ucap Selina.
Sean menanggapi ucapan Selina dengan dengkusan. "Aku gak suka lagi padanya."
"Tapi sepertinya kak Starla justru suka sama Om. Buktinya dia datang ke sini bawakan makanan untuk Om," ucap Selina. "Atau mungkin kak Starla sering menemui Om karena ingin berdamai dengan Om yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya."
"Jangan membahas dia lagi. Aku gak mau moodku hancur," pinta Sean.
"Baiklah lupakan dia. Aku sebenernya datang ke sini mau minta bantuan sama Om," ucap Selina.
"Ada apa? Kamu mau aku manas-manasin bagas lagi?" tanya Sean.
"Bukan, Om. Sebelumnya aku pernah mengatakan, bukan? Aku akan menghadapi ujian akhir. Aku mau minta tolong bantuin aku untuk belajar. Kata aunty, Om sangat pintar dalam hal pelajaran apapun," jawab Selina.
"Itu benar. IQ ku memang di atas rata-rata," ucap Sean bangga.
"Huh, sombong," gumam Selina.
"Bukan sombong, itu memang kenyataan," ucap Sean.
"Iya, iya." Selina memutar bola matanya karena merasa jengah.
"Sekarang aku mau tanya sama, Om. Apa om mau bantuin aku?" tanya Selina.
"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi imbalan apa yang akan kamu berikan padaku jika aku membantumu?" tanya Sean.
"Om gak ikhlas mau bantuin aku?" tanya Selina.
"Kalau ikhlas kenapa masih minta imbalan?" ujar Selina.
"Itu karena …?" Sean kehabisan kata katanya. "Kalau tidak mau ya lupakan saja."
Tidak bisa, Sean adalah harapan satu-satunya bagi Selina.
"Baiklah, Om mau berapa. Jangan minta banyak-banyaknya. Aku tidak bisa memberikan banyak uang untuk Om," ucap Selina.
"Imbalan gak harus selalu diberikan dalam bentuk uang bocil." Sean menarik hidung Selina karena merasa gemas.
"Terus?"
"Aku pikirkan sebentar?"
"Jangan lama-lama!"
"Dasar bocil, tidak sabaran."
Setelah berpikir Sean mendapat sebuah ide. "Baiklah imbalannya adalah temenin aku ke acara pernikahan temanku minggu depan."
"Yakin Om? Itu imbalannya?"
"Yakin. Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Om gak malu mau bawa aku ke pesta teman Om?"
"Makanya nanti kamu dandan yang cantik biar gak Malu-maluin."
"Tapi —" Ucapan Selina langsung dipotong oleh Sean.
"Jangan kebanyakan berpikir. Iya atau gak?" tanya Sean.
"Baiklah," jawab Selina seraya menganggukkan kepalanya.
"Good. Jadi kita mulai kapan?" tanya Sean dengan semangat.
"Besok saja hari minggu," jawab Selina.
"Baiklah." Sean mengangguk setuju.
"Karena makanannya sudah habis. Aku pulang dulu ya Om," pamit Selina.
"Dasar, SMP," ejek Selina.
"Apa tuh?" tanya Selina.
"Sudah makan langsung pulang," jawab Sean.
"Hehe, Om bisa saja. Bukan begitu Om. Jam makan siang sudah selesai. Aku tidak mau ganggu pekerjaan Om," ucap Selina.
"Tapi maaf sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada pertemuan penting," ucap Sean.
"Tidak masalah, Om. Aku bisa pulang sendiri," ucap Selina.
"Atau …?" Sean berpikir sejenak. "Aku akan suruh Bima saja untuk mengantarmu," ujar Sean.
"Tidak, jangan! Aku tidak mau merepotkan siapapun. Aku akan pulang sendiri saja. Lagi pula aku mau mampir ke suatu tempat," tolak Selina.
"Mau ke mana?" tanya Sean posesif.
"Mau tau aja urusan cewek," goda Selina.
"Ingat kamu itu pacar aku!" ucap Sean.
"Ingat perjanjian yang Om buat sendiri, 'kan? Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing," ucap Selina.
"Ya, ya, ya baiklah." Sean menyesal sudah membuat perjanjian itu.
"Hehehe, bercanda, Om. Sebenarnya aku mau ke rumah temen aku. Dia lagi sakit, jadi aku ingin menjenguknya," jelas Selina.
"Baiklah Tapi … kamu yakin tidak mau di antar?" tanya Sean.
"Yakin, Om," jawab Selina.
"Baiklah, aku akan pesankan taksi untukmu," ucap Sean disambut anggukkan kepala oleh Selina.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke lobi," ajak Sean.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Om," ucap Selina.
"Sama-sama." Sean mengusap-usap pipi Selina menggunakan punggung tangannya. Setelah itu keduanya keluar menuju lobi.