
Sean memberhentikan laju mobilnya di halaman rumah Keisha. sebelum turun Sean lebih dulu melihat pantulan wajahnya di kaca spion yang ada di depannya ia sedikit merapikan rambutnya jangan sampai gadis kecil itu melihat penampilannya yang acak-acakan.
Merasa sudah rapi Sean membuka pintu mobil, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika teringat sesuatu. Sean duduk kembali sambil memutar otak mencari alasan jika saudara sepupunya bertanya banyak hal kepadanya. Aksn tetapi semakin berusaha mencari alasan semakin kacau pikirannya.
"Nanti saja aku pikirkan," gumam Sean.
Sean turun dari mobil, ia berjalan santai memasuki rumah Keisha. Di dalam ia melihat ke sana kemari mencari penghuni rumah itu,ia menemukan kedua sepupunya berasa di ruang tengah rumah itu.
"Malam Kakak dan Kakak ipar," sapa Sean.
"Malam Se," balas Keisha dan Arya bersamaan.
Sean langsung mengambil posisi duduk di sofa single yang ada di sebelah sofa yang Keisha dudukki. "Kapan keponakan gue lahir. Gue tidak sabar untuk melihatnya."
"Tinggal menghitung minggu saja, Se," jawab Arya. "Gue juga tidak sabar menantikan hal itu."
"Hai, dengar calon keponakan gue. Cepat lahir nanti om belikan mobil sport sebagai hadiah penyambutan lo."
"Wow, jika anakku lahir aku akan menagihnya," seru Keisha.
"Beres."
"Oh iya, Mas tahu tidak, semenjak ada Selina di sini Sean jadi sering datang. Aku jadi curiga." Keisha menatap Sean penuh rasa curiga.
"Kenapa? Tidak boleh? Dan ... berhentilah menatap gue seperti itu," ucap Sean.
"Tentu saja tidak, malah aku senang. Apalagi jika kamu datang membawa makanan kesukaanku," ucap Keisha.
"Kenapa sekarang yang ada di pikiran lo makan melulu? Apa lo tidak melihat badan lo sudah besar seperti sapi," ejek Sean.
"Enak saja." Keisha melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Sean justru membuat Sean tertawa cekikikan.
"Mana bocil?" tanya Sean.
"Bocil siapa?" tanya Arya.
"Siapa lagi kalau bukan keponakan kalian. Selina," jawab Sean setengah kesal. "Tidak tahukah kkalian gue tidak sabar bertemu dengannya."
"Dia sedang bersiap. Aku akan menyuruh bibi memanggilnya." Keisha ingin memanggil bibi, tetapi ia urungkan. "Tapi tunggu! Sebelum aku melakukannya katakan pada kami, apa alasan kamu mengajak Selina makan malam?"
"Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin saja," jawab Sean dengan santai.
"Itu acara keluarga lo, seharusnya mengajak pacar lo. Kenapa malah Selina." Arya menatap curiga ke arah Sean.
Astaga!
Sudah Sean duga sebelumnya. Kini pasangan suami dan istri itu akan mulai mengintrogasi dirinya. Untung saja isi kepalanya bekerja dengan cepat.
"Keisha, lo tahu sifat mami Evelyn seperti apa. Setelah hubungan Marcello dan perempuan itu go publik, mami terus mendesak gue untuk segera mencari pasangan. Jika gue membawa perempuan, katakanlah dia pacar gue, mami akan menodong kami dengan seribu pertanyaan yang malas sekali untuk gue jawab," jelas Sean.
"Jadi secara tidak langsung lo menggunakan Selina sebagai tameng," ledek Arya.
__ADS_1
"Hehehe, maaf Kakak ipar. Ini acara mendadak gue tidak tahu harus membawa siapa. Tidak tahu kenapa pikiran gue mengarah pada Selina," ucap Sean sambil cekikikan. "Jika gue membawa Selina, mami tidak akan berpikir yang macam-macam."
"Lalu bagaimana jika Tante Evelyn berpikir sebaliknya?" Pertanyaan Arya membuat suasana menjadi serius.
"Maksud lo, bagaimana jika mami berpikir aku memiliki hubungan dengan Selina?" Keisha dan Arya mengangguk bersamaan. "Kalau begitu biarkan saja."
Lagi-lagi Keisha melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Sean. "Jangan macam-macam kamu. Dia masih anak-anak."
"Biarkan saja. Tidak ada salahnya kami menjalin hubungan. Usia gue sama dia hanya berbeda 10 tahun bukankah kalian juga sama. Oh iya mendiang opa Egi dan Oma Monica juga terpaut umur 15 tahun dan lihat ... karena hubungan mereka kita ada."
"Kamu lihat, Mas! Aku paling malas berdebat dengannya. Dia selalu bisa mencari jawaban dari semua pertanyaan dan bisa dengan cepat membalikan keadaan," ucap Keisha.
"Gue gitu." Sean membanggakan dirinya sendiri.
"Tapi kalau laki-lakinya seperti opa Egi atau mas Arya itu tidak jadi masalah. Lah ini kamu, Sean!"
Sepertinya Keisha masih belum menyerah, ia ingin mengalahkan Sean malam itu.
"Gue kenapa?" Sean mengangkat satu alisnya menunggu ucapan dari Keisha selanjutnya.
"Jangan kamu kira aku tidak tahu, jika kamu punya banyak pacar di luaran sana," ucap Keisha.
Sean langsung gelagapan, kali ini Sean tidak bisa membalas ucapan Keisha.
"Sayang, berhentilah berdebat. Biarkan dia pergi membawa Selina," ucap Arya. "Jika dia cepat pergi kita bisa cepat untuk berduaan." Arya mengusap dan mencium perut Keisha untuk menggoda Sean.
"Iya, baiklah."
"Ah, dasar Cerewet! Gue panggil saja sendiri keponakan kalian. Di mana kamarnya?" Sean beranjak dari kursi, tetapi langkahnya dihadang oleh Keisha.
"Uluh, uluh galaknya bumil," ledek Sean membuat Arya tertawatertawa geli.
Sean tidak akan sembarang masuk ke kamar orang apalagi kamar seorang gadis. Ia hanya ingin menggoda Keisha saja. Sudah lama mereka tidak berdebat dan itu membuat Sean rindu.
Sean dan Arya tertawa melihat wajah galak Keisha. Menggoda Keisha dan membuatnya kesal menjadi keasikan tersendiri bagi mereka, terutama Sean.
"Kalian menyebalkan!"
Tawa Sean makin renyah melihat Keisha cemberut. Beberapa saat kemudian tawanya terhenti ketika melihat Selina berjalan menuruni anak tangga. Gadis kecilnya terlihat sangat cantik.
"Maaf, Om sudah nunggu lama ya?" tanya Selina.
Glek
Sean menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannnya yang mendadak mengering. Malam itu Selina nampak sangat cantik. Dress yang Selina kenakan sangat cocok di tubuhnya dan rambut ikalnya diikat ke samping menjadi satu, sangat cantik. Make-up, pakaiannya, sangat cocok dan menunjukan jika Selina masih anak di bawah umur
"Ti-dak apa." Sean tergagap terpana melihat penampilan Selina. Namun suara kelakon mobil merusak mood-nya. "Ayo cepat berangkat atau kita akan terjebak kemacetan."
Sean menarik Selina tanpa memberikan kesempatan Selina untuk berpamitan.
"Kakak dan Kakak ipar, kami berangkat," ucap Sean tanpa berhenti melangkah dan menoleh.
__ADS_1
"Tunggu, Om. Tante, Om, aku pergi dulu." Selina melambaikan tangannya kepada Keisha dan Arya.
"Hati-hati di jalan. Oh ya Sean sampaikan salamku dan mas Arya untuk tante Evelyn dan om," pesan Keisha.
"Baiklah," sahut Sean.
Sean membuka pintu mobil untuk Selina. Setelah itu Sean berjalan masuk ke mobil melalui sisi yang berbeda. Merekapun berangkat menuju restauran yang sebelumnya sudah dipesan oleh Pasha.
Hening mengambil alih susana di antara mereka. Sean yang biasanya tidak tahan dengan suasana itu masih belum membuka suara, dirinya juga belum menyadari rasa gugup yang sedang menyerang Selina. Karena jalanan yang mulai dipadati oleh kendaraan membuat Sean harus berkonsentrasi mengemudi.
"Om," panggil Selina.
"Hmm, ada apa?" tanya Sean tanpa melihat ke arah Selina.
"Orang tua Om seperti apa?" nada bicara Selina terdengar sangat gugup.
"Ya, seperti kita. Mempunyai sepasang kaki dan tangan, dua mata, dua telinga dan —" Ucapan Sean dipotong oleh Selina.
"Isssh, bukan itu maksudku," ucap Selina.
"Lalu?'
"Maksud aku apa kedua orang tua om sangat … galak?" Selina bertanya dengan ragu-ragu.
Mendengar ucapan Selina, ide jahil muncul di benak Sean.
"Oh, iya mereka memang sangat galak," jawab Sean.
"Yang benar, Om." Selina bergidik ngeri membuat Sean tertawa.
"Tentu saja benar. Mereka selalu saja memarahi gue. Jika gue melakukan kesalahan sendiri saja mereka akan marah seperti gunung berapi yang meletus," ucap Sean seraya menahan tawanya.
Selina mengerutkan keningnya melihat tawa Sean, dari situ Selina tahu Sean sedang membohonginya.
"Karena Om sangat nakal makanya mereka memarahi Om," ucap Selina seraya mengerucutkan bibirnya. "Om ini, aku sedang merasa gugup tapi Om malah menambah rasa gugup itu."
Sean menoleh sekilas ke arah Selina, ia lalu menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Iya, maaf." Sean mengusap kepala Selina. "Untuk apa merasa gugup? Jangan khawatir mereka sangat baik. Hanya saja mami yang mungkin akan banyak bicara nanti."
"Benarkah? Jangan mencoba menggodaku lagi ya." Selina memicik tajam ke arah Selina. "Jujur ini baru pertama kali selama hidupku aku makan malam bersama orang asing. Aku merasa gugup."
Sean diam tidak merepon apapun. Beberapa saat kemudian Sean memberhentikan laju mobilnya karena mereka sudah sampai. Sebelum turun Sean melihat ke arah Selina yang masih gelisah. Sean langsung mengenggam tangan Selina membuat gadis itu terkejut.
"Jangan merasa cemas. Anggap saja lo akan malam bersama keluarga lo sendiri. Dan gue tidak bohong soal mami, beliau memang banyak. Jujur Selina gue tidak tahu apa respon mami nanti melihat gue datang sama lo. Mami dan papi meminta gue untuk membawa pasangan. Mungkin mereka akan mengira lo pacar gue."
"Hah, lalu bagaimana?"
"Tidak apa. Katakan saja yang sebernarnya. Sudah ayo jangan banyak berpikir, kita sedikit terlambat."
Selina menganggukkan kepalanya seperti anak yang penurut. Setelah melepas sabuk pengaman keduanya turun dari mobil. Siapa sangka mereka bertemu dengan Marcello dan juga Starla
__ADS_1
"Hai, Se." Starla menyapa Sean terlebih dahulu.
"Hai." Sean membalas sapaan Starla dengan malas, seperti sedang membalas sapaan dari orang asing. "Ayo Selina kita masuk." Sean merangkul pinggang Selina dan pergi meninggalkan tempat parkir meninggalkan Starla dengan rasa kesalnya.