
Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sean masih betah berada di ruangan kerjanya. Bukan sedang bekerja, melainkan sedang duduk sambil tersenyum-senyum sembari memandangi kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati dan huruf S di tengahnya.
Huruf S itu jelas mewakili seseorang. Bukan namanya sendiri, apalagi Starla. Di benak Sean huruf S itu mewakili huruf depan nama Selina karena perhiasan itu ia pesan khusus untuk perempuan yang ia panggil bocil itu.
Semakin lama Sean memandangi kalung itu membuat Sean merasa bingung tidak jarang luka Sean tertawa sendiri. Sean tidak mengerti arti bentuk hati pada liontin itu. Melambangkan apa? Sean sendiri dibuat bingung kenapa dirinya memilih desain liontin seperti itu.
Apa gue beneran jatuh cinta sama tuh bocil? Rasanya tidak mungkin?
Sean mendadak tertawa geli sendiri lalu menggeleng-gelengankan kepalanya sambil tertawa kecil. Ia mencoba menepis apa yang dibayangkan sebelumnya.
"Sean"
Tawa Sean dan keceriannya lenyap dalam sekejab saat ia mendengar suara yang tidak ingin ia dengar. Sean menoleh sekilas lalu mengumpat melihat kedatangan Starla. Buru-buru ia memasukan kembali perhiasan itu ke wadahnya. Akan tetapi belun sepenuhnya kalung itu masuk ke wadahnya Starla sudah masuk dan Sean yakin seratus persen Starla melihat perhiasan itu.
"Apa lo gak bisa mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan orang?" tanya Sean dengan nada ketus.
"Aku sudah mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan. Jadi aku langusng masuk saja," jawab Starla.
"Ngapain lo ke sini?"
Nada bicara Sean terdengar sangat tidak bersahabat dan Starla pun menyadari itu. Hanya saja Starla memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, ia yakin Sean akan bisa ia taklukan.
"Aku hanya merindukan sahabatku," jawab Starla.
"Heh, omong kosong!" Sean berdiri sembari membebani jasnya.
"Ini tempat kerja. Katakan apa tujuan lo datang ke sini? Jika tidak penting sebaiknya lo pergi!" ujar Sean.
"Aku membawakan makan siang untuk Ello. Aku pikir sekalian saja aku bawakan untukmu. Makanan kesukaanmu." Starla membuka kotak makan siang yang akan bawa untuk Sean.
Sean melihat kotak nasi yang dibawakan oleh Starla, nasi dengan daging lada hitam. Makanan kesukaannya.
"Gue udah gak suka makanan itu," tolak Sean.
"Sea—" Ucapan Starla langsung dipotong oleh Sean.
"Gue sibuk mending lo pergi!" usir Sean.
__ADS_1
Bukannya pergi justru Starla memilih duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja Sean. Starla tidak menyerah untuk bisa mendapatkan Sean kembali.
"Gue suruh lo pergi bukan duduk." Sean berdecak kesal.
"Sea—" Ucapan Starla langsung dipotong oleh Sean.
"Ini tempat kerja. Gue gak mau bicara masalah pribadi di sini," sela Sean.
"Lalu di mana lagi supaya kita bisa bicara. Kamu sama sekali tidak ngasih aku kesempatan untuk bicara." Starla berdiri lalu berjalan ke hadapan Sean, tetapi langsung dihentikan oleh Sean. Starla berhenti dalam jarak setengah meter di hadapan Sean.
"Sea … please jangan bersikap seolah-olah aku ini orang asing," mohon Starla.
"Dengar Starla! Lo calon adik ipar gue. Jadi gue bersikap layaknya kakak ipar ke adik ipar. Untuk gue bersikap seperti dulu sama lo itu hal yang tidak mungkin," jelas Sean.
"Kenapa, Sea? Kenapa kita gak bisa kembali seperti dulu?" ucap Starla dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Karena itu tidak mungkin," jawab Sean. "Lo calon istri adik gue," jelas Sean.
"Tapi Sea—" Lagi-lagi ucapan Starla dipotong oleh Sean.
"Aku baru sadar setelah lo jauh. Aku merasa ada yang hilang dari sisiku," aku Starla membuat Sean tersenyum getir.
"Sea …." Ucapan Starla berhenti saat matanya melihat kotak perhiasan berwarna biru di atas meja. Tanpa seizin dan sepengetahuan Sean, Starla mengambilnya. Ia tersenyum bahagia saat melihat inisial S ada di dalam liontin itu. "Ini untuk siapa?
Sean menoleh dan mendapati Starla memegang kalung yang akan ia berikan untuk Selina.
"Bukan urusan lo. Berikan benda itu." Sean mengambil kalung itu dari tangan Starla.
"Jawab dulu ini untuk siapa? Apa ini untukku?" tanya Starla.
"Bukan," jawab Sean.
"Bohong! Ada inisial S di liontin ini. Kenapa kamu gak mau mengakui kalau kamu masih menyimpan rasa untukku," ucap Starla.
"Lo pikir orang dengan inisial nama huruf S di dunia ini hanya lo?" Sean tertawa seolah sedang mengejek Starla. "Sebaiknya lo pergi dari sini ! Gue gak mau ada salah paham lagi antara gue sama ello."
Sean menyeret Starla mengeluarkan calon adik iparnya keluar dari ruangan kerjanya. Akan tetapi Starla menahan langkanya. Ia kembali merebut kalung itu dari tangan Sean.
__ADS_1
"Jangan katakan jika kalung ini untuk bocah itu?" Starla menaikkan volume nada bicaranya.
"Sayangnya iya," ucap Sean. "Sekarang berikan kalung itu padaku.
"Apa bocah itu yang membuat kamu jadi melupakan aku?" tanya Starla.
"Iya," aku Sean. "Lo sudah tahu jadi sekarang berikan kalung itu padaku. Dan lupakan tentang gue dan lo," pinta Sean.
"Gak akan. Aku gak rela kamu memberikan kalung ini pada anak kecil itu," tolak Starla.
"Berikan kalung itu atau aku akan merebutnya secara paksa!" ancam Sean.
"Coba saja kalau bisa," tantang Starla.
Sean mencoba untuk mendapatkan kembali kalung itu, tetapi gagal. Tanpa Sean duga Starla memasukkan kalung itu dalam balik bajunya. Sean mengumpat tidak mungkin baginya untuk mengambil kalung itu.
"****! You …!" umpat Sean.
"Ambil jika kamu bisa," tantang Starla.
"Heh, lo nantangin gue. Jangan berpikir gue tidak bisa nekat." Sean tersenyum miring penuh kelicikan.
Jangan mengira Sean tidak bisa nekat apalagi demi bocil nya. Sean mengambil kalung itu di balik baju Starla, ia tidak peduli saat tangannya menyentuh dada Starla.
"Sea, apa yang kamu lakukan?" Starla berontak bukan untuk mencegah Sean yang akan menyentuh dadanya, tetapi mencegah Sean mengambil kalung itu. Starla tidak Rela jika Sean memberikan kalung itu kepada Selina.
Saat tangan Sean berada di dalam balik baju Starla dan belum mendapatkan kalung itu tiba-tiba saja pintu ruangan kerja Sean terbuka dari luar.
"Om bantuin aku apa?"
Sean, Starla, dan Selina membeku seketika. Mata Selina melebar melihat tangan Sean ada di balik baju Starla. Melihat posisi itu Selina sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Maaf … sepertinya aku masuk di waktu yang tidak tepat." Selina menundukkan wajahnya. Terlihat sekali kekecewaan di dalam diri Selina.
Berbeda sekali dengan sikap Selina, Starla justru merasakan senang. Ia tertawa penuh kemenangan di dalam benaknya.
"Selina! Tunggu!" panggil Sean.
__ADS_1