Om Tampan

Om Tampan
Makan Malam Pertama


__ADS_3

Sean berjalan masuk ke restoran bersama Selina, ada Marcello dan Strala di belakang mereka. Sepanjang perjalanan tangan Sean tidak menjauh dari pinggang Selina membuat rasa iri timbul dalam diri Starla. Padahal ada kekasihnya di sampingnya, tetapi Starla merasa iri ada wanita lain yang yang lebih dekat dan diperhatikan oleh Sean.


Mereka sampai di ruangan VVIP, ternyata Evelyn dan Pasha sudah menunggu mereka.


"Akhirnya kalian datang juga," ucap Evelyn.


"Maaf, Mam. Kami terjebak macet," ujar Marcello.


"Hai, Strala. Senang bertemu denganmu." Evelyn memeluk Starla dan saling mencium pipi satu sama lain.


"Hai, Mam. Aku juga senang bisa bertemu dengan Mami," ucap Starla.


Saat Marcello dan Strala sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya Sean justru sedang merasa gugup, ia menantikan reaksi mami dan papinya ketika mereka melihat keberadaan Selina. Hal yang sama juga sedang dirasakan oleh Selina.


"Sean, siapa yang datang bersamamu ini?" tanya Evelyn.


"Kenalkan, Mam. Dia ... Selina," jawab Sean. "Selina mereka orang tuaku, lalu dia Ello, adikku dan perempuan ini ... calon istrinya." Sean merasa malas memperkenalkan Starla kepada Selina. Jika tidak ada mami dan papinya, Sean tidak ada niatan untuk itu.


"Malam semua, aku Selina," sapa Selina gugup. Rasa gugup itu bertambah melihat Evelyn memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah.


"Dia pacar kamu?" tanya Pasha.


Selina melotot lalu melihat ke arah Sean. Untung saja Sean sudah memperingati dirinya akan hal itu membuat Selina tidak terlalu terkejut.


"Issh, bukanlah dia masih bayi." Sean mengusap kepala Selina. "Ini keponakannya Arya. Dia datang dari Jogja dan sekarang tinggal bersama mereka."


"Ohw, kirain dia pacar kamu," celetuk Starla.


"Memang kenapa kalau dia pacar gue?" Sean menatap Strala dengan sinis.


Tiba-tiba semuanya diam, suasana menjadi sedikit tegang. Evelyn dan Pasha tidak tahu apa yang sedang terjadi hanya Marcello dan Strala yang tahu.


"Bagus, Bang kalau sekarang lo punya pacar. Tapi jangan buat dia terluka seperti gadis-gadis yang lain," ucap Marcello membuat suasana makin tegang.


"Gue masih waras. Gak mungkin gue nyakitin dia. Bisa habis gue sama Keisha dan Arya," ucap Sean yang memecah ketegangan itu.


"Kamu ini bisa saja," ucap Evelyn. "Selina sini, Nak."


Selina melangkah maju menghampiri Evelyn. Tanpa Selina duga, Evelyn memeluknya. Selina merasakan kehangatan dan kenyamanan dari pelukan Evelyn yang sama sekali belum pernah ia rasakan dari ibu kandungnya sendiri.


"Saya Evelyn dan dia suami saya, Pasha. Kami orang tuanya Sean," ujar Evelyn.


"Hai, Selina. Gue Marcello, lo bisa panggil gue Ello." Giliran Marcello menyalami Selina bergantian dengan Strala. "Dia calon istri gue, namanya Starla."

__ADS_1


"Salam kenal Om Ello, Tante Starla," ucap Selina.


Sean menahan tawa saat Selina memanggil Starla dengan sebutan 'tante' itu sangat menggelikan di telinga Sean. Akan tetapi Sean juga melihat raut ketidaksukaan Strala akan panggilan Selina, Sean pun menarik Selina menjauh dari Marcello juga Strala.


"Om, aku harus panggil orang tua Om dengan sebutan apa? Masa kakek sama nenek? Aku merasa mereka terlalu muda jika aku panggil mereka seperti itu," bisik Selina dengan polosnya.


Selina berucap lirih, tetapi masih bisa didengar oleh semua orang yang ada di tempat itu. Hal itu membuat Evelyn juga Pasha menahan tawa mereka.


"Jujur sih, Om. Mereka tidak seperti orang tua Om. Mereka lebih cocok jadi kakaknya Om," celetuk sekian yang makin membuat Pasha juga Evelyn tidak kuat menahan tawa mereka.


"Jadi menurut lo ... gue setua itu, hah?" Sean mendelikkan matanya ke arah Selina membuat gadis itu menahan tawa.


"Aku tidak mengatakan itu. Orang tua Om yang terlalu muda," elak Selina.


"Tapi secara tidak langsung lo bilang gue sudah tua," ucap Sean.


"Bagus kalau Om sadar." Selina menjulurkan lidahnya untuk meledek Sean.


Evelyn dan Pasha sudah tidak kuat menahan tawa mereka, begitu juga dengan Marcello. Mereka baru melihat Sean merasa kesal seperti itu.


"Lo ... awas ya—" Sean ingin menggeram, tetapi ia tahan. Sean menarik napasnya dalam-dalam mencoba sabar menghadapi Selina.


"Sean, hentikan!" suruh Evelyn.


"Jika lo bukan anak kecil sudah gue cium," ucap Sean sambil menahan rasa kesalnya.


"Coba saja kalau berani!" tantang Selina.


"Apa? Nantangin lo?" Gadis kecil di hadapannya benar-benar sedang menguji kesabarannya.


"Ya Tuhan, apa kalian sering bertengkar seperti ini. Sean, kamu lebih dewasa dari Selina, mengalah 'lah sedikit," ucap Pasha.


"Iya, iya," ucap Sean.


"Selina, kamu bisa memanggil kami seperti Sean memanggil kami. Mami dan papi. Tapi jika kamu merasa tidak nyaman kamu bisa memanggil kami dengan sebutan yang kamu inginkan," ucap Evelyn.


"Baik, Ma-mi." Selina sangat gugup mengucapakan satu kata itu.


"Baiklah. Sudahi perdebatan sengit ini. Karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita makan bersama," ucap Pasha dianggukki oleh semua orang.


Mereka duduk bersama mengelilingi meja bundar bersama pasangan masing-masing.


Selina duduk di samping Sean, untuk sejenak ia memandang orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya Selina merasa canggung, tetapi keramahan dari mereka membuat rasa canggung itu memudar. Bukan hanya itu saja, meskipun baru sebentar bersama mereka Selina merasa sangat nyaman. Rasa nyaman, kehangatan yang sama sekali tidak ia dapatkan dari keluarga sampai hari itu.

__ADS_1


"Selina, kenapa diam saja. Ayo makan," ucap Evelyn membuat lamunan Selina buyar.


"Apa kamu tidak suka makannya, mau pesan yang lain?" tanya Pasha.


"Ti-dak. Ini sudah cukup," ucap Selina gagap.


"Jangan bicara terus. Cepat makan!" Sean memotong daging steak menjadi beberapa bagian lalu memindahkan ke piring Selina.


"Lihatlah, Sayang apa yang sedang dilakukan oleh Sean. Dia memotong daging untuk Selina," ucap Pasha kepada Evelyn.


Evelyn pun langsung melihat ke arah Sean dengan senyum yang mengembang. "Apa kamu melupakan adikmu Sean? Kamu selalu melakukan itu untuk Marcello?"


"Dia sudah ada calon istrinya. Minta saja perempuan itu yang melakukannya," ucap Sean tanpa melihat ke arah Marcello membuatnya tidak bisa melihat ekspresi wajah Starla maupun Marcello.


"Oh iya, Mam. Mami sama Papi apa tidak punya rencana untuk memberikan aku adik baru?" Ucapan Sean membuat mata Evelyn melebar dan Pasha tersedak oleh makanan yang sedang ia makan sedangkan Sean tertawa lebar.


Buru-buru Evelyn memberikan air kepada suaminya lalu berniat melempar tas ke arah Sean. Namun langsung dicegah oleh Sean.


"Jangan dilempar! Itu tas mahal, bagaimana jika tas itu nanti rusak? Mami tidak tahu betapa kerasnya perjuangan aku untuk mendapatkan tas itu," cegah Sean.


"Mami tidak peduli." Bukan tas yang Evelyn lempar, tetapi melempar tempat tisu ke arah Sean. "Anak nakal."


"Ayolah, Mam. Ello sudah tidak se-lucu dulu." Sean menangkap tempat tisu itu dengan baik lalu menaruhnya di meja kembali.


"Daripada kamu menyuruh kami memberikanmu adik, lebih baik kamu cepat menikah dan berikan cucu kepada kami," ucap Evelyn dianggukki oleh Pasha.


"Kenapa aku? Bukankah Marcello akan menikah. Suruh dia memberikan Mami dan Papi cucu. Bila perlu sekarang jangan menunggu mereka menikah dulu."


Kini giliran Marcello yang tersedak. Ucapan Sean kenapa terdengar seperti sebuah sindiran. Apakah kakaknya itu tahu jika dirinya dan Starla sudah lebih dulu melakukan hubungan selayaknya suami dan istri?


"Jangan memojokkan adikmu. Pikirkan tentang dirimu sendiri," ucap Evelyn.


"Iya, Mami." Tanpa semua orang duga Sean langsung merangkul Selina lalu berkata, "Will you marry me, baby?"


Sepertinya Sean sangat pandai membuat orang terkejut. Kini bukan hanya Selina, semua orang di sana dibuatnya terkejut.


"Tidak mau, Om terlalu tua untukku." Selina menjauhkan Sean, membuat Sean dan yang lain tertawa.


"Enak saja. Kita cuma berbeda 10 tahun." Sean masih mencoba untuk menggoda Selina.


"Aku tetap tidak mau. Jika boleh memilih, aku lebih memilih ayahmu. Beliau lebih terlihat tampan dan sepertinya lebih baik darimu." Selina masih tidak mau kalah.


"Coba saja kalau lo berani melawannya Mami. Lihat saja tatapannya sudah mematikan. Papi saja sampai tunduk padanya," ucap Sean.

__ADS_1


Acara makan malam itu menjadi perdebatan sengit antara Sean dan Selina. Semua orang tertawa dan merasa terhibur. Namun tidak untuk Strala. Wanita itu merasa kesal. Menurutnya Selina hanya sedang mencari perhatian dari semua orang.


__ADS_2