
Jam pulang sekolah sudah tiba. Selina memutuskan untuk pergi ke kantor Sean. Sepanjang perjalanan ia menggerutu karena merasa kesal. Di sekolah teman-temannya mengejek karena tidak pernah merasakan ciuman dengan seorang laki-laki. Jangankan ciuman, berpacaran saja Selina tidak pernah. Sekalinya menjalin hubungan itupun hanya berpura-pura.
Selina turun dari ojek online. Ia berjalan masuk ke gedung pencakar langit bertuliskan Bagaskara Group.
"Mba, saya mau bertemu dengan bapak Sean," ucap Selina kepada resepsionis.
"Apa adek sudah memiliki janji?" tanyanya.
"Belum," jawab Selina.
"Maaf, kalau belum kami tidak bisa mengizinkan adek bertemu dengan beliau," ucap resepsionis.
"Tapi Om Sean pernah mengatakan jika aku ada perlu dengan dia kapanpun aku bisa menemui dia di sini," ucap Selina.
"Maaf, memangnya adek ini siapanya bapak Sean?" tanya resepsionis.
"Saya ...." Selina bingung untuk menjawab. Apa dirinya harus mengatakan jika dirinya itu pacar pura-puranya Sean?
Jelas itu tidak mungkin.
"Saya keponakannya," jawab Selina.
"Keponakan?"
Melihat dari ekspresi resepsionis itu terlihat jika dia sangat tidak percaya. Bahkan resepsionis itu melihatnya dengan tatapan curiga.
Aduh lama banget sih?
"Loh, Selina. Sedang apa kamu di sini?"
Selina menoleh ke asal suara. Ia melihat Pasha berjalan ke dekatnya.
"Om Pasha, apa kabar?" Selina mencium punggung tangan Pasha.
"Baik, Sayang," jawab Pasha. "Kamu sedang apa di sini?"
"Aku mau bertemu dengan Om Sean," jawab Selina.
"Ada perlu apa dengan Sean?" tanya Pasha.
Selina kembali bingung, ia memutar otak untuk mencari alasan yang tetap akan kedatangannya ke tempat itu.
"Sebentar lagi aku ujian. Aku dengar om Sean itu sangat pintar. Jadi ... aku mau minta dia untuk membantuku belajar. Ya ... untuk itu aku ke sini," jawab Selina gugup.
"Ohw begitu. Ayo saya akan mengantarmu ke ruangan Sean," ucap Pasha diangguki oleh Selina.
__ADS_1
Pasha melingkarkan tangannya ke pundak Selina membawanya pergi ke ruangan Sean. Saat melangkah, Selina menoleh ke belakang melambaikan tangannya kepada resepsionis.
Selina tidak datang untuk pertama kalinya ke tempat itu. Akan tetapi tetap saja kedekatan Selina dan perlakuan istimewa dari keluarga Bagaskara menimbulkan banyak pertanyaan di antara para karyawan di sana.
"Ini dia ruangan Sean." Pasha berhenti melangkah di depan ruangan bertuliskan Sean Bagaskara.
Sebelum masuk Pasha lebih dulu mengetuk pintu meminta izin kepada Sean untuk masuk.
"Boleh Papi masuk?" tanya Pasha.
"Papi masuk saja. Kenapa harus minta izin terlebih dahulu," ucap Sean.
"Papi hanya takut mengganggu pekerjaanmu," ucap Pasha.
"Tidak, aku hanya sedang memeriksa laporan saja," ucap Sean. "Papi ada apa ke sini. Jika membutuhkan sesuatu Papi tinggal panggil aku saja."
"Oh iya ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Pasha.
"Seseorang? Siapa, Pi?" Sean merasa penasaran dengan seseorang yang ingin menemuinya, tetapi setelah Pasha memanggil Selina rasa penasaran itu terjawab.
Selina? Ada apa dia kemari?
"Baiklah, Papi tinggal dulu. Papi masih ada pekerjaan." Setelah mengatakan kalimat itu Pasha meninggalkan ruangan Sean.
"Sore, Om," sapa Selina.
"Ada apa? Tumben main ke sini? Apa tangan kamu masih sakit?" tanya Sean.
Bukannya menjawab Selina justru menoleh kesana-sini. Setelah memastikan Pasha sudah pergi dan tidak ada orang lain di tempat itu, Selina langsung mengatakan alasan dirinya datang.
"Om, ajari aku ciuman," ucap Selina tiba-tiba.
"Apa?" Sean hampir saja mematahkan pena di tangannya karena merasa sangat terkejut. "Coba lo ulangi apa yang lo katakan tadi!"
"Ajari aku ciuman," ulang Selina.
"Kenapa lo senang sekali membuat gue terkejut?" Jika boleh jujur Sean merasa jantungnya berdegup sangat kencang bahkan Sean merasa tidak bisa mengontrolnya.
"Aku hanya meminta sama Om mengajari aku bagaimana caranya berciuman," ucap Selina.
"Lo sadar gak sih bicara seperti itu." Sean masih merasa tidak habis pikir dengan kepolosan Selina.
"Sadarlah, Om. Kalau tidak sadar aku tidak berdiri di sini," ujar Selina.
"Bisa gila gue." Sean mengusap wajahnya merasa frustrasi dengan Selina.
__ADS_1
Sean beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi ke ruang baca untuk mengalihkan fokusnya, tetapi Selina masih saja mengikutinya seperti anak ayam mengikuti induknya.
"Om, ayolah!" rengek Selina.
"Lo itu masih sekolah. Belajar yang rajin, bukan belajar bagaimana caranya berciuman." Sean menyentil kening kening Selina.
"Aduh, Om. Ini sakit!" rengek Selina sembari mengusap-usap keningnya.
"Ayolah, Om. Bantu aku. Di sekolah teman-teman aku mengejek aku karena ini," bujuk Selina.
"Biarkan saja. Lagian kamu ini aneh-aneh saja." Sean masih fokus dengan buku bacaannya.
"Tapi, Om ...." Selina terus merengek seperti anak kecil yang minta es krim.
Sean yang sudah tidak tahan dengan rengekan meletakan buku bacaannya ke tempat semula lalu langsung menarik tengkuk gadis itu. Sean mendaratkan ciuman di bibir Selina. Merasa terkejut Selina menjauhkan tubuh Sean.
"Apa yang Om lakukan?" tanya Selina.
"Lo berisik banget. Itu cara gue untuk bikin lo diem. Dan bukankah lo tadi minta gue untuk mengajari lo ciuman?" Sean beranjak dari tempatnya.
Sean melangkah maju mendekati Selina dengan tatapan nakal. Melihat itu Selina berjalan mundur. Langkahnya terhenti saat tubuhnya membentur dinding. Sean tersenyum melihat itu. Dengan segera meletakkan kedua tangannya di samping tubuh Selina untuk mengunci pergerakan gadis itu.
"Om ...." Selina merasa terjebak.
Jantung Selina berdegup kencang saat Sean berada sangat dekat dengan tubuhnya. Perasaan itu makin menjadi saat Sean kembali mendekatkan wajahnya.
Sean kembali mencium bibir Selina, memperlakukannya dengan begitu lembut seolah bibir Selina adalah benda yang sangat rapuh. Sean terus mengecup bibir Selina, tanpa menginginkan balasan. Ia tahu Selina masih amatir dalam hal itu. Meskipun begitu Sean tidak berniat
untuk menghentikannya. Rasa manis bibir gadis itu membuat Sean melupakan segalanya.
Selina sendiri diam tanpa tahu harus berbuat apa. Gadis itu bisa merasakan jika jantungnya berdegup begitu kencang dan berharap Sean tidak mendengarnya. Tidak tahu harus berbuat apa Selina mencengkram kaos Sean menahan rasa yang sulit untuk ia jabarkan.
Beberapa saat kemudian Selina merasakan oksigen dalam paru-parunya mulai menipis. Selina sudah tidak kuat, ia manepuk-nepuk pundak Sean meminta agar mengakhiri ciuman itu.
Sean tersadar dari kegilaannya ia segera menarik diri. Sean menatap sejenak gadis itu kemudian berbalik berdiri membelakangi Selina. Laki-laki itu baru tersadar dengan tindakannya. Tidak tahu mengapa Sean bisa lepas kendali. Menurutnya gadis itu sungguh memiliki daya tarik tersendiri yang bisa menariknya tanpa izin terlebih dahulu.
Keduanya masih sama-sama menghirup udara sebanyak mungkin memasukannya ke dalam paru-paru mereka. Sean masih berdiri membelakangi Selina, tetapi lagi-lagi gadis itu membuat Sean tidak bisa menjauh. Sean kembali berbalik dan menyatukan keningnya dengan Selina. Hal itu berhasil membuat Selina terkejut, tetapi tidak ada niatan untuk pergi.
"Inilah ciuman, Selina," ujar Sean. "Jangan pernah melakukan ini dengan laki-laki lain. Ini hanya milikku. Kamu mengerti!" Sean mengusap lembut bibir Selina dengan ibu jarinya.
Selina mengangguk seperti seorang anak yang penurut. "Om juga janji, jangan pernah mencium wanita lain. Jangan melakukan hal lebih juga dengan mereka."
"Oke, aku janji," ucap Sean.
Entah mengapa keduanya sama-sama mengucapakan janji yang mungkin pada suatu saat bisa mereka ingkari setelah hubungan pura-pura mereka berakhir.
__ADS_1
Keduanya masih berada di posisi yang sama. Sean menarik pinggang Selina untuk mengikis jarak di antara mereka. Jarak yang begitu dekat membuat mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing. Suasana yang begitu dekat menarik diri mereka untuk kembali berciuman, tetapi pada saat itu Selina mulai membalas ciuman Sean meskipun masih kaku.
Mau bawa ke ranjang dulu gak ya?