Om Tampan

Om Tampan
Semakin Dekat


__ADS_3

Sean terus saja mengumpat saat kendaraan di depannya tidak memberikan jalan bagi mobilnya. Sean sangat malas jika berkutat dengan kemacetan, kaki dan tangannya akan terasa pegal. Berulang kali Sean membunyikan klakson mobilnya yang justru menambah kebisingan.


"Sabar, Om." Selina memutar bola matanya saat Sean tidak berhenti menggerutu. "Om kaya cewek, cerewet."


"Yang cerewet itu lo bukan gue," elak Sean membuat Selina terkekeh.


"Emm, Om boleh aku tanya gak?"


"Mau tanya apa?"


"Om Sean pernah punya hubungan dengan Kak Starla ya? Kalian terlihat pernah dekat satu sama lain."


"Gue, Ello, dan perempuan itu tumbuh bersama," jawab Sean tanpa menoleh ke arah Selina.


"Tapi sepertinya dia suka sama Om," tebak Selina.


"Jangan ngaco! Dia mau nikah sama Ello, masa iya dia suka sama gue," ucap Sean.


"Tapi dari kata-katanya memperlihatkan seperti itu," ucap Selina. "Bahkan dia gak rela kalau aku dekat dengan Om dan juga terang-terangan mengatakan jika dia cemburu Om Sean dekat sama aku."


"Sebenarnya ada apa antara Om dan kak Starla?" tanya Selina.


"Gak ada apa-apa," jawab Sean.


"Gak mungkin. Pasti ada apa-apa." Selina terus mendesak Sean untuk bicara.


"Gak ada apa."


Sean masih sabar.


"Gak mungkin. Pasti ada sesuatu di antara kalian."


"Sudah gue bilang, gak ada apa-apa di antara kami."


Sean mulai kesal.


"Aku yakin pasti ada."


Kesabaran Sean mulai habis.


"Lo kenapa sih? Senang banget menguji kesabaran gue?"


"Karena aku butuh penjelasan, Om!"


Sean diam sambil terus mengendalikan laju mobilnya. Hati dan pikiran yang awalnya tenang menjadi gusar karena pembahasan tentang Starla. Sean memilih keluar dari jalur utama dan berputar arah menuju jalan tol.


Di jalan tol Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Selina ketakutan. Namun dari tindakan Sean, Selina bisa menebak ada sesuatu yang terjadi antara Sean dan Starla.


"Om mau bawa aku ke mana?"


Sean masih diam. Ia tetap fokus mengemudi. Tidak berselang lama mobil itu keluar dari jalan tol. Selina tidak tahu akan keberadaan mereka, ia hanya melihat tempat yang luas dan hanya beberapa mobil yang melintas di tempat itu.


"Om mau bawa aku ke mana?"


Tidak ada jawaban dari Sean, itu membuat Selina kehilangan kesabaran.


"Om dengar aku tidak sih?"


Sean menghentikan laju mobilnya secara mendadak membuat tubuh keduanya terhuyung ke depan. Beruntung ada sabuk pengaman yang membuat mereka tetap pada tempatnya.

__ADS_1


"Lo kenapa jadi cerewet banget? Masih ingat, 'kan, kita gak boleh ikut campur dengan urusan pribadi masing-masing," ucap Sean.


"Tapi kalau aku terbawa-bawa itu lain urusannya. Aku merasa kak Starla membenciku karena Om Sean."


"Ck!"


Sean berdecak lalu keluar dari mobil. Pria itu berdiri bersandar pada bagian depan mobil. Untuk meredam rasa kesalnya, Sean mengambil satu batang rokok yang masih tersiksa di sakunya.


Selina memerhatikan Sean dari dalam mobil. Melihat rasa kesal Sean membuat Selina merasa tidak enak hati. Ia baru sadar sudah terlalu memaksa Sean. Selina memutuskan untuk menyusul Sean.


Di luar mobil, Selina merasa ragu untuk menghampiri Sean. Ia memilih berdiri di samping mobil sambil terus menatap punggung Sean. Makin lama Selina merasa tidak tahan, dirinya menghirup udara untuk mengumpulkan keberaniannya.


"Om ... aku minta maaf ya."


"Gue memang suka sama Starla bahkan cinta, tapi itu dulu. Sekarang yang gue rasakan justru rasa benci padanya."


Selina tercengang mendengar pengakuan Sean. Perlahan ia menghampiri Sean dan berdiri di samping Sean yang sedang merokok.


"Gue pernah cinta sama dia. Sebelum gue tahu dia dan Ello saling suka bahkan sudah merencanakan pernikahan. Bukan itu yang membuat gue benci sana dia. Tapi ...."


"Tapi apa, Om?" Selina merasa penasaran dengan kata-kata Sean selanjutnya.


"Dia mengatakan dia jijik sama gue."


Sean menceritakan pertengkaran antara dirinya dan Starla kepada Selina. Menceritakan hal itu sama saja dengan mengorek luka lama, tetapi hatinya mengatakan jika Selina juga perlu tahu. Bukan hanya itu saja, Sean juga mengatakan apa yang ia lakukan setelah itu. Sean tidak peduli dengan tanggapan Selina selanjutnya, ia hanya ingin mengeluarkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.


"Jadi ... Om sudah gak perjaka?"


Sean menatap Selina sembari menaikan satu alisnya. Anak kecil di hadapannya seolah sedang meledek dirinya.


"Kaya tahu saja arti perjaka." Sean membuang sisa rokoknya.


Selina berjalan menjauh dari Sean mengikuti suara yang mengusik telinganya. Berjalan beberapa langkah Selina melihat gulungan ombak, ternyata mereka di tepi pantai.


Beberapa saat Selina berdiri di tempat itu. Gelapnya malam dan suara gulungan ombak membuat kesunyian itu sangat terasa. Tiba-tiba saja air matanya menetes. Selina merasa rindu dengan ibu kandungnya. Dengan segera, Selina mengusap air matanya saat ia mendengar suara Sean.


"Sedang apa kamu di sini?"


"Aku merasa penasaran dengan tempat ini. Jadi aku melihat-lihat saja."


"Ayo pulang ini sudah sangat malam."


Sean melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tanganya, waktu sudah menujukan pukul 12 malam.


"Ayo, Om. Di sini sangat dingin." Selina mengusap kedua lengan tangannya.


"Pakai ini!" Sean melepas jaket yang ia pakai, lalu memakaikan di tubuh Selina lalu kembali mengajak Selina masuk ke mobil.


*****


Hubungan Sean dan Selina semakin dekat. Semua orang di keluarganya tidak sedikitpun menarih curiga tentang hubungan keduanya. Mereka berpikir Sean menyukai Selina karena Sean dari dulu ingin memiliki seorang adik perempuan.


Terhitung sudah satu minggu hubungan pura-pura mereka terjalin. Hubungan itu berjalan lancar seperti air yang mengalir. Ternyata hubungan keduanya membuat Starla merasakan kecemburuan yang terkadang membuat pertengkaran antara Marcello dan Starla.


Hari minggu Selina dijemput oleh Sean. Dengan sedikit bujuk rayu Sean mendapatkan izin dari Keisha.


"Om mau ngajak aku ke rumah mami lagi?" tanya Selina dalam perjalanan.


"Gak. Di sana ada Starla. Mereka sedang mempersiapkan pertunangan Starla dan Ello," jawab Sean.

__ADS_1


"Ohw, Om gak ikut bantuin?" tanya Selina ragu.


"Sudah banyak orang. Lagipula dari pada di sana mending aku ajak kamu jalan," jawab Sean. "Aku tidak tahu untuk apa mereka bertunangan? Kenapa tidak menikah saja langsung. Bagiku itu hanya membuang waktu saja."


"Ya mungkin mereka lebih nyaman seperti itu."


"Sudahlah jangan bahas mereka," ucap Sean.


Selina pun menurut, ia juga tidak ingin melihat kesedihan Sean seperti tempo hari.


"Om belum jawab pertanyaan aku. Om mau ngajak aku ke mana sih?"


"Jangan banyak nanya! Isi perjanjian kedua, lo masih inget, 'kan?"


"Iya." Selina memutar bola matanya merasa jengah dengan ucapan Sean. Setiap kali laki-laki itu menginginkan sesuatu pasti mengungkit isi perjanjian.


Kereta besi itu masuk ke sebuah bagian dalam gedung. Ternyata Sean mengajaknya ke apartemen. Mobil masih terus melakukan dan berhenti di parkiran bawah tanah. Keduanya turun dari mobil dan melangkah bersama menuju salah satu unit apartemen.


"Ini apartemen siapa?"


"Jelas punya gue."


"Om ngapain ngajak aku ke sini?"


"Gue lape. Lo harus masak buat gue."


"Eh? Gak mau."


"Kalau lo gak mau gue bilang sama Bagas kalau kita ini cuma pura-pura pacaran."


"Idih ngacem."


"Gue telepon Bagas sekarang."


"Isssh iya, iya. Om mau dimasakin apa?"


"Di kulkas kayaknya masih ada daging. Masakin gue steak aja."


"Aku gak bisa masak itu, Om."


"Tinggal lumuri daging dengan bumbu lalu panggang."


"Om tunjukin caranya dulu. Setelah itu aku akan masak."


Sean menggeram seraya mengela napas. Ia pergi ke dapur untuk menunjukkan cara memasak steak. Dengan sabar Sean mengajarkan cara membuat steak, tetapi Sean tidak sadar jika dirinya sedang dikendalikan oleh Selina.


"Sudah selesai," ucap Sean.


"Jadi sekarang kita tinggal makan dong."


Sean baru sadar setelah dua steak sudah tersaji di atas piring. Melihat itu Sean tidak marah melainkan heran pada dirinya sendiri yang tidak sadar dikendalikan oleh Selina.


"Dasar menyebalkan!" ucap Sean.


"Aku janji lain kali aku yang masak."


"Baiklah."


Selina membawa dua porsi steak itu ke meja makan. Keduanya duduk bersama sambil menikmati makanan itu. Tiba-tiba bel berbunyi, Selina beranjak dari meja makan untuk membuka pintu. Pintu terbuka mempertemukan pandangannya dengan Starla.

__ADS_1


__ADS_2