
Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Setelah mandi Selina mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya, ia sedang mencari pakaian yang akan ia kenakan untuk acara makan malam bersama Sean. Semua pakaian di dalam lemari sudah Selina keluarkan, tetapi belum menemukan yang menurut Selina cocok.
"Bagaimana ini? Aku tidak memiliki pakaian yang pantas."
Selina duduk di tepi tempat tidur menyangga dagu dengan tangan kanannya lalu mendesah kecewa. Pandangannya melihat waktu pada jam yang tergantung di dinding kamar, sudah pukul 6 sore lewat 5 menit, hanya kurang 45 menit lagi. Tidak ada waktu lagi untuk membeli pakaian baru. Selina sudah tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih duduk menyangga dagu dengan tangannya, berpikir untuk membatalkannya saja, tetapi resikonya ia harus mengganti ganti uang sean.
"Bagaimana ini?" Selina mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa bingung dan putus asa.
Merasa sudah tidak ada lagi jalan Selina memutuskan untuk menghubungi Sean. Apapun resikonya Selina sudah siap. Selina berdiri lalu mencari keberadaan ponselnya, tetapi tidak menemukan benda pipih itu.
"Di mana ponselku?" gumam Selina sambil terus mencari keberadaan ponselnya.
Selina menepuk keningnya sendiri setelah mengingat di mana ia meletakan ponselnya. Benar saja ponselnya berada di antara tumpukan baju.
"Ini dia." Baru saja Selina akan mencari nomor ponsel Sean terdengar suara Keisha dari balik pintu kamarnya.
"Selina, boleh Tante masuk?"
Mata Selina terbelalak mendengar suara Keisha. Buru-buru Selina membereskan pakaiannya yang berserakan di atas tempat tidur dan memasukannya ke dalam lemari.
"Boleh, Tante. Sebentar."
Karena terburu-buru Selina jatuh karena tersandung pakaian yang dibawanya. Selina jatuh terduduk di lantai dengan pakaian berserakan di dekatnya.
"Awww!"
Ternyata pekikan Selina terdengar oleh Keisha di luar kamar Selina. Keisha pun langsung masuk ke dalam kamar Selina.
"Ya, Tuhan! Selina!" Keisha berjalan secepat yang ia bisa untuk membantu Selina berdiri. "Sini, Tante bantu.
Selina berdiri dibantu oleh Keisha lalu mengusap kedua lututnya yang terasa nyeri.
"Kamu tidak apa? Bagaimana bisa kamu jatuh seperti tadi. Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan?" tanya Keisha.
"Aku ... sedang ...."
Selina melihat sekeliling, ia tidak berani melihat reaksi Keisha ketika melihat kondisi kamarnya. Selina bahkan sudah pasrah jika Keisha akan mengusirnya.
"Kenapa berantakan sekali?" Keisha menatap sekeliling lalu berbalik menatap Selina dengan tatapan penuh tanya.
"Maaf, Tante. Nanti aku bereskan." Selina menjawab dengan wajah yang tertunduk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lain kali jangan berantakan seperti ini. Tidak baik kamar anak gadis berantakan," ucap Keisha yang langsung dianggukki oleh Selina. "Oh iya, kamu belum menjawab pertanyaan Tante. Sebenernya kamu sedang apa sampai pakaianmu berserakan seperti ini?"
"Aku sedang mencari pakaian untuk untuk acara makan malam. Tapi ... sepertinya tidak ada yang cocok," jawab Selina.
"Karena itu Tante datang ke kamarmu. Sini ada yang mau Tante tunjukan."
Keisha menggandeng tangan Selina membawanya ke dekat tempat tidur.
"Tante memesan ini untukmu." Keisha memberikan dres yang baru saja dipesannya.
Selina menerima dres yang Keisha berikan. Ia melihat dengan takjub dress brokat berwarna hitam di bagian atas dan warna putih di bagian bawahnya. Selina sangat menyukai itu, apalagi model deres itu sangat imut, bagian bawah dres, juga lengannya mengembang dan memiliki dua layer.
"Dres ini cantik sekali. Ini beneran buat aku, Tante?" seru Selina.
"Tentu saja."
"Terimakasih banyak, Tante. Aku sayang sama, Tante." Lagi-lagi Selina berseru lalu mencium pipi Keisha.
"Sekarang ganti pakaianmu dan Tante akan membantumu bersiap, ini sudah hampir pukul setengah tujuh."
"Oke, Tante."
Selina masuk ke kamar mandi mengganti pakaiannya dengan dres yang diberikan oleh Keisha. Tidak lama Selina keluar dan menunjukkan dirinya kepada Keisha.
"Tante hanya mengira-ngira saja. Ayo cepatlah duduk di meja rias. Tante akan membantumu merapikan rambutmu."
Selina menganggukkan kepalanya lalu duduk di hadapan meja rias.
Selina diam saat Keisha menata rambutnya dan memberikan make-up tipis di wajahnya. Tidak butuh waktu lama Selina sudah terlihat sangat cantik.
"Sudah selesai," ucap Keisha.
Selina menatap dengan takjub pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya, Selina tidak percaya jika dirinya bisa secantik itu.
"Terima kasih, Tante."
Wajah ceria Selina tiba-tiba menghilang berganti dengan wajah murung dan itu terlihat oleh Keisha.
"Kenapa terlihat sedih? Kamu tidak suka dengan tatanan rambut seperti ini?"
Selina menggelengkan kepalanya lalu berdiri dan berbalik menghadap Keisha.
__ADS_1
"Kenapa Tante baik sekali padaku? Aku baru tinggal beberapa hari di sini, tapi aku merasa sudah tinggal lama dengan kalian," ucap Selina.
"Bagus kalau begitu. Aku senang jika kamu merasa seperti itu." Keisha menyentuh dagu Selina lalu tersenyum.
"Tante dan om Arya sangat baik padaku. Kalian mengurusku, memanjakanku bahkan keluargaku sendiri tidak pernah melakukan itu. Dan ibu kandungku ... yang aku harapkan bahkan lebih memilih suaminya dibandingkan aku, anak kandungnya."
"Jangan berpikiran buruk tentang ibumu. Mungkin ibumu memiliki alasan melakukan ini padamu," ucap Keisha.
"Kalau begitu kenapa dia tidak menghubungiku sampai sekarang. Dia memang tidak menginginkan aku," ucap Selina.
"Jangan menangis atau make-up ini akan luntur. Sekarang pikirkan saja yang baik-baik. Mengerti! Dan jika kamu mau, kamu bisa menganggap aku dan mas Arya seperti orang tuamu." ucap Keisha dianggukki oleh Selina.
Obrolan mereka terhenti ketika terdengar suara klakson mobil milik Arya.
"Sepertinya, om kamu sudah pulang Tante keluar dulu. Kamu cepat bersiap. Mungkin Sean sebentar lagi akan datang."
"Iya, Tante."
Setelah Keisha keluar Selina memilih alas kaki yang akan ia pakai. Pilihannya jatuh pada sepatu sneaker yang pernah Sean belikan tempo hari.
Sementara itu di ruang tamu Keisha menyabut kedatangan sang suami. Mereka berjalan bersama menuju ruang keluarga. Keisha mengambil air lalu memberikannya kepada Arya.
"Di mana keponakan tersayangmu itu?" tanya Arya sembari menerima air yang diberikan oleh Keisha.
"Dia sedang bersiap-siap," jawab Keisha.
"Bersiap-siap? Apa dia akan pergi?"
"Iya, katanya Sean mengajaknya makan malam bersama om Pasha dan tante Evelyn."
Mendengar itu Arya terdesak air yang sedang ia minum.
"Mas, kamu kenapa?" Keisha mengusap-usap punggung suaminya yang sedang terbatuk-batuk.
"Aku terkejut, Sayang. Kenapa tiba-tiba Sean mengajak Selina makan malam? Kamu tahu sendiri pertama kali mereka bertemu mereka sempat perang dingin. Dan aku juga tidak tahu jika mereka sedekat ini sekarang."
"Ya ... sebenarnya aneh juga sih. Tapi untuk apa dipikirkan. Bagus juga Sean mengajak Selina pergi setidaknya dia tidak akan bosan di rumah dan bisa melupakan sejenak kesedihannya."
"Iya, Sayang. Kamu benar." Arya mengusap sisi wajah Keisha.
Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara klakson mobil yang mereka yakini milik Sean.
__ADS_1
"Tuh orangnya datang. Aku akan bertanya tentang ini padanya," ucap Keisha.