
Makin hari Sean semakin mendalami perannya sebagai pacar Selina. Sepertinya dia melupakan hubungan yang hanya untuk berpura-pura. Seperti saat mendengar kabar jika Selina sakit di Sekolah. Mendengar kabar itu Sean dibuat tidak karuan. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya untuk datang ke sekolah Selina.
Sean memarkirkan mobilnya dan masuk ke area sekolah. Sean menghubungi Selina dan gadis itu mengatakan sedang berada di UKS. Sean bertanya letak uks pada salah seorang yang ia temui di sana. Dengan segera Sean melangkah ke UKS.
"Selina." Sean melihat ke berapaan Bagas di sana.
Kedua laki-laki itu beradu pandang dengan menunjukkan rasa tidak suka satu sama lain.
"Om." Selina menutup mulutnya rapat-rapat. Ia sangat berharap Bagas tidak mendengarnya.
"Kamu panggil dia apa?" tanya Bagas.
Selina bergumam dan memaki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa jika ada Bagas di tempat itu.
"Aku gak salah dengar, 'kan? Kamu manggil pacar kamu dengan sebutan om?"
Selina mulai merasa gugup, ia memutar isi kepalanya mencari alasan untuk Bagas. Akan tetapi sebelum menemukan alasan yang tepat Sean lebih dulu bicara.
"Apa salahnya dia panggil gue dengan sebutan itu? Itu panggilan rasa sayang dia buat gue. Sama seperti gue manggil dia dengan sebutan bocil." Sean berjalan ke arah Selina. "Dan satu hal lagi. Gue gak suka lo deket-deket bahkan sampai sentuh pacar gue."
"Gue cuma nolongin dia," ucap Bagas.
"Terima kasih." Sean menjauhkan tangan Bagas dari Selina dengan menatapnya tajam.
"Gue sudah di sini dan itu artinya dia gak butuh lo lagi." Sean membantu Selina turun dari tempat tidur. "Ayo aku antar pulang."
Sean menuntun Selina yang sedang memegangi perutnya. Bertepatan dengan itu bunyi bel istirahat terdengar. Para murid di sana keluar dari kelas masing-masing.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah Sean dan Selina. Ada yang merasa iri karena Sean begitu peduli dan perhatian pada Selina. Ada juga yang mengatakan jika Selina hanya pamer dengan berpura-pura sakit.
Lupakan semua murid itu.
Sean membantu Selina masuk ke mobilnya. Setelah itu ia berjalan berputar ke sisi lain mobil. Sean masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi. Ia tidak tega melihat Selina sakit sampai memegangi perutnya bahkan sampai menangis.
"Apa begitu sakit?" Sean menghapus air mata di pipi Selina.
"Iya," ucap Selina lirih, tetapi Sean masih bisa mendengarnya.
"Mau ke dokter?" tanya Sean seraya mengusap perut Selina.
"Tidak usah, Om." Selina menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku malu"
"Malu kenapa?"
__ADS_1
"Aku sebenarnya sedang datang bulan. Dan rasa sakit ini karena datang bulan," jawab Selina.
"Datang bulan bisa sampai seperti ini?" tanya Selina dianggukki oleh Selina.
"Iya, biasanya akan hilang setelah aku minum obat pereda nyeri," jelas Selina.
"Ya sudah ayo kita beli. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," ucap Sean.
Sean memakaikan sabuk pengaman ke tubuh Selina lalu setelah itu ia melajukan mobilnya. Hanya melihat Selina kesakitan seperti itu Sean sudah merasa sangat khawatir.
Di tengah perjalanan Sean mampir ke apotik untuk membeli obat pereda nyeri, makanan juga minuman untuk Selina. Setelah itu Sean mengantar Selina pulang.
Sampai di rumah Sean menuntun Selina masuk ke kamarnya yang ada di lantai bawah. Keadaan rumah besar itu sangat sepi, biasanya jika ia datang sepupunya akan sangat heboh.
"Di mana Keisha?" tanya Selina.
"Tadi aku sempat telepon tante, katanya dia sedang melakukan pemeriksaan," jawab Selina.
"Kamu duduk di sini. Makan lalu minum obatnya." Sean membantu Selina duduk di tempat tidur, tidak lupa Sean juga menata bantal di belakangnya agar Selina bisa bersandar dengan nyaman.
"Mau aku suapin?" Sean membuka makanan yang ia beli dalam perjalanan.
"Tidak usah, aku bisa makan sendiri," tolak Selina.
Selina menyendok makanan di tangan Sean. Hanya satu suap lalu ia minum obat pereda nyeri.
"Kenapa hanya makan satu suap?" tanya Sean.
Sean menaruh sisa makanan ke atas meja nakas lalu menggenggam tangan Selina. Rasa cemas terlihat di wajah Sean melihat wajah Selina pucat. Padahal itu biasa terjadi saat seorang perempuan mengalami datang bulan.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Sean.
"Sudah mendingan," jawab Selina. "Om, kenapa Om terlihat cemas?" tanya Selina.
"Bagaimana aku tidak cemas. Kamu sakit, bahkan wajahmu terlihat pucat," jawab Sean.
"Ini biasa terjadi saat wanita datang bulan. Meskipun tidak semua wanita," jelas Selina.
"Loh, Non Selina kenapa?" tanya Bibi.
Sean dan Selina melihat ke asal suara, ada bibi baru saja masuk ke kamar itu. Selina langsung menarik tangannya ia takut bibi akan berpikiran macam-macam.
"Perutku sakit, Bi," jawab Selina.
"Non Selina telat makan ya? Bibi buatin makanan ya," tolak Bibi.
"Tidak usah, Bi. Rasa sakit ini karena aku sedang datang bulan. Aku juga sudah minum obat, aku mau beristirahat saja," tolak Selina.
__ADS_1
"Baiklah, Non. Bibi keluar dulu. Jika butuh sesuatu panggil Bibi saja," ucap Bibi.
"Baiklah, Bi. Terima kasih sebelumnya," ucap Selina.
Bibi keluar dari kamar, Sean pun kembali menggenggam tangan Selina.
"Om, sebaiknya pulang. Hari ini acara pertunangan kak Starla dengan om Ello, 'kan?" ucap Starla.
"Ya, sebenarnya aku malas untuk datang," ucap Sean.
"Kenapa? Om benar masih memiliki perasaan kepada kak Starla?" tanya Selina.
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja pasti banyak yang akan menanyakan kapan aku menikah. Aku malas sekali untuk menjawabnya," jawab Sean. "Apa kamu akan datang ke sana?"
"Tidak. Kamu tahu kak Starla tidak suka padaku. Aku tidak mau jika dia merasa tidak nyaman di pestanya," jawab Selina.
"Ck, jika ada kamu pasti menyenangkan. Aku tidak akan merasa bosan," ucap Sean.
"Ada banyak orang di sana, 'kan? Kenapa harus merasa bosan," ucap Selina.
Obrolan mereka terhenti saat ponsel Sean berdering. Sean merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya. Ada nomor sangat mami di layar ponselnya. Tidak menunggu waktu lama bagi Sean untuk menerima panggilan itu.
Sean bicara dengan Evelyn hanya beberapa detik saja dan kembali memasukan benda pipih itu ke saku jasnya.
"Mami menyuruh Om pulang?" tanya Selina disambut anggukkan oleh Sean. "Kalau begitu pulanglah."
"Kamu yakin baik-baik saja?" Sean merasa ragu untuk pergi.
"Ya. Setelah tidur pasti sudah sembuh," jawab Selina.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang. Jika ada apa-apa kabari aku," ucap Sean.
"Baiklah." Selina menganggukkan kepalanya.
Tanpa Selina duga, Sean menarik tengkuknya lalu mengecup bibirnya. Selina tidak merasa terkejut, ia mulai terbiasa dengan semua itu.
Selina lebih dulu mengakhiri ciuman itu sebelum ada yang tiba-tiba datang.
"Hati-hati di jalan," ucap Selina.
"Kamu juga. Jaga dirimu baik-baik." Sean mencium kening Selina sebelum pergi dari rumah itu.
*****
Selina terbangun dari tidurnya. Ia mengambil posisi duduk di tempat tidur. Ternyata hari sudah gelap. Selina melihat makanan di sampingnya yang membuatnya mengingat laki-laki itu. Bibir Selina tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Selina tersenyum sambil menyentuh bibirnya yang selalu dikecup oleh Sean. Awalnya ia merasa sesuatu yang aneh saat pertama kali bercium dengan Sean. Akan tetapi makin sering Selina mulai menikmatinya. Ada getaran aneh dalam dirinya saat berciuman dengan Sean. Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya. Pantas saja teman-temannya di sekolah mengatakan senang saat berciuman dengan pacar mereka.
Namun, senyuman itu memudar saat Selina sadar jika ia dan Sean sudah berbuat terlalu jauh.
__ADS_1
Selina menggigit pelan bibirnya. Dirinya mulai merasa cemas dengan hubungannya dengan Sean. Selina takut hubungan pura-pura itu terjadi semakin jauh lagi dan menjadi tidak terkendali. Ia juga takut, saat Sean meminta yang lain yang lebih dari sekedar ciuman dan dirinya tidak bisa menolaknya.
.