
Dua pasang mata bertemu pada satu titik yang sama. Satu menunjukkan rasa terkejut dan yang lainnya menunjukkan kebencian.
"Kak ... Starla?" ucap Selina dengan terbata-bata.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Starla.
"Em ... anu ... ini ... itu?" Selina merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari Starla.
"Gak jelas banget sih? Di mana Sean?" tanya Starla lagi.
Sebelum Selina menjawab, suara Sean terdengar lebih dulu.
"Siapa yang datang, Sel?" Sean berhenti bicara saat melihat keberadaan Starla. "Oh lo! Ada apa?"
"Sean kamu ngapain berduaan dengan gadis ini di sini?" tanya Starla kesal.
"Mau ngapain kami di sini itu bukan urusan lo!" jawab Starla. "Sekarang lo jawab pertanyaan gue! Ada urusan apa lo ke sini? Jika tidak penting mending lo pulang. Ganggu lo di sini."
"Sean kita harus bicara," ucap Starla.
"Apalagi yang mau lo bicarakan sama gue?" Sean sangat malas bicara dengan Starla walaupun hanya satu detik saja.
"Aku mau kita bicara. Bedua saja." Starla melihat ke arah Selina.
Selina mengerti maksud dari tatapan Starla.
"Emm ... sebaiknya aku pulang dulu," ucap Selina.
"Tunggu Selina! Tetaplah di sini. Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri. Tunggulah di kamarku saja, ada di lantai atas," suruh Sean yang langsung dianggukki oleh Selina.
Hanya tinggal Sean dan Starla di tempat itu. Sean melangkah menjauh dari Starla.
"Sean." Starla menyusul Sean ke balkon.
"Lima menit. Waktumu hanya lima menit untuk bicara denganku," ucap Sean berdiri membelakangi Starla.
"Sean, kenapa sikapmu berubah padaku. Berapa kali aku harus minta maaf padamu," ucap Starla.
"Berubah? Gue merasa sikap gue biasa saja. Mungkin lo yang terlalu berlebihan," balas Sean.
"Sean ... tidak bisakah kita dekat seperti dulu? Jujur aku merasa kehilangan dirimu," aku Starla.
Starla berjalan ke samping Sean. Ia menggegengam tangan Sean dengan tatapan penuh harap.
Sean merasa risih dengan tindakan Starla. Dengan segera Sean menarik tangannya yang digenggam oleh Starla.
"Sebenarnya apa mau lo? Gue sudah berusaha untuk melupakan rasa yang pernah ada untuk lo. Dan sekarang lo mencoba untuk menarik gue," ucap Sean.
"Jujur Sean, aku merasa kehilangan kamu. Ada yang kurang pada diriku saat kamu gak ada di sampingku," aku Starla.
Sean tersenyum sinis, dirinya merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Dengar Starla! Lo akan menikah dengan Ello. Lo akan menjadi adik ipar gue. Apa yang lo katakan sepertinya tidak pantas," ucap Sean.
"Aku tahu. Aku hanya ingin kita bertiga bisa dekat seperti dulu," ucap Starla.
__ADS_1
"Maaf, Starla. Itu tidak akan mungkin. Lo akan menjadi istri adik gue. Itu artinya lo harus menjaga jarak dari gue," ucap Sean.
"Tapi ...." Starla berhenti bicara saat Sean pergi meninggalkan dirinya. "Sean, tunggu!"
"Sebaiknya lo pergi dari sini! Gue gak mau ada salah paham dengan Ello," suruh Sean.
"Sean, tolong jangan menjauh dariku," ucap Starla.
Sean terus melangkah tidak peduli dengan panggilan dari Starla. Akan tetapi langkahnya terhenti saat pandangan mata Sean bertemu dengan Marcello.
Jika boleh jujur, Sean merasa terkejut dengan keberadaan Marcello di apartemennya.
Sejak kapan?
"Bagus lo di sini. Ajak calon istri lo pergi dari sini!" ucap Sean.
"Apa yang kalian lakukan di sini berdua?" tanya Marcello dengan menatap tajam Sean.
"Dia datang ke sini sendiri. Bukan gue yang menyuruh dia," ucap Sean. "Cepat kalian pergi dari sini!"
Sean ingin pergi ke kamarnya. Namun dicegah oleh Marcello.
Marcelo yang sudah dibutakan oleh rasa cemburunya langsung memukul wajah Sean.
Sean terpelanting dan tanpa sengaja memecahkan hiasan yang ada di atas lemari kabinet. Hiasan dari kaca itu jatuh berserakan di lantai hingga menimbukan suara yang nyaring. Hal itu mengejutkan Starla begitu juga dengan Selina.
Selina yang tengah menonton televisi di kamar Sean terkejut mendengar suara benda pecah. Setelah itu terdengar suara orang yang tengah bertengkar. Selina langsung keluar dari kamar, ia segera mencari asal suara gaduh itu.
Betapa terkejutnya Selina saat melihat Sean dan Marcello saling memukul.
"Om Sean, Om Ello, apa yang kalian lakukan?" Selina berusaha memisahkan kedua kakak beradik itu. "Om Sean, hentikan!"
"Kak Starla, kenapa hanya diam? Bantu aku pisahkan mereka," ucap Selina.
"Iy–a." Starla mencoba menarik Marcello, tetapi Starla terlalu takut.
Selina merasa geram, ia mencoba menghentikan perkelahian itu tetapi tanpa sengaja Selina terkena pukulan Marcello hingga ia terjatuh, tangannya mengenai pecahan dari hiasan kaca.
"Awwww!" pekik Selina.
Sean yang melihat kejadian itu langsung naik pitam. Laki-laki itu mengayunkan pukulan tepat mengenai wajah Marcello hingga membuat darah keluar dari sudut bibir Marcello.
"Keterlaluan lo!" maki Sean.
"Lo yang keterlaluan, Bang. Bagaimana bisa lo menusuk adik lo sendiri seperti ini," ucap Marcello.
"Gue gak ngerti maksud lo apa?" ucap Sean.
"Jujur saja lo masih menginginkan Starla!" tuduh Marcello.
Sean benar-benar sudah habis kesabaran. Ia mencengkram kaos Marcello dan menatapnya dengan garang.
"Dengar ini! Gue memang pernah cinta sama nih cewek. Tapi itu dulu! Sekarang gue sama sekali gak ada perasaan sama dia. Untuk sekedar menyebutkan namanya saja gue malas apalagi melihatnya. Jadi lebih baik katakan pada calon istri lo ini untuk tidak muncul di hadapan gue." Sean melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar membuat Marcello mundur beberapa langkah. "Bawa pergi calon istri lo ini!"
Sean berbalik membantu Selina berdiri. Ia hapus air mata yang jatuh di pipi Selina lalu membawanya ke sofa yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Tunggu di sini!" Sean berjalan ke arah lemari kabinet untuk mengambil kotak p3k.
Sean kembali menghampiri Selina, ia duduk di hadapan Selina. Sean mengambil serpihan kecil kaca ada di telapak tangan Selina.
"Awww!" Selina memekik merasakan perih pada lukanya
"Selina, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Marcello.
"Iya, tidak apa-apa, Om," ucap Selina lirih.
"Gue sudah bilang sebelumnya untuk pergi dari sini. Lo gak harus menunggumu untuk kembali gue usir, 'kan?" Sean bicara tanpa ingin melihat Marcello.
Tidak ingin membuat suasana semakin membuat suasana semakin gaduh Marcello pergi bersama dengan Starla.
Sean melangkah untuk menutup pintu setelah Marcello dan Starla keluar dari tempat itu.
"Dasar anak bodoh! Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu?" gumam Sean.
Sean kembali ke tempat Selina untuk membungkus telapak tangan Selina dengan perban.
"Apa sangat sakit?" tanya Sean.
"Sedikit," jawab Selina sambil menganggukkan kepalanya.
Sean mencium tangan Selina yang terluka membuat getaran aneh di dalam diri Selina.
"Masih terasa sakit?" tanya Sean disambut gelengan kepala oleh Selina.
Selina benar-benar tidak menyangka atas sikap manis Sean padanya.
"Om, juga terluka. Sekarang gantian aku akan mengobati Om," ucap Selina.
"Tangan lo saja terluka, bagaimana mau mengobati gue." Sean meringis merasakan perih di sudut bibirnya.
"Jangan meremehkan aku." Selina mengambil kapas lalu menuangkan sedikit cairan antiseptik.
Selina menempelkan kapas itu membuat Sean meringis.
"Apa lo gak bisa pelan-pelan? Ini sakit," rengek Sean.
"Dasar payah! Luka segini saja sudah teriak-teriak," ledek Selina.
"Bisa tidak jangan mengejekku?" tanya Sean kesal.
"Tidak," jawab Selina dengan tawanya. "Aku senang melihat Om kesal."
"Lo!" Sean sudah kehabisan kata-kata. Dirinya tidak tahu harus merespon dengan apa. "Dasar!"
Sean menggelitik pinggang Selina membuat tawa Selina pecah. Selina berdiri berlari menghindar dari Sean, tetapi Sean mengejarnya.
"Ampun, Om."
Selina menyerah dan berhenti berlari, begitu juga Sean. Laki-laki itu menarik Selina masuk ke dalam pelukannya. Selina merasa nyaman terasa saat tubuhnya berada di dalam dekapan Sean.
"Selina, maaf membuat tanganmu terluka," ucap Sean.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Om," ucap Selina.
Keduanya saling mempertemukan pandangan mereka dan saling menunjukan senyuman. Sean lebih dulu memutus pandangan itu dengan mendaratkan kecupan di kening Selina.