Om Tampan

Om Tampan
Bertemu lagi


__ADS_3

Sean mencoba untuk fokus pada pekerjaannya. Berulang kali Sean mencoba, dan tetap gagal hingga ia mendapatkan somasi dari sang ayah. Sean tidak tahu lagi mesti berbuat apa lagi, ia merasa butuh hiburan, tetapi apa? Selama ini para wanita itu hanya menghiburnya sesaat dan Sean sudah merasa bosan dengan itu.


Sean memutuskan untuk berkeliling menggunakan mobil kesayangannya, kebetulan jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja.


Sean berkeliling, berkutat dengan kemacetan. Sean mengambil jalan pintas. Di tengah jalan Sean melihat perempuan memakai seragam putih abu-abu berdiri sendiri di depan gerbang sebuah sekolah SMA Negeri.


Sean tidak yakin jika perempuan adalah Selina. Sean menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Benar saja perempuan adalah Selina. "Sedang apa dia di sana?"


Sean mengubah jalur, ia memarkirkan mobilnya di tidak jauh sekolah. Setelah itu Sean menghampiri Selina.


"Apa yang lagi lo lakuin di sini?"


Selina melihat ke arah Sean dengan wajah yang tidak bersahabat. Sean tambah bingung saat dibuatnya. Sean merasa tidak menyinggungnya, tetapi gadi di depannya melihatnya seperti melihat seorang musuh.


"Apa Om tidak lihat aku memakai seragam sekolah dan berdiri di depan sekolah?"


"Gue lihat."


"Kalau begitu harusnya Om sudah bisa menebak kalau aku baru pulang sekolah."


Sean mengerutkan keningnya, ada apa dengan anak itu. Dia baru datang dan langsung sudah kena marah. Sean merasa dirinya sedang kena marah karena telat menjemput pacarnya.


"Ini sudah sore. Sudah lewat dari jam sekolah. Kenapa baru pulang?"


Sean menunjukkan jam yang melingkar ditangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Selina kesel Om. Hari pertama aku sekolah sudah kena hukuman gara-gara aku menampar kakak kelas yang terus saja mengejekku."


Sean melipat bibirnya untuk menahan tawa. Gadis di depannya benar-benar bernyali besar.


"Kenapa tertawa. Om pikir ini lucu." Selina menghentakkan kakinya. Ia mengarahkan kuku-kukunya yang panjang ke wajah Sean. Ingin sekali Selina mencakar wajah Sean.


"Tidak. Itu justru keren. Jangan mau ditindas oleh senior."


Hah


Mata Selina berbinar-binar, baru ada orang yang memuji kenakalannya. Rasa kesalnya menjadi pudar karena ada orang yang mengerti perasaannya.


"Oh iya, apa yang om lakukan di sini?"


"Gue baru pulang kerja, kebetulan lewat sini dan gue lihat lo."


"Oh, begitu." Selina manggut-manggut.


"Ayo ikut gue?" Sean menarik tangan Selina, tetapi gadis itu menahan langkahnya. "Ada apa?"


"Om mau ajak aku ke mana?"


"Gue antar pulang, sekalian kita jalan-jalan." Sean kembali melangkah, tetapi lagi-lagi Selina menahan langkahnya. "Ada apa lagi?"


"Sopir sudah jalan ke sini."


"Lo, telepon sekarang suruh balik saja."


"Tapi —"


"Tapi apa lagi, Selina."

__ADS_1


Sean menggeram, gadis kecil di sampingnya seperti sedang menguji kesabarannya.


"Tante Keisha gimana?"


"Tenang saja gue nanti yang akan bilang sama aunty lo itu."


"Oke, Om." Selina berseru sambil menundukkan jari yang membentuk huruf o.


"Sudah? Apa tidak ada pertanyaan lagi?"


"Tidak, Om."


"Kalau begitu, ayo."


Sean dan Selina sudah sepakat. Saat akan melangkah, justru mereka berjalan ke arah yang berlawanan.


"Lo mau ke mana?"


Selina berhenti melangkah, ia berbalik melihat ke arah Sean.


"Katanya mau jalan."


"Mobilnya di sana." Sean menunjukkan arah yang berlawanan.


"Hehehehe." Selina berlari lebih dulu menuju mobil yang terparkir sendiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sean menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya. Gadis di depannya sungguh ajaib, bisa dengan cepat mengganti suasana hati dirinya sendiri. Sean melangkah sambil membuka kunci mobil lalu masuk ke mobil menyusul Selina yang lebih dulu masuk.


"Om, kita mau ke mana?"


"Tapi aku tidak tahu tempat yang bagus di sini. Aku bahkan tidak pernah pergi. Mereka tidak mengizinkan aku pergi. Mungkin mereka takut jika ada yang tahu tentang aku. Aku aib bagi mereka."


Sean yang sedang mengemudi melirik sekilas, ia melihat wajah Selina menjadi murung, disusul cairan bening yang menetes dari matanya. Sean merasa iba, ia mengulurkan satu tangannya untuk mengusap cairan bening yang ada di pipi Selina.


"Sudah jangan menangis. mulai sekarang Kapanpun lo ingin pergi jalan-jalan hubungi gue."


"Beneran ya Om."


Sean lagi-lagi dibuat heran oleh sikap Selina, beberapa saat yang lalu gadis itu menangis tidak sampai satu detik untuk gadis itu kembali menjadi ceria.


"Iya."


"Terima kasih, Om."


"Oh, Iya Om gak jalan sama pacar om."


"Gua gak punya pacar."


"Masa."


"Iya."


"Aku gak percaya."


"Terserah. Kalau gue punya pacar, gak mungkin gue ngajak lo jalan."


"Iya, juga ya." Selina menggaruk pelipisnya.

__ADS_1


Hanya itu reaksi Selina, entah kenapa Sean mengharapakan reaksi yang lebih dari gadis itu. Kenapa cuma oh? Dia bisa terus bertanya.


"Oh iya, lo suka sama kue yang kemarin?"


"Iya, Om. Enak sekali."


"Mau lagi?"


"Aku mau, tapi jangan yang sama. Aku tidak mau berebut sama tante Keisha nanti."


"Baiklah. Ayo kita ke toko kue yang sama. Lo bisa pilih apapun yang lo mau. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf dari gue." Sean mengacak-acak rambut Selina.


Kebetulan sekali toko kue yang akan mereka datangi se-arah dengan tempat yang ingin mereka kunjungi. Setelah sampai Sean memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah di sediakan.


"Ayo, turun. Lo bisa milih apapun di sini."


"Beneran, Om." Mata Selina berbinar-binar.


"Iya, bagaimana bisa Sean menolak keinginan gadis imut dengan tubuhnya yang menggoda.


Setelah mendapatkan apa yang Selina mau, keduanya kembali ke mobil. Mereka melanjutkan perjalanan ke tempat yang mau mereka datangi.


Perjalanan mereka cukup lama karena terjebak oleh kemacetan, tetapi dengan tingkah polos Selina membuat kemacetan itu tidak terasa membosankan.


"Om, mau?" Selina menawarkan kue yang dipilih yang kepada Sean, kue brownis cup dengan isian selai strawberry dan berbagai toping di atasnya.


"Boleh."


"Nih, ambil sendiri."


Sean melihat sesaat kue yang disodorkan oleh Selina, ide jahil melintas di pikiran Sean.


"Selina, gue sedang mengemudi bagaimana gue bisa makan sendiri?"


"Om mau aku suapi?"


"Boleh, kalau lo gak keberatan."


Yes!


Sean bersorak dalam hatinya. Kapan lagi bisa mempermainkan gadis kecil Itu. Sebenarnya Sean bisa saja melakukan itu pada wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya, tetapi rasanya mungkin tidak akan menyenangkan saat dirinya menggoda Selina.


"Buka mulut, Om." Selina menyodorkan kue ke hadapan mulut Sean. "Enak tidak, Om."


"Lumayan." Sean menganggukkan dan mulut penuh dengan kue.


"Mau lagi?"


"Tidak. Gue bisa gendut jika makan itu terlalu banyak. Lo abisin saja sendiri biar cepet gede."


Jalanan sudah mulai terbuka, Sean menambah kecepatan laju mobilnya. Setelah satu jam perjalanan mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan.


"Sudah sampai. Yuk turun!" ajak Sean.


Sean mengajak Selina berkeliling pusat perbelanjaan. Keduanya nonton dan berbelanja. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih 30 menit, Sean mengantar Selina pulang lalu kembali ke apartemen pribadinya.


Setelah sampai di apartemen Sean membersihkan tubuhnya. Di dalam kamar mandi Sean tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Selina. Jalan-jalan bersama anak SMA memang berbeda. Sean harus ekstra sabar, sudah cerewet heboh sendiri pula. Belum lagi tatapan aneh para pengunjung lain tempat itu. Akan tetapi, seburuk apapun saat itu, berhasil mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2