
Pukul 2 dini hari Selina terbangun karena merasa haus, tetapi tidak ada air di dekatnya. Selina keluar kamar lalu pergi ke dapur. Ia melewati ruang keluarga dan mendapati Sean masih tertidur pulas. Beruntung sofa di tempat itu cukup lebar dan besar, terasa nyaman untuk tidur.
Keberadaan Sean menarik perhatian Selina. Gadis itu berhenti sejenak untuk melihat Sean. Selina memerhatikan Sean yang sedang tidur. Wajahnya nampak sangat tenang. Selina terkejut saat Sean menggeliat, ia pun bersembunyi di balik sofa. Keadaan kembali sunyi Selina mengintip melihat Sean kembali tidur. Tidak ingin mengganggu Selina memutuskan untuk pergi ke dapur.
Sampai di dapur Selina mengisi gelas dengan air putih lalu meminumnya. Rasa kering di tenggorokannya pun menghilang. Sebelum pergi Selian lebih dulu botol air untuk ia bawa ke kamarnya. Saat berbalik ia dikejutkan oleh Sean yang tiba-tiba ada di hadapannya.
Selina terkejut dan berteriak tetapi langsung dibungkam oleh Sean. Hampir saja botol minum yang ia bawa jatuh, beruntung Sean bisa menangkapnya.
"Apa lo mau semua orang di rumah ini bangun oleh suara teriakan lo?"
Selina menyingkirkan tangan Sean dari mulutnya. "Om yang bikin aku kaget. Lagian kenapa Om tiba-tiba di sini? Hampir saja aku kena serangan jantung!"
"Gue haus." Sean mengambil gelas bekas Selina minum lalu mengisinya dengan air yang ada di botol minum Selina.
Satu gelas air langsung habis dalam sekali tenggak.
"Om, itu, 'kan gelas bekas aku."
"Kenapa? Lo gak kena rabies, 'kan?"
"Enak saja."
"Sudah sana kembali ke kamar, terus tidur."
"Iya, Om. aku isi air minum dulu."
Selina kembali memenuhi botol air. Sekilas Selina menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana. Setelah mengisi air, Selina pergi ke kamar, ia melihat Sean berbaring di sofa yang sama sambil bermain dengan ponselnya.
"Kalau Om mau tidur lagi di kamar tamu saja."
"Tidak, di sini lebih nyaman."
"Ya sudah terserah Om saja. Aku ke kamar dulu. Selamat malam Om."
"Selamat malam juga."
*****
Suara ayam berkokok membangunkan Selina. Entah suara ayam dari mana?
Selina mengucek matanya lalu beberapa kali mengedipkan mata agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu. Selina masih merebahkan tubuhnya, baru setengah nyawanya yang terkumpul.
Setelah rasa kantuknya mulai hilang, Selina beranjak dari tempat tidur. Hawa dingin terasa saat kakinya pertama kali menyentuh lantai marmer. Selina bergegas ke kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi dan mencuci wajahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, ia berencana jalan-jalan di sekitar komplek menemani Keisha. Selina keluar kamar, ia berjalan menuruni anak tangga. Sambil berjalan Selina melihat sekeliling, suasana rumah itu masih sepi hanya terlihat beberapa pekerja sedang membereskan rumah itu.
Pandangannya mengarah ke sofa, tempat Sean tidur semalam. Sudah kosong dan rapi, apa dia sudah pergi?
"Pagi, Bi." Selina menyapa bibi yang sedang membawa dua gelas jus.
"Pagi, Non Selina."
"Untuk siapa jus itu? Apa Tante Keisha dan Om Arya sudah bangun? Di mana mereka?"
"Bapak sih sudah bangun, tapi ibu belum bangun. Dan jus ini untuk bapa sama mas Sean."
"Jadi om Sean belum pulang?"
"Belum, Non. Mas Sean sedang olahraga sama bapa di ruang gym. Ya sudah bibi antar dulu jus ini takut bapak sama mas Sean nungguin lama."
"Sini, Bi. Biar saya yang bawa ke sana. Bibi kerjakan yang lain saja." Selina mengambil alih nampan dari tangan bibi lalu membawanya ke ruang gym.
Sampai di ruangan gym Selina berhenti dan berdiri mematung, ia terhanyut dalam pemandangan di depannya. Dua Pria tampan yang ia panggil om sangat mempesona. Yang paling mencuri perhatian adalah Sean, pria itu sangat tampan dalam balutan kaos hitam ketat yang menampakan jelas tubuh atletisnya.
__ADS_1
Selina perempuan normal dan sudah berusia 17 tahun jelas dia sudah memiliki daya tarik kepada lawan jenis. Di matanya Sean sangat mempesona, jelas saja bibitnya unggul semua.
"Hei Bocil, ngapain lo di situ? Sini minumannya! Gue haus."
"Eh iya Om sebentar." Panggilan Sean membuyarkan lamunan Selina.
"Pagi Om Sean, Om Arya." Selina melangkah mendekati dua pria dewasa itu dan memberikan masing-masing satu gelas jus jeruk.
"Pagi juga, Selina."
"Pagi juga, Bocil."
"Huh, tidak ada panggilan yang lebih enak di dengar apa Om? Bocal, bocil," gerutu Selina.
"Lah emang lo bocil. Bocah cilik." Sean meminum jus itu sampai setengah.
"Terserah Om deh. Percuma debat dengan Om, gak bakalan ada ujungnya." Selina menyilangkan kedua tangannya ke depan dada sambil mengerutkan bibirnya. Hal itu berhasil membuat tawa Sean dan juga Arya.
"Kalian ngobrol saja dulu. Aku mau lihat Keisha."
"Tante Keisha belum bangun Om. Katanya mau jalan-jalan ke taman komplek."
"Kita tunda dulu ya. Sudah beberapa hari ini dia sulit tidur."
"Baik, Om."
Hanya tinggal Sean dan Selina di tempat gym. Mereka mengobrol atau lebih tepatnya berdebat. Mungkin dunia akan runtuh jika antara Sean dan Selina tidak terjadi perdebatan. Puas dengan itu mereka pergi dari tempat gym.
Sean menuju ke ruang makan beriringan dengan Selina. Sudah ada Keisha dan Arya di sana. Mereka pun saling menyapa.
"Tante sudah bangun?" tanya Selina.
"Iya, Selina." Suara Keisha terdengar lemas.
"Tante memang mengantuk. Tapi ... kata dokter tidak baik tidur di pagi hari."
"Ohw, banyak sekali larangan untuk ibu hamil ya."
"Jika kamu hamil nanti kamu pasti akan bisa merasakannya."
"Kalian mau sarapan? Aku akan siapakan." Keisha beranjak untuk menyiapkan sarapan, tetapi dicegah oleh Selina.
"Tante duduk saja. Kali ini biar aku saja yang menyiapkan sarapan," cegah Selina.
"Baiklah." Keisha kembali duduk.
Selina berjalan ke dapur membantu bibi membuat nasi goreng. Ia juga membuat kopi untuk Sean dan Arya, tidak lupa juga susu untuk Keisha. Setelah selesai ia membawanya ke ruang makan.
"Ini silahkan."
"Terima kasih, Sayang," ucap Keisha.
"Sama-sama, Tante."
Saat Selina sedang menghidangkan nasi goreng bibi datang mengatakan padanya jika ada telepon dari temannya. Alis Selina menyatu, ia kaget ada yang menghubungi dirinya melalui telepon rumah.
"Siapa dia?" batin Selina.
Selina menerima gagang telepon yang di berikan oleh bibi. Ia sedikit menjauh untuk menjawab telepon itu. Tidak lama Selina kembali ke ruang makan dengan wajah murung.
"Telepon dari siapa, Sayang?" tanya Keisha.
"Dari temen, Tante." Selina menjawab dengan tidak bersemangat.
__ADS_1
"Cewek atau cowok?" sambar Sean.
"Co ... wok ...," ucap Selina ragu.
"Pacar?"
"Isssh, bukanlah, Om. Aku gak punya pacar."
"Pacar juga gak apa-apa."
"Beneran bukan, Om. Maksa banget sih."
"Kenapa kalian jadi berdebat. Dan kamu Sean, kenapa suka sekali menggoda Selina." Keisha menepuk keningnya sendiri merasa gemas dengan sepupu dan keponakannya.
Rasa kesal Keisha justru membuat Sean tertawa seolah omelan Keisha itu adalah sebuah lelucon.
"Dia ada urusan apa sama kamu?" tanya Arya.
"Dia ngundang aku ke acara ulang tahunnya."
"Kenapa mendadak?" tanya Keisha.
"Sebenarnya dia ngundang satu minggu yang lalu. Tapi ... aku menolak untuk datang," jelas Selina.
"Kenapa menolak untuk datang, Selina? Jika kamu mau pergi kamu bisa pergi," ucap Keisha.
"Karena acaranya di puncak. Aku searching di internet tempat itu lumayan jauh dari sini," jelas Selina.
"Iya sih. Kalau kamu bilang lebih awal Om akan suruh Tio buat nganter kamu," ucap Arya.
"Gak usah lagian, Om. Selina juga emang gak ada niatan untuk datang," ucap Selina. "Tapi sekarang masalahnya ... dia mengatakan mau jemput aku sendiri."
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh ke sana sendiri!" larang Kiesha.
"Eh, Cerewet. Kenapa sekarang lo seperti ibu tiri yang jahat. Biarkan dia pergi berkumpul dengan teman-temannya," ucap Sean.
"Bukan begitu maksudku." Keisha melihat ke arah Arya. "Mas jelaskan pada Sean."
"Tapi ucapan Sean ada benarnya," ucap Arya.
"Itu baru kakak ipar yang baik." Sean merasa senang dibela oleh Arya.
"Ck, kalian ini sama saja." Keisha merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Selina, kamu tahu maksud Tante, 'kan? Bukan maksud Tante melarang kamu pergi. Tante hanya khawatir."
"Iya, Tante. Selina paham kok."
"Sudahlah dari pada berdebat mending gue saja yang antar dia. Gue bakalan jamin keselamatannya," ucap Sean.
"Itu gue setuju banget," sahut Arya.
Selina akhirnya pergi bersama Sean, tetapi ia merasa tidak bersemangat. Selina tidak bohong jika ia malas untuk pergi, tetapi ia merasa tidak enak pada Arya juga teman yang sudah mengundangnya.
"Kenapa cemberut? Tidak suka jalan sama Gue?" tanya Sean memecah lamunan Selina.
"Bukan begitu. Tapi ...." Selina tidak tahu harus bicara apa. Ada sesuatu yang sangat mengganggunya selama satu minggu itu. Kini mereka sudah hampir sampai ke tempat acara, itu makin membuat Selin merasa gelisah.
"Tapi apa?" tanya Sean.
Sesaat Selina diam tidak menjawab pertanyaan Sean. Sampai saat Selina mengatakan hal yang mengejutkan bagi Sean.
"Om pacaran yuk!"
__ADS_1
Sean mengerem mendadak terkejut mendengar perkataan Selina. Beruntung kendaraan lain di belakang mereka sigap hingga kecelakaan bisa terhindari.