Om Tampan

Om Tampan
Mulai bangkit


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Cahaya matahari sudah meninggi menerangi bumi dan panasnya bahkan bisa membakar bumi. Akan tetapi kamar di apartemen pribadi Sean masih gelap, dinginnya suhu dari pendingin ruangan pun masih terasa. Sangat nyaman untuk tidur. Terlihat Sean masih menggulung dirinya dengan selimut tebal di ranjang. Semalam ia tidak tidur, baru setelah ayam berkokok Sean baru memejamkan matanya. Bukan habis bersenang-senang dengan seorang wanita, melainkan bekerja. Sang ayah sudah memberinya cuti beberapa hari agar dirinya bisa beristirahat berharap setelah cuti Sean bisa kembali bersemangat.


Apa yang diharapakan oleh Pasha terwujud, Sean kembali bersemangat dan fokus bekerja. Ada banyak ide-ide muncul di kepalanya mengenai proyek baru di perusahaannya. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pekerjanya.


Cahaya matahari masuk ke kamar Sean melalui celah gorden tepat mengenai wajah Sean. Tidur Sean terusik. Perlahan Sean membuka matanya, ia mengumpat saat cahaya matahari mengenai matanya. Sean berbalik lalu bangun dan mengambil posisi duduk. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang masih dengan mata terpejam. Rasanya masih mengantuk, tetapi Sean ingat ada sesuatu yang harus ia kerjakan.


Sean membuka sedikit matanya mencari tombol lampu di meja nakas. Kamarnya yang gelap menjadi terang. Sean mengucek mata menggunakan punggung tangannya lalu mengedipkan mata berulang-ulang agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.


Setelah matanya terbuka Sena dikejutkan oleh jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 1 siang. Niatnya hanya tidur sesaat untuk mengistirahatkan matanya yang terasa berat, tetapi kenapa justru ia ketiduran sampai siang. Sean menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, ia langsung beranjak dari tempat tidur. Setelah meminum segelas air Sean berjalan ke sudut ruangan, ia membuka laptopnya memeriksa ulang proposal yang dibuatnya semalam. Seharusnya proposal itu sudah ia kirim ke ayahnya.


Setelah memastikan proposal yang dibuatnya sempurna Sean langsung mengirimkan proposal miliknya kepada sang ayah. Sean lalu mengabari asisten pribadi papanya memintanya memberitahukan pada sang ayah jika dirinya mengirim proposal melalui email.


Jantung Sean berdegup kencang menanti balasan dari sang ayah. Sudah lebih dari satu jam, ayahnya belum berkomentar apapun.


"Apa papi tidak suka? Matilah aku. Papi pasti akan memberiku cuti lebih panjang. Ini sangat membosankan."


Sean kembali down, ia berniat untuk kembali membuat proposal yang baru. Niatnya gagal saat melihat ada balasan email dari ayahnya. Sean tersenyum sumringah melihat pesan dari ayahnya. Sang ayah meminta dirinya bersiap untuk ikut rapat esok hari.


"Yes." Sean bersorak saat itu juga.


Keesokan harinya Sean pergi ke kantor dengan semangat. Ia seperti mendapatkan dirinya lagi. Tidak lupa ia membawa proposal yang sudah ia siapakan. Sean sudah tidak sabar menjabarkan idenya, berharap para pemegang saham di perusahaan menyukai idenya.


Sean mengendarai mobilnya. Ia mengambil jalur memutar karena masih terlalu pagi. Dalam perjalanan Sean memerhatikan sekitar, ia melihat pintu masuk perumahan elite di mana rumah Keisha berdiri kokoh di dalamnya. Sean melihat waktu pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya yang ternyata masih pukul 6 pagi. Masih banyak waktu untuk waktu meeting hari itu. Sean memutuskan untuk mampir ke rumah sepupunya.


"Pagi, Cerewet." Sean menyapa Keisha yang sepertinya sedang menyiapkan sarapan.


"Ada angin apa, pagi-pagi datang ke sini?" tanya Keisha seraya menaruh kopi di hadapan suaminya.


"Gue belum sarapan dan kebetulan lewat sini. Jadi ... gue mampir saja untuk ikut sarapan. Bolehkan?" tanya Sean kepada Keisha dengan menurunkanturunkan kedua alisnya.


"Makanya cepat cari istri!"


Sean menoleh ke asal suara melihat Arya baru datang ke meja makan.


"Belum nemu yang pas." Sean menarik salah satu kursi untuk ia duduki. Ia mengambil satu lembar roti tawar lalu mengolesnya dengan selai cokelat.


"Kamu mau kopi?" tanya Keisha.

__ADS_1


"Boleh," jawab Sean.


"Baiklah aku akan buatkan. Tunggu sebentar," ucap Keisha.


Tidak lama kopi sampai dihadapannya.


"Ini kopinya." Keisha duduk di samping Arya lalu memakan sarapannya. "Oh iya, Sean ... aku dengar Marcello akan bertunangan."


Wajah Sean berubah muram setiap kali mengingat hubungan Marcello dengan Starla, ia menjadikan kesal. Sean menurunkan tangannya menyembunyikan kepalan tangannya dari semua orang.


"Selamat pagi. Loh ada Om Sean, kapan datang?"


Suara cempreng itu mengalihkan perhatian Sean. Rasa kesalnya pun hilang seketika. Wajah muramnya berubah menjadi rupawan.


"Pagi, Tante, Om Arya. Selamat pagi juga Om sean," sapa Selina


"Pagi."


"Sini sarapan." Keisha menyuruh Selina duduk di sampingnya.


"Iya, Tante." Selina duduk di samping kiri Keisha.


"Selina ayo kita berangkat sekarang. Hari ini Om yang akan mengantarmu. Pak Ahmad tidak masuk, beliau sedang sakit," ajak Arya.


"Baik, Om."


"Eh, tunggu! Biar gue saja yang mengantar. Kebetulan kami satu arah," ucap Sean.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Arya.


"Tentu tidak. Jika lo yang antar justru dia yang akan repot karena harus putar arah lagi," ucap Sean.


"Baiklah. Selina kamu tidak apa-apa kan berangkat sama Sean?"


"Tidak, Om. Itu malah bagus," jawab Selina.


"Sayang, aku berangkat dulu. Kamu baik-baik di rumah." Arya mencium kening Keisha bergantian dengan perut buncit sang istri.

__ADS_1


Sean merasa iri melihat keharmonisan keluarga kecil Keisha. Ia juga ingin memiliki keluarga yang harmonis, tetapi entah kapan?


"Ayo, Om Sean kita berangkat." Suara Selina membuyarkan lamunan Sean.


Setelah berpamitan kepada Keisha, Sean pergi bersama Selina. Mereka masuk dan duduk di dalam satu mobil yang sama. Jarak dari rumah Keisha dan sekolah Selina berkisar setengah jam jika lalu lintas tidak padat.


Sunyi mengambil alih Susana di antara Sean dan Selina. Sean merasa tidak suka dengan kesunyian itu. Akhirnya Sean memilih untuk membuka suara terlebih dahulu.


"Oh iya, kenapa kamu memilih sekolah sana? Itu sekolah negeri, 'kan?"


"Pengin saja, Om. Lagi pula sekolah negeri ataupun swasta itu sama, 'kan?"


"Iya sih. Tapi keluarga kami memiliki yayasan sendiri. Kenapa tidak sekolah di sana saja?"


"Tadinya Tante Kei juga menyarankan aku untuk sekolah di sana, tapi ... aku menolaknya."


"Kenapa? Sekolah itu sangat bagus," ucap Sean.


"Ya aku tahu, Om. Tapi aku ingin sekolah di mana tidak ada yang mengenalku. Lagi pula jika aku sekolah di yayasan itu, orang akan bersikap baik padaku karena mereka tahu aku ada hubungan dengan keluarga kalian. Aku tidak mau memiliki teman karena statusku. Aku tahu sih tidak semua orang memiliki sikap buruk seperti itu. Tapi aku sekarang nyaman di sana."


"Oh karena itu." Sean manggut-manggut seolah setuju dengan alasan Selina. "Baiklah, obrolan kita selesai sampai di sini. Karena kita sudah sampai."


Selina menoleh ke sekitar, karena mengobrol ia tidak sadar sudah sampai di sekolah.


Sean memberhentikan laju mobilnya beberapa meter dari gerbang sekolah. Setelah kunci mobil dibuka Selina pun turun.


Selina tidak langsung pergi, ia mengetuk kaca mobil lalu membungkukkan tubuhnya setelah kaca mobil dibuka oleh Sean.


"Terima kasih sudah mau mengantarku. Om Sean hati-hati di jalan."


"Sama-sama. Belajar yang rajin jangan malah cari pacar."


"Iya, iya."


"Dah, Om. Sampai jumpa."


Sean tersenyum melihat tingkah polos Selina. Keceriaan gadis itu seolah berpengaruh pada dirinya. Sean belum melajukan mobilnya, ia masih memerhatikan Selina. Setelah bayangan Selina lenyap dari pandanganya barulah Sean pergi.

__ADS_1


Tadinya Selina mau aku kasih ke Kenzi. Tapi aku lebih tertarik buat cerita Sean. Anak Evelyn dan Pasha belum satu pun naik.


.


__ADS_2