Om Tampan

Om Tampan
Pacaran Yuk! Bagian 2


__ADS_3

Sean dan Selina masih duduk di dalam mobil sambil terus menarik napas menetralkan rasa terkejut mereka. Selina terkejut karena Sean menghentikan laju mobilnya dengan mendadak dan hampir menimbulkan kecelakaan, sedangkan Sean terkejut karena Selina tiba-tiba mengajaknya pacaran.


"Om Sean, apa-apaan sih? Kenapa berhenti mendadak?" ujar Selina masih dengan napas yang tidak beraturan.


"Lo yang apa-apaan? Lo sadar gak? Lo udah bikin gue terkejut dengan mengatakan hal itu," ucap Sean.


"Iya maaf." Selina tidak menduga ucapannya membuat Sean sangat terkejut.


"Lagian lo ini kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Sean.


Belum sempat Selina menjawab mereka dikejutkan dengan ketukan di luar mobil mereka. Beberapa orang meminta Sean untuk turun.


"Turun!"


"Aku ikut." Selina akan membuka sabuk pengaman, tetapi dicegah oleh Sean.


"Lo tetap di sini!" suruh Sean.


"Baiklah." Selina menganggukkan kepalanya seperti anak yang penurut.


Sean turun dari mobil dan langsung meminta maaf atas kesalahannya. Ia pikir semuanya selesai dengan mudah, tetapi ada yang tidak terima dengan permintaan maaf dari Sean.


Selina sendiri masih duduk di dalam mobil. Ia melihat seperti sedang terjadi perdebatan. Melihat dari ekspresi wajah Sean, laki-laki itu nampak kewalahan menghadapi beberapa orang di luar sana. Merasa tidak tega melihat Sean terus memohon maaf, Selina akhirnya turun. Ia segera menghampiri Sean.


"Om Sean." Selina bisa melihat semua orang menatap dirinya.


"Loh Bagas?" Dari semua orang tempat itu Selina mengenali salah satunya.


"Bagas? Lo kenal sama salah satu dari mereka?" tanya Sean.


"Cowok yang pake kemeja maroon itu, Bagas. Laki-laki yang aku ceritain tadi." Selina berbisik kepada Sean.


"Dia siapa, Sel?" tanya Bagas.


Selina menoleh ke arah Bagas bergantian ke arah Sean. Nampak sekali Selina kebingungan menjawab pertanyaan dari Bagas.


"Emmm ... dia pacarku," jawab Selina.


Sean menoleh ke arah Selina menatapnya dengan satu alis yang terangkat sebelah. "Apa-apaan ini? Dia berkata seperti itu tanpa meminta persetujuan dari gue."


"Pacar?" Bagas masih terlihat tidak percaya.


"Iya." Selina merangkul lengan Sean.


"Bagaimana kamu bisa memiliki pacar seperti dia? Dia hampir saja mencelakai dirimu dan kami semua di sini," ucap Bagas.


Sean mengerutkan keningnya merasa heran Bagas tiba-tiba saja bersuara keras.


"Maafkan aku. Aku yang membuatnya terkejut. Tiba-tiba saja perutku sakit. Jadi ... aku yang harus meminta maaf pada kalian. Tolong maafkan aku." Selina bicara dengan menyatukan kedua tangannya.


Semua orang yang berkumpul di tempat itu akhirnya memilih untuk memaafkan Sean karena merasa kasiahan melihat Selina. Semua ora membubarkan diri dan kembali menaiki kendaraan masing-masing, terkecuali Bagas. Laki-laki itu masih menatap Selina dan Sean dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


Selina menyadari tatapan dari Bagas. Ia lalu mengajak Sean untuk kembali ke mobil.


"Sampai jumpa, Bagas." Selina merangkul lengan Sean membawanya kembali ke mobil.


"Syukurlah mereka tidak memperpanjang masalah ini," ucap Selina lega.


Keduanya kembali memakai sabuk pengaman lalu kembali melanjutkan perjalanan.


"Siapa anak tadi?" tanya Sean.


"Dia teman sekolahku, tapi berbeda kelas. Dia juga yang sedang berulang tahun," jawab Selina.


"Lalu kenapa lo bilang padanya gue ini pacar lo?" tanya Sean lagi.


Selina merasa ragu untuk bicara, tetapi dia tidak akan pernah tahan untuk diam saat Sean terus mendesaknya.


"Sebenanya ...."


Selina menceritakan kepada Sean siapa Bagas. Laki-laki itu adalah teman sekelasnya, dia memaksa untuk menjadikan dirinya sebagai pacar. Selina tidak mau karena dirinya tahu Bagas hanya menjadikan dirinya sebagai taruhan. Berulang kali Selina meminta Bagas untuk berhenti mengejarnya, tetapi laki-laki itu sungguh keras kepala.


"Aku terpaksa, Om. Sekarang tolongin aku ya. Aku hanya ingin dia berhenti mengejarku," ujar Selina.


"Oke. Tapi gue mau ada perjanjian selama kita pacaran," ucap Sean.


"Perjanjian? Kenapa begitu?" Selina bingung dengan apa yang dikatakan oleh Sean.


"Anggap saja ini seperti bisnis. Kita sama-sama diuntungkan dalam hal ini," jelas Sean.


"Lalu apa isi perjanjiannya?" tanya Selina.


"Bicarakan nanti saja. Kita sudah sampai," ucap Sean.


Selina melihat sekitar, mereka berada di alamat yang Bagas berikan. Sebuah villa yang lumayan besar.


"Om yakin ini tempatnya?" tanya Selina.


"Sangat yakin," jawab Sean.


Jelas Sean sangat yakin karena villa itu milik sang mami yang khusus untuk disewakan.


"Jadi … lo masih mau lanjut ke acara ulang tahun Bagas atau tidak?" tanya Sean.


"Iya, Om. Aku udah beli kado untuk dia. Aku ke sana hanya untuk memberikan kado ini saja," jawab Selina.


"Baiklah itu lebih bagus. Gue tunggu di sini saja," ucap Sean.


"Loh kenapa gak ikut masuk?" tanya Selina.


"Gue gak mau ada di tengah-tengah anak kecil seperti kalian," ejek Sean yang langsung mendapat cibiran dari Selina.


Selina turun dari mobil lalu berjalan dengan sedikit ragu ke tempat acara. Ia menoleh ke belakang melihat Sean berdiri di samping mobilnya sambil merokok. Sepertinya Sean melihat Selina dan mengisyaratkan pada Selina untuk pergi.

__ADS_1


Selina menyusuri jalan setapak menuju taman villa. Sepanjang jalan ia melihat sekitar, teman-temannya sekolahnya saling berbisik. Meskipun tidak mendengar secara langsung Selina yakin mereka sedang membicarakan dirinya.


Memang benar, mereka sedang bicara mengenai Selina. Mereka melihat Selina datang bersama Sean. Dilihat dari penampilannya Sean terlihat lebih dewasa dari umur mereka. Ada yang berpendapat jika Selina menjadi baby sugar Sean.


Selina tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh teman-temannya. Tujuannya datang ke tempat itu hanya untuk mengucapakan selamat ulang tahun untuk Bagas lalu setelah itu pergi.


Langkah Selina terhenti ketika berada di hadapan Bagas. Selina bisa melihat raut wajah Bagas yang nampak kesal, tetapi Selina tidak peduli.


"Hai, selamat ulang tahun ya. Ini kado untuk kamu." Selina memberikan kado yang ia bawa kepada Bagas.


"Kamu sudah lama pacaran sama dia?" tanya Bagas.


"Belum begitu lama." Selina menjawab dengan gugup.


"Maaf ya aku tidak bisa berlama-lama di sini. Pacarku menungguku. Sepertinya dia tidak nyaman di sini," ucap Selina.


Selina membalikkan badannya, ia ingin segera pergi dari tempat itu. Namun langkahnya ditahan oleh Bagas.


"Gue gak akan ngebiarin lo pergi. Gue tahu lo cuma pura-pura pacaran sama dia, 'kan?" tebak Bagas.


Selina sangat terkejut melihat sikap Bagas tiba-tiba kasar padanya.


"Lepaskan! Ini sakit." Selina meronta, tetapi Bagas makin kuat mencengkram pergelangan tangannya.


"Gue tahu lo hanya ingin menghindar dari gue, iya, 'kan?Jangan berharap, Selina! Selama ini apa yang gue mau pasti akan gue dapatkan!" ucap Bagas dengan suara yang lantang.


"Dan aku juga tahu kamu menjadikan aku taruhan bersama dengan teman-temanmu," balas Selina.


"Awwww!" Selina memekik merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Jadi cowok jangan kasar!"


Semua orang menoleh, mereka dikejutkan dengan kedatangan Sean. Selina langsung berdiri di balakang tubuh Sean sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.


"Itu pacarnya Selina? Ternyata dilihat dari dekat dia sangat tampan." Para gadis yang ada di tempat itu saling berbisik.


"Beruntung sekali, Selina," imbuh yang lainnya.


"Jauhkan tangan kotor lo ini dari Selina!" Sean mencoba untuk menjauhkan tangan Bagas dari Selina.


"Berani sekali lo mengacau di pesta gue," ucap Bagas.


Sean tersenyum seolah sedang mengejek Bagas. "Gue bisa dengan mudah menghancurkan pesta lo ini."


"Jangan macam-macam. Lo gak tahu siapa gue." Bagas masih mencoba untuk menantang Sean.


"Heh, anak kecil! Gue gak peduli siapa lo dan gue juga gak mau tahu. Gue cuma gak suka liat cowok kasar sama cewek, apalagi yang lo kasarin ini cewek gue." Sean menoyor kepala Bagas.


"Ayo, Sayang kita pergi dari sini. Kayaknya kita sudah salah datang ke sini." Sean menggandeng tangan Selina lalu membawanya pergi dari tempat itu.


"Hei, Bagas. Sepertinya lo kalah telak sama cowok itu. Dia terlihat dewasa dan sepertinya kaya. Lo mah gak ada apa-apanya dibandingkan dia," ejek salah satu teman Bagas.

__ADS_1


"Menurut gue juga lo udah kalah taruhan," imbuh yang lainnya.


Bagas mengepalkan telapak tangannya, ia merasa tidak terima dengan kekalahannya.


__ADS_2