Om Tampan

Om Tampan
Abu-Abu


__ADS_3

Sean menatap perempuan malam yang sedang berjalan ke arahnya dengan alis yang terangkat sebelah q. Penampilan wanita itu sangat menggoda kaum adam dengan pakaian yang sangat minim berwarna merah itu. Hanya dengan melihat langkanya para pria tidak akan sabar membawanya ke kamar hotel.


Sean berdecak melihat penampilan perempuan malam itu dari atas hingga bawah. Pandangan Sean terhenti dan fokus di dada perempuan itu, Sean merasa yakin perempuan itu tidak memakai pakaian dalam. Terlihat jelas dia bukit kembarnya bergoyang saat dia sedang berjalan.


Bohong jika Sean tidak tergoda oleh penampilan wanita itu, ia juga ingin segera menikmati tubuhnya. Akan tetapi janji yang sudah ia ucapkan kepada Selina mengingatkan dirinya dan Sean mulai menikmati perannya sebagai pria baik-baik.


"Hai, Baby." Perempuan itu berhenti di depan Sean. "Ternyata kamu lebih tampan dari yang aku lihat di foto." Wanita malam itu dengan berani mengusap sisi wajah Sean lalu memaksa agar Sean mau melihat ke arahnya.


"Namaku Rosita, kamu bisa memanggilku ... Rose," ucap Rosita dengan suara yang ia buat se-manja mungkin.


Sean tidak merespon dengan apapapun, ia hanya menatap perempuan malam itu dengan jengah.


"Singkirkan tanganmu!" Entah kenapa Sean merasa risih disentuh oleh Rosita.


"Ck, ck,ck, kamu galak sekali." Wanita itu sengaja membungkukkan setengah badannya memperlihatkan apa yang ada di dalam balik bajunya. Wanita malam itu mencoba menggoda Sean dengan bukit kembarnya.


Sean melebarkan matanya saat melihat dua bongkahan besar menggantung di dada Rosita. Sean menelan air ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mengering. Pria itu mengumpat saat merasakan celananya menjadi sesak.


Tahan Sean, tahan! Jika malam ini lo sampai tergoda, itu artinya lo sudah ingkar janji kepada Selina.


Akan tetapi Iblis dalam hati Sean mempengaruhi dirinya.


Gadis itu tidak melihat dan tidak akan tahu. Pergi, bawa Rosita ke kamar hotel dan habiskan malam yang panjang bersamanya. Kamu pasti akan terpuaskan.


Bimbang? Jelas


Kacau? Sangat


Jika Sean masih ada dalam situasi yang dulu mungkin dia akan langsung menarik Rosita segera ke atas ranjang. Akan tetapi Sean sudah kembali menjadi Sean yang baik, bukan pria yang asal memasuki lubang tersembunyi.


Diamnya dan rasa gelisah Sean dimanfaatkan oleh Rosita. Perempuan itu berpikir Sean sudah ada dalam kendalinya. Rosita duduk di pangkuan Sean mencoba membuat Sean terpikat oleh sentuhannya.


"Aku dengar dari temanku, kamu sangat sulit untuk ditaklukan bahkan sangat kasar di ranjang. Tapi ... aku tidak keberatan, aku akan sangat memuaskanmu nanti. Aku jamin kamu tidak akan kecewa." Rosita bicara di dekat telinga Sean lalu meniup telinga Sean aga makin membuat Sean terangsang.


Sean tidak menggubris ucapan Rosita. Ia menoleh ke arah lain, ia merasa sangat risih dengan sikap agresif Rosita.


"Kita pergi sekarang! Aku tidak sabar membuatmu melayang," ucap Rosita.


"Widih, slow girl!" ledek Kevin membuat semua orang di tempat itu tertawa, kecuali Sean.


"Pergilah, bro! Bersenang-senang dulu dengannya. Nanti kami akan menyusul," ejek Yoga.


Darah Sean mulai mendidih, tetapi Sean masih mencoba untuk bersabar. Sampai kesabarannya menghilang saat Rosita membuka kancing kemejanya satu persatu bahkan tidak malu mencium untuk bibirnya.


Sean dengan cepat menoleh ke arah lain membuat Rosita gagal menciumnya.


"Sebelum aku kehilangan kesabaran, pergi dari hadapanku." Sean bicara pelan tetapi penuh penekanan.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Rosita mengusap-usap paha Sean sampai pangkal pahanya untuk terus membuat Sean terpancing.


Rosita masih belum menyadari amarah dalam diri Sean membuatnya terus mencoba menggoda Sean.

__ADS_1


Sean masih diam sambil menahan amarah yang sudah seperti bom waktu yang bisa meledak kapanpun. Sean mulai muak dengan segala tingkah Rosita hingga membuat amarah itu tidak bisa ia bendung lagi.


"Kita pergi sekarang? Aku sudah siapkan kamar khusus untuk kita di atas atau kamu ingin pergi ke tempat lain?" Rosita mengalungkan tangannya ke leher Sean.


Cukup sudah!


Sean sudah kehilangan kesabaran, ia mendorong Rosita hingga terjatuh ke lantai. Rasa sakit di sebagian tubuhnya pasti dirasakan oleh Rosita. Perempuan malam itu menangis bukan hanya rasa sakit di tubuhnya, tetapi karena harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Sean.


Semuanya jelas terkejut melihat itu. Suasana di ruangan itu menjadi tegang. Yoga dan Kevin langsung beranjak tempat mereka. Kevin langsung membantu Rosita berdiri.


"Apa lo gak denger gue menyuruh lo untuk jangan sentuh gue? Apa pendengaran lo bermasalah, hah?" bentak Sean.


"Sea, tenang! Oke." Yoga menahan dada Sean lalu menjauhkannya dari Rosita.


Yoga juga memberi isyarat pada Kevin untuk menyuruh para wanita malam untuk pergi.


"Bagaimana gue bisa tenang, tingkah perempuan itu membuat gue muak," ucap Sean.


Tarikan napas Sean masih tidak beraturan, amarahnya masih mengusai dirinya.


"Oke, gue ngerti. Tapi sekarang lo tenang dulu," ucap Yoga.


Sean menarik napasnya dalam-dalam kemudian ia mendaratkan bokongnya kembali di sofa. Ia menyandarkan kepalanya di punggung sofa sambil menarik napas panjang untuk meredam amarah di dalam dirinya.


"Siapa yang punya ide gila seperti ini?" tanya Sean.


"Gue," jawab Kevin.


"Gue pikir lo akan suka dengan semua ini," ucap Kevin.


"Iya, itu mungkin dulu. Tapi gak untuk sekarang!" ucap Sean.


Ucapan Sean membuat Yoga tersedak oleh minuman yang sedang ia minum. Yoga maupun Kevin sama-sama tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sean.


"Lo sudah sadar dan kembali menjadi pria baik-baik?" tanya Yoga.


Sean tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Yoga. Menurut Sean ucapan Yoga bukan seperti pertanyaan, tetapi ejekan.


"Lo kenapa bisa semarah itu?" tanya Kevin.


"Gue udah bilang sebelumnya, gue gak suka dia sentuh gue." Sean mengambil rokok lalu menyalakannya. Batang ber nikotin itu Sean selipkan di sela jarinya lalu menghisapnya.


"Gue gak percaya," ucap Kevin.


"Terserah." Sean mengepulkan asap rokok dari mulutnya. "Yang jelas gue gak mau keluar masuk lobang dari cewek yang gak jelas."


Ucapan Sean terdengar menggelikan bagi Yoga dan Kevin. Keduanya jelas tidak percaya, sebab sebelumnya Sean sangat liar.


Yoga dan Kevin saling memandang, mereka saling bertanya dalam bahasa isyarat. Apa yang membuat Sean berubah?


"Widih, siapa nih cewek? Imut bener?" Kevin mengambil ponsel Sean. Saat ponsel itu menyala Kevin tidak sengaja melihat foto Sean berpose dengan Selina. "Sea, ini pacar lo?"

__ADS_1


Sean jelas terkejut saat ponselnya sudah ada di tangan Kevin. "Berikan ponsel gue!"


"Jawab dulu ini siapa?" Kevin menolak untuk menberikannya.


"Bukan urusan lo!" Sean menolak untuk menjawab.


"Baiklah jangan harap ponsel lo kembali. Yoga tangkap!" Kevin melemparkan ponsel Sean ke Yoga.


Sean mematikan rokoknya, ia ingin merebut ponselnya dari Kevin. Akan tetapi terlambat, ponsel itu sudah Kevin lempar ke Yoga. Untung saja ponselnya tertangkap oleh Yoga.


"Lumayan juga gadis ini. Siapa dia?" tanya Yoga.


"Selina, keponakan Arya," jawab Sean.


"Gue gak nanya itu, setan!" Yoga melempar bungkus rokok ke arah Sean.


"Terus?" Sean terkikik geli.


"Status dia sama lo. Jangan pura-pura gak ngerti," ucap Yoga kesal.


"Bukan urusan lo. Balikin ponsel gue!" ucap Sean.


"Kevin." Yoga melempar ponsel Sean kembali pada Kevin.


"Balikin ponsel gue, Yoga! Berani lo macam-macam gue kasih tahu apa yang lo lakuin ini pada calon istri lo," ancam Sean.


"Idih, ngancem." Tidak ingin membuat temannya terkena masalah Kevin mengembalikan ponsel Sean. "Nih tangkep!"


"Gadis itu yang bikin lo nolak perempuan tadi?" tanya Yoga.


"Bukan urusan lo." Sean merasa gengsi untuk mengakuinya.


"Lo udah apain tuh cewek sampai lo gak terpancing sama cewek se seksi Rosita? Apa lobangnya lebih sempit," ucap Yoga diikuti tawanya.


"B*****t! Dia itu cewek baik-baik gak seperti perempuan-perempuan itu." Sean menarik kerah kemeja Yoga, tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Yoga.


"Sabar." Yoga dan kevin tertawa lepas. Reaksi Sean membuat mereka yakin ada sesuatu di antara Sean dan Selina.


"Gue penasaran, seperti apa gadis itu bisa membuat lo berubah," ucap Yoga.


"Gue juga gak tahu," ucap Sean.


"Gue bisa tebak, lo cinta sama tuh cewek," ucap Kevin.


"Gue gak tahu, Vin," ucap Sean.


"Dari tadi jawaban lo cuma gak tahu. Jangan mempermainkan dia bisa abis lo sama kakak ipar lo nanti," ucap Yoga.


"Gue memang gak tahu perasaan gue sama dia kaya gimana. Yang jelas gue merasa nyaman kalau gue lagi bareng sama dia. Jangankan menyakiti hatinya, berpikir untuk itu saja gak," aku Sean.


Sean memang tidak bohong, dirinya memang tidak tahu perasaan yang dia rasakan kepada Selina, cinta atau hanya sekedar perasaan nyaman. Entahlah, masih abu-abu.

__ADS_1


Maaf, semua baru bisa up. Dari kemarin gak enak badan dan harus istirahat total


__ADS_2