Om Tampan

Om Tampan
Mulai bangkit part 2


__ADS_3

Setelah mengantar Selina, Sean tiba di kantor setengah jam kemudian. Banyak karyawan yang menyapanya. Ketampanan yang dimiliki oleh Sean membuat rindu para karyawati di sana. Wajah yang tidak lagi menunjukkan amarah membuat para wanita di sana semakin terpesona. Tidak jarang para wanita di perusahaan itu mengkhayal bisa menikah atau sekedar menjadi simpannya.


"Selamat pagi, Pak," sapa Bima asisten pribadi Sean.


"Selamat pagi," balas Sean.


"Bapak Pasha sudah menunggu Anda di ruangan beliau," ucap Bima.


"Baiklah, aku akan ke sana. Tolong bawakan ini." Sean memberikan berkas di tangannya kepada Bima.


Sean berjalan ke lift khusus untuk para petinggi perusahaan itu diikuti oleh Bima. Sambil menunggu lift sampai Sean berdiri bersandar pada dinding lift sambil bersiul kecil.


Bima yang ada di sampingnya melirik sekilas ke arah Sean. Alisnya terangkat sebelah. Sudah lama dirinya tidak melihat bos-nya bersikap santai seperti itu. Beberapa minggu belakangan sikap bos nya sangat mengerikan.


"Kenapa lo natap gue seperti itu? Naksir lo sama gue?" tanya Sean.


Bima kelabakan melihat raut wajah garang Sean. Ia langsung mencari alasan agar sang bos tidak marah. Namun tatapan Sean membuat isi kepala Bima berhenti bekerja. Bersyukur lift berhenti membuat perhatian Sean berubah.


"Mana berkasnya," pinta Sean.


"Ini, Pak." Bima menyerahkan berkas kepada Sean.


"Pergilah dulu. Nanti saat jam rapat aku akan memanggil lo lagi," ucap Sean.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu."


Sean berjalan menyusuri lorong menuju ruang ayahnya. Sampai di depan ruangan bertuliskan 'Presiden Direktur' Sean berhenti. Sean menatap sejenak tulisan itu. Keinginan terbesarnya adalah menempati ruangan itu menggantikan sang ayah. Tidak mudah memang, dirinya harus bekerja keras untuk itu.


Sean mengetuk pintu terlebih dahulu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka dari dalam. Menampakan Marcello dari baliknya. Saat pintu terbuka lebar Sean juga melihat Strala ada di ruangan itu. Awalanya Sean muak melihat keberadaan Mereka. Namun Sean berusaha untuk bisa mengendalikan diri, apalagi pagi itu Sean harus punya mood baik untuk rapat bersama para pemegang saham di perusahaan itu.


"Pagi, Nak. Selamat datang kembali di kantor," sapa Pasha.


"Pagi, Pap," balas Sean.


"Pagi, Bang," sapa Marcello.


"Pagi, Sean," sapa Strala.


"Pagi juga." Sean membalas sapaan Marcello dan Sean tanpa melihat Keduanya.


"Sean aku ingin memberitahumu sesuatu —" Ucapan Starla langsung dipotong oleh Sean.

__ADS_1


"Papi bisa kita mulai membahas tentang rapat nanti. Untuk hal yang lain bisa dibahas nanti saja." Sean melirik ke arah Starla. Bak bisa membaca pikiran Starla, calon adik iparnya pasti ingin membahas masalah pertunangan.


"Baiklah. Starla kamu bisa menunggu —"


"Tidak, Papi. Marcello suruh calon istrimu untuk keluar. Kasihan wanita ini pasti akan sangat bosan mendengarkan pembahasan ini nanti," ucap Marcello.


Seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran sang kakak, Marcello mengantar Starla keluar. Ia berjanji akan menemuinya saat jam makan siang. Setelah Starla keluar Marcello duduk di samping Sean membahasnya rapat siang nanti.


Setelah berdiskusi Pasha memutuskan jika Sean untuk memimpin rapat. Sean merasa ragu untuk itu, tetapi Pasha terus saja mendesaknya membuat Sean tidak bisa menolak lagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Satu jam lagi sebelum rapat itu dimulai. Sean lebih dulu masuk bersama sekertarisnya. Mereka mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Tidak lupa Sean memeriksa ulang proposalnya, ia tidak ingin ada yang terlewat. Jika dirinya gagal akan sia-sia segala upayanya.


Satu persatu para pemegang saham masuk ke ruangan itu. Sean sudah selesai mempersiapkan semuanya. Rapat pun dimulai. Pasha meminta Sean untuk mulai.


Sean menarik napas dalam-dalam dan berdoa dalam hatinya, berharap semuanya berjalan seperti apa yang ia harapkan. Sean mulai menunjukkan ide-idenya untuk proyek baru di perusahaan itu dengan sangat sangat jelas dan mudah dimengerti.


Setelah selesai menunjukkan idenya, Sean meminta pendapat dari para pemegang saham. Jantung Sean berdegup kencang, ia tidak sabar mendengar pendapat semua orang. Ternyata apa yang Sean harapkan terwujud, semuanya setuju. Mereka menyukai apa yang Sean tunjukkan. Para pemegang saham menyerahkan proyek baru itu kepada Sean.


Rapat pun berakhir, satu persatu para pemegang saham keluar ruangan. Sean merasa senang dan bangga mendengar para pemegang saham memujinya idenya.


"Kerja bagus, Nak." Pasha menepuk pundak Sean.


"Thanks you, Pi."


"Selamat, Bang." Marcello mengulurkan tangannya disambut oleh Sean. Marcello senang melihat kakaknya kembali ceria dan bersemangat.


"Thank you."


"Ini harus dirayakan. Bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bersama. Papi akan pesan tempat untuk kita. Tapi jangan lupa bawa pasangan kalian."


Sean melongo saat ayahnya meminta untuk membawa pasangan. Sean merasa acara makan malam itu sebuah jebakan untuk dirinya. Bukan hal sulit bagi Sean membawa wanita bersamanya. Alasannya jika Sean membawa wanita, sang mami nantinya akan bertanya banyak kepada dirinya dan wanita itu. Sean tahu ia akan kesulitan menjawabnya. Bahkan sangat sulit melebihi ujian masuk perguruan tinggi.


"Sean banyak urusan, Pi. Sean tidak ikut ya."


"Ini tidak benar. Acara ini untukmu. Masa kamu tidak datang. Apa Papi harus meminta mami untuk menyeretmu?"


Kalau sang ayah sudah bicara seperti itu, Sean tidak akan bisa menolak. Apalagi mendengar ancaman sang ayah. Maminya itu sangat susah untuk dilawan.


"Terserah Papi saja," ucap Sean pasrah membuat Marcello melipat bibir untuk menahan tawanya.


"Jangan tertawa! Apa menurut lo ini lucu," ucap Sean sambil memberengut.

__ADS_1


"Ini lucu, Bang. Mendengar kata mami saja sudah membuat lo kalang kabut," ujar Marcello.


"Kamu tahu, 'kan, Marcello. Mami itu pawangnya abang kamu ini," ucap Pasha diikuti tawanya.


"Terus saja meledekku dan tertawa sampai kalian puas," ucap Sean. "Kalau begitu Sean Bali ke ruangan Sean dulu, jangan berhenti tertawa sebelum kalian puas. Menyebalkan!"


"Jangan lupa acara nanti malam," ucap Pasha.


"Iya." Sean berucap tanpa berhenti melangkah.


Sean berjalan kembali ke ruangannya sambil memainkan ponselnya. Sampai saat ia mendengar suara Marcello memanggil, Sean berhenti melangkah lalu berbalik.


"Bang tunggu, ada yang mau gue omongin," ucap Marcello.


"Apaan. Ganggu saja," ucap Sean.


"Kita bicara di ruangan lo saja," ajak Marcello.


"Ck, lo ganggu banget. Gue lagi main game, gara-gara lo gue jadi kalah," gerutu Sean.


"Iya, maaf, maaf."


Keduanya kembali berjalan bersamaan menuju ruangan Sean. Sampai di sana Sean langsung duduk di kursi kebesarannya dengan memangku satu kakinya, sedangkan Marcello duduk di hadapannya.


"Cepat katakan ada apa?" tanya Sean yang masih kesal permainannya kalah.


"Bang, lo tidak lupa kan dua minggu lagi acara pertunangan gue sama Starla."


Sean berhenti memainkan game. Ia sekilas melihat ke arah Marcello. Sean pun kembali memainkan game di ponselnya. Jika biasanya Sean akan kesal mendengar hubungan adiknya dan Starla kini Sean merasa biasa saja.


"Bagus lo ngingetin gue. Kalau gak gue lupa." Sean tidak berbohong mengenai hal itu, memang dirinya lupa akan acara itu.


"Lo dateng, 'kan?" Marcello ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Apa pentingnya gue datang? Gue datang atau gak lo akan tetap bertunangan, 'kan?" ucap Sean.


"Bang —" Ucapan Marcello langsung dipotong oleh Sean.


"Gue bercanda. Acara penting adik gue masa gue sebagai kakaknya gak datang," ucap Sean tanpa melihat ke arah Marcello.


"Sudahlah ini sudah masuk jam istirahat. Gue mau nyari makan. Kali ini gue gak ngajak lo. Lo pasti pergi makan dengan perempuan itu, 'kan," tebak Sean.

__ADS_1


Sean pergi meninggalkan Marcello di ruangannya. Ia keluar kantor dengan wajah ceria dan terburu-buru karena ingin menemui seseorang. Siapa lagi kalau bukan Selina. Entah kenapa Sean sangat senang seperti mendapatkan mainan baru.


__ADS_2