Om Tampan

Om Tampan
Rasa Benci


__ADS_3

Perdebatan sengit antara Sean dan Selina masih terjadi membuat orang di sekeliling mereka menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa. Keseruan itu berakhir saat Starla sengaja menaruh sendok ke atas piring dengan keras membuat suara yang yaring. Semua orang terdiam lalu melihat ke arah Starla.


"Maaf, aku tidak sengaja. Aku ke permisi ke toilet dulu. Kalian makan saja dulu." Starla menggeser kursi dengan sedikit kasar lalu keluar dari ruangan itu.


Sean memerhatikan Starla keluar dari ruangan itu lalu beralih melihat Marcello dengan menunjukkan senyum sinis seolah sedang mengejeknya.


"Maaf, Om Marcello tante Strala marah ya karena aku berisik?" Selina yang melihat kepergian Strala menjadi tidak enak hati.


"Tidak. Mungkin mood-nya sedang tidak baik." Marcello berucap sambil melihat ke arah Sean.


"Jangan hiraukan dia. Perempuan itu memang tidak memiliki selera humor. Dia itu Miss perfect. Jadi ... di matanya semuanya harus nampak sempurna. Iya, 'kan, Ello?"


Marcello diam tanpa ingin membalas sindiran Sean. Tidak pernah sedikitpun terpikir oleh Marcello jika rasa cinta Sean terhadap Strala berubah menjadi rasa benci bahkan untuk menyebut namanya saja Sean tidak mau.


"Baiklah cukup sudah. Sean, Selina, sudahi peperangan kalian. Ayo kita makan," ucap Evelyn.


"Papi bersulang untuk Sean untuk proyek barunya," ucap Pasha.


"Mami juga," imbuh Evelyn.


"Selamat, Bang," tambah Marcello.


"Terima kasih. Tapi menurutku ini bukan waktunya. Setelah proyek ini selesai baru aku akan merasa puas," ucap Sean.


"Semoga semua lancar ya, Nak," ucap Evelyn.


"Thank you, Mam," balas Sean.


Suasana kembali tenang bersamaan dengan itu Strala kembali dari toilet, tetapi mood-nya untuk makan hilang. Ia berpura-pura tidak enak badan dan meminta izin untuk pulang. Marcello juga pergi untuk mengantar Strala pulang


Ada yang berbeda setelah Marcello dan Strala pergi. Suasana makan malam itu sangat harmonis dan santai. Sambil makan mereka juga berbincang, tidak jarang pula tertawa di sela obrolan.


Waktu terus berjalan dan malam semakin larut acara makan malam sudah selesai. Sean pamit untuk mengantar Selina pulang.


"Mami, Papi, aku akan mengantar Selina pulang. Jika aku terlambat sedikit saja kepokan kalian itu akan melenyapkan aku," ucap Sean membuat Selina dan kedua orang tuanya tertawa.


"Baiklah, kalian hati-hati di jalan," ucap Evelyn.


"Mami, Papi ... Selina minta maaf ya," ucap Selina.


"Minta maaf untuk apa, Nak?" tanya Pasha.


"Maaf untuk sikap Selina. Karena aku, Tante Strala dan Om Marcello jadi pergi," ucap Selina.


"Jangan dipikirkan. Dia mungkin sedang kurang enak badan jadi mood-nya tidak baik," ucap Evelyn.


"Lain kali jika aku bertemu dengannya, aku akan meminta maaf," ucap Selina.


"Heh, bocil. Gue yang lo ejek, kenapa justru lo minta maaf sama kedua orang tua gue dan sama calon istrinya Ello itu," protes Sean.


"Om juga mengejek aku dan Om juga tidak minta maaf. Lalu kenapa aku harus minta maaf sama Om."


"Benar itu, Sean," ejek Pasha.

__ADS_1


"Papi sepertinya kita harus ikut mengantar Selina. Mami melihat Sean masih memiki dendam kepada Selina," ejek Evelyn membuat Sean mendengkus.


"Itu benar, Sayang. Ayo kita antar Selina. Sekalian Papi ingin bertemu dengan Keisha dan Arya," imbuh Pasha.


"Tapi Papi, ini sudah malam Keisha pasti sudah istirahat," ucap Sean.


Baru saja Sean menyebut Keisha nama Keisha dan nomor pemilik nama itu muncul di layar ponselnya.


"Lihat, kita sedang membicarakannya dan dia menelpon." Sean menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Keisha.


Tidak berselang lama, Sean mengakhiri pembicaraannya di telepon lalu memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"Bagus Mami sama Papi ikut. Kalian bisa melindungiku dari mara bahaya."


Evelyn, Pasha, dan Selina kembali dibuat tertawa apalagi melihat ekspresi wajah Sean yang sudah pasrah.


"Kamu ini suka sekali meledek Keisha," ucap Evelyn.


"Aku sungguh tidak mengerti, Mam. Dia sekarang sangat galak. Suaminya saja sampai tidak bisa melawannya," ucap Sean.


"Pria mana yang bisa melawan istrinya yang sedang hamil," imbuh Pasha


"Pi, apa mami dulu waktu hamil galak seperti Keisha." Sean berbisik di telinga Pasha, tetapi Evelyn masih bisa mendengarnya meskipun tidak begitu jelas.


"Mamimu itu hamil atau tidak, tetap saja galak," ujar Pasha.


"Papi mau tidur di luar?" ancam Evelyn.


"Sudah terbukti, Pi," ucap Sean.


"Sudahlah ayo pergi sekarang. Kita bisa mengobrol lain waktu," ajak Pasha dianggukki oleh semua orang.


Sean bersama Selina dan kedua orang tuanya berjalan ke mobil masing-masing. Sean bersama Selina masuk ke mobil yang sama. Setelah itu Sean pergi meninggalkan restoran diikuti mobil orang tuanya.


Jalanan cukup padat padahal sudah masuk pukul sembilan malam, mereka tidak akan terkejut karena akhir pekan. Untungnya kemacetan itu tidak berlangsung lama dan akhirnya mereka sampai di rumah Keisha.


Mereka turun dari mobil. Waktu sudah menuju pukul 10 malam, sangat tidak baik berkunjung ke rumah orang, tetapi Sean tahu sang Mami sangat keras kepala.


"Keisha, maaf kami berkunjung malam-malam," ucap Evelyn seraya memeluk Keisha bergantian dengan Arya.


"Iya, tidak apa-apa Tante. Kami juga belum lama pulang," ucap Keisha.


"Sebenarnya Om sama Tante tidak bisa membiarkan Selina hanya diantar oleh Sean," ucap Pasha.


"Kenapa? Apa mereka kembali bertengkar?" tanya Arya.


"Kamu lebih tahu rupanya," ucap Pasha.


"Terus saja mengejekku." Sean mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang marah karena tidak dibelikan es krim.


"Ayo, kita mengobrol sambil duduk," ajak Arya.


Mereka duduk dan berkumpul di ruang keluarga yang sangat luas. Sean langsung merebahkan kepalanya di pangkuan maminya. Sangat nyaman.

__ADS_1


"Astaga anak ini! Apa kamu tidak punya urat malu? Sudah sebesar ini masih manja sama Mami," ejek Evelyn.


"Biarkan saja. Ngapain malu, aku ini anak Mami, 'kan." Sean menutupi wajahnya dengan lengan tangannya.


"Makanya cepat cari istri biar kamu bisa manja-manjaan sama dia nanti," ucap Evelyn.


"Come on, Mam. Jangan terus mendesakku untuk menikah. Untuk sekarang aku hanya ingin meraih impianku, yaitu menggeser posisi papi di perusahaan," ucap Sean.


"Lihatlah, Keisha, Arya! Sean ini sangat ambisius di dalam bisnis seperti Papinya dan opa kalian," ucap Evelyn. "Tapi sekarang ayo bangun! Malu sama Selina."


"Aku sudah beberapa hari kurang tidur. Jadi biarkan aku beristirahat dengan tenang di pangkuan Mami," pinta Sean.


Evelyn memutar bola matanya, Sean memang sudah besar tetapi putra sulungnya itu tetap saja manja padanya.


"Terserah kamu saja." Evelyn mengusap kening Sean seperti mengusap seorang bayi.


Beberapa saat kemudian tidak ada suara ocehan Sean, tarikan napasnya juga sangat teratur. Evelyn menyingkirkan tangan Sean yang berada di wajahnya, ternyata putra sulungnya sudah tertidur nyenyak.


"Dia sepertinya sangat lelah," ucap Evelyn.


"Jangan dibangunkan, Tante. Biarkan dia tidur di sini," ucap Keisha. "Selina ambilkan selimut dan bantal di kamar tamu."


"Baik, Tante." Selina beranjak dari tempat duduknya ia melangkah ke kamar tamu.


*****


Di tempat lain Marcello mengantar Strala dan mereka sudah tiba di depan rumah Strala. Keduanya belum memakan apapun di restoran maka mereka mutuskan untuk makan malam di tempat lain, itu juga Strala yang meminta.


"Sudah sampai," ucap Marcello.


"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Strala.


"Sama-sama." Marcello menunjukkan senyumnya dan langsung dibalas senyuman oleh Strala.


"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Marcello.


"Ya aku jauh lebih baik. Syukur aku pergi dari tempat itu, kalau tidak aku bisa sakit berlanjut," ucap Strala.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Marcello merasa kurang suka dengan apa yang dikatakan oleh Strala.


"Apa kamu tidak melihat tingkah anak kecil itu?" Nada bicara Strala menunjukkan ketidaksukaan pada Selina.


"Maksudmu Selina? Kenapa dengan dia? Menurutku dia lucu," ucap Marcello.


"Apa? Lucu? Sayang, jangan tertipu dengan gadis itu. Aku bisa melihat jika dia tidak sebaik dan sepolos yang kamu pikirkan," ucap Strala.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu sangat tidak suka dengan Selina. Dia sepertinya gadis yang baik," ucap Marcello.


"Cukup! Jika kamu masih ingin membela gadis itu … jangan bicara lagi padaku," ucap Strala kesal.


"Sejak kapan kamu bisa berpikir buruk tentang seseorang. Ini seperti bukan Strala yang aku kenal," ucap Marcello.


"Aku bilang cukup!" Strala keluar dan menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


Marcello turun dari mobil untuk mengejar Starla, tetapi calon istrinya tidak memperdulikannya. Marcello membeku di depan mobilnya menatap kepergian Strala dengan tatapan tidak percaya.


Maaf baru bisa up lagi. Kerja lagi pulang malam terus.


__ADS_2