
Sean menggandeng Selina untuk pergi dari Vila ia membawanya kembali masuk ke mobil. Sean tidak langsung melajukan mobilnya, ia justru mengubungi Bima, asisten pribadinya.
"Bima, cepat cari tahu siapa yang menyewakan vila mami yang ada di puncak kepada anak laki-laki bernama Bagas!" perintah Sean pada Bima yang ada di seberang panggilan.
"Jika kamu sudah mengetahuinya, kembalikan uang sewanya dan suruh mereka pergi dari sana," suruh Sean.
Sean langsung memutus panggilan itu dan menaruh kembali ponselnya di dashboard. Sean pun melajukan mobilnya meninggalkan kawasan puncak
"Maksud Om Sean Vila tadi punya Om?" tanya Selina.
"Bukan. Itu punya mami yang memang disewakan," jawab Sean.
Sama saja!
Kini selina memahami kenapa Sean begitu paham dengan tempat itu.
"Dia tadi menantang gue, 'kan? Sekarang rasakan akibatnya," ucap Sean kesal.
"Om jangan seperti itu dong. Kasihan Bagas," ucap Selina.
"Lo masih punya belas kasihan dengan apa yang sudah dilakukan padamu? Heh, ini sulit untuk di percaya," ucap Sean.
"Bukan seperti itu, Om." Selina mencoba menjelaskan maksudnya.
"Sudah jangan banyak bicara!" ucap Sean dengan nada yang tinggi membuat Selina diam.
Sepanjang perjalanan Selina memilih diam, ia menjadi takut melihat kemarahan yang ada terlihat di wajah sean.
Dari jalan yang dilalui mereka akan kembali ke Jakarta tetapi bukan jalan pulang ke rumah Keisha. Selina tidak berani mengeluarkan suaranya melihat wajah Sean yang masih terlihat kesal.
Ternyata mereka tidak langsung pulang ke rumah Keisha melainkan ke rumah Sean.
"Ini rumah siapa?" Akhinya Selina mengeluarkan suaranya.
"Rumah orang tua gue," jawab Sean.
"Rumah kalian besar-besar ya." Selina melihat sekelilingnya.
"Tidak lebih besar dibandingkan rumah yang sekarang lo tinggalin. Saking luasnya gue males untuk datang ke sana," terang Sean.
"Tapi aku lihat Om sering ke sana," ucap Selina.
Sean terdiam, ia bingung merespon dengan apa. Tidak mungkin untuk mengatakan jika gadis yang sedang bersamanya adalah alasan kenapa ia sering datang.
"Jangan banyak bertanya! Ayo masuk! Mami sama papi pasti senang liat lo datang," ajak Sean.
Sean dan Selina sama-sama melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuh mereka. Saat Selina akan turun Sean mencegahnya.
"Tapi sebelum itu gue mau bicarakan soal perjanjian pacaran antara lo sama gue," lanjut Sean.
__ADS_1
"Memang itu harus?" Selina mengira Sean sudah melupakan hal itu.
"Harus! Jika lo masih mau gue bantuin supaya Bagas menjauh dari lo," jawab Sean dengan santainya.
"Lalu isi perjanjiannya apa?" tanya Selina.
Sean mengambil selembar kertas dan pena di dalam dashboard. Ia memikirkan apa yang akan ia tulis.
"Baiklah, yang pertama Jangan pernah mengatakan ini pada semua orang yang ada di keluarga kita."
"Itu aku sangat setuju. Aku tidak bisa membayangkan ekpresi mereka saat tahu kita pacaran . Meskipun ini hanya pura-pura, tetap saja aku takut."
"Jika sampai keluarga kita tahu semuanya batal," imbuh Sean.
"Kedua, lo harus datang di saat gue butuh," ucap Sean.
"Baiklah." Selina merasa tidak ikhlas, ia merasakan akan ada bahanya di dalam isi perjanjian kedua.
"Lalu isi perjanjian ketiga ... apa ya?" Sean berpikir untuk mengisi kolom ketiga.
"Om Sean harus selalu ada di saat aku butuh," ucap Selina dengan cepat.
Sean menoleh menatap Selina penuh selidik.
"Jadi impas, 'kan?" Selina terkekeh.
Sean kembali menulis apa yang Selina katakan.
"Dan isi perjanjian ke empat, jangan ikut campur dengan masalah pribadi masing-masing," ucap Sean disambut anggukkan oleh Selina.
Semua Kolom dikertas sudah terisi oleh tulisan Sean. Mereka pun menandatangani secarik kertas berisi perjanjian pacaran yang mereka buat.
"Ini tulisan, Om?" tanya Selina.
"Memang lo gak liat tadi gue nulis," jawab Sean.
"Aku gak menyangka tulisan tangan Om sangat bagus dan rapi. Kapan-kapan ajari aku ya," pinta Selina dengan mata yang berbinar.
Melihat bintang di mata Selina sangat sulit bagi Sean untuk menolak.
"Iya baiklah. Sudah simpan saja itu di dashboard. Sebaiknya kita cepat turun, mereka bisa curiga kita berlama-lama di mobil."
Kedua turun dari mobil lalu disambut oleh penjaga rumah itu. Sean lebih dulu berjalan diikuti oleh Selina. Gadis itu mengikuti Sean layaknya anak ayam mengikuti induknya.
Sampai di dalam Sean mengedarkan pandangannya mencari seseorang di dalam rumahnya. Mata tajamnya menemukan sosok sang mami sedang ada di meja mini bar di dekat ruang makan.
"Sore, Mam," sapa Sean.
Sean mendarat kecupan di pipi Evelyn membuat sang mami terkejut.
__ADS_1
"Dasar anak nakal tidak bisa apa sekali saja tidak mengejutkan mami," ucap Evelyn yang justru membuat Sean terkekeh geli.
"Sore, Mami," sapa Selina lalu mencium punggung tangan Evelyn.
"Eh kamu datang ada Selina juga?" Evelyn mencium pipi Selina.
"Iya, Mam. Tadi aku nemu di jalan. Aku pungut saja dan bawa ke sini," jawab Sean diikuti tawanya.
"Hust, kamu kira Selina ini anak kucing. Kamu ini suka sekali bicara sembarangan." Evelyn mencubit lengan Sean membuat anak sulungnya itu memekik.
"Om, gatel ya kalau gak ngejek aku." Selina mengerucutkan bibirnya.
"Jangan dipikirkan, Sayang. Dia memang suka mencari ribut," ucap Evelyn gemas.
"Runah kenapa sepi? Papi sama Ello di mana?" tanya Sean.
"Mereka sedang main catur di gazebo belakang. Ada Starla juga di sana," jawab Evelyn. "Ini kalian minumlah." Evelyn memberikan Sean dan Selina minuman.
"Bibi tolong antar minuman dan cemilan ini ke gazebo," suruh Evelyn kemudian mengajak Sean dan Selina ke ruang tengah.
"Ck, tahu ada wanita itu aku gak akan ke sini." Sean menjatuhkan dirinya di sofa single yang ada di ruang tengah.
"Selina sini duduk sama Mami," ucap Evelyn.
"Mami mau tanya sama kamu Sean. Mami perhatikan sepertinya kamu ada masalah dengan Starla?" ucap Evelyn.
"Gak. Perasaan Mami saja kali," ucap Sean.
"Tidak, Sean. Mami ini ibumu. Beberapa kali mami perhatian sikapmu pada Starla sedikit kasar," desak Evelyn.
Sean menghabiskan minuman dan memakan cemilan yang disediakan oleh sang mami. Setelah itu ia bermain dengan ponselnya. Sean mencoba bersikap santai dan tenang agar sang mami tidak terus bertanya mengenai hubungannya dengan Starla.
"Sean tidak bisakah kamu berhenti bermain game di ponselmu?" Evelyn merasa kesal saat ia mengajaknya bicara dan Sean selalu saja tidak menghiraukannya.
"Ayolah, Mam? Ini hari libur aku ingin beristirahat sejenak," ucap Sean.
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan Mami," ucap Evelyn.
"Aku hanya tidak ingin menjawab pertanyaan yang tidak bermutu itu," jawab Sean tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Selina hanya terdiam melihat perdebatan ibu dan anak itu. Ia sebenarnya ingin menengahi, tetapi ia tidak tahu permasalahannya.
"Selina, sebaiknya jangan hiraukan dia. Tinggalkan dia di sini bersama dengan ponselnya. Lebih baik ikut Mami ke gazebo."
"I-ya, Mami."
Selina buru-buru menaruh minumannya ke atas meja saat Evelyn menariknya pergi dari tempat itu.
Setelah Selina dan sang mami menjauh Sean mematikan ponselnya bahkan melemparkannya ke sofa di sebelahnya.
__ADS_1