Om Tampan

Om Tampan
Bocil Kesayangan


__ADS_3

Sean terkejut dengan kedatangan Selina. Begitu juga dengan Selina yang terkejut melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sean dan Starla. Selina melihat tangan Sean ada di balik pakaian Starla, apalagi mengingat keduanya ada di satu ruangan hanya berdua Selina jelas tidak bisa menolak pikiran negatifnya.


"Maaf sepertinya aku datang di saat waktu yang tidak tepat," ucap Selina seraya menundukkan wajahnya.


Selina memilih pergi. Entah kenapa dirinya tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Namun langkahnya terhenti saat Sean memanggilnya.


"Selina, tunggu!"


Sean sendiri merasa kecewa saat Selina akan pergi. Sebenarnya Sean bukan orang yang pandai membujuk wanita dan menjelaskan apapun. Akan tetapi saat itu Sean merasa harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin ada salah paham antara dirinya dan Selina.


"Selina, tunggu! Please."


"Apa kamu tidak punya sopan santun masuk ke ruangan orang begitu saja?" Omel Starla tiba-tiba.


"Kata-kata itu juga berlaku buat lo." Sean kembali mengaduk-ngaduk dada Starla mencari sesuatu yang ia inginkan.


"Sean, hentikan! Apa yang kamu lakukan? Sean, please. Keluarkan tangan kamu. Selina ada di sini. Aku tidak mau dia berpikir yang macam-macam dan mengadukan ini kepada Marcello." Starla berpura-pura menolak, tetapi di benaknya ia senang dengan sentuhan Sean.


Selina merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Sean. Benaknya bertanya-tanya kenapa Sean begitu berani melakukan tindakan mesum seperti itu padahal ada orang lain di sana. Selina berbalik dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sean.


"Diam dan jangan bergerak! Lo yang membuat gue terpaksa melakukan ini."


Setelah itu Sean melihat Starla dengan senyum penuh kemenangan saat ia menemukan benda yang ia cari.


"Sebaiknya lo pergi sekarang! Gue gak mau ada salah paham lagi antara gue sama Ello." Sean menarik tangannya setelah mendapatkan kalungnya. Namun Starla tidak ingin melepaskannya begitu saja.


"Lepaskan!" suruh Sean.


"Tidak mau. Aku tidak akan membiarkan bocah itu memilikinya," tolak Starla.


Terjadi tarik menarik antara Sean dan Starla membuat kalung itu putus dan jatuh ke lantai. Melihat itu Sean menjadi murka.


"Lo...!" Sean menggeram tertahan.


Sean membungkuk untuk mengambil kalung itu. Begitu juga dengan Starla membungkuk untuk memungutnya, tetapi Sean lebih dulu mendapatkannya.


"Pergi lo dari sini!" usir Sean lagi.


Sean yang sudah kehabisan kesabaran menarik tangan Starla. Saat Sean membuka pintu ruangan kerjanya ternyata ada Ello di depannya.


Mereka beradu pandang sejenak. Melihat dari raut wajah Ello menampakkan ketidaksukaan saat Sean memegang tangan Starla. Sean yang sadar akan hal itu mendorong Starla ke arah Marcello.


"Bilang ke perempuan ini untuk jangan muncul di hadapan gue lagi!" Setelah mengatakan kalimat itu Sean menutup pintu.


Sean yang marah berjalan melewati Selina. Ia kembali duduk di kursinya sambil mencoba menyambung kalung yang putus itu.

__ADS_1


"Menyebalkan!"


Antara marah dan kecewa saat tidak berhasil memperbaiki kalung untuk Selina.


"Wanita itu merusak segalanya."


Sean berdecak sambil menggeleng kepalanya. Pada saat itu pandangannya bertemu dengan Selina. Ia baru sadar jika Selina masih berada di tempat itu.


"Apa yang ada dipikiran kamu saat ini tidaklah benar. Aku tadi hanya ingin mengambil benda ini. Dia merebutnya dan menaruhnya di balik bajunya dan sekarang apa yang dia lakukan? Dia membuat kalung ini putus." Entah apa yang ada di benak Sean saat itu. Akan tetapi melihat dari raut wajah Selina, Sean berpikir Selina masih salah paham dengannya.


Selina melangkah kehadapan Sean lalu mengambil kalung yang sudah putus di atas meja. Alis Selina terangkat sebelah saat melihat liontin yang masih tersangkut di kalung itu.


"S …?" gumam Selina "Apa ini milik kak Starla?"


"Ck! Gak kamu gak perempuan itu. Kenapa berpikir kalau benda ini miliknya? Apa hanya perempuan itu yang memiliki nama dengan inisial S?" tanya Sean kesal.


"Kenapa Om marah padaku. Aku hanya bertanya," ucao Selina ketus.


"Aku memesan ini untukmu! Ini hadiah yang aku janjikan padamu. Tapi lihatlah apa yang sudah dilakukan oleh wanita sialan itu?" jelas Sean.


"Untuk aku?" Bibir Selina melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.


"Apa aku kurang jelas mengatakannya tadi?" ujar Sean sambil menggerutu.


Eh?


"Ck, bocil …." Sean mengenggam tangan Selina lalu menariknya untuk duduk di atas pangkuannya. "Bukan seperti itu."


"Om jangan seperti ini? Bagaimana jika nanti ada orang yang masuk ke sini?" Selina mencoba untuk berdiri tetapi Sean menahannya.


"Ini jam istirahat semua orang pasti sedang beristirahat. Lagi pula tidak akan ada yang berani masuk tanpa izinku kecuali kamu dan …."


"Dan kak Starla?" tebak Selina.


"Ya itu dulu. Tapi sekarang hanya kamu," aku Sean.


Eh?


"Maaf, hadiah kamu jadi rusak. Aku akan membelikannya lagi nanti," ucap Sean.


"Ini masih bisa diperbaiki kok Om," ucap Selina.


"Sungguh?" tanya Sean disambut anggukkan oleh Selina.


"Kamu suka hadiahnya?" tanya Sean.

__ADS_1


"Suka banget Om," ucap Selina sembari terus memperhatikan kalung itu.


Hening mengambil alih suasana di anatara mereka. Selina masih duduk di pangkuan Sean. Gadis itu mulai nyaman dengan posisi itu. Apalagi saat Sean menariknya dan mulai mengusap-usap rambutnya dengan begitu lembut.


"Om … boleh aku tanya sesuatu?" tanya Selina.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya balik Sean.


"Ada urusan apa dia datang ke sini?" tanya Selina lagi.


"Untuk apa lagi kalau bukan untuk mengacaukan hidupku!" jawab Sean membuat Selina tertawa kecil.


"Apa dia juga yang membawakan makanan ini?" Selina melihat kotak makan yang ada di atas meja.


"Ya dia yang bawa," jawab Sean.


"Sepertinya enak?" Selina kembali memerhatikan kotak makan itu. Aroma lezat dari makanan itu berhasil menarik perhatiannya.


"Kalau kamu mau makan saja," suruh Sean.


"Beneran Om?" ucap Selina.


"Hmmm," gumam Sean sembari menganggukkan kepalanya.


Selina menarik kotak makan yang berada tidak jauh darinya. Ia melihat nasi dengan lauk daging lada hitam. Terlihat sangat lezat


"Aku makan ya Om," ucap Selina.


Sean hanya menganggukkan kepalanya tanpa berhenti memerhatikan Selina.


"Om mau?" Selina menyodorkan satu potong daging ke hadapan Sean, tetapi langsung ditolak oleh Sean.


"Tidak, kamu makan saja," tolak Sean.


"Ya sudah aku habiskan. Makanan seenak ini tidak boleh disia-siakan," ucap Selina.


Sean hanya tersenyum menanggapi ucapan Selina.


Waktu berjalan beberapa saat, Selina masih makan dan juga masih duduk di atas pangkuan Sean. Sean sendiri masih bermain dengan rambut Selina sambil terus memerhatikan Selina makan. Gadis kecilnya makan dengan begitu lahap. Jelas sekali, makanan yang Starla masak rasanya memang enak. Akan tetapi Sean sudah tidak tertarik dengan makanan ataupun dengan orang yang memasaknya. Kini Sean lebih tertarik dengan gadis kecil yang sedang duduk di pangkuannya.


Sean diam-diam memerhatikan Selina dari rambut hingga pinggangnya. Meskipun tubuh gadis itu dibalut seragam, tetapi Sean masih bisa melihat tubuh padat Selina. Apalagi saat melihat paha Selina yang tersembunyi di balik rok yang sedikit terselingkap itu.


"Sialan?" Sean mengumpat dalam hati.


Hanya membayangkan tubuh padat Selina membuat Sean merasakan celananya mendadak sempit. Rasa sakit mulai ia rasakan yang menandakan adik kecilnya bangun.

__ADS_1


__ADS_2