Om Tampan

Om Tampan
Pertunangan Marcello dan Starla


__ADS_3

Hari pertunangan Marcello dan Starla akhirnya tiba. Meskipun sempat terjadi pertengkaran yang hampir saja membatalkan semuanya. Keduanya memutuskan untuk memulai hubungan itu dari awal.


Pesta berlangsung megah, acara pertukaran cincin sudah dilakukan. Semuanya turut berbahagia kecuali Sean. Bukan karena merasa iri ataupun cemburu. Hanya saja pria itu merasa bosan di tempat yang ramai. Banyak wanita cantik dan seksi yang mencoba mendekat Sean namun harus merasakan rasa kecewa dengan penolakan Sean.


Jika biasanya Sean mengusir kebosanan dengan membawa seorang wanita je dalam kamar hotel. Bisa saja ia melakukan itu, tetapi Sean terikat oleh janjinya pada Selina dan Sean mulai menikmati akan hal itu.


"Ck." Sean berdecak saat pikirannya dipenuhi oleh nama dan wajah Selina. "Sepertinya aku bisa menjadi gila jika aku jauh darinya."


Ia memutuskan keluar dari ballroom untuk mengubungi Selina, tetapi gadis kecilnya tidak menerima panggilan darinya.


"Apa dia masih sakit?" batin Sean.


Sean berniat pergi untuk melihat keadaan Selina, tetapi Bima datang dan menahannya untuk tidak pergi. Bima mengatakan jika Pasha memanggilnya.


Sean mengumpat, tetapi ia tidak bisa menolak perintah dari papinya. Sean kembali ke ballroom sebelum itu dirinya mengirim pesan kepada Selina.


Membosankan dan seperti apa yang Sean sebelumnya pikirkan. Sang ayah memanggilnya untuk memperkenalkannya pada rekan-rekan bisnisnya. Salah satu dari mereka menanyakan kapan ia akan menyusul sangat adik untuk bertunangan.


"Saya belum tahu, Tante. Saya masih ingin fokus mengejar karier," ucap Sean.


"Apa kamu sudah memiliki pacar?" tanya wanita yang bernama Renata, nyonya besar di keluarga Kusuma.


"Belum, Jeng." Bukan Sean yang menjawab, tetapi Evelyn yang menjawab.


"Benarkah? Ini kabar bagus untuk saya. Sean, tante mau memperkenalkan anak Tante ini. Namanya Widia, dia masih menempuh pendidikan di Universitas London." Renata memperkenalkan anak pertamanya dengan bangga.


Sean hanya menanggapi itu dengan senyuman. Kecuali saat Widia mengulurkan tangannya, Sean pun menerima uluran tangannya.


"Sean, dia sangat cantik, 'kan?" bisik Evelyn.


"B, aja, Mam," balas Sean.


Eh?


Jawab Sean jelas membuat Evelyn mengerutkan keningnya. Menurutnya Widia itu nampak sempurna, tetapi kenapa putra sulungnya nampak tidak tertarik.


"Sean, kenapa kalian tidak mencoba untuk lebih dekat," ucao Renata.


"Iya, Nak. Kamu pasti akan menyukai Widia," imbuh Evelyn.


"Maaf sebelumnya, Tante. Saya tahu maksud Anda dan mami saya, tapi sebenarnya saya sudah memiliki pilihan saya sendiri," tolak Sean.


"Jadi kamu sudah memiliki seorang pacar dan tidak mengatakan kepada Papi dan Mami?" Pasha yang sedari tadi diam turut angat suara.


"Kami baru memulainya," jelas Sean.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu tidak mengajaknya ke sini. Memperkenalkan pada Papi dan Mami?" ucao Pasha lagi.


"Dia sedang sakit," jelas Sean.


"Maaf menyela pembicaraan ayah dan anak. Sepertinya kamu harus pergi," ucap Renata. "Ayo Widia!"


Renata pergi dengan rasa kesal dan itu disadari oleh Sean dan kedua orang tuanya.


"Sean, lihat mereka pergi karena kesal," ucap Evelyn.


"Mam, apa Mami berniat menjodohkan aku dengan gadis itu?" tanya Sean.


"Iya, Nak. Mami lihat dia cantik dan pintar. Dia juga berasal dari keluarga yang baik-baik," jawab Evelyn.


"Mam, berapa kali Sean harus mengatakan jangan jodohkan Sean. Mungkin perempuan tadi cocok untuk Mami, tapi tidak bagi Sean." Sean merasa sedikit kesal dengan tindakan sang mami.


"Mami hanya tidak mau kamu salah memilih, Sean." Evelyn ikut kesal.


"Tapi —" Ucapan Sean langsung dipotong oleh Evelyn.


"Cukup, Sean! Mami tidak ingin berdebat," sela Evelyn. "Papi, tolong jelaskan sama anak kesayangan kamu ini. Mami pergi dulu. Tidak enak jika para tamu melihat perdebatan ini."


"Tapi ... Mam." Sean menggeram karena maminya tidak mau mengerti. "Papi ... tolong jelaskan sama mami."


Susana hati Sean makin buruk dengan rencana perjodohan itu ditambah Selina yang belum juga membalas pesannya.


Tubuh Sean merasa panas, ia meminum beberapa gelas minuman bersoda untuk mendinginkannya. Sudah habis tiga gelas minuman Sean masih merasakan tubuhnya seperti terbakar. Ia menggenggam kuat gelas. Bisa saja gelas itu pecah di tangan Sean jika suara Keisha tidak masuk ke dalam telinganya.


"Sean," panggil Keisha.


Amarah Sean teralihkan oleh suara Keisha. Gelas itu akhirnya bisa lolos dari genggaman tangan Sean. Pria itu menoleh melihat sepupunya sedang berjalan ke arahnya. Mendengar suaranya Keisha, Sean teringat akan Selina. Kenapa tidak dari tadi ia bertanya tentang kondisi Selina pada sepupunya?


"Sean, aku kita bukan kamu," ucap Keisha.


"Keisha, bagaimana keadaan Selina?" tanya Sean.


"Eh, kamu langsung bertanya tentang Selina dari pada aku?" Keisha pura-pura merajuk.


"Maaf," ucap Sean lirih, tetapi Keisha masih bisa mendengarnya.


"Aku hanya bercanda, Sean," ucap Keisha. "Tadi sebelum aku pergi dia masih tidur."


"Tadi gue coba menghubunginya, tapi dia tidak menjawab. Gue chat juga gak dibalas," ucap Sean.


"Dia mungkin masih tidur," ucao Keisha.

__ADS_1


"Ya, mungkin saja." Sean masih belum merasa tenang jika Selina belum menghubunginya.


"Sean," panggil Keisha.


"Apa?" Sean mengerutkan keningnya saat Keisha menatapnya dengan tatapan curiga.


"Ada apa? Kenapa lo natap gue seperti itu?" tanya Sean.


"Kamu perhatian sekali sama Selina. Aku curiga ada sesuatu di antara kalian," ucap Keisha.


Memang ada sesuatu, tetapi Sean tidak mungkin mengatakannya kepada Keisha. Jika itu terjadi maka hubungan dirinya dan Selina akan berakhir detik itu juga.


"Jangan ngaco." Sean menyentil kening Keisha membuat sepupunya memekik.


"Awwww! Ini sakit. Kamu selalu saja seperti ini padaku." Keisha memberengut Seraya mengusap keningnya. "Aku akan mengadukan ini pada suamiku nanti."


"Silahkan saja! Dasar anak manja. Sudah mau jadi seorang ibu masih saja tetap manja." Sean merangkul pundak Keisha menciumi pipi Keisha yang nampak seperti bakpao.


"Hei, pipi itu sekarang milikku. Jangan berani menciuminya."


Sean dan Keisha menoleh ke asal suara. Mereka melihat Arya sedang berjalan ke arah mereka.


"Memang kenapa? Meskipun lo sama Keisha sudah menikah bukan berati dia bukan lagi kakak gue," ucap Sean yang masih merangkul Keisha.


Arya memutar bola matanya, ia tidak akan berdebat untuk masalah itu.


"Baiklah, gue tidak akan berdebat untuk ini. Tapi maaf gue harus membawa pergi Keisha dulu," ucap Arya.


"Baiklah, bawa dia pergi atau dia akan selalu mengejek gue terus." Sean menarik tangannya dari pundak Keisha membiarkan sepupunya pergi bersama dengan suaminya.


Sean kembali sendiri, tetapi moodnya sudah lebih baik. Ia memilih untuk duduk sambil menikmati sepotong kue keju. Sampai moodnya benar-benar hancur saat Marcello datang dan kembali menuduhnya dengan hal tidak pernah Sean merasa lakukan ataupun pikirkan.


"Kenapa memilih duduk sendiri di sini? Lo masih berharap posisi gue saat ini adalah lo?" tuduh Marcello.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Sean masih mencoba untuk tenang dan menikmati musik serta potongan kue itu.


"Heh, gua lihat lo gak bahagia." Marcello masih saja menuduh Sean. Padahal Marcello tidak tahu alasan sebenarnya yang membuat Sean terlihat tidak bahagia.


Sean mulai merasa terpancing. Ia menyudahi memakan kuenya dan menatap tajam Marcello.


"Bagaimana gue bisa bahagia saat gue merasa adik gue salah memilih pasangan," ucap Sean dengan senyum sinisnya.


"Apa maksud lo?" Marcello mulai menunjukkan kemarahannya.


"Eits, sabar. Gue gak akan ngomong apapun. Tapi suatu saat lo akan sadar dengan sendirinya." Sean meminum air soda sebelum meninggalkan pesta itu.

__ADS_1


__ADS_2