Om Tampan

Om Tampan
Tidak Bisa Jauh


__ADS_3

Sean pergi dari pesta sebelum pesta usai. Sean merasa muak di tempat itu. Ia tidak menduga adiknya akan sangat menyebalkan.


Sean mengendarai mobilnya membelah jalanan kota. Tujuannya ke satu tempat yaitu rumah sepupunya. Ia merasa tidak tenang sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri Selina baik-baik saja.


Sean menghentikan laju mobilnya tidak jauh dari rumah Keisha. Ia melihat rumah itu sepi hanya ada beberapa penjaga terlihat berjaga di depan pintu gerbang. Ia ragu untuk masuk ke rumah itu mengingat Keisha dan Arya masih di tempat pesta.


Apa yang akan dikatakannya nanti saat ia masuk ke rumah itu? pikirnya


Sean turun dari mobil. Ia berdiri bersandar pada badan mobil. Pandangannya menatap lurus pada jendela kamar Selina. Dari tempatnya berdiri Sean bisa melihat lampu kamar Selina masih menyala. Sean merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Belum ada balasan dari Selina.


Ia kembali menghubungi Selina, tetapi lagi-lagi Selina tidak menerima panggilan darinya.


"Apa dia sudah tidur?" batin Sean.


Sean tidak tahu jika Selina segaja tidak membalas ataupun menerima panggilan darinya. Selina merasa hubungannya dengan Sean sudah mulai terlalu jauh. Gadis itu takut jika akan jatuh cinta kepada Sean. Akan tetapi daya pikat Sean terlalu kuat membuat Selina tidak bisa berlama-lama untuk menghindar dari Sean.


Selina yang awalnya hanya diam saat melihat layar ponselnya menyala menunjukkan nomor Sean. Saat ponselnya tidak berdering lagi membuat Selina merasa frustrasi. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Sean balik membuat Sean mengurungkan niatnya untuk pergi.


Sambungan telepon sudah tersambung. Selina bicara dengan gugup saat mendengar suara lembut Sean di seberang panggilan. Rasa gugup itu membuat Selina kesulitan merangkai kata-kata. Ia hanya bicara saat Sean bertanya padanya, itupun dengan jawaban yang sangat singkat iya, tidak, sudah, dan belum.


Selina berjalan ke balkon kamarnya sambil menggerutu tidak jelas, memaki dirinya sendiri. Selina juga menggerakan anggota tubuhnya dengan tidak jelas, seolah sedang memaki dirinya sendiri.


Apa yang dilakukan oleh Selina ternyata terlihat oleh Sean. Selina tidak tahu jika Sean berada tidak jauh dari rumah itu dan sedang memperhatikan dirinya sambil tertawa.


"Kenapa Om tertawa?" tanya Selina.


"Tidak, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Sean


"Aku sedang bicara dengan Om," jawab Selina.


"Oke baiklah, ayo kita main tebak-tebakan. Jika kamu berhasil menjawab pertanyaan dariku aku akan memberimu hadiah," ajak Sean.


"Apa hadiahnya?" tanya Selina penuh semangat.


"Apapun yang kamu inginkan," jawab Sean.


"Baiklah Om jangan menyesal jika aku bisa menjawab semua pertanyaan dari Om," ucap Selina.


"Kita lihat saja nanti. Bersiaplah untuk pertanyaan pertama, apa warna baju yang kamu pakai sekarang?" tanya Sean.


Eh?


Selina berasa bingung dengan pertanyaan yang Sean lontarkan.


"Apa maksud, Om?" tanya Selina.


"Cepat jawab, Selina. Waktumu hanya lima detik. Satu … dua … tiga —"


"Pink." Selina menjawab dengan cepat.


"Betul," ucap Sean.


"Pertanyaan kedua," ucap Sean. "Apa warna gorden kamarmu?"


"Om, kenapa pertanyaannya seperti itu?" Selina makin dibuat bingung oleh pertanyaan Sean.


"Jawab saja dan jika kamu salah kamu harus dihukum." Sean kembali menghitung.


"Eh, Om ... tunggu!"


"Waktumu semakin singkat, Selina," ucap Sean.


"Nude," jawab Selina dengan cepat.

__ADS_1


"Benar," ucap Sean dari seberang panggilan.


"Pertayaan ketiga," ucap Sean.


"Berapa orang yang berjaga di depan rumahmu?" tanya Sean.


Selina tidak lagi berpikir, ia berlari ke ujung balkon untuk melihat penjaga yang sedang berjaga di depan rumah itu. Selina tidak tahu mengapa dirinya mau saja melakukan hal itu? Entah ingin hadiah dari Sean atau takut dihukum oleh Sean?


"Selina kamu masih mendengarku?"


"Ya. Tunggu sebentar aku sedang aku sedang menghitungnya," ucap Sean.


"Cepatlah waktu terus berjalan," ucap Sean.


"Tiga. Ada tiga penjaga yang sedang berjaga di sini," ucap Selina.


"Betul sekali," ucap Sean.


"Om, dari mana Om tahu semua jawaban aku benar?" tanya Selina.


"Dan pertanyaan terakhir." Sean tidak menjawab pertanyaan dari Selina melainkan kembali melontarkan sebuah pertanyaan.


"Apa warna mobil yang terparkir di arah kananmu?" tanya Sean.


"Mobil?"


Selina menoleh ke arah kanannya ia tersenyum melihat Sean berdiri di depan mobilnya sambil melambai ke arahnya.


"Apa warna mobilnya?" tanya Sean.


"Putih." Jawaban Selina sekaligus menjadi jawaban untuk pertanyaannya sendiri.


"Tepat sekali."


"Apakah yang berdiri di depan mobil itu Om?" Selina menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya.


Selina tersenyum mendengar suara Sean. Pantas saja Sean mengetahui jawabannya benar atau tidak.


"Sejak kapan Om di situ?" tanya Selina.


"Sudah cukup lama sejak aku menghubungimu tapi kamu tidak menerimanya," jawab Sean.


"Maaf."


Selina bicara dengan Sean di telepon dan matanya terus melihat ke arah Sean. Begitu pula sebaiknya.


"Bagaimana perutmu? Apa masih sakit?" tanya Sean.


"Tidak," jawab Selina. "Sedang apa Om di situ? Apa pestanya sudah selesai?"


"Aku sudah mengatakan sebelumnya, pesta itu sangat membosankan tanpamu," ujar Sean.


"Om kenapa berdiri saja di sana? Kenapa tidak masuk?"


"Aku pikir kamu sudah tidur."


"Om mau masuk?"


"Tidak, aku di sini saja." Melihat Selina dalam keadaan baik-baik saja membuat Sean merasa lega.


"Tapi di situ pasti dingin."


"Apa jika aku masuk kamu akan memelukku agar aku merasa hangat?

__ADS_1


"Issh, Om."


Selina merasa beruntung Sean berada dalam jarak beberapa meter di hadapannya membuat Sean tidak bisa melihat wajah malunya.


"Baiklah, ini sudah malam kamu istirahatlah," ucap Sean.


"Iya, Om. Om juga pulang ya. Selamat malam," ucap Selina.


Keduanya diam saling melihat tanpa ingin mengakhiri sambungan telepon. Ada perasaan tidak rela untuk berpisah.


"Kenapa belum masuk?" tanya Sean.


"Om juga belum pergi," jawab Selina.


Sean tertawa di seberang panggilan. Gadis itu selalu saja bisa membuatnya terkejut.


"Aku akan pergi setelah kamu masuk," ucap Sean.


"Om pergilah dulu," ucap Selina


"Kamu masuklah dulu," ucap Sean.


"Baiklah kita sama-sama saja. Aku masuk ke mobil dan kamu masuk ke dalam rumah." Sean bisa melihat Selina menganggukkan kepalanya.


Sean melangkah masuk ke mobilnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Selina. Begitupun sebaliknya.


Sean menyalakan mobilnya dan bersiap untuk pergi.


"Aku tunggu hadiah dari Om," ucap Selina.


"Baiklah."


Sambungan telepon berakhir bersamaan dengan kepergian Sean.


Sean kembali mengendarai mobilnya membelah jalanan kota. Moodnya menjadi lebih baik. Gadis itu selalu bisa membuat moodnya yang buruk menjadi lebih baik.


Sean masih mengendarai mobilnya, ia tidak langsung pulang melainkan pergi ke club malam. Ada pesta di sana yang diadakan oleh salah satu temannya.


Sampai di sana Sean memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam club malam. Sean disambut oleh suara musik yang sangat keras. Jika orang yang belum terbiasa pasti akan merasakan sakit di telinganya.


Sean berjalan melewati para pengunjung di sana. Banyak wanita malam yang menyapanya tetapi tidak Sean pedulikan. Sean membuka pintu salah satu ruang VVIP, ia cukup terkejut dengan apa yang terjadi di dalam tempat itu.


Sean melihat dua temannya sedang berpesta bersama wanita malam. Sean tersenyum miring melihat apa yang dilakukan temannya bersama dengan wanita malamnya.


"Apa tidak ada tempat lain untuk melakukan hal seperti itu?" ucap Sean.


Kevin, salah satu teman Sean menghentikan hal gila yang sedang ia lakukan dengan wanita malam yang ia sewa.


"Hai, bro selamat datang di pesta kecil ini?" Yoga menyambut Sean.


"Bukankah lo akan menikah minggu depan? Kenapa lo bersama wanita lain?" tanya Sean kepada Yoga.


"Sini, duduklah. Aku akan jelaskan padamu." Yoga meminta Sean untuk duduk bersama dangannya.


"Justru karena gue mau menikah gue mau nikmati kebebasan gue dulu. Gue ingin menghabiskan malam bersama wanita ini sebelum gue terikat dengan calon istri gue," jelas Yoga.


"Gila?" Sean menggelengkan kepadanya seraya tersenyum miring.


Sean tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Yoga, tetapi ia ikut senang pemain wanita seperti Yoga akan segera memiliki pasangan hidupnya.


"Lo jangan khawatir gue tidak melupakan lo. Gue sudah siapakan wanita paling cantik di club malam ini. Spesial untukmu," ucap Yoga.


Tidak berselang lama pintu ruangan itu terbuka dari luar memunculkan wanita cantik dan seksi dari baliknya.

__ADS_1


"Itu wanita buat lo," ucap Yoga.


Nah loh Sean tergoda gak ya?


__ADS_2