Om Tampan

Om Tampan
Sulit Dipahami


__ADS_3

Sean melajukan mobilnya ke sekolah Selina. Karena selalu lewat jalan tersebut Sean tahu kapan waktu istirahat murid di sekolah itu. Sean sampai di depan sekolah bertepatan dengan para siswa yang keluar dari gerbang. Sean melihat sekitar mencari keberadaan Selina, tidak mungkin bisa secepat itu menemukan Selina di antara banyak murid. Lantas Sean memutuskan untuk menelpon Selina saja.


Panggilan tersambung, tanpa basa-basi Sean mengatakan pada Selina jika dirinya ada di depan sekolah. Di sebrang panggilan Selina mengerutkan keningnya ia bingung mengenai keberadaan Sean di sekolahnya.


"Apa yang sedang dia lakukan di sini?" gumam Selina.


"Ada apa Sel?"


"Ikut aku sebentar." Selina mengajak salah satu temannya bernama Putri untuk menemaninya menemui Sean.


"Ke mana?"


"Gerbang sekolah."


Selina berhenti melangkah begitu juga dengan Putri. Napas keduanya nampak putus-putus karena berlari.


"Kamu lagi nyari siapa?" tanya Putri yang penasaran dengan Selina.


"Nanti aku kenalin," jawab Selina sambil mengedarkan pandangannya.


"Pacar?"


Selina masih pandangannya saat kemudian melihat Sean tidak jauh dari gerbang sekolah.


"Isssh, bukan. Nah itu dia ayo ikut aku." Selina berlari kecil menghampiri Sean yang sedang berdiri bersandar di samping mobilnya.


"Om, ada apa kemari?"


"Lewat saja, sekalian mau ngajak lo makan siang." Jelas itu bohong. Sejak keluar dari kantor tujuan utamanya adalah menemui Selina.


"Makan siang?"


"Iya."


"Tapi traktir aku sama teman aku ya."


"Tidak masalah."


"Oh iya Om kenalin ini Putri dan Putri ini Om Sean sepupu tante Keisha."


"Halo, Om." Putri nampak canggung saat berkenalan dengan Sean.


Sean hanya tersenyum merespon salam dari Putri.


"Ayo Om ikut aku." Selina menarik Sean.


"Ke mana?"


"Makan"


"Iya, tapi mau makan dimana?"


"Sudah ayo ikut saja." Selina berjalan sambil menarik Sean, tetapi kembali berhenti melihat temannya hanya diam. "Ayo, Putri."


"Aku tidak jadi ikut deh," tolak Putri.


"Kenapa? Katanya mau makan bareng," tanya Selina.

__ADS_1


"Aku lupa mau balikin buku ke perpustakaan." Sebenarnya Putri merasa canggung berada dekat dengan Sean.


"Itu bisa nanti saja, 'kan?" bujuk Selina.


"Tidak, kalau aku telat satu detik saja aku bisa kena denda dan ceramah berkepanjangan yang lebih dari tema. Kamu tahu penjaga perpustakaan itu seperti apa?"


"Iya sih. Itu sangat mengerikan. Ya sudah sampai ketemu nanti di kelas," ucap Selina disambut anggukkan oleh Putri.


Selina kembali berjalan masih tetap menarik tangan Sean, sedangkan Sean hanya pasrah mengikuti Selina.


"Selina sebenarnya lo mau makan di mana?" Sean masih tidak tahu kemana Selina akan membawanya.


"Di sini, Om." Selina menghentikan langkahnya di bawah pohon besar. Ada satu penjual bakso di sana.


Sean mengerutkan keningnya melihat gerobak bakso yang sepi tanpa pembeli.


"Lo serius mau makan di sini?" bisik Sean.


"Iya, Om. Di sini baksonya enak kok." Selina menjawab dengan berbisik.


"Kalau enak kenapa tidak ada yang beli?" Sean masih merasa ragu.


"Aku juga tidak tahu. Katanya sih gara-gara gerobaknya jelek," jawab Selina.


Sean memerhatikan gerobak bakso diam-diam, benar kata Selina gerobaknya sudah tidak layak pakai.


"Jangan lihat penampilannya, tapi rasanya Om." Selina masih bicara berbisik-bisik dengan Sean.


"Baiklah terserah lo saja," ucap Sean.


"Kalau begitu Om duduk sini dulu. Biar aku yang pesan."


"Iya, Neng. Tunggu sebentar."


Selina kembali menghampiri Sean yang sedang duduk di bawah pohon besar.


"Tunggu sebentar ya, Om," ucap Selina yang langsung dianggukki oleh Sean.


"Lo sering makan di sini?" tanya Sean.


"Sering, Om. Menurutku ini tempat paling enak buat makan, duduk di bawah pohon menikamati angin sambil liatin kendaraan yang lewat," jawab Selina sambil cekikikan.


"Ini, Neng."


Obrolan keduanya terhenti saat pesanan bakso mereka datang. Dua mangkuk bakso sudah siap tertata di meja ala kadarnya.


"Ayo makan, Om."


Selina menuang kecap, saos, dan tidak lupa pula sambal. Sean juga melakukan hal yang sama. Sudah berapa lama Sean tidak makan di pinggir jalan seperti itu, ia sendiri sampai lupa.


"Enak 'kan, Om?"


"Lumayan"


Untuk ukuran bakso kaki lima memang rasanya enak. Sean menghabiskan satu mangkok bakso sambil memerhatikan Selina makan. Gadis itu makan seperti tidak pernah makan bakso.


"Makan pelan-pelan gue tidak akan merebutnya."

__ADS_1


Selina hanya tersenyum menanggapi ucapan Sean. Lalu ia kembali menikmati makanan yang merupakan makanan kesukaannya.


"Kalau lo kurang pesan saja lagi."


"Tidak, Om. Lain kali saja. Kalau nambah aku bisa tidur di kelas karena kekayaan."


"Ya sudah terserah lo. Habiskan makanannya aku tungguin." Sean mengambil satu batang rokok lalu menyalakannya.


"Bang baksonya masih banyak tidak?" tanya Sean.


"Masih, Mas. Dari tadi baru laku beberapa porsi saja," jawab penjual Bakso.


"Saya borong deh semua baksonya," ucap Sean.


"Hah, Om mau makan bakso satu gerobak? Apa sanggup?" Selina hampir saja tersedak karena merasa terkejut.


"Tentu saja tidak, bocil." Sean menarik pipi Selina merasa gemas dengan gadis itu.


"Panggil semua teman-teman lo. Ajak mereka makan di sini. Bilang lo yang traktir."


"Serius?"


"Gue gak perlu mengulang ucapan gue," ucap Sean kesal tetapi justru membuat Selina tertawa cekikikan.


Selina mengambil ponselnya mengirimkan chat di grup kelasnya. Dia mengatakan akan mentraktir mereka.


Tidak menunggu waktu lama teman-teman sekelasnya datang bahkan ada yang dari lain kelasnya. Dalam sekejap penjual bakso itu tidak terlihat karena dikerumuni oleh banyak murid. Ada yang memesan satu bahkan ada yang sampai dua sampai tiga porsi.


Melihat itu Selina merasa kurang suka. "Giliran gratis saja cepat."


"Sudah biarkan saja."


"Makasih ya, Om. Tapi nanti duit Om habis."


"Tidak masalah, gue tinggal cari lagi. Kebetulan gue baru dapat proyek besar. Jadi bagi-bagi rezeki tidak masalah, 'kan?"


"Ohw." Selina manggut-manggut meskipun tidak mengerti proyek apa yang Sean bicarakan.


"Tapi ini tidak gratis."


"Hah, maksud Om aku harus gantiin semua uang Om?"


Wajah Selina berubah menjadi cemas. Dari mana dirinya akan mendapatkan uang sebanyak itu. Minta kepada tante dan om-nya? Tidak mungkin meskipun mereka pasti akan memberikannya.


"Gak harus pakai duit. Cukup lo bersedia ikut gue nanti malam."


"Ikut ke mana, Om?"


"Makan malam sama keluarga gue."


"Om, aneh. Bukannya ngajak pacar malah ngajak aku."


"Suka-suka gue dong mau ngajak pacar atau ngajak lo."


Selina mendengkus, laki-laki di hadapan sangat menyebalkan dan tidak mudah untuk dipahami. Kadang sikapnya baik dan tiba-tiba berubah menjadi menyebalkan.


"Gak usah banyak mikirin karena gue gak mau dengar penolakan dari lo?"

__ADS_1


"Baiklah aku ikut. Lagi pula Om membuat aku tidak bisa menolaknya." Selina mengerucutkan bibirnya.


"Bagus, nanti gue jemput lo di rumah. Jam 7 lo harus sudah siap. Dan ingat dandan yang cantik."


__ADS_2